Enjoy an Ad-Free Experience High

Sign up to remove distractions and focus on what matters.

Volume 1

Chapter 32 Bab 32 – Dia Juga Nggak Rugi

Nov 12, 2025 1,435 words

Teriakan Tang Lingyi akhirnya membuat Qin Xiu menoleh padanya.
Itu adalah pertama kalinya sejak kedatangannya Qin Xiu benar-benar menatap Tang Lingyi, tapi hanya sekilas — tatapan dingin dan menghina, lalu cepat-cepat dialihkan.

 “Kamu nggak setuju apa?”

 “Aku nggak setuju sama caramu! Meski dia bersekongkol sama orang buat nyulik aku, mukulin temanku juga kamu anggap nggak penting, tapi mereka tadi mukulin Wu Feng-ge! Baiklah, kalau orang-orang itu cuma disuruh, kamu nggak mau cari mereka, tapi kenapa pelaku utamanya juga nggak kamu hukum!?”

 “Tian Suqing! Kamu... kamu jangan asal ngomong!” Yu Weilin yang mendengar tudingan itu langsung panik. Tadi hampir berteriak, tapi sadar Qin Xiu berdiri di depan mereka, suaranya langsung melemah.

Tang Lingyi, wajahnya merah padam karena marah, langsung membalas,

 “Kamu diam! Kamu nggak punya hak ngomong! Dasar bajingan, kamu nyuruh orang nyulik aku — kalau orang bermarga Qin ini nggak ngurus kamu hari ini, aku bakal lapor polisi! Aku akan lapor kamu atas percobaan pemerkosaan!”

Alis Qin Xiu langsung berkerut tajam.

 “Kamu yang seharusnya diam. Ini bukan urusanmu bicara.”

 “Kenapa nggak boleh!? Aku cuma bicara soal keadilan! Punya pemimpin sepengecut kamu itu sial banget! Kamu cuma berani ke aku doang, di luar cuma pengecut tak berguna!”

Qin Xiu tersenyum tipis, tapi nadanya sudah mulai membeku.

 “Tian Suqing, apa aku selama ini terlalu baik padamu sampai kamu lupa siapa dirimu?”

Ia mulai ragu — apakah dirinya memang terlalu lembut?
Sampai-sampai seorang “tahanan” berani membentaknya seperti ini?

 “Nona Tian…” Wu Feng mencoba maju untuk menenangkannya, tapi baru melangkah dua langkah, Qin Xiu langsung menariknya.

 “Jangan urusi dia. Nanti di rumah aku akan urus sendiri perempuan gila ini.”

Setelah berkata begitu, Qin Xiu pun berbalik hendak pergi.

Wu Feng jadi serba salah, akhirnya cuma bisa berbisik pelan:

 “Jangan emosi, Nona Tian.”

Ia tahu betul watak Qin Xiu — dingin, tapi perhitungannya tajam.
Qin Xiu jelas bukan nggak mau balas dendam, dia cuma mau nunggu waktu yang tepat. Tapi Tang Lingyi nggak tahu itu.

 “Kenapa aku harus tenang, Wu Feng-ge? Kamu sendiri bilang, orang kayak dia aja nggak berani balas dendam, terus buat apa kamu berkorban buat dia?”

Meski mulutnya berkata begitu, dalam hati Tang Lingyi sebenarnya juga terluka.
Saat Qin Xiu datang menolong, ia sempat merasa terharu… tapi waktu pria itu melewatinya tanpa satu pun tatapan, hatinya terasa ditusuk.

Ia tahu Qin Xiu membenci Tian Suqing — wajar kalau dia bersikap dingin.
Tapi entah kenapa, ia tetap merasa sakit hati dan kecewa.

Semua orang salah paham padanya, dan ia harus terus menanggung dosa orang lain.
Sekarang ditambah lagi Qin Xiu yang malah tak menghukum pelaku, perasaannya benar-benar meledak.
Ia nggak mikir panjang — cuma ingin melampiaskan semua kekesalan di dadanya.

