Enjoy an Ad-Free Experience High

Sign up to remove distractions and focus on what matters.

Volume 1

Chapter 15 Bab 15 — Luka Bakar dan Harga yang Harus Dibayar

Nov 12, 2025 1,144 words

Di layar, suara desahan pria dan wanita masih terdengar, adegan panas di ranjang terus berlanjut — namun di dunia nyata, para petinggi Grup Tianyao hanya bisa terdiam membisu, suasana di ruang rapat tegang dan berat.

Terutama Li Tianyao, sang ketua dewan. Ia benar-benar terpaku di tempat.

Awalnya, ia mengira Qin Xiu hanya datang untuk memanfaatkan situasi — tapi sekarang dia sadar, ternyata pria itu datang untuk balas dendam.

Meskipun Li Tianyao tidak sepenuhnya tahu seberapa dalam hubungan antara Li Jiaming (putranya) dan Tian Suqing, ia tahu bahwa wanita itu dulu banyak membantu keluarga mereka. Karena itu, ia sebenarnya sudah punya firasat tentang hubungan keduanya.
Namun ia tak pernah menyangka — hubungan itu ternyata sampai ada buktinya di video!

Tapi Li Tianyao bukan orang biasa. Sebagai “rubah tua” yang sudah puluhan tahun di dunia bisnis, ia segera bereaksi.
Ia meraih tempat pensil di atas meja, lalu melemparkannya ke arah Li Jiaming, kemudian berdiri dan langsung menghajarnya.

“Dasar bajingan!” teriaknya dengan marah, “Kau tega berbuat hal yang memalukan keluarga seperti ini?!”

Li Jiaming tak berani melawan. Ia hanya bisa menunduk, menerima amukan sang ayah.
Pukulan-pukulan itu sungguh keras — beberapa kali pukulan kemudian, mata Li Jiaming sampai pecah dan berdarah.

Melihat darah mengucur, beberapa petinggi lain segera maju dan pura-pura menahan Li Tianyao, berusaha menghentikan kemarahan sang ketua. Mereka tahu, Li Tianyao sebenarnya sedang berakting — memukul anaknya untuk menunjukkan itikad baik kepada Qin Xiu, agar pria itu mau meredam amarahnya.

Bagi Li Tianyao, lebih baik anaknya babak belur daripada kehilangan saham perusahaan.

Ketika semua terlihat sudah cukup, para petinggi pun menghentikan pertunjukan itu.
Li Jiaming, dengan wajah berlumuran darah, menerima tisu dari pamannya, lalu menunduk tanpa suara sambil mengelap darah di wajahnya.

Qin Xiu menatap pemandangan itu, lalu bertepuk tangan sambil tersenyum.
“Hebat,” katanya pelan, “Ketua Li memang tegas dan adil. Tak ada sedikit pun rasa berat sebelah. Saya kagum.”

Li Tianyao hanya bisa tersenyum kaku. “Maaf, Tuan Qin. Saya sendiri tak menyangka anak saya akan berbuat sebodoh ini. Semua ini kesalahanku sebagai ayah.”

Qin Xiu tetap tersenyum. “Tak apa, Ketua Li. Semua orang bisa salah. Tapi yang paling penting adalah bagaimana seseorang menebus kesalahannya. Saya rasa... harga saham yang saya minta sebelumnya, adalah bentuk penebusan yang cukup adil.”

Nada suaranya ringan, tapi tekanan di baliknya tajam seperti pisau.
Li Tianyao hendak bicara, tapi tak tahu harus mengatakan apa. Ia sudah memukul anaknya di depan semua orang, namun Qin Xiu tetap tak bergeming.

Melihat sang ketua terdiam, Qin Xiu tersenyum samar.
“Kalau Ketua Li tidak setuju,” katanya tenang, “ya sudah... saya ganti cara lain saja.”

Ia lalu membuka jas hitamnya — tangannya perlahan masuk ke dalam.

Suasana seketika tegang. Semua orang menahan napas.
Mereka tahu latar belakang Qin Xiu — mantan tentara bayaran dari luar negeri, orang yang pernah bertarung dan membunuh di medan perang.
Bagi pria seperti itu, yang disembunyikan di balik jasnya jelas bukan permen, tapi senjata mematikan.

Maksudnya jelas — kalau Li Tianyao tak mau tunduk, nyawa Li Jiaming akan melayang di tempat.

Li Tianyao sadar, meskipun ia bisa melaporkan Qin Xiu dan memastikan pria itu dihukum mati, namun jika putranya sudah mati lebih dulu, apa gunanya balas dendam itu?

Akhirnya ia menggertakkan gigi dan berseru, “Baik, Qin Xiu! Saya setuju! Kita pakai harga awal seperti yang kau minta!”

Petinggi lain hanya bisa menunduk. Tak ada yang berani bicara.

