Enjoy an Ad-Free Experience High

Sign up to remove distractions and focus on what matters.

Volume 1

Chapter 12 Bab 12 – Qin Xiu yang Terlalu Lembut

Nov 12, 2025 1,083 words

Tang Lingyi saat ini mulai memutar kembali kejadian sebelumnya, dan akhirnya ia paham mengapa Tian Yushu begitu terkejut saat melihatnya muncul di tempat ini.
Mungkin Tian Yushu demi melindungi putrinya dari balasan dendam Qin Xiu, justru menyerahkan dirinya (Tang Lingyi) untuk menggantikan Tian Suqing.
Sialnya, sekarang malah dia yang jadi korban pengganti dan harus menanggung akibatnya.

Dalam situasi seperti ini, dia harus segera melakukan sesuatu.

“Qin Xiu… uhuk!” Tang Lingyi terlalu gugup sampai lupa menirukan suara Tian Suqing, jadi ia cepat-cepat berdeham dan menyesuaikan nada suaranya, “Karena kita sudah tidak saling mencintai, lebih baik kita berpisah baik-baik, ya? Aku akui aku salah, aku minta maaf. Tapi biarlah semuanya berlalu. Kamu pasti akan menemukan wanita yang lebih baik dariku.”

Yang jadi masalah, Tang Lingyi sama sekali tidak tahu kesalahan apa saja yang sebenarnya dilakukan Tian Suqing.
Dia hanya mengira Qin Xiu marah karena Tian Suqing berselingkuh.

Padahal, kalau dia tahu bahwa Tian Suqing bukan cuma berselingkuh, tapi juga memindahkan aset milik Qin Xiu bahkan hampir membuatnya mati, dia pasti tak akan berani mengucapkan kata-kata sebegitu “tidak tahu malu”.

Wajah Qin Xiu pun langsung menegang, otot-otot pipinya mulai bergetar karena marah.
“Kau sudah melakukan begitu banyak hal jahat, dan sekarang cukup dengan satu kata maaf kau pikir semuanya bisa selesai begitu saja?”

Tang Lingyi menjawab dengan jengkel, “Lalu kamu mau bagaimana? Kalau mau memukul, pukul saja aku!”
Menurutnya, berselingkuh memang salah, tapi sudah ketahuan ya sudahlah, pisah baik-baik. Kenapa harus berlarut-larut begini?

“Ha ha ha.” Qin Xiu tiba-tiba tertawa keras. Ia melepaskan tangannya dari wajah Tang Lingyi dan berkata dengan nada lembut, “Tenang, aku tidak akan memukul atau memarahimu. Aku akan menghukummu dengan cara yang lebih lembut.”

Astaga, lelaki ini dendamnya dalam banget...
Tang Lingyi hanya bisa diam.

Tapi ia tak berani membantah lagi.
Dalam pikirannya, kalau Qin Xiu memang datang untuk menuntut balas pada Tian Suqing, maka hukuman apapun dari Qin Xiu masih lebih baik daripada kalau identitasnya sebagai pencuri terbongkar.
Kalau sampai ketahuan bahwa dia adalah pencuri yang menyamar jadi Tian Suqing untuk mencuri data rahasia, mungkin dia akan langsung ditembak mati di tempat.

Jadi yang terpenting sekarang: jangan sampai identitasnya terbongkar.
Selama masih bisa berpura-pura jadi Tian Suqing, dia pasti masih punya kesempatan melarikan diri.

Mobil itu melaju sekitar setengah jam sebelum berhenti di sebuah kawasan vila mewah di pusat kota.
Qin Xiu membuka pintu dan berkata, “Turun.”

Tang Lingyi melangkah turun, matanya langsung tertuju pada gerbang besar di depannya dan rumah megah bergaya kastil di dalamnya.
Begitu Qin Xiu masuk ke dalam, Tang Lingyi cepat-cepat mengikutinya dari belakang.

Begitu masuk, pandangannya langsung terpukau oleh pemandangan di taman: tanaman hias yang tertata indah, kolam renang berbentuk persegi di luar ruangan, serta pohon-pohon bunga persik yang sedang mekar indah.

Ini rumahnya? Gila, besar banget!
Tang Lingyi merasa kalau tinggal di tempat sebesar ini, keluar rumah saja bisa nyasar.

Setelah berputar-putar melewati jalan taman yang rumit, mereka akhirnya tiba di depan bangunan utama yang menyerupai kastil.

Qin Xiu berdiri di depan pintu, memandangi papan nama dan hiasan lama di sana, kemudian berkata pelan, “Sejak aku ‘mati’, kau tidak pernah kembali ke sini lagi, kan?”

