Enjoy an Ad-Free Experience High

Sign up to remove distractions and focus on what matters.

Volume 1

Chapter 100 Bab 100 – Hukuman Mati di Hatinya (Bonus 5/17)

Nov 21, 2025 1,070 words

Mahasiswa yang berkeliaran di kampus saat jam makan siang selalu banyak. Ada yang membawa tas menuju ruang kelas, ada yang mengantar pesanan demi uang makan, dan ada pula yang berkelompok heboh-hibuk menuju warnet untuk main sepuasnya.

Namun apa pun tujuan mereka, setiap lewat lapangan kosong di depan asrama A3, perhatian mereka pasti tertarik oleh sepasang lelaki dan perempuan di sana.

Terlihat seorang gadis cantik berambut pendek sebahu, mengenakan mantel hitam panjang, sedang duduk santai di tanah dengan gaya seenaknya.

Tiga meter di depannya berdiri seorang pria tampan dengan jas putih, postur tegap dan aura lembut elegan, tengah tersenyum sambil berdiri tegak menghadap sang gadis.

Siapa pun yang melihat adegan itu pasti akan mengira mereka adalah pasangan yang sedang ngambek: si cewek duduk di tanah manja-manja, si cowok sabar meladeni.

Benar-benar pasangan yang bikin iri…

Para mahasiswa yang lewat hanya melirik sekilas lalu melanjutkan hidup masing-masing dengan sedikit rasa kagum.

Namun kenyataannya, dua orang itu bahkan bukan teman—apalagi pasangan.

Qin Xiu menunduk menatap gadis itu, lalu berjongkok agar sejajar dengannya dan bertanya lembut, “Pertanyaan apa yang ingin kamu tanyakan?”

Tang Lingyi masih duduk sambil memeluk kedua kakinya. Ia menatap Qin Xiu dari bawah dan bertanya, “Bisakah kamu jamin kalau semua yang kamu bilang tadi itu benar?”

“Setiap kata yang kukatakan benar,” jawab Qin Xiu.

“Termasuk bagian kamu tidak akan menyakitiku lagi, dan tidak akan memaksaku?”

“Tentu. Aku bersumpah.” Qin Xiu bicara dengan sangat serius. Ia sudah menyadari tiap kali gadis itu menatapnya, selalu ada ketakutan terselip di matanya—dan itu membuat rasa bersalahnya makin dalam.

“Bahkan kalau aku menolakmu, kamu tetap tidak akan membuka identitas asliku? Atau menagih uang dariku?”

Tang Lingyi takut jika ia menolak, Qin Xiu akan mengancamnya atau meminta uang.

Qin Xiu mendesah. “Sepertinya kesanku di hatimu buruk sekali… Tenang saja, aku tidak akan melakukan hal seperti itu. Mau menerima atau tidak, itu sepenuhnya hakmu.”

“Kalau begitu bagus.” Tang Lingyi berdiri, menepuk debu di pantatnya.

Qin Xiu tersenyum. “Tidak ada pertanyaan lagi kan? Kalau begitu… boleh aku mulai mengejarmu?”

Kalimat itu adalah kalimat legendaris dari drama Tiongkok Love Apartment, yang disebut oleh Lü Ziqiao sebagai kalimat pengakuan paling sulit ditolak.

Karena apakah si cowok ‘mengejar’ atau tidak, sepenuhnya keputusan cowok. Bukan cewek.
Jika cewek menjawab “terserah” atau “boleh”, itu sebenarnya sudah membuka celah.

Bahkan biasanya cewek tidak akan langsung menolak karena gengsi.

Jadi ini jurus sakti maju bisa, mundur pun bisa.

Tapi justru karena jurus itu yang paling tak terjawabkan—Tang Lingyi menemukan celah.

“Oh, tidak boleh. Aku menolak. Jangan ganggu aku lagi.”
Tang Lingyi langsung berbalik dan masuk ke dalam asrama tanpa memberi Qin Xiu kesempatan bicara lagi.

Qin Xiu bengong.

Jujur, dia tak menyangka Tang Lingyi akan menolak sekasar itu. Sejak kecil ia selalu populer di kalangan perempuan karena keluarga dan penampilannya. Tanpa sadar ia memiliki rasa percaya diri tertentu.

Ia merasa selama ia mau menurunkan gengsi dan mengejar dengan tulus, Tang Lingyi pasti akan memaafkannya.

Tapi ternyata… hasilnya sepenuhnya melenceng.

“Lingyi, tunggu! Tidak bisakah kamu memberiku satu kesempatan untuk membuktikan diriku?” serunya buru-buru.

“Tidak bisa. Kalau di hatiku ada standar hukuman, kamu sudah divonis mati langsung, dan yang jenis ditembak itu.”