Qin Xiu mendengar amarahnya, perlahan berbalik dan berkata datar,

 “Tian Suqing, kalau kamu mau buat aku marah, selamat. Kamu berhasil.”

Tapi begitu ia menatap wajah Tang Lingyi, langkahnya tiba-tiba berhenti.

Wajah gadis itu agak bengkak, mata merah karena menahan emosi, hidungnya mungil dan terangkat marah — seperti anak kucing kecil yang sedang menggigit balik.

Tang Lingyi sebenarnya tidak menangis.
Hanya emosinya yang terlalu kuat hingga matanya berair — sama seperti saat “save game”-nya dulu hilang.
Itu cuma reaksi alami, bukan tangisan sungguhan.

Tapi di mata Qin Xiu, yang ia lihat adalah seorang gadis yang menahan tangisnya dengan keras kepala.
Entah kenapa, hatinya tiba-tiba terasa sesak.
Berbeda dari Tian Suqing yang dulu pura-pura manja dan menangis untuk simpati, “Tian Suqing” di depannya ini justru terasa nyata dan menyentuh.

Sekilas, ia merasa iba.
Namun perasaan itu segera ditekan habis.

 “Wajahmu kenapa?” tanya Qin Xiu akhirnya.

Sekarang giliran Tang Lingyi yang diam.
Untuk memecah suasana, Wu Feng buru-buru menjawab:

 “Dia dipukul oleh pria itu, sekitar empat atau lima kali.”

Tatapan Qin Xiu langsung mengarah ke Yu Weilin.
Begitu mata mereka bertemu, Yu Weilin langsung merasa seperti ditatap macan kelaparan. Tubuhnya gemetar.

 “Qin-ge… tadi kan udah dibilang, ini semua cuma salah paham…”

 “Oh? Salah paham? Jadi mukul wajah orangku juga termasuk ‘salah paham’? Kamu ini berarti lagi tampar mukaku sendiri, ya, Tuan Muda Yu?”

Suasana tiba-tiba mencekam.
Ada bara di dada Qin Xiu — amarah yang tadinya mau ia tunda sekarang menyala lagi.

Tapi dia bukan orang yang asal hantam.
Kalau mau balas, dia harus balas dengan cara yang aman dan elegan.

 “Aku nggak bermaksud begitu, Qin-ge… aku salah, aku salah!”

Qin Xiu tersenyum tipis.

 “Bagus, tahu salah. Tapi lebih penting dari kesalahan itu sendiri, adalah sikap saat mengaku salah.”

Yu Weilin terdiam, bingung harus bilang apa.

 “Keluargamu pasti masih ingin kerja sama dengan Tianye Group, kan?” tanya Qin Xiu santai sambil melihat kuku jarinya.

 “Tentu saja mau!” jawab Yu Weilin cepat-cepat. Tanpa kerja sama itu, bisnis keluarganya akan rugi besar.

 “Bagus. Kalau begitu, ayo main sebuah permainan. Setelah main, asal kamu nggak bilang ke siapa pun, kerja sama kita tetap lanjut.”

Senyumnya lembut, tapi di mata Yu Weilin, itu senyum iblis.

 “Permainan apa?”

 “Chengzi, ambilkan aku barang itu.”

 “Hah?” Lu Qicheng sempat bingung, lalu matanya berbinar.
“Oh, maksud Qin-ge yang itu, ya?”

 “Iya.”

 “Siap, Qin-ge.”

Lu Qicheng mengangkat jasnya, lalu mengambil sebuah tongkat hitam dari pinggangnya, menyerahkannya pada Qin Xiu.

Yu Weilin menatap benda itu dengan wajah pucat.

 “Itu… apa?”

Naluri berkata, benda itu sangat berbahaya.

Qin Xiu menatapnya santai.

 “Pernah dengar ‘hukuman listrik’? Nggak pernah? Nggak apa-apa, kamu bakal dapat pengalaman gratis hari ini.”

 “Qin-ge! Qin-ge tolong! Aku salah! Aku nggak berani lagi, kumohon maafkan aku!” Yu Weilin langsung berlutut, gemetar hebat.

