Chapter 36 Bab 36 – Harimau Galak dan Kucing Penakut
Pagi itu, Qin Xiu berangkat lebih awal ke kantor pusat Grup Qin. Namun, begitu duduk di ruang kerjanya, ia sama sekali tak bisa fokus pada pekerjaan.
Entah kenapa, mungkin karena ulah Tang Lingyi kemarin terlalu banyak membuatnya emosi, pikirannya selalu melayang ke arah wanita itu.
Belakangan ini ia juga terlalu sibuk hingga tak sempat menanyakan pada Wu Feng tentang keadaan Tang Lingyi di kampus. Setelah kejadian penculikan oleh Yu Weilin kemarin, rasa penasaran itu justru semakin kuat — ia ingin tahu, apa yang dilakukan Tang Lingyi setiap hari di sekolah.
Akhirnya, Qin Xiu berpikir “tidak usah menunggu waktu yang tepat, sekarang saja.”
Mungkin, pikirnya, jika ia melihat “Tian Suqing” (identitas palsu Tang Lingyi) dipermalukan di kampus—orang yang dulu sombong kini jadi bahan ejekan—hatinya bisa merasa puas.
Tanpa memberitahu siapa pun, Qin Xiu mengendarai mobil G-Class hitamnya menuju Universitas Qianlan.
Ia sudah pernah datang sebelumnya, jadi tahu lokasi gedung bahasa Inggris tempat Tang Lingyi belajar. Setelah memarkir mobil, ia menelpon Wu Feng, menanyakan kelas Tang Lingyi.
Wu Feng heran kenapa bosnya tiba-tiba datang ke kampus, tapi tetap menyebutkan lokasi kelas.
Qin Xiu pun naik ke lantai empat dan berjalan menuju kelas Bahasa Inggris 1.
Sebelum masuk, ia sudah mendengar suara gaduh dari dalam kelas.
Awalnya ia mengira Tang Lingyi akan duduk menyendiri, tampak terasing dari suasana ramai. Tapi begitu berdiri di depan pintu dan melihat pemandangan di dalam—ia tertegun.
Suasana riuh itu justru berpusat pada Tang Lingyi!
Qin Xiu mulai merasa kagum — kemampuan beradaptasi wanita itu luar biasa.
Padahal niat awalnya adalah membuat “Tian Suqing” kembali ke tempat yang dulu penuh cibiran, agar ia merasakan rasa malu dan kejatuhan.
Namun ternyata, di lingkungan yang dulu memusuhinya, Tang Lingyi malah bisa tertawa, bercanda, bahkan dikelilingi banyak teman pria.
Yang paling menusuk hati Qin Xiu adalah—dia melihat Tang Lingyi berpegangan tangan dengan si pria gendut yang kemarin ikut dalam insiden itu (Peng Yuan).
Entah kenapa, Qin Xiu merasa dirinya sedang dihina.
“Tian Suqing, bahkan kalau kau suka pria seperti itu, kau tetap mengabaikanku, ya?”
Ia yakin dirinya sudah tak punya perasaan pada Tian Suqing, tapi tingkah gadis itu jelas membuatnya marah tanpa alasan.
Tanpa pikir panjang, Qin Xiu menendang pintu kelas keras-keras.
“BRAK!”
Seluruh kelas seketika sunyi. Bahkan Wu Feng yang bersembunyi di luar ikut kaget mendengar suara itu.
Melihat Tang Lingyi pucat ketakutan, Qin Xiu justru merasa puas.
Ia tersenyum tipis dan perlahan melangkah ke arahnya — setiap langkah terasa seperti ancaman.
Ia berjalan pelan, sambil memikirkan bagaimana cara menghukum gadis ini.
Apakah selama ini hukumannya terlalu lembek, sampai-sampai “Tian Suqing” tak juga jera?
Namun sampai berdiri tepat di depan Tang Lingyi, Qin Xiu belum memutuskan apa pun.
Ia hanya tahu, ia ingin membawanya pergi dulu—baru berpikir nanti.
Setiap kali melihat senyum gadis itu, Qin Xiu selalu teringat detik saat ia didorong keluar dari pesawat — dan di kala itu Tian Suqing juga sedang tersenyum menggoda pria lain.
Rasa benci yang menumpuk pun kembali membara.
Tang Lingyi sama sekali tak menyangka Qin Xiu akan muncul di kelas pada jam seperti ini.
Melihat caranya menendang pintu, ia tahu pasti pria ini sedang marah—entah karena apa.
Sejak kemarin, setelah pengalaman “disetrum” oleh Qin Xiu, Tang Lingyi sudah trauma. Sekarang setiap kali melihat pria itu, ia seperti tikus yang berhadapan dengan kucing.
