Enjoy an Ad-Free Experience High

Sign up to remove distractions and focus on what matters.

Volume 1

Chapter 10 Bab 10 – Langit Masih Punya Mata

Nov 12, 2025 1,175 words

Saat tubuhnya kehilangan kendali dan jatuh dari udara, Qin Xiu dipenuhi oleh kebencian yang membara terhadap Tian Suqing.

Dialah pembunuhnya, dan bahkan memilih cara paling kejam untuk melakukannya —
membuat Qin Xiu tidak langsung mati, tetapi dipaksa menunggu kematian dengan penuh keputusasaan.

Helikopter di langit semakin kecil dalam pandangannya, hingga akhirnya menghilang dari jarak mata.
Qin Xiu menatap awan putih di atas sana, dan meski tahu dirinya akan mati, di saat terakhir itu ia masih sempat berharap bodoh:

 Kalau memang ada dewa di atas sana, tolong kasihanilah aku.
Setidaknya, lihatlah aku ini cuma seorang pria malang yang pernah mencintai wanita yang salah.

Entah karena Tuhan benar-benar mendengar doanya, atau karena nasibnya luar biasa mujur,
tempat ia jatuh ternyata bukan padang pasir tandus, melainkan sebuah oasis yang dipenuhi pohon-pohon tinggi.

Saat jatuh, pakaiannya tersangkut di dahan besar pohon pertama, namun daya benturan yang besar membuatnya robek.
Tubuhnya lalu terpantul ke dahan kedua, terus mematahkan beberapa cabang sebelum akhirnya
jatuh di atas tumpukan rumput lembut.

Begitulah — Qin Xiu berhasil selamat dari maut,
tapi harga yang harus ia bayar sangat mahal: tulang di sekujur tubuhnya patah,
dan selama beberapa hari pertama, ia bahkan tak bisa berdiri,
hanya bisa merangkak ke tepi danau oasis untuk minum air agar tetap hidup.

Setelah “mati” satu kali, cara pandangnya terhadap hidup pun berubah total.
Ia bersumpah — akan kembali ke Kota S, mengambil kembali segalanya yang menjadi miliknya,
dan membuat wanita kejam itu menebus semua perbuatannya.

Sejak saat itu, dimulailah perjalanan balas dendam Qin Xiu yang seperti keajaiban.

Ia menyeberangi padang pasir luas seorang diri,
namun berjalan keluar dari tengah gurun nyaris mustahil.
Saat tubuhnya sudah kehabisan tenaga, dan hidupnya berada di ujung napas,
sebuah rombongan mobil off-road yang masuk ke gurun secara kebetulan menemukannya dan menyelamatkannya.

Begitu tiba di negara terdekat dan ingin naik pesawat pulang,
ia baru sadar bahwa Tian Suqing telah menonaktifkan paspor dan identitasnya.
Di mata dunia, Qin Xiu sudah “meninggal.”

Tanpa identitas, ia dianggap imigran gelap, dan bukan hanya tidak dipulangkan —
bahkan diusir ke padang rumput liar yang dihuni binatang buas.

Namun Qin Xiu tidak menyerah.
Di padang rumput itu, ia bertahan hidup melawan singa jantan,
merebut daging mentah dari kawanan hyena,
bahkan pernah nyaris mati terinjak kawanan rusa liar yang bermigrasi.

Setelah melalui semua itu dan berhasil menyelundup keluar dari benua gurun,
ia tiba di Timur Tengah, tetapi malah terjebak dalam peperangan.
Demi bertahan hidup, ia terpaksa menjadi tentara bayaran dan ikut berperang.

Untungnya, di sana ia bertemu dengan banyak orang Tionghoa lainnya —
beberapa datang untuk uang, sebagian lain seperti dirinya,
terpaksa bertarung demi hidup.

Qin Xiu diam-diam mengumpulkan mereka semua, hingga jumlahnya mencapai puluhan orang.
Ia mengatakan kepada mereka:

 “Aku adalah Direktur Utama Qin Group.
Kalau kalian mau ikut denganku, suatu hari nanti kalian akan hidup bergelimang uang.”

Mereka percaya padanya.
Dan pada suatu malam, mereka memberontak, merebut senjata,
mengambil beberapa mobil off-road, dan menembus garis perang untuk melarikan diri.

Begitu berhasil kembali ke negaranya, Qin Xiu berniat langsung mengambil alih kembali perusahaannya
dan mengangkat para saudara seperjuangannya.

Namun sesampainya di tanah air, ia baru tahu kebenaran yang lebih kejam:
Secara hukum, ia memang sudah “mati.”

Dan karena sebelumnya ia sempat menandatangani dokumen warisan,
seluruh aset Qin Group secara sah jatuh ke tangan Tian Suqing dan Tianye Group.

Meski di luar ia masih tersenyum sopan seperti dulu,
di dalam hatinya api dendam berkobar semakin besar setiap hari.

Di antara teman-temannya dari medan perang,
ada seorang pria cerdas bernama Situ Chen (司徒宸) —
ia sering bertindak sebagai penasihat strategi Qin Xiu.

