Enjoy an Ad-Free Experience High

Sign up to remove distractions and focus on what matters.

Volume 1

Chapter 76 Bab 76 – Ramuan Transformasi yang Masih Terus Bekerja

Nov 13, 2025 1,283 words

“Yesss! Aku menang, Su Weiqun! Besok makan siang kamu yang traktir ya!”

Di malam yang sama, Tang Lingyi sedang melonjak-lonjak gembira di atas ranjang karena menang solo match melawan Su Weiqun.

Ceritanya begini—karena malam ini Tang Lingyi kembali membawa ketiga teman sekamarnya yang noob itu bermain rank dan tetap berhasil carry, maka setelah lampu kamar dipadamkan, ia langsung ge-er dan memamerkan dirinya.

Tapi Su Weiqun yang ikut menang karena ‘dititipkan’ itu tentu tidak terima. Namun dia tahu level Tang Lingyi di game PC memang jauh di atasnya.

Jadi dia pun berkata, “Jangan cuma ngomongin game PC terus, kalau berani ayo kita solo di game mobile!”

Su Weiqun memang lemah di PC, tapi untuk game mobile dia termasuk lumayan jago, jadi dia ingin ‘menghancurkan’ rasa percaya diri Tang Lingyi.

Tang Lingyi awalnya tentu saja menolak, dia memang kurang tertarik game mobile.

Tapi kalimat berikutnya membuatnya berubah pikiran.

“Yang menang traktir makan siang, gimana?”

“Siap!”

Kalau dulu skill mobile game Tang Lingyi mungkin kalah dari Su Weiqun, tapi selama sebulan terakhir dia tidak bisa main PC dan hanya main mobile, jadi levelnya meningkat pesat.

Hasilnya, Su Weiqun hanya bisa menatap tulisan “KALAH” di layar sambil tidak terima.

“Gila, Lingyi, sejak kapan skill mobile kamu jadi sekencang ini!?”

“Sudah lama jago, cuma aku merendah aja. Jangan lupa makan siangnya besok, ya. Aku lagi miskin, setiap rupiah itu penting.”

Baru beberapa detik ia bangga, tiba-tiba teringat berlian 200 ribu yuan yang hilang siang tadi, dan mendadak makan siang besok terasa tidak enak lagi baginya.

Walaupun sekarang dia bisa dibilang ‘kaya kecil’, tapi kehilangan 200 ribu itu tetap bikin hati sakit. Uang 300 ribu yang tersisa pun mendadak terasa tidak banyak.

Organisasi hanya hilang kontak sementara—kalau sampai lama, maka biaya kuliah, kontrakan, hidup sehari-hari… semuanya butuh uang.

Kalau suatu hari dia ingin ganti laptop atau beli HP baru, uang itu bakal habis cepat.

Karena itulah, supaya aman dan tidak bisa seenaknya dipakai, Tang Lingyi memindahkan semua 300 ribu itu ke deposito sebagai dana darurat. Untuk kebutuhan sehari-hari, dia berencana ambil job boosting game kecil-kecilan saja.

Mengingat betapa sakitnya kehilangan 200 ribu, wajahnya lesu. Ia turun dari tempat tidur, mengambil baskom dari bawah meja, menuang air panas lalu mencampurnya dengan air dingin.

Setelah memastikan suhunya pas, dia melepas sepatu dan kaus kaki, memasukkan kakinya ke air hangat itu.

“Aaah… memang ya, kalau mood jelek, rendam kaki tuh langsung bikin tenang.” Tang Lingyi mendongak dengan nyaman, suaranya lembut—sudah tidak terdengar seperti suara laki-laki.

Tepat saat itu, Hua Yujie lewat dan bertanya heran, “Barusan kamu masih lompat-lompat di ranjang kayak anak kecil, kok tiba-tiba bad mood lagi?”

“Kamu nggak ngerti. Dunia orang dewasa penuh masalah.”

“Di antara kita berempat, kamu yang paling pendek, masih berani ngaku ‘orang dewasa’?” Hua Yujie meledek.

“HAH? Ngatain orang pendek ya?!” Tang Lingyi langsung naik pitam. Tapi ini sudah jadi bahan candaan mereka sehari-hari.

“Nggak, aku bukan ngatain orang pendek. Aku cuma ngatain kamu.” Hua Yujie mengoreksi dengan polos.

Alis Tang Lingyi langsung berdiri. “Oke. Besok siap-siap aku peres semua odolmu sampai habis.”

“Buset, bro, itu odol yang kamu pinjem dari aku selama seminggu! Kok malah galak!?” Hua Yujie protes, lalu tiba-tiba menatap kaki Lingyi, “Eh… tunggu. Kok kayaknya kakimu… mengecil?”

“Hah? Mana mungkin kecil.” Tang Lingyi melihat ke bawah, menggerakkan jari-jarinya yang kecil dan bulat. “Emang dari dulu segini. Lagian barusan kamu ngatain aku pendek, ya wajar kaki ku nggak besar.”

“Tidak, serius. Kelihatan banget mengecil. Kayak… seukuran telapak tanganku.”

“Kamu ngaco. Mana bisa sekecil—eh?!”

Sebelum kalimatnya selesai, Hua Yujie jongkok, membuka telapak tangan, dan menyamakan dengan kaki Tang Lingyi yang masih di dalam air.

Dan—panjangnya benar-benar mirip.

“Kayaknya tanganmu yang membesar, Jiejie.”

“Justru karena itu kakimu mengecil!”

“Yang masuk akal kan tangan membesar, bukannya kaki mengeci— …ci… l?” Nada Tang Lingyi menurun drastis.

