Chapter 93 Bab 93 Rencana Gagal
Setelah memastikan rencananya matang, beberapa menit sebelum kelas berakhir, Hua Yujie pura-pura izin pergi ke toilet dan langsung bersembunyi di dalamnya.
Beberapa menit kemudian, bel tanda akhir pelajaran berbunyi. Setelah berkata “sampai jumpa”, Qin Xiu mulai merapikan barang-barang yang ia bawa, dan seperti yang diprediksi Su Weiqun, ia memang berjalan menuju toilet untuk mencuci tangan.
Begitu Qin Xiu masuk, tiga orang lainnya segera mendekat ke pintu toilet.
Tugas mereka sudah dibagi jelas:
— Su Weiqun mengintip posisi Qin Xiu melalui celah pintu dan memberi sinyal ke Hua Yujie di dalam.
— Dan Yanqing bertugas mendorong pintu tepat saat air menyembur.
— Sedangkan yang bertanggung jawab melakukan “serangan air” tentu saja adalah Tang Lingyi, karena ia yang paling ingin melampiaskan kekesalannya.
Melihat Qin Xiu berdiri membelakangi mereka sambil mencuci tangan, Su Weiqun memberikan sinyal dengan batuk keras.
Hua Yujie langsung membuka keran utama. Suara air mengalir terdengar jelas.
Mendengarnya, Su Weiqun cepat-cepat menjauh agar tidak ikut basah.
Tang Lingyi merasakan water gun di tangannya mulai bergetar. “Pang!” semburan air kuat langsung meluncur keluar.
Tepat saat semburan hendak mengenai pintu, Dan Yanqing mendorong pintu dengan cepat, membiarkan air menyerbu ke dalam—target mereka jelas: Qin Xiu.
Tang Lingyi memegang water gun dengan jantung berdebar keras.
Siapa suruh kamu ngekorin aku kayak hantu setiap hari, Qin Xiu.
Rasakan ini!
Namun senyumnya yang baru muncul sesaat langsung membeku.
Karena begitu pintu terbuka, pemandangan yang muncul bukannya Qin Xiu yang membelakangi mereka…
Melainkan Qin Xiu yang berdiri di sisi pintu, menatap mereka bertiga sambil tersenyum.
Dalam sekejap, waktu seolah berhenti bagi tiga orang di luar pintu itu.
Karena Tang Lingyi mengatur sudut tembakan agak tinggi untuk mengarah ke wastafel, Qin Xiu hanya perlu menunduk sedikit untuk menghindari semburan itu, lalu melangkah keluar dengan santai.
“Aku tak menyangka masih ada mahasiswa yang suka menjahili dosennya seperti kalian,” katanya dengan nada lembut.
Qin Xiu memiliki insting bahaya yang sangat sensitif. Begitu masuk, ia sudah sadar ada orang bersembunyi di dalam. Bahkan Su Weiqun yang mengintip pun terlihat jelas lewat pantulan cermin.
Dengan kata lain—rencana “sempurna” mereka sebenarnya sangat kacau.
Meski suaranya terdengar tenang, namun cukup membuat tiga orang itu bergidik.
Terutama Tang Lingyi. Begitu tertangkap basah, ia serasa kembali ke saat-saat kelam di mana ia diburu Qin Xiu.
Kenapa aku mau-mau nya cari gara-gara sama dia? Pasti gara-gara PMS otak jadi rusak.
Saat suasana kaku, tiba-tiba Su Weiqun berteriak:
“Semprot dia dong!”
Baru setelah itu Tang Lingyi tersadar—benar! Di tangannya ada water gun!
Ia cepat mengubah arah semburan dan menyasar kepala Qin Xiu.
Tapi Qin Xiu seperti sudah mengetahui gerakannya. Ia menunduk, mengelak dengan mudah, lalu perlahan mendekati Tang Lingyi.
Dengan wajah tersenyum.
Pakai masker pun kamu pikir aku nggak kenal?
Siswi lain mungkin membingungkan… tapi kamu? Mustahil aku salah.
Dasar bodoh lucu.
Tang Lingyi panik melihat Qin Xiu makin dekat. Ia kembali mengubah arah semburan, tapi Qin Xiu selalu menghindar sebelum aliran air bergeser.
“Anjir, dia punya Kenbunshoku Haki apa!?” Su Weiqun terkagum.
Sejujurnya Qin Xiu tidak punya kekuatan super apa pun. Ia hanya mengamati gerakan pergelangan tangan Tang Lingyi. Water gun akan berubah arah sesuai gerakan tangan, dan ada jeda sebelum aliran air mengikuti perubahan itu. Selama pergelangan tangan Tang Lingyi mulai bergerak, ia bisa langsung menghindar.
Beberapa detik kemudian, Qin Xiu sudah berada sangat dekat.
Tang Lingyi sudah pasrah dan panik. Dalam kondisi itu, ia hanya punya satu jurus pamungkas.
“LARI!!!”
Setelah berteriak, ia melempar water gun ke arah Qin Xiu lalu langsung kabur.
Mendengar teriakan itu, Su Weiqun dan Dan Yanqing refleks ikut lari.
Lemparan mendadak itu sempat mengejutkan Qin Xiu. Ia menyingkir sedikit untuk menghindarinya, lalu hanya berdiri di tempat sambil menatap tiga bayangan itu pergi.
Qin Xiu sama sekali tidak marah. Malahan ia merasa tingkah anak muda seperti itu cukup menyenangkan—seumur ini masih punya “jiwa bocah”, lumayan menghibur.
Ia lalu berkata, “Yang di dalam, jangan mubazirkan air. Tutup kerannya.”
“…Baik, Pak.” Hua Yujie menjawab lemas dari dalam toilet.
No comments yet
Be the first to share your thoughts!