Qin Xiu memberi isyarat pada asistennya, Wu Feng, yang segera mengeluarkan kontrak dari tasnya.
“Silakan tanda tangan, Ketua Li.”

Li Tianyao menarik napas panjang, lalu menandatangani kontrak itu dengan tangan gemetar.
Tanda tangan itu berarti — mulai hari ini, keluarga Li tak lagi berkuasa penuh atas Grup Tianyao. Qin Xiu kini punya hak kendali yang setara.

Setelah memastikan kontrak sah, Qin Xiu menyerahkannya pada Wu Feng dan mengeluarkan sebungkus rokok dari jasnya.

Semua orang menatap terkejut — mereka kira ia akan mengeluarkan pistol, ternyata hanya sebatang rokok.

Qin Xiu menyalakan sebatang, menatap Li Tianyao dan berkata santai,
“Saya tadi mau nyalain rokok buat mikir bagaimana Ketua Li bisa menebus kesalahan... eh, ternyata belum sempat mikir, Ketua Li sudah setuju duluan. Hebat.”

Li Tianyao hanya bisa memaksakan senyum pucat.

“Kalau begitu, urusan sudah selesai. Saya tak akan lama-lama di sini.”

Qin Xiu hendak mematikan rokoknya, tapi di meja tak ada asbak. Maka, di depan semua orang, ia menekan ujung rokok yang menyala ke punggung tangannya sendiri, sampai bara padam.
Kulitnya melepuh, tapi wajahnya tetap datar. Ia lalu tersenyum dan mengulurkan tangan ke arah Li Tianyao.

“Kalau takut padaku,” katanya dengan suara rendah yang hanya terdengar oleh Li Tianyao,
“jangan pernah coba-coba bermain licik di belakangku lagi。”

Li Tianyao terkejut, menatap wajah Qin Xiu yang tetap tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa.
Tapi melihat luka bakar di tangan pria itu yang masih memerah, Li Tianyao tahu — dia sedang berhadapan dengan orang gila.

Begitu Qin Xiu keluar dari gedung Tianyao, senyum di wajahnya lenyap.
Langit yang tadinya cerah kini telah diselimuti awan hitam, gerimis mulai turun.
Sebuah tetes air hampir jatuh di wajahnya, tapi sebelum menyentuh, sebuah payung hitam terbuka di atas kepalanya。

“Mulai hujan, Tuan Qin,” suara Wu Feng terdengar lembut dari belakang.
Qin Xiu mengangguk. “Kau memang selalu sigap。”

Dari belakang, Lu Qicheng menimpali, “Hebat sekali, Qin-ge! Cuma pakai sebungkus rokok, bisa bikin para bos tua itu gemetaran. Kalau aku, keluarin pistol pun belum tentu seseram itu。”

Qin Xiu menatapnya, tersenyum tipis. “Begitukah?”

“Ya dong!” kata Lu Qicheng bersemangat. “Dari dulu aku udah tahu kau bukan orang biasa. Sejak di gurun waktu itu, pas kau jalan sendirian balik ke pangkalan, aku udah yakin — kau pasti luar biasa. Sekarang lihat, kau bukan cuma nyelamatin semua saudara kita, tapi juga bikin mereka yang dulu nyakitinmu bayar lunas. Qin-ge, kau orang paling hebat yang pernah kulihat。”

Qin Xiu hanya menatap langit kelabu, tersenyum pahit.

“Bayar lunas, ya...” gumamnya pelan. “Memang, semua yang menyakitiku sudah membayar.”

Ia tak lagi percaya pada cinta.
Tian Suqing telah membuatnya kehilangan seluruh keyakinan pada perempuan.
Ia pikir, biarlah hidup begini saja — menikah di atas kertas, tapi saling asing seumur hidup。

Namun, saat memikirkannya, wajah Tian Suqing kembali muncul di pikirannya.
“Sudah setengah bulan ya...” ia bergumam.
Sejak hari itu, ia memutus semua komunikasi di vila pesisir, memasang penghalang sinyal, membuat Tian Suqing tak bisa meminta bantuan dari luar.

Apakah dia sudah mulai menyesal?
Apakah dia sudah mulai hancur secara mental di sana?

Senyum dingin muncul di wajah Qin Xiu. Ia tiba-tiba merasa tertarik untuk melihat sendiri.

Wu Feng menyalakan mobil dan bertanya, “Kita kembali ke kantor, Tuan Qin?”
Qin Xiu tersenyum samar. “Tidak perlu buru-buru。”

Ia menatap ke luar jendela, ke arah jalanan basah oleh hujan, lalu berkata pelan —
“Kita ke Vila Teluk dulu.”

Comments (0)

Join the Discussion!

Share your thoughts and connect with other readers.

Login to Comment

No comments yet

Be the first to share your thoughts!