Chapter 39 Bab 39 – Simpul Antara Dendam dan Balas Budi (Tambahan Bab)
Tang Lingyi menatap Qin Xiu yang terbaring di tanah dengan wajah kebingungan.
Baru sekarang ia sadar — Qin Xiu ternyata tertembak.
Tapi… kapan dia kena tembak?
Tang Lingyi buru-buru meraba punggung bajunya sendiri, dan ketika melihat noda darah di tangannya, barulah ia mengerti — ternyata sejak awal, saat Qin Xiu menyuruhnya tiarap, dia sudah terkena peluru.
Namun yang membuatnya terkejut: pria itu sama sekali tidak menunjukkan rasa sakit, seolah-olah tak terjadi apa-apa.
Melihat Qin Xiu yang tampak pingsan di hadapannya, Tang Lingyi justru merasa malu.
Yang kena tembak adalah Qin Xiu, tapi yang menangis malah dirinya.
Selama ini dia selalu menganggap dirinya kuat seperti laki-laki, tapi baru sadar kalau dalam keadaan berbahaya, dia ternyata lemah sekali.
Bagaimanapun, hari ini — Qin Xiu benar-benar terlihat seperti pria sejati.
Tang Lingyi menoleh ke arah jalan layang di atas.
Dengan tinggi segitu, mereka jelas tak mungkin bisa memanjat kembali ke sana.
Satu-satunya jalan keluar adalah menembus hutan di bawah, lalu memutar hingga ke jalan besar.
Namun begitu ia menunduk memandang Qin Xiu, wajahnya menegang.
Kalau hanya dirinya sendiri, tentu ia bisa jalan keluar.
Tapi kalau harus menggendong Qin Xiu yang seberat itu… sepertinya itu sudah di luar batas kemampuan manusia biasa.
“Masih hidup, ternyata…”
Suara serak tiba-tiba terdengar, membuat Tang Lingyi hampir terloncat saking kagetnya.
Ia menunduk — Qin Xiu yang tadinya terbaring, kini perlahan duduk seperti mayat bangkit. Wajahnya pucat, suaranya lemah, dan aura berbahayanya menghilang sama sekali.
“Uh, kamu ternyata belum mati?” Tang Lingyi spontan berjongkok di sampingnya.
Qin Xiu tidak menjawab, melainkan mengeluarkan ponselnya.
Nada bicaranya tetap tenang meski tubuhnya jelas lemah:
> “Halo, Chengzi? Aku diserang barusan... tenang, mereka sudah kabur. Tapi aku jatuh dari jalan layang. Nggak bisa naik lagi, jadi aku jalan lewat bawah hutan. Jemput aku di jalan Bosong, ya.”
Qin Xiu tumbuh di Kota S, ia hafal seluk-beluk daerah itu.
Dia tahu kalau menembus hutan ini, ujungnya akan sampai di jalan Bosong — jadi ia bisa dijemput di sana dan langsung dibawa ke rumah sakit.
Bagi Qin Xiu, luka tembak bukan hal luar biasa.
Dia sudah sering berhadapan dengan maut — peluru, ledakan, pisau — semuanya pernah.
Tadi di dalam mobil sebenarnya dia sudah kena tembak di punggung.
Kalau saja dia sendirian, mungkin bisa menghindar, tapi karena melindungi Tang Lingyi, reaksinya terlambat sedikit.
Dan bukan hanya luka tembak — saat mobil mereka meledak, banyak serpihan logam juga menancap ke tubuhnya.
Napasnya mulai berat, seluruh tubuhnya terasa kebas dan nyeri.
Dari pengalamannya, ia tahu dirinya hanya bisa bertahan sadar maksimal setengah jam.
Artinya, dalam waktu itu dia harus sampai ke tempat tujuan, apa pun yang terjadi.
Dengan tekad bulat, Qin Xiu berusaha bangkit.
Ia melepas jas dan kemeja putih yang sudah penuh darah, memperlihatkan tubuhnya yang kekar dan penuh luka lama.
Kemudian ia merobek bagian bawah kemeja menjadi kain panjang dan mengikat luka di punggung untuk menghentikan pendarahan.
Tanpa itu, ia tahu — dalam lima menit, ia bisa mati karena kehabisan darah.
Ototnya keras dan berwarna kecokelatan, penuh bekas luka dari berbagai senjata — kontras sekali dengan wajahnya yang tenang dan berwibawa.
Tang Lingyi yang melihat pemandangan itu justru menggigit bibir — antara takut dan… kagum.
“Kalau mau hidup, ikut aku. Kalau mau mati, bilang saja — aku tembak sekarang.”
Nada suaranya dingin, tapi lemah.
“Eh, jangan dong! Aku ikut, aku ikut,” jawab Tang Lingyi cepat-cepat dengan nada kesal.
Dalam hati, ia mendengus — niat ngomong baik-baik aja nggak bisa ya orang ini, harus pakai ancaman dulu.
Qin Xiu kemudian memungut sebatang kayu cukup besar, menjadikannya tongkat penopang.
Kakinya luka, tubuhnya lemah, tapi matanya tetap mengarah ke depan.
Tang Lingyi yang sudah trauma hanya bisa menurut — tidak berani sedikit pun kabur.
Mereka berjalan menembus hutan.
Hutan itu tak terlalu luas, tapi juga tidak kecil — mungkin dua atau tiga kilometer.
