Chapter 7 Bab 7 — Misi yang Sederhana
Saat Yang Li dan Tang Lingyi keluar dari Mall Baihui, langit sudah mulai gelap.
Yang Li memegang struk panjang di tangannya sambil menghela napas panjang.
“Astaga, outfit kamu ini habis segini banyak uang! Untung aja klien janji bakal ganti semua biayanya. Kalau enggak, aku gak bakal rela keluarin duit segini banyak!”
Tang Lingyi langsung tertawa saat melihat wajah Yang Li yang tampak begitu menyesal.
“Hahaha, ini pertama kalinya kamu belanja semewah ini ya, Sister Yang?”
Organisasi mereka sebenarnya cukup kaya, tapi Yang Li yang bertanggung jawab soal keuangan tidak pernah memakai uang organisasi untuk hal-hal mewah seperti ini.
Semua dana biasanya ia arahkan untuk beli alat penelitian baru atau senjata eksperimental dari pasar gelap.
“Iya, iya… Sudahlah. Aduh, udah malam, kita harus cepat bahas rencana operasi. Besok pagi kamu udah harus ke Grup Tianye.”
“Hah? Bukannya harusnya aku beraksi malam hari? Kamu tahu kan aku biasanya kerja malam.”
“Kamu bodoh apa gimana? Mana ada putri konglomerat yang kerja malam-malam di kantor? Jam segitu mereka harusnya lagi pesta di klub malam!”
“Wah, Sister Yang kok tahu banget sih dunia mereka,” goda Tang Lingyi sambil pura-pura terkejut.
“Baru tahu? Dan tolong ya, mulai sekarang perhatikan sikapmu. Kamu itu cewek sekarang, jangan pasang ekspresi lebay kayak gitu.”
“Tenang aja, nanti pas tugas aku baru masuk karakter sepenuhnya,” jawab Tang Lingyi sambil mengacungkan jempol dengan senyum percaya diri.
Yang Li tak bisa menahan tawa melihat tingkah cerianya. Tapi baru saja sudut bibirnya terangkat, wajahnya tiba-tiba berubah tegang.
“Tunggu… liontin giok kamu ke mana?”
“Hah?” Tang Lingyi langsung menyentuh lehernya refleks, dan wajahnya seketika berubah kaget.
“Eh? Liontinku hilang!?”
“Apa kamu taruh di mana terus lupa? Ayo, kita balik cari.”
“Mungkin… tunggu, enggak! Tadi ada orang yang nabrak aku! Mungkin dia yang mencurinya!”
Barulah dia ingat — tadi memang ada seseorang yang menabraknya di mall. Sebelum itu, liontinnya masih ada.
Keduanya pun buru-buru kembali ke mall dan mencari di sekitar tempat kejadian. Tapi tentu saja, pencuri bukan orang bodoh. Sudah lama pasti kabur entah ke mana.
“Sial! Aku yang dikenal sebagai pencuri legendaris malah dicuri balik!” gerutu Tang Lingyi sambil mengepalkan tinju.
Liontin itu bukan barang biasa baginya. Menurut Yang Li, saat pertama kali menemukan Tang Lingyi, liontin itu sudah tergantung di lehernya.
Selama ini ia menganggap benda itu sebagai satu-satunya petunjuk tentang asal-usulnya, jadi dia selalu memakainya.
Dan sekarang, benda yang telah menemaninya sejak kecil itu raib begitu saja.
“Sudahlah, jangan murung gitu. Setelah misi ini selesai, aku belikan kamu giok baru. Yang lama hilang, nanti ganti yang lebih bagus,” kata Yang Li lembut, mencoba menenangkannya.
Bagi Yang Li, Tang Lingyi memang seperti anak sendiri. Secara resmi dia adiknya, tapi dalam hati, dia adalah anak yang dibesarkannya sejak kecil.
“Kamu sih ngomong gampang, tapi giok itu udah kayak bagian dari diriku,” gumam Tang Lingyi lesu.
“Haaah…” Yang Li menghela napas. “Gini aja deh, nanti setelah kamu balik, komputer di toko digital boleh kamu pilih sesukamu, gimana?”
“Serius!? Makasih, Sister Yang!” seru Tang Lingyi dengan mata berbinar, langsung memeluknya erat.
Walau tetap sedih karena gioknya hilang, tapi bagi mahasiswa jurusan media digital seperti dirinya, memiliki laptop dengan spesifikasi tinggi sudah jadi impian besar.
Hadiah itu cukup membuatnya sedikit lebih ceria.
“Nah, gitu dong. Besok jangan sampai kerja dengan wajah murung.”
“Tenang, misi pasti beres!” jawab Tang Lingyi sambil memberi hormat seperti tentara.
“Haha, kamu ini ya… Yuk, pulang.”
Malam itu, mereka kembali ke markas.
Yang Li menjelaskan detail bangunan Grup Tianye dan memperkenalkan para eksekutif penting satu per satu supaya Tang Lingyi tidak salah bicara saat menyamar.
Kebetulan besok hari Sabtu, jadi Tang Lingyi tidak perlu izin kuliah.
Malamnya ia tidur di markas, tapi setelah terus dirayu oleh Long-ge, ia akhirnya ikut main game sampai tengah malam. Baru jam dua pagi mereka berdua tidur.
---
Keesokan paginya...
Saat Tang Lingyi masih tertidur lelap, Yang Li sudah menerobos masuk ke kamarnya dan menarik selimutnya dengan paksa.
