Chapter 90 Bab 90 – Alasan Datang ke Sini
Tang Lingyi sebenarnya sedang menonton video, tapi sebagai seseorang yang sudah terbiasa melamun dan curi-curi hiburan di kelas selama bertahun-tahun, pendengarannya terhadap langkah kaki guru sudah sangat peka.
Begitu Qin Xiu baru melangkah, dia langsung menutup videonya dan pura-pura kembali mengerjakan tugas.
Dia pikir Qin Xiu hanya akan berkeliling seperti guru biasa. Siapa sangka lelaki itu malah langsung berjalan lurus ke arahnya.
Mau tak mau, Tang Lingyi buru-buru menutup semua halaman web dan berakting seolah-olah sedang serius belajar.
Qin Xiu berdiri di belakangnya dengan tangan di belakang punggung, sedikit terkejut.
“Wah, tanganmu cepat juga ya.”
“...?” Tang Lingyi memutuskan untuk berpura-pura tidak tahu.
“Aku bisa lihat layar komputer kalian semua dari meja guru. Ayo putar videomu, biar aku lihat.”
Tang Lingyi mengembungkan pipi, sangat tidak rela, tapi tetap menekan tombol play.
“Hmm, lumayan. Tapi bagian ini ada kesalahan editing. Dan materi yang aku jelasin, kenapa nggak kamu pakai semua?”
“Um… beberapa bagiannya aku nggak paham.” Tang Lingyi berkata jujur.
“Kalau nggak paham kenapa nggak tanya lagi?”
“Uh…”
Sejak dulu dia tidak suka bertanya. Kalau tidak paham penjelasan guru, dia biasanya pura-pura paham saja. Apalagi gurunya sekarang adalah Qin Xiu.
Qin Xiu menghela napas. “Sudahlah, aku tunjukkan sekali lagi.”
“Oh, terima kasih gur—”
Belum selesai Tang Lingyi bicara, dia langsung terkejut oleh tindakan Qin Xiu.
Dengan santai, Qin Xiu menutupi tangan kecilnya yang sedang memegang mouse, lalu memandu gerakan tangannya di atas mouse.
Begitu disentuh, bulu kuduk Tang Lingyi langsung berdiri, seluruh tubuhnya kaku.
Namun Qin Xiu tidak melakukan hal aneh. Dia benar-benar hanya memandu langkah-langkah editnya.
“Klik fitur ini, lalu tarik sedikit, terus kunci framenya. Coba kamu play, lihat sudah benar belum.”
Setelah itu Qin Xiu melepas tangannya.
Tang Lingyi menekan tombol play. Hasilnya memang jauh lebih halus daripada editannya sendiri.
“Bagus. Kamu berbakat. Kalau nanti hasil editmu makin bagus, aku bisa kenalkan kamu kerja di perusahaan temanku.”
Tentu saja, “teman” itu tidak lain adalah dirinya sendiri.
Setelah berkata begitu, Qin Xiu kembali ke tempat duduknya sambil tersenyum.
Tang Lingyi agak bingung.
Orang ini sebenarnya mau ngapain!?
Kenapa kelihatannya seperti benar-benar datang untuk menjadi guru?
“Lingyi, guru baru ini agak aneh ya. Jangan-jangan… dia gay?” kata Hua Yujie yang merasa ada yang janggal.
“Hah? Masa sih…” Tang Lingyi juga tak bisa menebak isi kepala Qin Xiu.
Menurutnya, Qin Xiu mungkin mencurigainya, jadi datang untuk menyelidikinya.
Tadi memegang tangannya mungkin hanya untuk menguji reaksinya.
Karena Qin Xiu belum menahannya sekarang, berarti dia masih belum yakin. Kalau suatu hari identitasnya terbongkar, mungkin Qin Xiu tetap akan bertindak.
Tang Lingyi merasa sekolah ini mungkin bukan lagi tempat aman baginya.
Mungkin dia harus kabur… tapi mau kabur ke mana?
Dia merasa sedikit bingung.
“ Tang Lingyi, ikut aku keluar sebentar.”
Setelah kelas selesai, Qin Xiu langsung keluar.
Tang Lingyi tahu dia tak bisa kabur, jadi hanya bisa memberanikan diri mengikutinya.
Begitu dia pergi, para siswi langsung heboh.
“Gila, guru baru ini ada yang nggak beres. Tapi aku suka banget plot kayak gini!”
“Iya sih aku juga suka genre seme-uke yang agresif gitu, tapi ini baru hari pertama sudah ngejar murid cowok? Cepet amat!”
