Chapter 11 Bab 11 — Salah Mengira Lingyi sebagai Suqing
Tang Lingyi ditangkap oleh beberapa pria kekar itu. Meskipun dia bisa sedikit bela diri, tetap saja tidak mampu melawan. Akhirnya, dia diangkat secara kasar dan dilemparkan ke dalam mobil Mercedes G-Class yang sudah menunggu di bawah.
Belum sempat dia menyesuaikan posisi duduknya, Qin Xiu sudah duduk di sampingnya. Meski di bibirnya terukir senyum tipis, entah kenapa, senyuman itu justru membuat Tang Lingyi merasa takut.
“Qin-ge, kita mau ke mana?” tanya pria botak yang mengemudi. Tubuhnya besar dan kekar, bernama Lu Qicheng, salah satu dari dua pengawal pribadi Qin Xiu yang dulunya adalah tentara bayaran bersamanya di medan perang.
“Ke Bay Manor (Kawasan Teluk),” jawab Qin Xiu tenang.
“Baik, bos! Eh, tapi... tempat itu ke arah mana ya?” Lu Qicheng menggaruk kepalanya yang licin.
“Buka GPS, bodoh.” Pria tinggi kurus di kursi depan menepuk kepala botak Lu Qicheng.
Dia bernama Wu Feng, juga mantan tentara bayaran. Ia lebih cerdas dibanding Lu Qicheng, dan kini juga menjadi pengawal pribadi Qin Xiu.
“Ah iya, ide bagus, Wu Feng!”
“Entah kenapa, kalau kamu yang ngomong, rasanya kayak sedang menghina aku.” Wu Feng mengeluh sambil membuka navigasi menuju Bay Manor.
Mobil pun mulai melaju. Tang Lingyi semakin tegang dan bertanya dengan suara bergetar,
“Kau... mau membawaku ke mana?”
“Jangan panik, Qing’er. Kita pulang,” jawab Qin Xiu datar namun dingin.
“Pulang? Pulang ke mana?”
“Selain rumah kita, apa kau punya rumah lain?”
Tang Lingyi berusaha mengulur waktu sambil diam-diam menggeser tubuhnya sedikit, membuat separuh tubuhnya berada di luar jangkauan pandangan Qin Xiu. Dengan hati-hati, dia menyelipkan tangannya ke dalam saku untuk mengaktifkan alat darurat pengirim sinyal—perangkat yang bisa mengirim lokasi dan suara secara langsung ke markas.
Biasanya, alat itu tidak akan digunakan kecuali dalam keadaan sangat genting. Namun situasi sekarang jelas sudah darurat. Pria di sampingnya terlalu tenang, tapi senyumnya membuat bulu kuduknya meremang.
Namun belum sempat ia menekan tombol, Qin Xiu tiba-tiba mengernyit, lalu secepat kilat menangkap pergelangan tangannya. Begitu melihat alat elektronik di tangannya, Qin Xiu langsung merebutnya dan menyimpannya ke saku sendiri.
“Masih ada yang lain?” tanyanya dingin.
Tang Lingyi terkejut dengan ketajaman pengamatan pria itu. Ia hanya bisa menggeleng gugup.
“Ga... gak ada. Hei! Lepaskan aku!”
“Diam. Kau ini wanita penuh tipu muslihat. Baru-baru ini keluarin sarung tangan aneh, sekarang alat pemancar. Aku mau lihat, kau masih nyembunyiin apa lagi.”
Qin Xiu mulai menggeledah tubuhnya dengan kasar. Gerakannya cepat dan kuat, membuat Tang Lingyi meringis kesakitan.
“Ah! Sakit! Bisa gak pelan-pelan!” serunya kesal saat dada ikut ditekan dengan keras.
Dua pria di depan mendengar teriakannya. Mereka menoleh sekilas, lalu segera memalingkan wajah dengan canggung — pemandangan itu terlalu canggung untuk dilihat.
“Pelan-pelan? Biasanya kau kan suka yang keras?” sindir Qin Xiu dengan nada dingin.
Kalimat itu membuat Tang Lingyi bengong — apa maksudnya?
Qin Xiu sedang menyindir video skandal antara Tian Suqing dan pria lain yang tersebar sebelumnya. Meski Suqing bersikeras bahwa video itu palsu, Qin Xiu kini sepenuhnya percaya kalau itu nyata.
Apaan sih ini!? batin Tang Lingyi panik. Ia tak berani menyangkal — kalau Suqing memang punya kebiasaan aneh begitu, dia malah makin dicurigai. Jadi, dia hanya bisa menggertakkan gigi dan menahan diri saat Qin Xiu menggeledah seluruh tubuhnya.