“Bangun! Kamu lupa hari ini misi, hah!?”
Tang Lingyi yang masih setengah sadar akhirnya diseret ke ruang rias. Setelah dicuci bersih dan didandani, Yang Li menatap hasil akhirnya di cermin.
“Sempurna. Sekarang, gak mungkin ada yang bisa membedakanmu dari Tian Suqing.”
Tang Lingyi membuka matanya, dan saat melihat pantulan dirinya di cermin, ia tertegun.
Kalau sebelumnya dia hanya mirip, sekarang yang ada di cermin benar-benar Tian Suqing versi asli.
Setelah riasan selesai, Yang Li menempelkan lensa kontak biometrik dan stiker sidik jari yang sudah disalin dari data Tian Suqing.
Kini, tiruan sempurna sang putri Grup Tianye resmi lahir.
“Oke, cepat pergi dan cepat kembali,” kata Yang Li sambil mendorongnya keluar.
“Waktu adalah uang.”
Tang Lingyi hanya bisa menguap sambil menghentikan taksi.
“Pak, ke Gedung Grup Tianye ya.”
Markas organisasi mereka terletak di pinggiran kota, sedangkan Grup Tianye berada di pusat kota S.
Perjalanan pun memakan waktu lebih dari satu jam.
Tepat pukul 12:30 siang, Tang Lingyi tiba di depan gedung tinggi yang menjulang sekitar lima puluh meter itu.
Ia mendongak menatap puncak gedung, merasa kecil di hadapan kemegahannya.
“Gila, satu gedung segede ini punya satu grup doang… kemiskinan beneran bikin imajinasi terbatas,” gumamnya pelan.
Ia mengambil cermin kecil, memastikan dandanan dan ekspresinya sempurna, lalu melangkah masuk.
Resepsionis di lobi yang tadinya duduk santai langsung berdiri begitu melihatnya.
“Nona Suqing!? Anda kembali?”
“Aku ada urusan dengan ayah. Beliau ada di mana?” tanya Tang Lingyi dengan lembut — menggunakan nada dan suara khas Tian Suqing.
Karena pernah melihat video wawancara Tian Suqing di internet, Tang Lingyi bisa menirukan suaranya hampir sempurna.
Dan dengan penampilan yang identik, siapa pun yang mendengarnya pasti mengira “Tian Suqing sedang pilek”, bukan orang lain.
“Oh, Tuan Ketua sedang rapat di ruang direksi. Perlu saya panggilkan?”
“Tak perlu. Aku tunggu saja di ruang tamu nanti,” jawab Tang Lingyi sambil tersenyum anggun, lalu berjalan menuju lift.
“Baik…” Resepsionis itu menatap punggungnya yang menjauh.
“Aneh… kenapa Nona Suqing hari ini sopan banget, ya? Biasanya kan maunya ‘suruh ayahku hentikan rapat sekarang juga!’…”
Sementara itu, Tang Lingyi sudah berada di lift menuju lantai 19 — lantai paling atas, tempat ruang kerja pribadi sang ketua sekaligus tempat rahasia perusahaan disimpan.
Di depan pintu bertuliskan “Ruang Pribadi Ketua”, Tang Lingyi menempelkan tangan di gagang pintu dan menunggu.
“Verifikasi sidik jari berhasil. Selamat datang.”
Klik — pintu terbuka.
Padahal sistem pengamannya terlihat seperti pintu biasa, tapi sebenarnya berteknologi tinggi.
Di dalam ruangan hanya ada rak buku penuh dan meja besar dari kayu merah.
Menurut info dari Yang Li, di rak itu harusnya ada sebuah patung lembu emas.
Ia mendekat, menemukan patungnya, lalu memutarnya sedikit ke kanan.
“Bzzz…”
Suara mekanisme tersembunyi terdengar. Rak buku itu perlahan terbuka, memperlihatkan pintu logam rahasia di baliknya.
Tang Lingyi menekan tombol di sisi pintu. Seketika, kamera di atas mengeluarkan sinar merah, memindai seluruh tubuhnya.
“Verifikasi iris dan suhu tubuh dimulai…”
Ia diam menunggu. Dalam hati sempat bergidik ngeri.
“Untung aja aku udah jadi cewek. Kalau alat ini sampai lihat ada ‘bagian ekstra’, bisa-bisa sistem langsung error.”
“Identitas terverifikasi — Tian Suqing.”
Pintu terbuka.
Tang Lingyi segera masuk dan mulai mengumpulkan semua data penting: dokumen proyek rahasia, laporan keuangan, dan rencana pengembangan perusahaan.
Semua ia foto dengan kamera mini. Setelah selesai, ia menata ulang ruangan seolah tak tersentuh sama sekali.
“Huh, gampang banget. Kebetulan bosnya juga lagi rapat. Ini sih misi paling ringan tahun ini,” ujarnya puas.
Tapi begitu ia berdiri di depan lift, menunggu turun, pintu lift terbuka.
Beberapa pria bersetelan hitam keluar lebih dulu. Di antara mereka ada seorang pria muda dan seorang lelaki tua berwibawa di tengah.
Tang Lingyi menatap lelaki tua itu — dan membeku.
Itu adalah Tian Yushu, ayah dari Tian Suqing.
Dan yang lebih parah — Tian Yushu juga menatapnya, dengan ekspresi sama terkejutnya.
No comments yet
Be the first to share your thoughts!