Enjoy an Ad-Free Experience High

Sign up to remove distractions and focus on what matters.

Volume 1

Chapter 48 Bab 48 – Luka Sembuh, Tapi Lupa Sakitnya

Nov 13, 2025 1,140 words

Melihat Tang Lingyi tertarik dengan ucapannya, Qin Xiu tersenyum tipis.
“Gampang saja. Kalau kamu bisa menang melawan aku satu kali saja, mulai besok kamu nggak usah ngerjain pekerjaan rumah lagi.”

“Beneran!?” Tang Lingyi langsung semangat. Tapi tak sampai satu detik, semangatnya luntur lagi. “Ah, percuma. Kamu pasti bakal Ngulang terus. Aku nggak bakal bisa menang.”

“Tenang saja, kali ini aku janji nggak bakal Ngulang satu langkah pun.”

“Itu kamu yang bilang, ya! Laki-laki kalau ngomong harus bisa dipegang.”

“Tenang, aku nggak kayak kamu. Kalau aku bilang nggak bakal Ngulang, ya nggak bakal.”

“Baiklah!” Mata Tang Lingyi berkilat penuh tekad. “Ayo, kita mulai!”

Qin Xiu hanya tersenyum kecil dan memulai permainan.
Kali ini memang benar—dia tidak Mengulang satu langkah pun. Tapi meski begitu, Tang Lingyi tetap tak bisa menandinginya. Mau hitam atau putih, dia selalu kalah telak.

Tang Lingyi mulai merasa panas dan gelisah. Saat bermain, dia sampai menarik-narik kerah bajunya sendiri untuk menenangkan diri.
Setelah kalah lima ronde berturut-turut, dia tiba-tiba melompat dari tempat tidur dan berlari keluar ruangan.

“Tunggu aku sebentar!” katanya cepat-cepat.

Qin Xiu hanya memandangi papan catur, tersenyum kecil tanpa berkata apa-apa.
Dia tahu, gadis itu memang sedikit meningkat permainannya, tapi tetap saja masih terlalu lemah. Dia bahkan sudah tak sabar ingin melihat wajah gadis itu nanti—setelah berusaha keras namun tetap kalah.

Beberapa menit kemudian, Tang Lingyi muncul lagi. Kali ini, dia memakai jepit rambut melengkung di kepalanya, menahan semua poni yang biasanya menutupi matanya. Sekilas, dia tampak seperti baru keluar dari salon.

Qin Xiu mengangkat alis. “Apa gaya rambut baru ini?”

“Rambutku tadi nutupin mata terus, bikin aku nggak bisa fokus!” jawab Tang Lingyi sambil kembali naik ke ranjang dan duduk di depan Qin Xiu. “Ayo, kali ini tiga ronde saja! Aku pasti bisa menang!”

“Hanya tiga? Aku kira kamu bakal sombong dan bilang satu ronde aja cukup.”

“Dasar nyebelin! Kali ini aku duluan!” Tang Lingyi langsung mengambil pion hitam dan menaruhnya di titik tengah papan.

Setelah berkali-kali kalah, dia sebenarnya sudah mulai memahami pola permainan Qin Xiu. Dia bahkan sengaja menyiapkan strategi—tadi-tadi pura-pura kalah supaya Qin Xiu lengah dan meremehkannya.

Main catur itu bukan cuma soal strategi, tapi juga perang psikologis.

Tang Lingyi terlihat penuh percaya diri, tapi Qin Xiu hanya menganggapnya sedang menggertak. Namun tak lama, dia mulai merasa ada yang janggal.

Dia masih bermain seperti biasanya, tapi Tang Lingyi terus menutup setiap celah langkahnya. Bahkan jalur bidaknya sendiri terbuka lebar, membuatnya lebih bebas bergerak. Qin Xiu mulai sadar situasinya berbalik arah, tapi dia tetap memilih menyerang, walaupun tahu sudah terlambat untuk menutup semua celah.

Akhirnya dia bertaruh—semua atau tidak sama sekali.

“Tap!” Dengan suara tegas, Tang Lingyi menjatuhkan bidaknya dan tertawa keras.
“Hahaha! Nih lihat, aku udah bikin dua baris tiga beruntun. Kamu mau tutup yang mana pun, aku tetap menang! Aku menang, hahaha!”

Qin Xiu menatap papan itu, lalu tersenyum samar meski tahu dirinya sudah kalah.

Tang Lingyi melihat senyum itu dan langsung merasa waspada.
“Tunggu! Jangan bilang kamu mau Ngulang lagi!?”

“Tenang saja. Aku sudah janji.”

Setelah berkata begitu, Qin Xiu tetap mencoba mencari peluang untuk menyerang balik dengan menyambung beberapa bidaknya yang masih tersisa.

Tang Lingyi kesal karena dia terus bertahan. “Udah deh! Nggak usah buang waktu. Kamu udah pasti kalah kok.”

“Selama masih ada tempat untuk jalan, permainan belum selesai,” jawab Qin Xiu datar.

