Chapter 87 Bab 87 Kecerdasan yang Kembali (Tambahan)
Berdiri di belakang Qin Xiu, Lu Qicheng berkata, “Menurutmu orang itu mirip nggak sama yang bermarga Tian sebelumnya, Feng? Aku kok ngerasa lumayan mirip ya… cuma dadanya sekarang jauh lebih rata.”
Wu Feng melirik Qin Xiu, merenung beberapa saat lalu menggeleng. “Nggak yakin.”
“Kalau Qin-ge pasti tahu kan?”
Qin Xiu baru tertawa kecil setelah Tang Lingyi menghilang di pintu. “Kurasa sudah ada sedikit petunjuk.”
“Gimana? Jadi cowok itu beneran si mantan yang bermarga Tian?”
“Belum berani memastikan, tapi kemungkinan besar iya.”
“Masa sih? Kamu kan belum ngecek tubuhnya juga, gimana bisa tahu?” Lu Qicheng tidak percaya.
“Kalau gitu aku tanya kamu. Barusan waktu aku memperkenalkan diri, aku nggak bilang identitasku kan?”
“Hmm… kayaknya nggak.”
“Lalu kenapa Tang Lingyi langsung manggil aku Qin Zong (Direktur Qin)?” Qin Xiu menunjuk bajunya sambil tersenyum. “Aku cuma pakai kemeja putih biasa, nggak ada tanda jabatan apa pun.”
“Iya juga… terus kenapa dia manggil kamu Qin Zong?” Lu Qicheng mengernyit.
“Sederhana. Karena kemungkinan besar dia bukan pertama kali dengar namaku. Entah dari gosip, atau dia pernah lihat aku sebelumnya.” Qin Xiu duduk santai.
“Intinya, kecurigaan terhadap Tang Lingyi ini besar. Meski bukan dia orangnya, dia pasti ada hubungannya dengan gadis itu. Selama aku menyelidiki dari jalur ini, aku pasti bisa menemukan gadis itu.”
Wu Feng mendesah. “Xiu, ada satu hal yang dari tadi pengen aku bilang.”
“Apa, Feng?”
“Kalau saja kamu lebih cepat balikkan otakmu(Pinter dikit), mana mungkin kejadian jadi seribet ini.”
“…”
---
Setelah keluar dari ruang VIP lantai dua, Tang Lingyi tidak kembali ke aula, melainkan langsung kabur pulang ke asrama.
Ia merasa Qin Xiu pasti menemukan sesuatu hingga bisa menemukannya lagi. Untungnya, kini identitasnya laki-laki. Selama tubuhnya tidak ketahuan, ia tidak akan tertangkap.
Tak bisa disalahkan jika Tang Lingyi setakut ini. Walaupun dia sudah mengembalikan sebagian besar berlian milik Qin Xiu, tetap saja dia mencuri berlian senilai lebih dari sepuluh juta.
Itu lebih dari sepuluh juta! Orang waras mana pun pasti curiga dia bakal ditagih hutang.
Hidupnya sekarang saja sudah susah, kalau suruh bayar uang sebanyak itu… sama saja minta nyawanya.
Membayangkan Qin Xiu datang menagih uang membuat jantung Tang Lingyi berdebar ketakutan.
Apalagi sifat Qin Xiu… besar kemungkinan saat ini Wu Feng sudah diperintahkan mengikutinya secara diam-diam.
Ia pun memutuskan: selama tidak mendesak, ia tidak akan keluar kamar asrama. Segala urusan lebih baik diselesaikan di dalam.
Memikirkan itu, ia buru-buru menarik tirai kamar membuat suasana asrama gelap menyeramkan. Setelah itu ia membawa pakaian laki-lakinya masuk ke kamar mandi dan berganti.
Begitu selesai ganti baju, ia menyalakan komputer dan mulai mengerjakan pesanan game.
Sekitar satu-dua jam kemudian, pesanan game hampir selesai. Saat itu teman-teman sekamarnya kembali. Su Weiqun langsung berseru, “Gila, Lingyi, kamu jadi terkenal banget!”
“Hah? Kenapa?”
“Tadi setelah acara malam selesai, sekolah mulai bagi penghargaan. Waktu menyebut juara pertama, mereka panggil namamu buat naik ke panggung. Tapi siapa sangka kamu udah pulang! Wajah kepala sekolah langsung berubah kayak hati babi.”
“Hah!? Ada sesi penghargaan lagi? Terus gimana!?” Tang Lingyi panik. Dia pikir naik ke lantai dua tadi itu sudah acara penyerahan hadiah. Ternyata masih ada seremoni utama.
