Enjoy an Ad-Free Experience High

Sign up to remove distractions and focus on what matters.

Volume 1

Chapter 40 Bab 40 – Siapa Sebenarnya Kamu?

Nov 13, 2025 1,103 words

Tang Lingyi baru berjalan tidak lama sambil menggendong Qin Xiu, tapi dia sudah menyesal sepenuhnya.
Alasannya sederhana —

Pria ini terlalu berat!!

Kalau dipikir-pikir juga wajar, Qin Xiu tingginya hampir setengah kepala lebih dari Tang Lingyi, ditambah tubuhnya yang berotot dan padat, berat badannya pasti lebih dari 75 kilo.
Itu setara dengan tiga karung beras!
Sedangkan Tang Lingyi? Mengangkat satu karung saja sudah cukup bikin kakinya gemetar, apalagi tiga!

Belum jalan jauh, kakinya sudah terasa seperti mau patah.
Wajahnya memerah, napasnya tersengal, dan keringat mengalir dari pelipis hingga leher.

“Masih jauh nggak sih ini?!”
Dia hampir menangis dalam hati.
Apalagi hutan di sekelilingnya penuh semak dan pepohonan, arah mana pun tampak sama.
Dia mulai curiga — jangan-jangan aku malah muter-muter dari tadi?!

“Uhhh... Qin Xiu, kamu bener-bener nyusahin deh... Sekarang kalau aku mati juga, salahmu sepenuhnya!”
Meski mengeluh, Tang Lingyi tetap tidak melepaskan Qin Xiu.
Dia hanya mendengus lelah, lalu menguatkan diri lagi.

“Yasudah, kalau mati ya mati bareng.”
“Anggap aja aku narik kamu buat jadi temen di akhirat!”

Namun saat pikiran di kepalanya berisik seperti itu, kenyataan malah lebih kejam —
Kakinya terpeleset!

Dia menginjak batu bulat yang licin, tubuhnya miring, dan… bruk!
Keduanya jatuh terguling di tanah.

“Aduh! Sakit banget!!”
Tang Lingyi duduk di tanah sambil mengelus pergelangan kaki yang terkilir.
Rasa sakitnya membuat air matanya hampir keluar.

Dia marah, bukan cuma karena kakinya keseleo — tapi juga karena tanpa Qin Xiu yang sadar, dia tidak tahu arah keluar.
Hutan ini seperti labirin, ke mana pun dilihat, semua tampak sama.

Tepat saat dia ingin menyerah, suara “ciap-ciap” terdengar di atas kepalanya.
Ia mendongak — dua ekor burung walet terbang sambil membawa segumpal tanah di paruh mereka.

Tang Lingyi menatap mereka, lalu tiba-tiba wajahnya bersinar.
“Ya ampun, aku ini bego banget!”

Burung walet biasanya suka tinggal dekat manusia untuk membuat sarang.
Kalau mereka terbang ke arah sana, berarti di sana kemungkinan besar ada permukiman!

Ia melirik posisi matahari — masih pagi, jadi matahari ada di timur.
Berarti walet itu terbang ke arah barat.
Kalau begitu, dia tinggal jalan membelakangi matahari, memastikan bayangannya selalu di depan — pasti bisa keluar dari hutan.

Kali ini otaknya benar-benar bekerja.
Dia cepat-cepat berdiri, menggigit bibir, dan kembali menggendong Qin Xiu.
“Baiklah, ronde dua dimulai. Kali ini aku nggak boleh salah arah!”

···

Sementara itu, Qin Xiu berada dalam alam bawah sadarnya.
Ia seperti sedang bermimpi — mimpi yang damai, lembut, dan penuh ketenangan.

Ia melihat dirinya bukan lagi Qin Xiu yang berdarah dan dingin,
melainkan seorang anak kecil yang berbaring di atas tumpukan jerami.
Angin lembut berhembus, membawa aroma samar-samar yang manis dan lembab —
seperti aroma ibu di masa kecilnya.

Ia menghirup napas dalam, dan untuk pertama kalinya sejak lama, merasa tenang.
Setelah jatuh dari ketinggian beberapa waktu lalu, hidupnya selalu dalam bahaya.
Tidur pun tak pernah nyenyak — sedikit suara bisa langsung membuatnya terbangun.

Mungkin luka tembak kali ini justru memberinya “izin” untuk beristirahat.

···

Tang Lingyi terus berjalan.
Langkahnya berat, tubuhnya gemetar, tapi tekadnya kuat.
Dia bukan tipe orang yang menyerah di tengah jalan.
Kalau sudah berjanji untuk menyelamatkan Qin Xiu, maka ia akan menepatinya sampai akhir.

Akhirnya, setelah entah berapa lama berjalan,
ia mendengar suara klakson mobil dari kejauhan.
Di antara pepohonan, tampak beberapa sosok berdiri.

