Enjoy an Ad-Free Experience High

Sign up to remove distractions and focus on what matters.

Volume 1

Chapter 57 Bab 57: Kebebasan yang Hilang Lalu Ditemukan Kembali

Nov 13, 2025 1,186 words

Rencana ini muncul tiba-tiba dalam pikiran Tang Lingyi kemarin.

Kemarin, saat menyadari bahwa Lu Qicheng sesekali pergi ke toilet dan meninggalkannya tanpa pengawasan—meski hanya sebentar—Tang Lingyi langsung menemui Lin Wan untuk membahas rencana ini.

Lin Wan, yang masih merasa berhutang budi karena Tang Lingyi dulu memaafkannya dengan lapang dada, langsung menyetujui tanpa ragu untuk ikut dalam aksi berisiko ini.

Agar pergantian pakaian bisa berlangsung cepat, mereka sepakat hari ini sama-sama mengenakan celana hitam dan kaos putih—hanya jaket luar yang berbeda. Dengan begitu, gaya berpakaian mereka tetap bisa dikenali, namun pergantian pakaian bisa dilakukan dalam sekejap.

Selain itu, Tang Lingyi juga meminta Lin Wan membeli dua wig palsu—satu dengan model rambut Lin Wan sendiri, dan satu lagi dengan model rambut Tang Lingyi yang bergelombang besar berwarna merah keemasan.

Ternyata, kebaikan hati memang tak pernah sia-sia. Karena dulu Tang Lingyi memaafkan Lin Wan, kini gadis yang tahu balas budi itu dengan rela menghabiskan waktu sepulang sekolah untuk membeli dua wig berkualitas tinggi demi membantu rencana hari ini.

Rencana Tang Lingyi sebenarnya cukup sederhana: setelah bertukar pakaian dan wig, mereka hanya perlu berpura-pura tertidur di meja sepanjang hari.

Meski waktu Lu Qicheng pergi ke toilet memang terlalu singkat untuk kabur, tetapi sepanjang hari penuh pasti cukup bagi Tang Lingyi untuk melarikan diri.

Dan begitu ia berhasil kabur, Qin Xiu takkan pernah bisa menemukannya lagi—karena ia hanya perlu kembali mengambil reagen itu, lalu berubah wujud. Setelah itu, di dunia ini takkan pernah ada lagi gadis yang wajahnya mirip Tian Suqing.

Meski Lin Wan termasuk siswi yang rajin belajar, tapi mengingat “Tian Suqing” dulu menyelamatkannya dari siksaan listrik, ia pun mantap memutuskan untuk berpura-pura tidur sepanjang hari ini demi membantu Tang Lingyi.

Karena mereka duduk di deretan paling belakang, tak seorang pun menyadari gerakan mereka. Dalam waktu sekitar dua menit, mereka telah bertukar pakaian. Kini, Tang Lingyi yang memakai wig hitam serta mengenakan hoodie merah muda milik Lin Wan berjalan keluar seolah tak terjadi apa-apa.

Mereka bergerak cepat, hanya butuh sekitar dua menit—secara teori, mustahil mereka ketahuan…

Astaga!?

Tang Lingyi, yang sedang larut dalam pikirannya, tiba-tiba menoleh ke arah koridor. Matanya langsung membelalak, dipenuhi kepanikan.

Di kejauhan, sekitar sepuluh meter di depannya, Lu Qicheng sedang berjalan sambil mengancingkan sabuk celananya dengan santai.

Dan kebetulan sekali—tangga berada tepat di sisi arah dia datang. Artinya, jika Tang Lingyi ingin pergi, ia pasti akan berpapasan langsung dengannya.

Kakinya terasa lumpuh: maju bukan, mundur pun bukan.

Saat ia masih ragu-ragu, Lu Qicheng sudah melangkah lagi, kini jaraknya tinggal tujuh atau delapan meter. Jika ia sedikit saja menaruh perhatian, sangat mungkin ia akan langsung menyadari ada yang aneh dengan gadis di depannya.

Tang Lingyi sempat berpikir untuk langsung berlari saja melewatinya, tapi ia tahu betul Lu Qicheng mantan tentara—pengamatannya pasti tajam. Bisa jadi, begitu ia mendekat, ia langsung ketahuan.

“Kenapa nasibku seburuk ini sih!?” gumam Tang Lingyi kesal.

Namun, ia sadar bahwa ia sudah tak punya jalan mundur. Bahkan jika ia kembali sekarang, ia takkan sempat bertukar pakaian lagi dengan Lin Wan. Lu Qicheng pasti tetap akan curiga.

Setelah memahami itu, Tang Lingyi menarik napas dalam-dalam, bersiap menerobos.

“Ayo, Lingyi! Cara terbaik menghilangkan rasa takut adalah menghadapinya langsung!”

“Semangat!”

“Majuuu!”

Namun, meski pikirannya begitu heroik, kakinya tetap diam mematung.

Tepat saat ia jadi pengecut kecil, seseorang muncul.

“Ayo, Lin Wan.”

Sebuah tangan menarik pergelangan tangannya. Tang Lingyi mendongak—ternyata itu Peng Yuan!

Sebagai satu-satunya sahabat baik Tang Lingyi di sekolah ini, sekaligus duduk di deretan paling belakang, Peng Yuan tentu tahu rencana mereka berdua.