Nada suaranya penuh nostalgia.
Meskipun ia tampak tenang, begitu melihat rumah yang dulu jadi rumah pernikahannya bersama Tian Suqing, kenangan masa lalu tetap mengguncang hatinya.

Mungkin semua orang pernah merasa seolah-olah sudah bisa melupakan masa lalu, tapi ketika masa lalu itu muncul kembali di depan mata, barulah sadar bahwa ternyata belum benar-benar bisa melepaskan.

“Ah… iya…” Tang Lingyi tidak tahu harus berkata apa, jadi hanya bisa menggumam.

“Masuklah.” ucap Qin Xiu tenang, lalu mendorong pintu dan berjalan masuk.

Tang Lingyi sebenarnya enggan masuk, tapi melihat beberapa pria besar berwajah garang di belakang, ia pun tak berani menolak dan hanya bisa menunduk mengikuti.
Sekarang, mau kabur pun tidak mungkin — lebih baik lihat situasi dulu.

Sungguh sial, pikir Tang Lingyi.
Kalau saja tadi dia ketemu ayah Tian Suqing atau orang lain dari keluarga itu, mungkin dia masih bisa mengelabui mereka.
Tapi malah ketemu Qin Xiu — suami yang jelas-jelas punya dendam pribadi dengan Tian Suqing. Benar-benar apes!

Begitu masuk ke ruang tamu bergaya Eropa klasik, Qin Xiu duduk di sofa dan menunjuk ke kursi di depannya.
“Duduk, Qing’er. Jujur saja, apakah kamu sekarang takut padaku?” tanya Qin Xiu dengan senyum tipis, tapi sorot matanya tajam dan berbahaya.

Tang Lingyi menelan ludah. “Sedikit takut.”

Kalau bilang tidak takut sama sekali pasti tidak masuk akal. Tapi karena “suaminya” sendiri yang bertanya, dia juga tidak bisa bilang sangat takut.

Selain itu, Tang Lingyi memang takut — bukan karena cinta, tapi takut identitas aslinya terbongkar. Kalau Qin Xiu tahu dia bukan Tian Suqing, tamatlah riwayatnya.

Qin Xiu tersenyum kecil, lalu bangkit berdiri dan berjalan ke belakangnya.
Tang Lingyi merasa napas di tengkuknya dingin saat ia merasakan tangan Qin Xiu perlahan menyentuh rambutnya.
“Tenanglah,” katanya lembut, “Aku tidak akan membunuhmu.”

Dulu, Tian Suqing telah menjebaknya — menjatuhkannya dari ketinggian sepuluh ribu meter, membuatnya terluka parah di gurun, bahkan terseret ke dalam peperangan.
Di awal, Qin Xiu memang berniat untuk membunuhnya begitu ia kembali.

Namun, setelah melewati perang, menyaksikan gedung-gedung indah runtuh sekejap, mendengar tangisan perempuan dan anak-anak di reruntuhan, melihat para prajurit berlari ke medan tembak tanpa rasa takut — semua itu membuatnya mengerti betapa berharganya hidup.

Ia memang pernah membunuh di medan perang, tapi itu demi bertahan hidup.
Sekarang setelah kembali, ia tak ingin lagi menodai tangannya dengan darah siapa pun.

Setelah banyak berpikir, akhirnya ia memutuskan untuk “berhati lembut” — dan memaafkan Tian Suqing sekali ini.

Dari sudut pandang Qin Xiu, itu adalah bentuk belas kasihan.
Namun, di telinga Tang Lingyi, kalimat itu justru membuat bulu kuduknya berdiri.

Gila! Hanya karena selingkuh, sudah sampai tahap bicara hidup dan mati!? Lelaki ini jelas psiko!
Melihat sikap dan tatapan Qin Xiu, Tang Lingyi langsung yakin: dia pasti tipe suami tampak tenang di luar tapi brutal di rumah — bahkan mungkin menikmati kalau istrinya menjerit kesakitan.

Pantas saja Tian Suqing berselingkuh… memang harus begitu!

Melihat ekspresi kaget di wajah Tang Lingyi, Qin Xiu tersenyum samar.
“Jangan terlalu senang dulu,” katanya pelan. “Aku memang takkan membunuhmu. Tapi aku juga tidak akan membiarkan semuanya begitu saja. Jadi, aku sudah memikirkan satu hukuman yang menurutku paling adil — untukmu, dan untukku.”

Tang Lingyi langsung merasa firasat buruk. “Hukuman apa itu?”

Sudut bibir Qin Xiu terangkat, ia mengucapkan setiap katanya dengan tenang namun mengerikan:

 “Aku akan membuatmu menghabiskan sisa hidupmu di tempat ini.”

Comments (0)

Join the Discussion!

Share your thoughts and connect with other readers.

Login to Comment

No comments yet

Be the first to share your thoughts!