Mata indahnya mendadak kosong.

Benar juga.

Mengecil itu tidak masuk akal.

Sama seperti berubah jadi perempuan—juga tidak masuk akal.

Kalau dia bisa berubah jadi perempuan dengan cara yang tidak masuk akal, berarti kakinya mengecil juga bisa terjadi!

Dipikir-pikir, sepatu yang dia pakai akhir-akhir ini memang terasa longgar. Dia pikir tali sepatunya longgar—padahal bukan itu alasannya.

Tapi saat pertama kali berubah, ukuran 38 masih pas. Jadi kapan mulai mengecil?

Jangan-jangan—

Efek ramuan transformasi itu belum selesai? Masih terus mengubah tubuhnya!?

Hua Yujie pernah bilang kulitnya lebih halus daripada sebulan lalu. Kakinya juga mengecil…

Sial.

Jangan bilang perubahan ini masih lanjut!?

Tolonglah, Tuhan, jangan lagi. Aku sudah pendek, jangan tambah pendek!

Tang Lingyi menutup mata, menyatukan kedua tangan, menatap langit-langit sambil berdoa entah kepada siapa.

“Kamu ngapain? Kok tiba-tiba diam?” Hua Yujie bingung melihatnya.

“Nggak apa-apa. Aku cuma mikir… apakah aku beneran bakal berubah jadi cewek. Jadi ya… doa dikit.”

Karena mereka sudah lama tinggal bersama, walaupun ia bicara jujur, teman-temannya pasti menganggapnya bercanda.

Benar saja, Hua Yujie memicingkan mata, lalu mendengus.

“Hal sebodoh itu cuma kamu yang bisa kepikiran. Tenang, kalau kamu jadi cewek, kita bertiga bakal bikin kamu tiga hari nggak bisa turun dari ranjang.”

Mendengar itu, kaki kecil Tang Lingyi yang terendam air langsung meringkuk ketakutan.

---

Sementara itu…

Qin Xiu mendapat sebuah fakta yang mengejutkannya dari Dokter Niu.

Tian Suqing dan gadis sebelumnya—secara DNA bukan orang yang sama. Bahkan tidak ada hubungan darah sedikit pun.

Artinya… selama ini dia benar-benar menangkap orang yang salah.

Tapi kenapa mereka bisa mirip sedemikian rupa?

Qin Xiu tidak percaya itu kebetulan.

Dia teringat sikap Tian Yushu yang cuek saat berbulan-bulan tidak melihat putrinya, dan ekspresinya yang berlebihan saat hasil DNA keluar.

Sekarang dipikir-pikir, Tian Yushu pasti sudah tahu bahwa gadis yang ia kurung bukan Tian Suqing asli.

Artinya… ini semua rencana Tian Suqing!?

Gadis itu hanyalah pencuri yang diperalat oleh Tian Suqing. Wajahnya dioperasi agar mirip Tian Suqing, bahkan rambutnya dibuat sama.

Setelah memikirkan itu, Qin Xiu tidak mengulur waktu lagi dan langsung kembali ke vila.

Dia menerobos masuk ke kamar Tian Suqing—yang saat itu sudah lemah tertidur di tempat tidur—dan langsung menariknya bangun.

“Tian Suqing, ini semua rencanamu, kan!?”

Tian Suqing yang setengah tidur dipaksa kembali sadar, bingung total. “Rencana apa…?”

“Di mana gadis pengganti itu? Bilang!”

“Gadis pengganti apa sih… bisa tidak, jangan gila?” Tian Suqing hampir menangis—dia tidak paham Qin Xiu sedang menuduh apa, tapi menangis biasanya membuat hukumannya lebih ringan.

“Jangan pura-pura! Kamu benar-benar kejam, Tian Suqing. Kamu tega menjebak gadis lain untuk menanggung hukumanmu?”

Tian Suqing sadar Qin Xiu sudah tahu soal gadis yang asli itu palsu. Tapi ia tetap membela diri:

“Aku bahkan nggak tahu dia siapa! Aku cuma dengar dari ayahku waktu aku kabur ke luar negeri. Aku memang berniat memanfaatkannya, tapi aku nggak mengenalnya!”

“Kamu pikir aku percaya? Aku kasih kamu satu hari. Kalau dalam satu hari kamu nggak menemukan gadis pengganti itu—aku akan membuat Tianye Group hilang dari dunia ini.”

“Qin Xiu! Ini masalah kita berdua! Kalau kamu berani menyentuh Tianye Group, aku mati pun nggak bakal melepaskanmu!” nada Tian Suqing gemetar, hampir histeris.

Tian Suqing panik. Berbeda dengan Tang Lingyi yang tidak peduli Tianye Group bangkrut, dia—sebagai putri keluarga itu—tidak bisa menerima kehancurannya.

“Kalau tidak mau Tianye lenyap, cari gadis itu.”

Qin Xiu meninggalkan ultimatum mustahil itu, lalu berbalik pergi.

Tian Suqing hanya duduk di tempat tidur, menatap kosong punggung Qin Xiu.

Dia sudah stres karena dikurung, dan kini ditambah tuntutan untuk melakukan hal yang tidak mungkin. Dalam keputusasaan, ia menubrukkan kepalanya ke kepala ranjang.

“BAM!”

Qin Xiu yang hampir sampai di lorong mendadak terhenti ketika mendengar suara itu.

Comments (0)

Join the Discussion!

Share your thoughts and connect with other readers.

Login to Comment

No comments yet

Be the first to share your thoughts!