Qin Xiu tetap tenang.

 “Aku sudah bilang, aku menilai dari sikap mengaku salah. Sikapmu belum cukup.”

Ia menyalakan tongkat listrik itu.
Suara “bzzt! bzzt!” langsung menggema, bunga api kecil menyala di ujungnya.

Tiga siswa yang melihat — Tang Lingyi, Lin Wan, dan Peng Yuan — langsung pucat.
Bukannya lega karena pelaku dihukum, mereka justru ketakutan.

Terutama Tang Lingyi — hatinya berdebar keras.
Baru sekarang ia sadar, Qin Xiu sedang marah besar.
Dan… bisa jadi dia juga akan jadi sasaran berikutnya.

 “Jangan! Jangan—AAAHH!!”

Teriakan Yu Weilin bergema di gang sempit itu, bercampur suara “bzzt-bzzt” dari tongkat listrik —
seperti neraka di dunia nyata.

Lin Wan dan Peng Yuan menutup mata sambil memeluk diri, gemetar ketakutan.

Hukuman itu tidak lama.
Qin Xiu memang tidak berniat membunuh — ia tahu kapan harus berhenti.
Begitu melihat celana Yu Weilin basah karena kencing ketakutan, ia mematikan alatnya dan berhenti.

Yu Weilin terkapar di tanah, menggigil, tubuhnya kejang-kejang ringan.

Qin Xiu tahu, ini hanya rasa sakit sementara, tidak meninggalkan luka fisik.
Begitu pulang, keluarga Yu hanya akan merasa anaknya sedikit linglung — tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Tang Lingyi menatap Yu Weilin yang tergeletak di tanah.
Sekilas ia merasa iba, tapi segera teringat — kalau bukan karena Qin Xiu datang tepat waktu, mungkin dia sekarang sudah jadi korban.

Ia menggertakkan gigi dan berbisik pelan,

 “Pantas!”

Tiba-tiba ada sesuatu yang melingkar di kakinya.
Ia menunduk — Lin Wan sedang memeluk betisnya.

 “Suqing, Suqing, aku salah… aku takut… kumohon jangan biarkan Qin Xiu melakukan hal yang sama padaku!”

Lin Wan gemetar hebat, lututnya lemas, tak ada sisa keangkuhan sedikit pun.

Tang Lingyi melihatnya, terdiam lama.
Ya ampun… bukan cuma kamu, aku juga takut sama dia!

Dari percakapan Lin Wan dan Yu Weilin sebelumnya, ia tahu gadis itu sebenarnya tidak berniat menyakitinya serius.
Lin Wan hanya ingin menakut-nakuti dan marah, bahkan sempat berencana diam-diam melapor polisi.

Dan kalau diingat lagi, “Tian Suqing” yang asli memang banyak berbuat jahat padanya dulu.
Jadi dari satu sisi, Tang Lingyi bisa paham kenapa Lin Wan begitu membencinya.

Ia menarik napas pelan dan akhirnya membantu Lin Wan berdiri.

 “Kamu memang salah hari ini, tapi dulu aku juga bukan orang baik. Gini aja — anggap lunas. Kamu traktir aku makan nanti, dan kita mulai lagi dari awal, jadi teman.”

Lin Wan menatapnya tak percaya.
Ia cuma berniat memohon belas kasihan, tak menyangka benar-benar diampuni.
Dalam ingatannya, Tian Suqing tidak pernah semurah hati ini.

Air mata langsung mengalir, ia memeluk Tang Lingyi erat-erat.

 “Maaf, Suqing… maaf banget…”

 “Nggak apa-apa…” Tang Lingyi tersipu karena tiba-tiba dipeluk gadis lain, tapi kemudian matanya melirik nakal.

Lalu — “cup!”
Tang Lingyi dengan iseng meremas pelan bokong Lin Wan dua kali.

Ia tersenyum puas.

 Yah… lumayanlah, nggak rugi juga hari ini.

Comments (0)

Join the Discussion!

Share your thoughts and connect with other readers.

Login to Comment

No comments yet

Be the first to share your thoughts!