Enjoy an Ad-Free Experience High

Sign up to remove distractions and focus on what matters.

Volume 1

Chapter 42 Bab 42 – Bayangan yang Ada di Dalam Mimpi

Nov 13, 2025 1,061 words

Setelah mencoba berpikir dari sudut pandang lain, Tang Lingyi merasa perkataan Wu Feng memang masuk akal — dia tak bisa hanya memikirkan dirinya sendiri, tapi juga harus memahami posisi Wu Feng.

Meskipun itu berarti dia harus menunggu sedikit lebih lama, tapi yang penting dia bisa keluar dari tempat ini, dan itu sudah cukup membuatnya senang. Jadi bagi Tang Lingyi, syarat itu tidak terlalu sulit. Ia langsung mengangguk cepat seperti ayam mematuk jagung.

 “Aku setuju.”

Wu Feng tersenyum mendengarnya.

 “Terima kasih atas pengertiannya. Kalau begitu, semoga kerja sama kita berjalan lancar.”

 “Iya, iya!”

Wu Feng kembali menatap jalan di depannya, masih dengan senyum di wajahnya.

 “Oh ya, kalau kau bukan Nona Tian, bolehkah aku tahu siapa namamu?”

Wu Feng sebenarnya tidak terlalu peduli apakah nama itu asli atau palsu — dia hanya butuh nama untuk dilaporkan pada Qin Xiu nanti.

 “Hmm…” Tang Lingyi terdiam sejenak, lalu agak gugup menatap ke luar jendela. Saat itu mobil mereka melintas di depan sebuah toko bunga, jadi tanpa berpikir panjang ia langsung menjawab,

“Lu Xiaohua.” (Secara harfiah: Bunga Jalanan)

Wu Feng tersenyum,

 “Namanya lumayan bagus.”

 “Hehe, terima kasih atas pujiannya!” Tang Lingyi menjawab dengan tawa kecil.

Wu Feng menatapnya lewat kaca spion, lalu tersenyum samar sambil berpikir dalam hati:

 Yang kumaksud bagus itu bukan karena indah, tapi karena kau cukup pintar untuk mengarangnya.

Tang Lingyi tentu tak tahu apa yang dipikirkan Wu Feng. Sekarang, karena merasa ada harapan bisa keluar dari tempat itu, suasana hatinya jadi sangat baik. Menurut Wu Feng, sebentar lagi dia sudah bisa pergi.

Namun sebelum pergi, Tang Lingyi merasa masih ada satu hal penting yang harus dia lakukan—

Membalas dendam pada Qin Xiu.

Tang Lingyi adalah tipe orang yang tahu berterima kasih dan juga tahu membalas dendam. Karena Qin Xiu pernah menyelamatkan nyawanya, walaupun ia membencinya, ia tetap tak akan diam saja bila Qin Xiu dalam bahaya.

Tapi karena Qin Xiu dulu sering menakut-nakutinya dan mempermainkannya, dia merasa tidak bisa pergi begitu saja tanpa membalas sedikit.

Tentu saja, dendamnya bukan balas dendam jahat — hanya semacam prank yang akan membuat Qin Xiu tidak akan melupakannya seumur hidup.

Dia masih belum tahu prank seperti apa yang cocok, tapi sudah bersemangat memikirkannya.

 Hmph! Tunggu saja, Qin Xiu. Sebelum aku pergi, aku pasti akan membuatmu menyesal!

---

Qin Xiu di sisi lain tidur dengan sangat nyenyak.

Dalam mimpinya, ia melihat dirinya sedang bermain air di pedesaan bersama seorang gadis. Langit biru cerah, gadis itu mengenakan gaun putih sederhana, kaki kecilnya yang bersih menginjak batu-batu basah sambil tersenyum dan memercikkan air ke arah Qin Xiu.

 “Jangan lari,” kata Qin Xiu sambil menangkis cipratan air, ikut tersenyum.

 “Bodoh mana mau ketangkep!” jawab gadis itu sambil menjulurkan lidahnya. Ia berdiri di atas batu di tengah sungai kecil, membuka tangan untuk menjaga keseimbangan, lalu melompat-lompat menjauh.

Tapi gerakannya kikuk, sedangkan Qin Xiu sangat cepat. Dalam beberapa langkah saja, ia sudah berhasil menangkap tangan gadis itu dan menariknya ke dalam pelukannya.

 “Kau pikir bisa lari dariku?” bisiknya lembut. “Ayo, angkat wajahmu, biar kulihat betapa cantiknya kau.”

