Enjoy an Ad-Free Experience High

Sign up to remove distractions and focus on what matters.

Volume 1

Chapter 41 Bab 41 – Saatnya Berterus Terang (Bab Tambahan)

Nov 13, 2025 1,188 words

Aku… siapa?

Saat Tang Lingyi mendengar pertanyaan Wu Feng itu, seketika dia menjadi gugup.
Memang benar, dia pernah mengatakan kalau dirinya bukan Tian Suqing, tapi itu diucapkan dalam keadaan panik, tanpa berpikir panjang.

Sebenarnya, kalau bisa memilih, Tang Lingyi ingin tetap menggunakan identitas Tian Suqing agar bisa melarikan diri tanpa menyingkap jati dirinya yang sebenarnya. Dengan begitu, dia bisa tetap melindungi organisasi di belakangnya.
Namun, kenyataannya tak seindah harapan.

“Uh… aku…”
Tang Lingyi mulai terbata-bata, tampak ragu apakah ia harus jujur kepada Wu Feng atau tidak.
Karena kalau dia mengaku, berarti dia harus mengatakan hal-hal yang bisa merugikan dirinya sendiri. Ia masih ingin mengambil jalan aman — menggunakan identitas Tian Suqing untuk kabur tanpa meninggalkan jejak apa pun.

Sayangnya, Wu Feng sudah mulai curiga dari tingkah lakunya.
Sejak Tang Lingyi mengatakan bahwa dirinya bukan Tian Suqing, Wu Feng sudah merasa ada yang janggal.

Misalnya, gadis ini bisa memainkan game yang dulu dianggap Tian Suqing tidak tertarik sama sekali;
Dia juga tidak tahu kelasnya sendiri dan mencari dari lantai satu padahal sudah belajar di gedung bahasa Inggris selama empat tahun;
Dia bisa bergaul dengan laki-laki yang dulu tidak pernah dikenalnya;
Dia berani membela teman-temannya, bahkan berusaha menolong Qin Xiu — orang yang konon pernah dia “bunuh”.

Kalau hal-hal kecil sebelumnya hanya menimbulkan sedikit kecurigaan, maka kejadian terakhir — saat dia menolong Qin Xiu — membuat Wu Feng benar-benar yakin bahwa gadis ini bukan Tian Suqing.
Coba pikir, seseorang yang dulu bisa begitu kejam sampai membunuh Qin Xiu, setelah Qin Xiu kembali dan menyiksanya hampir sebulan penuh, lalu diberi kesempatan untuk balas dendam, bagaimana mungkin dia tidak melakukannya kalau dia benar-benar Tian Suqing?

Karena itu, jelas sekali dia bukan orang yang sama.

Berbeda dengan Qin Xiu yang punya pengalaman pahit langsung dengan Tian Suqing, Wu Feng melihat semua ini dengan kepala dingin. Ia bisa menilai lebih objektif.

Tampaknya surga masih sedikit adil — meskipun kebaikan dan rasa terima kasih Tang Lingyi membuatnya gagal melarikan diri, justru hal itu membuat seseorang akhirnya mau percaya padanya.

Melihat Tang Lingyi tampak gugup dan ragu, Wu Feng pun berkata dengan tenang:
“Jangan takut, Nona Tian. Aku hanya menilai dari apa yang kamu katakan dan perbuatanmu belakangan ini. Aku rasa kamu memang bukan Tian Suqing yang sebenarnya. Kalau kamu jujur, aku akan bantu kamu.”

Nada suaranya lembut dan datar, seperti seorang bartender yang mendengarkan curhat pelanggan mabuk — tenang dan menenangkan.

Tang Lingyi menunduk. Di matanya ada keraguan yang berputar-putar.

Dibandingkan dengan Lu Qicheng yang kasar atau empat bersaudara Du yang jorok dan menakutkan di vila tepi teluk itu, Wu Feng jelas seperti “udara segar” di antara kelompok kejam yang dipimpin Qin Xiu.

Selain itu, Wu Feng juga sudah beberapa kali menolongnya. Bahkan barusan, ketika semua orang sibuk mengurus Qin Xiu yang terluka, hanya Wu Feng yang dengan tulus menolongnya seperti seorang kakak.

Mungkin… dia memang bisa dipercaya?

Setelah berpikir, Tang Lingyi akhirnya menarik napas dalam-dalam dan berkata pelan,
“Wu Feng-ge, tebakanmu benar. Aku sudah bilang sebelumnya, aku bukan Tian Suqing. Aku hanyalah seorang pencuri yang menyamar jadi dia untuk mencuri informasi bisnis.”

“Pencuri?” Wu Feng menatap balik, agak terkejut. “Kamu serius?”

“Ya! Aku benar-benar seorang pencuri…” Tang Lingyi pun menceritakan beberapa aksi yang pernah ia lakukan.

Wu Feng mendengarkan lalu bertanya datar,
“Kalau begitu kenapa kamu bisa tertangkap Qin Xiu? Seorang pencuri kok bisa sebodoh itu?”

“Aku…” Tang Lingyi ingin membantah, tapi tidak tahu harus berkata apa. Akhirnya hanya bisa menggembungkan pipinya kesal, “Kalau kamu bilang aku bodoh, ya berarti aku bodoh deh.”