Melihat Tang Lingyi diam terpaku di depan pintu, ia langsung menduga bahwa sang raksasa itu—Lu Qicheng—telah kembali. Tanpa ragu, Peng Yuan segera bangkit dan keluar untuk membantunya.

Ia berpura-pura akrab dengan “Lin Wan”, bahkan sengaja menutupi tubuh Tang Lingyi dengan badannya yang besar, menghalangi pandangan Lu Qicheng.

Dengan begitu, Peng Yuan menarik Tang Lingyi berjalan melewati Lu Qicheng.

Tentu saja, Lu Qicheng memperhatikan sepasang “kekasih” yang lewat di sampingnya. Saat mereka berpapasan, matanya menyipit, seolah mengamati dengan saksama.

Detik itu terasa membeku. Meski sebagai pencuri bayangan Tang Lingyi sudah terbiasa meloloskan diri di depan hidung musuh, kali ini ia benar-benar seperti gadis biasa—tanpa riasan, tanpa alat bantu—jadi wajar saja ia gugup.

Bahkan Peng Yuan pun terasa gugup—itu terasa dari cengkeramannya yang tiba-tiba mengencang di pergelangan tangan Tang Lingyi.

Namun, keberuntungan berpihak pada Tang Lingyi. Lu Qicheng hanya memperhatikan sejenak, lalu memalingkan pandangannya, melanjutkan langkahnya sambil bergumam dalam hati:

“Ternyata si gendut itu pacar sama cewek kemarin… hebat juga dia.”

Karena tubuh Peng Yuan yang gempal benar-benar menutupi sosok Tang Lingyi yang mungil, Lu Qicheng nyaris tak bisa melihat wajahnya. Setelah memberi penghormatan batin pada “si gendut”, ia pun masuk ke kelas dengan santai.

Begitu kembali ke dalam kelas, matanya langsung tertuju pada sosok yang masih tertidur di meja—berjaket denim, rambut keriting merah keemasan. Ia sama sekali tak curiga, hanya menggeleng pelan lalu duduk di samping “Tian Suqing” itu, melanjutkan tugas jaganya yang membosankan.

Lin Wan, yang sedang membenamkan wajahnya di lengannya sambil berpura-pura tidur, hampir melompat ketakutan saat Lu Qicheng duduk. Tapi melihat ia tak bereaksi apa-apa, Lin Wan pun menghembuskan napas lega.

“Huh—”

Begitu Lu Qicheng pergi, Tang Lingyi dan Peng Yuan hampir bersamaan menghela napas. Peng Yuan buru-buru melepaskan genggamannya, lalu mereka saling menatap—dan tertawa.

“Kamu itu payah banget, genggamanku sampai meninggalkan bekas!” Tang Lingyi mengangkat pergelangannya yang memerah.

“Enyahlah, kamu sendiri juga kaku kayak patung! Cepetan pergi sana!” Peng Yuan sambil tertawa mendorong pundak Tang Lingyi.

“Makasih ya, Peng Yuan,” ucap Tang Lingyi. Setelah melewati bahaya ini, ia tak berani menunda lagi. Ia menepuk pundak Peng Yuan, lalu bersiap pergi.

Namun, ketika kakinya mulai melangkah, ia tiba-tiba teringat sesuatu.

Jika ia pergi sekarang… mungkin ini adalah kali terakhir ia bertemu Peng Yuan.

Pikiran itu membuatnya menoleh sekali lagi pada sahabat baiknya—ia merasa harus mengucapkan perpisahan yang layak.

Namun, Peng Yuan sama sekali tak tahu rencana sesungguhnya Tang Lingyi. Ia mengira ini hanya upaya Tang Lingyi untuk kabur dari pengawalan sebentar. Jadi, dengan santai, ia sudah berbalik dan berjalan kembali ke kelas.

Saat Tang Lingyi keluar dari gedung bahasa Inggris dan menyambut sinar matahari yang hangat, rasanya seperti seluruh tubuhnya ringan.

Ini pertama kalinya dalam sebulan ia bisa keluar tanpa diawasi siapa pun.

Aroma kebebasan menyelimutinya, membuatnya mabuk akan rasa lega.

Manusia kerap mengabaikan hal-hal yang selalu ada di sekitarnya—mungkin seperti jangkrik kecil yang dulu dilepaskannya di semak-semak waktu kecil; atau sepeda tuanya yang sering rantainya lepas; atau bahkan kebebasan yang selama ini ia miliki tapi tak pernah dihargai.

Kita baru menyadari betapa berharganya sesuatu setelah kehilangannya. Dan saat itu terjadi, kenangan masa lalu akan datang menerjang seperti gurita raksasa—mencekik, mengganggu, namun tak bisa dilepaskan.

Begitulah Tang Lingyi. Setelah kehilangan kebebasannya, ia baru menyadari betapa indahnya masa lalu. Dan ia tahu, tak ada yang lebih membahagiakan daripada kebebasan yang sempat hilang—lalu ditemukan kembali.

Namun, sebelum benar-benar bebas… ia masih punya satu misi terakhir.

Ia akan menyusup kembali ke Tianye Group diam-diam.

Lalu menyerahkan proposalnya sendiri—dan membuat Qin Xiu bangkrut total.

Comments (0)

Join the Discussion!

Share your thoughts and connect with other readers.

Login to Comment

No comments yet

Be the first to share your thoughts!