Qin Xiu tersenyum dan berkata lembut — tapi di telinga Tang Lingyi, suaranya terdengar seperti bisikan iblis:
“Kau tampaknya akrab sekali dengan teman sekelasmu itu, ya, Tian Suqing?”
“Biasa aja,” jawab Tang Lingyi hati-hati.
“Aku sudah bantu buatkan kartu makan untukmu, jadi kau seharusnya tak perlu menjual pesonamu untuk memanfaatkan anak laki-laki itu lagi. Tapi kenapa masih saja begitu, hm?”
Peng Yuan terkejut. “Memanfaatkan…?”
Tang Lingyi panik. “Tidak! Aku nggak memanfaatkanmu, Peng Yuan!”
Qin Xiu tersenyum licik.
“Oh ya? Tapi kau sendiri yang bilang padaku, kau mendekatinya karena tak punya uang makan. Katamu, kau pura-pura baik padanya supaya bisa makan gratis.”
Mendengar itu, Peng Yuan terdiam. Pandangannya kosong. Kata-kata Qin Xiu terasa seperti cambuk menyadarkan seseorang dari mimpi panjang.
Tang Lingyi melihat wajah Peng Yuan yang kecewa, tahu bahwa ia percaya ucapan Qin Xiu.
Dengan marah ia berkata, “Aku tidak pernah memanfaatkan dia! Aku menolongnya karena dia temanku!”
Qin Xiu senang melihat gadis itu berapi-api. Ia tersenyum,
“Tapi kau sendiri bilang begitu padaku.”
Tang Lingyi menggertakkan gigi. “Itu aku bohongin kamu!”
“Oh?” Qin Xiu menaikkan alisnya. “Jadi yang kau tipu itu aku? Kau memanfaatkan aku buat bantu urus kartumu, begitu?”
“Ya! Begitulah! Kau ini memang mudah dibohongi! Udah puas?!” sergah Tang Lingyi keras, seolah sudah pasrah.
Kelas mendadak hening.
Semua orang menatap Qin Xiu yang berdiri tegak, auranya menekan seisi ruangan.
Tang Lingyi menunduk, menunggu “vonis”-nya.
Peng Yuan yang melihat tangan gadis itu bergetar tahu bahwa sebenarnya Tang Lingyi ketakutan. Ia sadar gadis itu berbohong demi melindunginya.
Maka ia berdiri dan berkata:
“Kenapa kau menakuti dia? Kami cuma main game bareng!”
“Main game?” Qin Xiu mengulang dengan nada dingin.
“Iya! Kami cuma teman biasa yang main bareng, nggak seperti yang kau pikirkan!”
Qin Xiu tiba-tiba teringat ucapan Wu Feng dulu—bahwa “Nona Tian” bermain game untuk melupakan rasa malu di dunia nyata. Tapi sekarang ia sadar, gadis itu benar-benar menikmatinya.
Semakin dipikir, Qin Xiu semakin kesal. Sejak berurusan dengan “Tian Suqing”, semua rencananya berantakan. Rasa marah pun memuncak.
Ia melangkah cepat, mencengkeram pergelangan tangan Tang Lingyi dan menyeretnya keluar kelas.
Wu Feng yang bersembunyi di lorong segera muncul.
“Bos, biar saya ikut!”
“Tak perlu. Aku mau sendirian dengannya.”
Dengan paksa, Qin Xiu menarik Tang Lingyi masuk ke mobil, lalu menutup pintu keras-keras.
Tang Lingyi panik. “Kau… kau mau ngapain?”
Qin Xiu tersenyum tipis.
“Kau tadi begitu berani di depan teman-temanmu. Bukankah sudah sepantasnya membayar harganya?”
Tang Lingyi menelan ludah, berusaha bicara tenang.
“Itu karena kamu memfitnah aku dan temanku. Aku cuma membela diri.”
Tapi sayangnya, Qin Xiu bukan tipe orang yang bisa diajak bicara logis.
Ia menatap lurus ke depan dan berkata datar:
“Kau memang pintar beralasan. Tapi aku rasa sudah saatnya kau berhenti jadi mahasiswi.”
Tang Lingyi mengernyit. “Berhenti? Maksudmu…?”
Qin Xiu meliriknya sekilas, tersenyum tipis.
“Aku ingin memberimu pekerjaan baru.”
“Pekerjaan baru? Pekerjaan apa?” tanya Tang Lingyi waspada.
Qin Xiu menyalakan mesin mobil, dan dengan suara santai menjawab dua kata —
“Miss.”
Tang Lingyi langsung nyaris tersedak.
“Pfft—APAAN!?”
No comments yet
Be the first to share your thoughts!