 “Tidak mau~” gadis itu menunduk malu.

Qin Xiu tersenyum lembut, mengangkat wajahnya dengan kedua tangan agar ia menatapnya langsung.

Namun saat wajah itu terlihat jelas — Qin Xiu tertegun, lalu matanya seketika dipenuhi keterkejutan dan amarah.

 “Kenapa kau!? Tian Suqing!?”

 “Bukan… aku bukan Tian Suqing, aku adalah…”

Nama yang diucapkan gadis itu samar-samar, Qin Xiu tak bisa mendengar dengan jelas. Tapi dia tidak peduli.

Bahkan dalam mimpi pun, wajah Tian Suqing tetap menjadi duri yang menusuk hatinya. Wajah yang cantik dan memesona itu, di matanya hanya tampak seperti wajah iblis.

Pemandangan indah di sekelilingnya mulai runtuh, warna-warna cerah memudar menjadi kegelapan total. Dalam gelap gulita itu, satu titik cahaya muncul jauh di depan. Qin Xiu berlari ke arahnya, berpikir itu jalan keluar. Ia menembus cahaya itu —

Lalu…

Bulu matanya bergetar, dan dia perlahan membuka matanya. Ia menemukan dirinya berada di sebuah ruang perawatan rumah sakit.

Ruangan itu kosong, sunyi aneh.

Hanya suara mesin monitor jantung yang berbunyi “bip… bip…” di sebelahnya.

Qin Xiu berusaha bangun, tapi begitu tubuhnya bergerak sedikit saja, rasa sakit hebat menjalar ke seluruh tubuh. Ia mengerutkan alis, namun tetap memaksa duduk.

Ia mencoba mengingat — terakhir kali dia berada di hutan, lalu kehilangan kesadaran.

Setelah itu, semua gelap.

Siapa yang telah menyelamatkannya?

Apakah dia benar-benar diselamatkan… atau ditawan?

Apakah Tian Suqing melarikan diri?

Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi pikirannya. Ia menekan tombol panggil perawat di sisi ranjang.

Namun, hampir bersamaan dengan itu, pintu kamar terbuka keras.

Beberapa pria berbadan tegap berpakaian jas hitam masuk dengan cepat.

 “Qin-ge! Kau sudah sadar?!”

Pria di depan — Lu Qicheng — langsung berlari ke sisi ranjang. Pria besar setinggi dua meter itu kini malah meneteskan air mata seperti anak kecil. Orang-orang di belakangnya juga tampak lega dan terharu.

 “Berapa lama aku pingsan?” tanya Qin Xiu sambil melirik ke luar jendela. Cahaya siang menunjukkan sudah lewat lama. Ia merasa setidaknya telah tertidur satu hari penuh.

 “Dua hari satu malam,” jawab Wu Feng yang berdiri di belakang.

 “Begitu ya…” Qin Xiu mengangguk pelan. “Kalian yang menemukanku di hutan? Apakah wanita itu — Tian Suqing — berhasil melarikan diri?”

Ia yakin jawabannya pasti ya.

Bahkan ia sudah bersyukur Tian Suqing tidak menembaknya waktu itu.

Sebelum pingsan, ia sempat berpikir untuk mengeluarkan pistol dan menembak gadis itu, tapi begitu melihat gadis itu berjongkok manis di tanah, sibuk memperhatikan barisan semut, hatinya tiba-tiba melunak.

Sejak hari ia meninggalkan medan perang, Qin Xiu sudah tak ingin lagi menumpahkan darah.

Kalau mau, Tian Suqing dan Li Jiaming bisa saja sudah mati di tangannya — tapi ia memilih menaklukkan mereka lewat cara bisnis, bukan peluru.

Tian Suqing memang pernah mencoba membunuhnya, tapi kali ini dia tidak berniat membalas dengan cara yang sama. Ia hanya ingin melepaskan semuanya.

Ia sudah pasrah bahwa dirinya mungkin akan mati di bawah pohon itu… tapi tidak menyangka akan terbangun di rumah sakit. Maka secara alami, ia mengira Wu Feng dan yang lainlah yang menyelamatkannya.

Namun kalimat berikutnya dari Wu Feng membuat seluruh pikirannya berhenti.

 “Bukan kami, Qin-ge.”

“Yang membawamu keluar dari hutan adalah… Nona Tian.”

Qin Xiu terdiam.

 “Apa… yang kau katakan?”

Comments (0)

Join the Discussion!

Share your thoughts and connect with other readers.

Login to Comment

No comments yet

Be the first to share your thoughts!