Walau jiwanya adalah laki-laki, tapi tubuh perempuan yang disentuh secara kasar oleh orang lain memberi sensasi yang benar-benar berbeda — rasa jijik, marah, dan tak berdaya bercampur jadi satu.
Baru kali ini Tang Lingyi benar-benar sadar: betapa lemahnya tubuh perempuan.
“Hei! Kau...” serunya kaget ketika Qin Xiu tiba-tiba meraih pergelangan kakinya.
Qin Xiu mencopot sepatu sneakers putih dari kakinya, bahkan sampai melepas kaus kaki putihnya juga.
Tang Lingyi hanya bisa menekuk kaki dan memeluk lututnya erat-erat, membiarkan pria itu menyelesaikan penggeledahan.
Setelah serangkaian pemeriksaan kasar itu, Tang Lingyi bisa menyimpulkan satu hal:
Qin Xiu ini... benar-benar orang gila.
Qin Xiu sendiri sebenarnya tidak punya niat cabul; dia hanya takut wanita ini masih menyembunyikan alat berbahaya.
Dulu, ia pernah bermimpi hidup bahagia dengan Tian Suqing sebagai suami-istri. Tapi sekarang? Bagaimana mungkin dia masih mencintai wanita yang pernah berusaha membunuhnya?
Setelah selesai memeriksa, Qin Xiu menatap semua benda yang dia temukan — ponsel, tali lipat, kunci universal, bahkan berbagai alat mini lainnya — jumlahnya belasan. Wajahnya langsung berubah dingin, tinjunya mengepal erat hingga terdengar bunyi “krek”.
Dia pikir dia bisa tetap tenang saat bertemu lagi dengan wanita itu. Tapi nyatanya, amarah dan kebencian di dadanya hampir meledak.
“Ini yang kau bilang gak ada lagi?” katanya sinis sambil melempar semua barang itu ke kursi.
“Gak... gak banyak lagi kok.” Tang Lingyi mencoba bersikap tenang.
Qin Xiu mengambil proposal proyek Tianye Group dari antara barang-barang itu.
“Ini buat apa?” tanyanya curiga.
Tang Lingyi melirik ke arah lain. “Ini dokumen dari perusahaan kami. Kenapa kau tanya-tanya?”
“Perusahaan kita?” Qin Xiu mendengus. “Bahkan kalau di matamu aku cuma badut, masa kau sampai gak kenal aku lagi, Qing’er?”
Kata “Qin Xiu” membuat Tang Lingyi tertegun. Nama itu terasa familiar...
Setelah berpikir sejenak, dia langsung pucat.
Qin Xiu — bukankah itu suaminya Tian Suqing?!
Kemarin dia baru meninjau daftar karyawan Tianye Group bersama Yang Li. Dalam data itu tertulis jelas: Qin Xiu sudah meninggal setahun lalu. Karena itu, dia tak repot-repot mengingat wajahnya.
Tapi ternyata, “orang mati” itu kini hidup-hidup duduk di sampingnya!
“Kau... kau Qin Xiu? Bukannya kau udah mati?” serunya kaget.
Ucapan itu membuat senyum di wajah Qin Xiu perlahan menghilang. Tatapannya menjadi tajam dan dingin.
“Kenapa? Aku gak mati bikin kau kecewa, ya?” katanya dengan nada membunuh.
Qin Xiu mengira Tian Suqing sedang menyesal karena gagal membunuhnya, dan anggapannya itu membuat kemarahannya makin membara.
“Bukan! Maksudku itu bukan begitu—mmmph!” Tang Lingyi belum sempat menjelaskan, Qin Xiu sudah menjepit dagunya kuat-kuat, membuat mulutnya terbuka paksa seperti huruf O.
“Kau benar-benar wanita tanpa hati. Aku dulu kenapa bisa mencintai orang sekejam kau...” katanya dengan tawa getir, seolah menertawakan dirinya sendiri.
Tang Lingyi justru lega mendengarnya. Dari nadanya, Qin Xiu tampaknya sudah tidak mencintai Tian Suqing lagi. Syukurlah — dia sempat takut Qin Xiu membawanya pulang untuk “menjalankan kewajiban suami-istri”.
Kalau itu sampai terjadi, baru sehari dia jadi perempuan sudah... hancur sejarahnya.
Tapi kalau Qin Xiu sudah tidak mencintai Tian Suqing, lalu kenapa dia membawanya pulang?
Tang Lingyi berpikir cepat — lalu teringat berita perselingkuhan Tian Suqing kemarin.
Seketika wajahnya memucat.
Sial!
Jangan-jangan Qin Xiu...
mengira dia Tian Suqing — dan membawanya pulang untuk membalas dendam!?
No comments yet
Be the first to share your thoughts!