Sejak kejadian di gurun waktu itu, dia memang berubah jadi orang yang pantang menyerah. Kalau bukan karena tekadnya yang kuat, dia nggak mungkin bisa kembali hidup-hidup ke negara ini.

Beberapa langkah kemudian, Qin Xiu benar-benar kehabisan ruang untuk bergerak.
Tang Lingyi semakin bersemangat—dia sudah membayangkan hidup tanpa pekerjaan rumah dan bisa bangun siang setiap hari. Bagi si pemalas ini, itu hadiah terbaik di dunia!

“Cepat dong! Giliran kamu!” desaknya tidak sabar.

Qin Xiu memang sudah tak punya langkah lagi, tapi tetap saja menaruh satu bidak untuk memblokir salah satu jalur kemenangan Tang Lingyi.

Begitu melihat langkah itu, Tang Lingyi tahu dia sudah menang. Dia langsung menaruh bidak berikutnya, membuat empat baris beruntun yang mustahil dikalahkan.
Tinggal satu langkah lagi untuk kemenangan mutlak!

Namun sebelum Qin Xiu menaruh bidaknya, tiba-tiba ponselnya berdering.
Melihat nama Si Tu Chen di layar, ekspresinya langsung berubah serius.

“Ya, gimana?” suaranya terdengar tegang.

“Sudah mulai bergerak, Pak. Sejak kabar kematian Anda tersebar, saham Qin Group anjlok tajam. Tapi ada yang aneh—Tianyao Group sedang gila-gilaan beli saham kita. Bahkan beberapa eksekutif Qin Group sudah dihubungi secara diam-diam, tampaknya ada yang mau membelot.”

Mata Qin Xiu menyipit. “Li Tianyao yang gerak?”

“Bukan. Menurut para eksekutif, yang menghubungi mereka adalah Li Jiaming. Dan dia bilang, dia juga tahu Anda sudah mati. Jadi besar kemungkinan dialah dalang di balik upaya pembunuhan itu.”

“Li Jiaming!?” Qin Xiu mendengar nama itu dan langsung menatap tajam ke arah Tang Lingyi.

Li Jiaming adalah kekasih Tian Suqing! Jangan-jangan dia yang diam-diam menyuruh Li Jiaming menyerangnya?!

Suasana hati Qin Xiu yang tadi sempat cerah langsung berubah muram.

Tang Lingyi masih fokus ke papan catur, menunggu Qin Xiu turun tangan, tak tahu apa yang terjadi.

“Benar, itu Li Jiaming. Tapi dia bodoh sekali. Tianyao Group masih bertahan berkat investasi kita. Kalau kamu benar-benar mati, dia mungkin bisa berhasil menjatuhkan kita.”

“Baik, kalau begitu kita serang balik. Tarik semua aset dari Tianyao, tekan harga pasar mereka sampai hancur. Dan tangkap Li Jiaming secepatnya, aku punya hal penting yang harus kutanyakan padanya.”

“Baik, Tuan Qin. Dalam beberapa hari, Tianyao akan jatuh.”

“Terima kasih, Situ.” Qin Xiu menutup telepon, lalu menatap lurus ke arah Tang Lingyi.
“Dalang di balik serangan terhadapku ternyata Li Jiaming. Kamu nggak mau jelasin sesuatu?”

Kesadarannya tiba-tiba sepenuhnya kembali. Semua hal menyenangkan beberapa hari ini—tawa, permainan, obrolan—tiba-tiba terasa seperti lelucon.
Dia bahkan sempat lupa bahwa wanita di depannya pernah mengkhianatinya, lupa rasa sakit saat melihat Tian Suqing dan Li Jiaming bergumul di tempat tidur itu.

Sekarang, rasa muak dan marah itu mulai muncul lagi.
Dadanya sesak, bahkan lukanya terasa perih lagi.

Apakah lukanya kambuh?
Atau cuma karena emosi yang mendidih?

Dia ingin sekali membalikkan meja di depannya, tapi akhirnya menahan diri.
Sebagai pemimpin, dia tidak boleh dikuasai emosi.

“Siapa Li Jiaming sih? Udah, cepet lanjut main!” kata Tang Lingyi yang tidak paham apa-apa, matanya tetap fokus pada papan.

Namun Qin Xiu tiba-tiba menyapu seluruh papan itu dengan tangannya. Semua bidak beterbangan masuk ke tabung catur.

Dia berdiri, menahan tubuhnya dengan berpegangan di dinding, lalu tersenyum tipis.
“Maaf, aku ada urusan mendesak. Lain kali kita lanjut.”

Tang Lingyi menatap punggungnya yang menjauh, lalu menunduk melihat papan catur kosong di depannya.
Barulah dia sadar—Qin Xiu memang hanya ingin mempermainkannya.

Tang Lingyi mengepalkan tangan dan menghantam meja dengan keras.

“BRAK!!”

---------

Dah lanjut nanti sore lagi update babnya😗😗

Comments (0)

Join the Discussion!

Share your thoughts and connect with other readers.

Login to Comment

No comments yet

Be the first to share your thoughts!