Tang Lingyi berkata begitu sambil menutup sebelah mata dan membuat pose tangan pistol, lalu melambaikan tangan dan meninggalkan Qin Xiu dengan jarak yang jelas.

“Dah. Oh ya, kalau kamu datang jadi guru cuma karenaku, saranku: kamu tidak usah lanjut. Guru kami yang sebelumnya sudah cukup bagus. Balikin saja posisinya ke dia.”

Tang Lingyi bukan bermaksud mengatakan Qin Xiu mengajar buruk. Ia hanya ingin kembali pada kehidupan sekolahnya yang damai dan menyenangkan.

Soal apakah kata-katanya itu melukai hati Qin Xiu atau tidak—itu bukan urusannya. Karena Qin Xiu sudah berjanji tidak akan memaksanya, jadi ia tidak perlu menjaga perasaan lelaki itu.

Dan fakta bahwa ia tidak memaki-makinya sudah termasuk sangat sopan.

Senyuman Qin Xiu menegang. Meski ada banyak yang ingin ia sampaikan, akhirnya ia hanya bisa mengangguk dengan senyum pahit dan berkata dua kata paling sederhana:

“Baiklah.”

Setelah bayangan Tang Lingyi hilang di dalam gedung, Qin Xiu kembali ke mobilnya, duduk diam sejenak, lalu pergi.

Selain kepada Tian Suqing, Qin Xiu sebenarnya adalah orang yang cukup gentleman. Karena Tang Lingyi menyuruhnya menjauh, maka betapa pun ia menyukai gadis itu, ia tetap akan menghormati pilihannya.

Karena ketika menyukai seseorang, yang muncul secara alami adalah keinginan membuatnya bahagia.
Dan gadis yang disukainya—hanya bahagia jika ia menjauh.

Itu adalah kenyataan yang menyakitkan dan tak memberi banyak pilihan.

Ia bahkan tidak punya cara lain selain mengalah.

······

“Tang Lingyi sudah pulang!” Su Weiqun melapor dari jendela lantai dua, mengintip.

Hua Yujie, kaget: “Cepat amat? Dia ngomong apa sama Qin laoshi?”

“Mereka jalan agak jauh jadi nggak terdengar. Tapi bocah itu cukup galak. Pertama dia duduk di tanah, maksa Qin laoshi jongkok buat bicara. Terus kayaknya ngomong setengah jalan nggak senang, langsung berdiri dan pergi. Kayaknya Qin laoshi sampai bengong.”

“Gila! Keren!” Hua Yujie tepuk tangan.

Beberapa menit kemudian Tang Lingyi masuk ke kamar. Ia kaget karena mendapati ketiga teman sekamarnya menatapnya dengan tatapan penuh kekaguman.

“Kalian bertiga kenapa lihat aku begitu?”

Hua Yujie berkata, “Keren banget, Lingyi. Berani banget mempermalukan Qin laoshi. Nggak takut dia bikin kamu tidak lulus?”

Tang Lingyi berkedip-kedip, wajahnya memerah. “K-kalian nggak dengar apa-apa kan?”

“Jauh banget, nggak kedengeran. Cuma lihat aksi kerennya saja. Apa kamu ngomong lebih pedas lagi?” Hua Yujie penasaran.

“E-enggak, cuma ngobrol sebentar.”

Aduh, kalau sampai identitasnya sebagai perempuan terbongkar gara-gara ini, ia bisa benci Qin Xiu seumur hidup.

Su Weiqun tiba-tiba menunjuk mereka. “Lingyi! Kamu keterlaluan! Kenapa kamu pakai baju cewek diam-diam cuma buat nunjukin ke Hua Yujie doang? Lihat tuh, sampai tombaknya berdiri! Kalian berdua pasti ada apa-apa!”

Hua Yujie melirik kaki Tang Lingyi dan menggaruk hidungnya malu-malu. Sampai sekarang ia masih bisa merasakan keempukan paha gadis itu waktu tidak sengaja tersentuh.

Tang Lingyi juga langsung teringat kejadian “disentuh kaki” tadi, wajahnya panas. “Jangan asal ngomong! Aku cuma kerja, dibayar!”

“Berapa? Gue juga mau beli layanan cosplay cewek,” kata Su Weiqun serius.

“Okay, nanti aku buatkan daftar harga.” Tang Lingyi mengambil ponsel. Ia membuka layar pesan seperti biasa… lalu mendadak terdiam.

Beberapa detik kemudian ia tersentak, langsung berbalik dan berlari keluar kamar.

“Lingyi, kamu ke mana!?”

“Ada urusan mendesak!”

Dan ia menghilang dari pintu.

Author's Notes

Bentar ya... Lanjut tl novel yang satunya dulu "I Was Possessed by a Cute Ghost and Turned Into a Girl"

Comments (0)

Join the Discussion!

Share your thoughts and connect with other readers.

Login to Comment

No comments yet

Be the first to share your thoughts!