Dalam situasi tanpa dukungan apa pun, Situ Chen memberi saran berharga:

 “Meskipun Qin Group bukan lagi milikmu,
banyak pejabat senior di perusahaan itu dulu adalah rekan ayahmu.
Kalau kau bisa menyentuh hati mereka, mereka pasti mau membantumu.”

Qin Xiu menganggap itu masuk akal.
Ia lalu menghubungi para senior tersebut secara rahasia,
menceritakan semua kejahatan Tian Suqing, dan memohon dukungan mereka.

Setelah mendengar kisahnya, para tokoh tua itu tersentuh dan berpihak padanya.

Namun posisi penting di Qin Group kini telah dikuasai oleh orang-orang loyal kepada Tianye Group,
yang sebenarnya adalah mata-mata dan boneka Tian Suqing.

Qin Xiu pun bersembunyi di bawah tanah,
mengajak rekan-rekannya dari medan perang satu per satu menemui para eksekutif itu —
ada yang dibujuk dengan kata-kata, ada yang diancam dengan senjata.
Akhirnya, semua berhasil ditarik ke pihaknya.

Setelah itu, ia mengajukan permohonan hukum,
menjelaskan bahwa dirinya belum mati,
dan meminta agar seluruh harta dikembalikan.

Karena semua bukti dan dokumen sudah ia siapkan dengan matang,
ia berhasil merebut kembali Qin Group tanpa hambatan besar.

Bahkan, ia juga menggunakan media untuk membongkar skandal Tianye Group,
membuat saham mereka anjlok,
dan membeli saham besar-besaran saat harga anjlok,
hingga hampir menjadi pemegang saham utama Tianye Group itu sendiri.

Kalau kisah hidupnya ini dipublikasikan,
dunia pasti akan tercengang —
seorang pria yang “mati” lalu bangkit dan merebut kembali segalanya.

Sekarang, Qin Xiu duduk dengan rapi dalam setelan jas mewah di ruang rapat Tianye Group.
Namun meski ia telah bangkit dari abu, balas dendamnya belum selesai —
karena Tian Suqing, wanita yang mengubah hidupnya,
telah kabur ke luar negeri.

Qin Xiu tidak melaporkan ke pihak berwenang bahwa ia pernah menjadi korban percobaan pembunuhan,
karena ia tahu: dengan kekuatan Tianye Group,
meski ditangkap, Tian Suqing bisa bebas dalam satu atau dua tahun.
Bahkan bisa memutarbalikkan hukum.

Jadi ia memutuskan untuk tidak menyerahkannya ke hukum,
melainkan menghukum dengan tangannya sendiri.

Kenangan itu terulang di benaknya,
dan Qin Xiu tersenyum tipis, menyilangkan jemari,
lalu menatap Tian Yushu, ayah dari Tian Suqing.

 “Paman Tian,” katanya pelan,
“Kalau Anda merasa kesulitan, maka cukup beritahu aku saja di mana Tian Suqing bersembunyi.
Aku akan menemuinya sendiri.”

Tian Yushu menarik napas panjang.

 “Qin Xiu, sebenarnya aku juga tidak tahu dia pergi ke mana.
Sejak kecil dia manja dan keras kepala, selalu bertindak sesuka hati tanpa memberitahuku.
Begini saja — aku bantu mencarinya. Kalau ada kabar, aku pasti memberitahumu.”

Kalimat itu mengandung makna tersembunyi:
ia ingin menegaskan bahwa yang ingin membunuh Qin Xiu hanyalah Tian Suqing,
tidak ada hubungannya dengannya.

Qin Xiu menundukkan kepala sebentar, berpikir sejenak, lalu tersenyum tipis.

 “Baiklah, Paman Tian.
Saya menghargai ketulusan Anda.
Sekarang saya ingin melihat proposal bisnis Tianye Group untuk kuartal terakhir tahun ini,
agar saya bisa menilai apakah perusahaan Anda masih layak untuk diselamatkan.”

Itulah bagian dari rencana balas dendam Qin Xiu —
mengambil alih Tianye Group,
dan menjadikan Tian Yushu dan Tian Suqing sebagai bonekanya selamanya.

Namun baginya, meski tujuannya adalah balas dendam, keuntungan tetap nomor satu.
Jika perusahaan itu masih bisa menghasilkan uang,
ia akan mengambil alih dan memanfaatkannya.
Tapi kalau tidak…

Maka ia akan membiarkan Tianye Group bangkrut,
dan membuat ayah-anak itu hidup dalam hutang seumur hidup.

Namun tepat saat ia memutuskan untuk fokus pada urusan bisnis dulu,
pintu lift terbuka —

Dan seketika wajah Qin Xiu membeku.

Wanita yang hampir membunuhnya,
yang mendorongnya jatuh dari helikopter ke gurun,
Tian Suqing —

berdiri di depannya.

Sejak hari ia “dibunuh,”
Qin Xiu belum pernah tertawa sebahagia ini.

Langit benar-benar masih punya mata.

Comments (0)

Join the Discussion!

Share your thoughts and connect with other readers.

Login to Comment

No comments yet

Be the first to share your thoughts!