Namun bagi Qin Xiu yang terluka parah, setiap langkah terasa seperti mendaki gunung.
Langkahnya makin lambat, akhirnya hampir tidak bisa melangkah lagi.
Tapi ia tak mengeluh sedikit pun. Tak meminta bantuan. Tak menjerit.
Keringat bercucuran di wajahnya, tubuhnya bergetar, tapi ia tetap maju.
Akhirnya, saat benar-benar tak kuat lagi, Qin Xiu bersandar pada pohon dan duduk.
Ia memandang Tang Lingyi dengan tatapan sulit dijelaskan — seolah ada sesuatu yang ingin ia pikirkan.
Tang Lingyi merasa tidak nyaman.
“Eh, kenapa berhenti?” tanyanya pelan.
“Istirahat sebentar.”
“Oh… baiklah.”
Tang Lingyi sendiri tidak terluka sama sekali, jadi ia cuma duduk di tanah, menunggu Qin Xiu pulih.
Ia bahkan sempat bosan dan bermain dengan serangga kecil di tanah seperti Fabre si pengamat serangga.
Namun setelah beberapa lama, Qin Xiu tetap tidak bergerak.
Tang Lingyi menoleh — dan kaget setengah mati.
Qin Xiu duduk bersandar pada pohon, kepalanya tertunduk, mata terpejam…
Wajahnya pucat, bibirnya membiru, seolah-olah telah… mati.
“Hey! Bangun! Kita belum keluar dari sini!”
Tang Lingyi buru-buru menepuk pundaknya, tapi Qin Xiu justru terjatuh ke tanah seperti boneka kehilangan tali.
Tang Lingyi panik.
“Ya ampun, jangan gitu dong! Jangan pura-pura mati, aku nggak mau disalahin nanti!”
Ia cepat-cepat menempelkan jari di depan hidung Qin Xiu — masih ada napas.
“Syukurlah…” gumamnya lega. “Cuma pingsan.”
Tapi begitu disadari, masalah baru muncul:
Qin Xiu pingsan — dan mereka masih harus keluar dari hutan.
Tang Lingyi menatap tubuh besar itu lama-lama.
“Jangan bilang aku harus nggendong kamu keluar ya… lihat deh badanmu, isinya otot semua!”
Namun tiba-tiba pikirannya berubah.
Tunggu dulu — kalau Qin Xiu pingsan… bukankah ini kesempatan bagus untuk kabur?
Ya! Kenapa harus repot-repot menolongnya?
Kalau dipikir, semua ini terjadi juga gara-gara dia!
Kalau bukan karena Qin Xiu, mana mungkin ia nyaris mati hari ini?
Dia tersenyum getir.
“Oh… ternyata mereka yang nyerang itu bukan mau bunuh aku, tapi mau menyelamatkan aku!”
Ia berdiri, melepaskan pegangan dari tubuh Qin Xiu yang langsung jatuh ke tanah lagi.
“Kalau gitu, aku pergi sendiri aja, ya. Jangan salahin aku nanti,” gumamnya gugup.
Tapi Qin Xiu tetap diam, napasnya lemah.
Tang Lingyi mulai melangkah pergi, bahkan sempat menoleh dan berkata pelan,
“Lagipula kamu dulu jahat banget ke aku. Jadi… anggap aja ini karma kamu, oke?”
Ia berlari kecil menjauh.
Beberapa puluh meter kemudian, tubuh Qin Xiu di belakangnya sudah sekecil titik hitam.
Hatinya mulai ringan — bahkan sedikit senang.
Akhirnya aku bebas… Tuhan pasti kasihan padaku, makanya selamatkan aku begini!
Namun di tengah pelarian itu, dua bayangan melintas di kepalanya —
bayangan Qin Xiu yang menubruknya sebelum peluru mengenai tubuhnya,
dan Qin Xiu yang melindunginya saat mobil meledak.
Langkahnya perlahan melambat.
Kata-kata Qin Xiu kembali terngiang di kepalanya:
> “Tenang saja. Selama kau belum melunasi utangmu padaku, nyawamu adalah milikku. Bahkan Raja Neraka pun tak bisa mengambilnya.”
Tang Lingyi menggigit bibir.
Iya, pria itu memang banyak berbuat jahat padanya, tapi kali ini — nyawanya diselamatkan oleh tangan yang sama.
Jika ia pergi sekarang… apa itu benar?
Ia menatap kembali ke arah Qin Xiu yang tergeletak di bawah sinar matahari.
Cahaya siang menyorot tubuhnya, membuatnya tampak tenang dan… tragis, seperti seseorang yang sedang menuju surga.
Tang Lingyi menunduk menatap bayangannya di tanah — gelap, panjang, dan berat.
Ia menarik napas panjang, lalu berseru pelan,
“Ya sudahlah! Anggap saja aku orang bodoh yang nggak bisa balas dendam!”
Ia berlari kembali, langkahnya mantap.
Sesampainya di sisi Qin Xiu, ia berusaha mengangkat tubuhnya yang berat dengan sekuat tenaga.
“Qin Xiu, sumpah, kamu tuh benar-benar dikirim cuma buat nyiksa aku ya!”
Dengan susah payah, ia memanggul tubuh besar itu di pundaknya dan mulai berjalan lagi, setapak demi setapak menembus hutan.
Meski tubuhnya hampir roboh,
matanya kini tak lagi berisi ketakutan —
melainkan tekad.
No comments yet
Be the first to share your thoughts!