“Qin Zong!?” suara seorang pria terdengar.

Tang Lingyi mengenal suara itu — Wu Feng!

Matanya langsung berbinar.
Ia berusaha membuka mulut, tapi tenggorokannya kering, suaranya serak:
“Di sini… aku di sini!!”

Beberapa detik kemudian, suara langkah kaki berlari menghampiri.
Wu Feng, Lu Qicheng, dan beberapa pria berbaju hitam muncul dari antara pepohonan.

Tang Lingyi tersenyum lemah, berusaha berkata,
“Kami sudah keluar—”

Namun belum sempat selesai, beberapa orang itu sudah berteriak panik:

 “Qin Zong!!”
“Qin Dui!”
“Qin Ge!! Cepat minggir!!”

Tang Lingyi hanya bisa melongo saat Lu Qicheng menubruknya, mendorongnya ke samping.
Ia dengan cepat mengangkat tubuh Qin Xiu dari punggungnya, lalu berlari keluar hutan tanpa menoleh sedikit pun.

Tang Lingyi terjatuh, duduk lemah di tanah.
Kakinya gemetar, seluruh tenaganya habis.

Ia menunduk, dadanya terasa sesak.
Padahal aku yang nyelametin dia… tapi nggak ada satu pun yang peduli.
Rasa sedih dan kecewa menumpuk di hatinya, membuat matanya panas.

Namun tepat saat ia ingin menangis,
sebuah tangan besar tiba-tiba terulur di depan wajahnya.

Ia mendongak —
Wu Feng berdiri di hadapannya, wajahnya serius tapi penuh rasa hormat.

 “Terima kasih, Nona Tian,” katanya dengan suara tulus.
“Kamulah yang menyelamatkan nyawa Tuan Qin. Kami… berutang budi seumur hidup.”

Tang Lingyi terpaku.
Matanya memerah, bibirnya bergetar — tapi sebelum sempat menjawab, pandangannya mendadak gelap.
Tubuhnya ambruk ke tanah.

 “Nona Tian!?”

···

Di jalan Bosong, beberapa mobil Jeep hitam sudah berjejer.
Lu Qicheng berlari keluar lebih dulu dengan Qin Xiu di pundaknya,
tak lama kemudian Wu Feng muncul sambil menggendong Tang Lingyi yang pingsan.

Seorang pria berambut panjang dengan kacamata keluar dari mobil pertama.
Itu adalah Si Tucheng, penasihat dan otak strategi Qin Xiu.

Begitu melihat luka Qin Xiu, wajahnya langsung tegang.

 “Lukanya tembak, tidak boleh dibawa ke rumah sakit umum.
Langsung ke rumah sakit pribadi milik Qin Group!”

“Baik!” jawab Lu Qicheng tegas.
Ia menyerahkan Qin Xiu pada Si Tucheng, lalu melompat ke kursi sopir.
Beberapa mobil pun melesat cepat meninggalkan tempat itu.

···

Di dalam salah satu mobil, Tang Lingyi perlahan membuka mata.
Yang pertama ia lihat adalah jok kulit hitam dan atap mobil yang berguncang halus —
berarti mereka masih dalam perjalanan.

“Sudah bangun?”
Suara tenang Wu Feng terdengar dari kursi depan.

Tang Lingyi memijat pelipisnya.
“Oh… iya. Ini mobilnya kamu?”

“Ya. Kita sedang menuju rumah sakit, Tuan Qin harus segera dirawat.”

Tang Lingyi mengerutkan dahi.
“Tapi aku nggak perlu ke sana. Lebih baik kamu turunkan aku di sekolah aja, teman-temanku pasti khawatir.”

Wu Feng menggeleng.
“Tidak bisa. Tuan Si Tucheng ingin bertemu denganmu. Ada hal yang perlu dia tanyakan.”

Tang Lingyi mendesah frustrasi.
“Ya ampun… aku udah capek banget. Boleh nggak aku tidur dulu?”

“Tidurlah. Masih sekitar sepuluh menit lagi sampai.”
Wu Feng berhenti sejenak, lalu menatap gadis itu lewat kaca spion.
“Tapi sebelum kamu tidur, aku ingin tanya satu hal.”

Tang Lingyi meliriknya malas.
“Hmm? Kamu juga mau interogasi aku ya? Ya udah, tanya aja.”

Wu Feng menatapnya tajam lewat kaca spion.
Suara yang keluar dari bibirnya tenang, tapi penuh tekanan:

 “Sebenarnya… siapa kamu?”

Tang Lingyi langsung tertegun.
Matanya membulat, mulutnya terbuka sedikit — tapi tak ada suara keluar.
Udara di dalam mobil seolah menegang dalam sekejap.

Comments (0)

Join the Discussion!

Share your thoughts and connect with other readers.

Login to Comment

No comments yet

Be the first to share your thoughts!