“Tenang, tenang. Untung ada Jie-ge (Hua Yujie). Lihat kamu nggak ada, dia langsung maju buat ambilkan. Kepala sekolah tanya, ‘Kamu Tang Lingyi?’ Hua Yujie langsung jawab, ‘Mirip Tang Lingyi.’” Su Weiqun menceritakan sambil memandang Hua Yujie dengan kagum.
“Terus… terus sertifikatnya gimana?” Hua Yujie mengeluarkan sertifikat dan memberikannya pada Tang Lingyi.
“Hahaha, makasih banyak Jie-ge!”
Hua Yujie melihat kamar yang gelap dan merasa aneh. “Kamu nutup tirai siang-siang begini kenapa? Jangan-jangan kamu tadi lagi ngapa-ngapain yang aneh-aneh?”
Senyum Tang Lingyi langsung hilang. “Kamu pikir aku se-pervert kamu apa?”
“Kalau gitu buka aja tirainya.”
“Eh jangan jangan! Kalau dibuka, layar komputerkku mantul cahaya. Ganggu waktu aku nge-game.” Tang Lingyi buru-buru menghalangi.
“Ribet banget. Oh iya, kenapa kamu ganti baju? Bukannya tadi ke acara pakai seragam?”
“Ya kan udah pulang, masa nggak ganti.”
“Cepet pake lagi. Hari ini aku bilang ke bos Mochen kalau aku pergi ke acara pakai baju JK. Dia penasaran banget mau lihat.”
“Woy! Kamu itu jago banget manfaatin kesempatan!”
“Namanya juga pemanfaatan sumber daya. Ayo cepet ganti. Bos Mochen bilang kalau bagus, dia mau kirim beberapa set baju lagi. Cepet, nurut lah.” Hua Yujie menepuk pundak Tang Lingyi.
Sebenarnya Tang Lingyi malas, tapi sebagai balasan karena Hua Yujie sudah bantu ambil penghargaan, ia tetap masuk kamar mandi dan berganti.
Setelah ia keluar mengenakan rok JK dan kaus kaki hitam panjang, berdiri di depan kamera sambil memakai suara perempuan untuk ngobrol manja dengan Bos Mochen, tiga teman sekamarnya langsung bengong.
Dulu memang dia pernah memakai baju JK, tapi waktu itu suaranya masih berat, mudah bikin orang gagal fokus. Sekarang, dengan suara lembut merdu… rasanya bukan lagi cowok yang sudah tinggal seatap tiga tahun bersama mereka, melainkan seorang gadis mungil yang menggemaskan.
“Gila… Lingyi lucu banget. Dia beneran cowok nggak sih?” Su Weiqun menggaruk kepala.
Hua Yujie meliriknya. “Lingyi pernah bareng kita ke pemandian umum, mandi bareng, bahkan pernah adu ukuran. Punyanya lebih gede dari punyamu, ingat?”
“Oh iya bener juga. Dia memang cowok. Sial! Mukanya imut begini tapi punya barang lebih gede dari aku!” Su Weiqun memukul meja frustrasi.
“Bukan. Itu karena punyamu yang kecil.”
“Cukup kau!!!”
“Yumo, kok kedengaran suara laki-laki di situ?” suara Mochen terdengar dari video.
Tang Lingyi terkejut. “Itu TV, aku lagi nonton TV.”
Ia cepat-cepat buka ponsel, cari video pertarungan laki-laki dan membesarkan volumenya.
“Oh… kaget aku. Kupikir kamu tinggal bareng cowok.”
“Mana mungkin lah.” Tang Lingyi tertawa sambil mengelak. “Aku pergi makan dulu ya. Malam kita ketemu di game, ya ‘sayang’.”
Sudah sekian lama video call, ia sudah terbiasa memanggil begitu.
“Hmm.”
Setelah mematikan video, Tang Lingyi akhirnya lega. Ia mendelik ke teman-temannya. “Hei! Kalian jangan ganggu! Begini terus suatu hari pasti ketahuan!”
“Uuuu… suara Lingyi-mèi terlalu imut! Lingyi-mèi, gimana kalau kamu pakai suara itu terus di asrama?” Su Weiqun merayu.
“Apa sih kamu—” Tang Lingyi terdiam. Bola matanya bergerak.
Sebenarnya memakai suara perempuan justru lebih aman. Karena itu memang suara asli tubuhnya. Jauh lebih mudah daripada pura-pura pakai suara laki-laki. Kalau suatu hari dia lupa, bisa runyam.
Saat ia sedang berpikir, Su Weiqun mengira dia tidak mau dan langsung menggoda, “Kalau kamu pakai suara cewek, besok aku traktir makan.”
Menurutnya, Tang Lingyi pasti menolak demi harga diri sebagai laki-laki.
“Okee~”
No comments yet
Be the first to share your thoughts!