Ucapan Wu Feng itu benar-benar menusuk hatinya.
Memang benar — semua penderitaan yang ia alami sekarang berakar dari kebodohannya sendiri.

Selama ini, keberhasilannya hanya karena bantuan alat-alat canggih yang selalu dibawanya. Tapi kali ini, semua peralatannya disita, dan dia berubah menjadi seorang gadis biasa yang fisiknya lemah — tak ada bedanya dengan orang normal.

Kalau yang dikirim waktu itu adalah pencuri lain yang lebih berpengalaman, mungkin mereka sudah berhasil kabur dari awal.

“Baiklah, aku percaya padamu,” ujar Wu Feng akhirnya. “Jadi, maksudmu, Tian Suqing yang asli masih hidup bebas di luar sana?”

“Benar! Semua kesalahannya malah aku yang harus menanggung! Aku harus minta maaf ke semua orang atas hal yang bahkan bukan aku yang lakukan! Aku benar-benar sial, Wu Feng-ge!”

Melihat gadis itu kesal dan hampir menangis, Wu Feng tersenyum tipis.
“Aku mengerti. Kalau begitu, aku memang harus membantumu keluar dari sini… dan membuat wanita jahat yang asli itu menerima hukumannya.”

Wu Feng berpikir dengan logika yang jelas — kalau gadis ini bukan Tian Suqing, berarti dia hanyalah korban yang salah tangkap. Maka, secara moral, ia memang wajib menolongnya.

Meskipun dia memang datang untuk mencuri rahasia bisnis, tapi mengingat dia gagal dan sudah disiksa selama sebulan, hukuman itu sudah lebih dari cukup.

“Wu Feng-ge… makasih banget…” Tang Lingyi hampir menangis haru. Akhirnya, ada orang yang percaya padanya dan mau menolong.

Wu Feng tersenyum, tapi kemudian wajahnya berubah sedikit serius. Ia sadar ada satu masalah besar.

Kalau dia langsung melepaskan gadis itu sekarang, bisa muncul konsekuensi berat.
Alasan utama mereka bisa mengendalikan Grup Tianye adalah karena mereka memegang kendali atas putri Tian Yushu.
Kalau sandera ini dilepaskan, Tian Yushu pasti akan melawan balik.

Jadi meski Wu Feng tahu kebenarannya, demi kepentingan kelompok, dia tidak bisa langsung membiarkan gadis ini pergi.

Dia akhirnya berkata pelan,
“Jangan berterima kasih dulu. Aku memang bisa menolongmu, tapi kamu harus bekerja sama denganku.”

“Hah?” Tang Lingyi langsung tegang.
Bekerja sama?
Apa maksudnya? Jangan-jangan… mau macam-macam!?

“Ya,” lanjut Wu Feng, “kalau kamu mau bekerja sama, aku bisa bantu kamu keluar dari sini.”

Tang Lingyi menatapnya curiga, tapi merasa Wu Feng bukan tipe pria cabul.
“Baiklah, coba jelaskan dulu.”

Wu Feng menghela napas.
“Aku akan menjelaskan semuanya ke Qin Xiu, tapi sekarang situasinya rumit. Qin Xiu terlalu benci Tian Suqing karena dulu pernah dibohongi habis-habisan, jadi kalau aku langsung bilang kamu bukan dia, dia pasti tidak percaya. Bahkan kalau aku yang bicara, dia tetap akan menganggap kamu berbohong. Jadi kita harus buat dia perlahan-lahan menyadarinya sendiri.”

“Pertama, sekarang Qin Xiu butuh waktu untuk pulih. Belum lagi ada serangan kemarin — kemungkinan konflik masih akan terjadi. Jadi, sebelum semuanya tenang, aku belum bisa membuka identitasmu.”
“Kedua, selama waktu ini, kamu jangan buat dia marah. Cobalah untuk patuh, bersikap lembut, bahkan kalau bisa buat dia mulai ragu sendiri — sehingga nanti, ketika aku jelaskan kebenarannya, dia akan lebih mudah percaya. Kalau kamu setuju, aku akan bantu.”

Intinya, Wu Feng meminta Tang Lingyi menunggu waktu yang tepat dan bersikap manis dulu.

Namun Tang Lingyi masih bingung.
“Kenapa kamu tidak langsung membiarkan aku kabur diam-diam saja? Setelah aku pergi, kalian tetap bisa mencari Tian Suqing yang asli, kan?”

Wu Feng menggeleng pelan.
“Nona Tian, kamu tidak bisa cuma memikirkan dirimu sendiri. Kalau aku langsung melepasmu, Qin Xiu pasti curiga aku bersekongkol denganmu. Kamu mungkin bisa kabur, tapi aku akan dituduh pengkhianat. Aku tidak bisa menjelaskan hal itu padanya nanti.”

Wu Feng menatapnya serius.
“Jadi… kamu setuju?”

Tang Lingyi terdiam, wajahnya tenggelam dalam pikiran yang rumit.

Comments (0)

Join the Discussion!

Share your thoughts and connect with other readers.

Login to Comment

No comments yet

Be the first to share your thoughts!