“Kesal banget! Banyak cewek cantik, kenapa malah suka cowok!?”
······
Di depan pintu, Qin Xiu berkata, “Tadi aku lihat ekspresimu. Sepertinya kamu kurang suka cara aku mengajar. Kalau aku menyinggungmu, maafkan aku.”
Tang Lingyi tertegun. Ini pertama kalinya Qin Xiu minta maaf padanya.
Dia menggaruk wajahnya. “Ah… nggak apa-apa kok.”
“Syukurlah. Hari ini pertama aku mengajar, jadi mungkin belum berpengalaman.”
Kenapa dia serius banget sih?
Jangan-jangan dia punya niat tertentu?
Tang Lingyi menatapnya curiga. “Kamu benar-benar guru? Kemarin di acara itu aku lihat kamu, rasanya kamu itu bos perusahaan, kan?”
Dia bicara hati-hati karena merasa dirinya belum ketahuan.
“Mm, memang aku bos. Tapi perusahaan kami kekurangan editor video yang bagus. Jadi aku datang ke sekolah ini buat membina dan mencari talenta.”
Agak mengada-ada.
Begitulah penilaian Tang Lingyi. Mereka baru bertemu dua hari lalu, dan di hari ketiga lelaki ini tiba-tiba jadi guru? Terlalu kebetulan.
Qin Xiu mendengar nada curiganya.
Dia menghela napas. “Sepertinya alasan itu memang tidak bisa menipumu. Kalau begitu, aku bilang jujur saja.”
Tang Lingyi langsung tegang.
Benar kan, dia ada tujuan!
“Alasan sebenarnya sudah aku bilang hari itu. Kamu sangat mirip dengan seorang perempuan yang dulu kukenal. Tapi aku melakukan banyak kesalahan padanya, dan aku sangat menyesal. Melihatmu mengingatkanku padanya. Jadi aku datang ke sini untuk mencari jejaknya.”
Mencarinya?
Entah yang dimaksud itu Tian Suqing atau dirinya sendiri, tapi dari jawaban ini, Qin Xiu tampaknya belum sadar siapa dirinya sebenarnya.
Hmm…
Tang Lingyi berpikir sejenak.
Benar juga. IQ orang ini tidak tinggi. Dulu waktu dia bilang dirinya bukan Tian Suqing, Qin Xiu saja bisa percaya. Jadi tidak mengenalinya sekarang itu mungkin.
Tang Lingyi mengedip cerdik. “Aku bilang aku nggak kenal. Tapi… bagaimana kamu menyakiti gadis itu?”
Dia ingin memastikan siapa “korban” yang dimaksud.
Qin Xiu agak canggung. “Aku salah mengira dia sebagai orang lain, lalu mengurungnya. Bahkan… sempat melukainya.”
Pipi Tang Lingyi memerah. “Itu memang parah…”
Sekarang dia sudah makin yakin gadis itu adalah dirinya.
Tapi dia tentu tidak akan mengaku.
Karena Qin Xiu tidak pernah menyebut soal berlian yang ia curi. Mungkin Qin Xiu sedang memancingnya untuk mengaku bodoh-bodoh sendiri.
Sayang sekali, dia tidak sebodoh itu.
Qin Xiu melihat ekspresi Tang Lingyi dan merasa ia sudah percaya.
Dia segera menambahkan, “Karena kalian sangat mirip, meski aku tak mendapat info apa pun darimu, aku ingin mengajar di sini sebentar. Anggap saja sebagai cara mengenang dia. Meskipun menjadikanmu sebagai bayangan orang lain itu tidak sopan, tolong maklumi.”
“Ah tidak apa-apa… tapi kamu tidak ‘menyukai’ cowok kan?” Tang Lingyi bertanya sambil mengeraskan suara, sengaja membuat gestur aneh.
Dia membuat lingkaran dengan satu tangan, dan satu jari tangan satunya menusuk-nusuk masuk ke dalamnya.
Qin Xiu tertegun. Lama sekali baru mengerti, lalu tertawa keras.
“Hahaha, tidak, tidak! Tenang saja, aku tidak tertarik pada laki-laki.”
“Oh syukurlah. Kalau begitu aku balik dulu, gur— guru…”
Sial. Menyebut pria bejat ini sebagai “guru” rasanya benar-benar menyakitkan.
“Mm, sampai ketemu besok.” Qin Xiu melambaikan tangan sambil tersenyum.
Begitu Tang Lingyi masuk kelas, senyuman Qin Xiu justru semakin lebar.
No comments yet
Be the first to share your thoughts!