Chapter 58 Bab 58: Etika Seorang Pencuri Bayangan (Bonus Bab)
Tang Lingyi sempat mempertimbangkan apakah lebih baik kembali dulu ke organisasinya dengan aman, atau langsung pergi ke Tianye Group untuk menjalankan rencananya.
Setelah memikirkan berbagai kemungkinan, ia memutuskan—lebih baik sekarang juga.
Karena Qin Xiu saat ini masih mengira ia sedang bersekolah, besar kemungkinan ia belum menempatkan banyak mata-mata di Tianye Group. Jika Qin Xiu tahu ia kabur, masuk ke Tianye Group nanti pasti akan jauh lebih sulit.
Dorongan balas dendam yang kuat membuat Tang Lingyi memilih mengambil risiko—ia ingin menyerang Qin Xiu secara tiba-tiba, sebelum lawannya sempat bersiap.
Seperti pepatah lama: “Kemakmuran datang dari risiko.” Lagipula, ia cukup percaya diri bisa berhasil.
Namun, begitu keluar dari gerbang sekolah, Tang Lingyi baru menyadari masalah serius yang menghadangnya.
Ia sama sekali tidak punya uang.
Bukan hanya kelaparan, tapi ia juga tak bisa pergi ke tempat yang jauh—baik ke Tianye Group maupun ke markas organisasinya—tanpa uang.
Memang, ia bisa mencoba meminta sopir bus untuk mengizinkannya naik gratis, tapi ia tidak terlalu mengenal wilayah ini. Ia bahkan tak tahu bus mana yang harus ia naiki.
Kalau bertanya pada orang asing di jalan, ia juga khawatir malah ditunjukkan arah yang salah—bisa-bisa justru nyasar ke tempat yang lebih berbahaya.
Jadi, prioritas utamanya sekarang adalah mendapatkan sedikit uang terlebih dahulu.
Sayangnya, hampir semua orang kini menggunakan dompet digital. Uang tunai nyaris tak pernah dibawa oleh warga biasa.
Satu-satunya harapan Tang Lingyi adalah warung-warung kecil di sekitar kampus—karena hanya di tempat seperti itulah uang tunai masih sering beredar.
Dan satu-satunya cara yang bisa ia lakukan sekarang adalah… meminjam uang.
Ya, meminjam—bukan mencuri.
Meski ia adalah seorang pencuri bayangan, ia hanya mencuri informasi bisnis. Ia tak pernah sekalipun mengambil uang milik orang biasa.
Bukan karena takut, tapi karena prinsip.
Itu adalah etika dasar seorang pencuri bayangan.
Dengan tekad itu, Tang Lingyi menyusun kata-kata sebaik mungkin, lalu memasuki warung pertama yang dilihatnya.
Warung pertama itu adalah kedai mie ramen. Begitu masuk, pemiliknya—seorang ibu paruh baya di balik meja kasir—menyambutnya ramah: “Mau pesan apa, Nak?”
Tang Lingyi menggigit bibirnya sebentar, lalu berkata jujur:
“Halo, Bu. Saya siswi dari kampus seberang—Shallan University. Hari ini ada urusan mendesak, saya harus segera pulang. Tapi saya buru-buru keluar, lupa bawa ponsel dan uang. Boleh minta pinjam seratus ribu? Nanti pasti saya kembalikan.”
Ia tidak berbohong. Ia benar-benar berniat mengembalikannya suatu hari nanti.
Namun, ibu itu mengerutkan dahi, memandang Tang Lingyi dari atas hingga bawah, lalu mengibaskan tangan:
“Maaf, Nak. Kami nggak ada uang tunai.”
Itu jelas sekadar alasan halus—artinya ia menolak.
Tapi sikap sang ibu sebenarnya wajar. Ia tahu siswa Shallan University umumnya berasal dari keluarga berada. Kalau memang lupa bawa uang, tentu bisa meminjam dari teman—kenapa harus meminta pada mereka yang mencari nafkah dengan susah payah?
Meski penampilan Tang Lingyi memang mewah dan wajahnya cantik luar biasa—jelas tampak seperti putri konglomerat—bukan berarti tidak mungkin ia memanfaatkan kesan itu untuk menipu.
“Baiklah, maaf mengganggu,” ucap Tang Lingyi pelan, lalu pergi dengan perasaan kecewa.
Ia mencoba ke beberapa warung lainnya, tapi hasilnya sama: semua pemilik warung memandangnya penuh curiga, lalu menolak dengan berbagai alasan.
Setiap penolakan membuat kepercayaan dirinya semakin terkikis. Tak terasa, ia sudah sampai di warung terakhir di jalan itu.
Bahkan sebelum masuk, Tang Lingyi sudah pesimis warung ini juga takkan memberinya pinjaman.
Ini kedai mi hainan—lokasinya buruk, dekorasinya sederhana, dan hampir tak ada pelanggan. Jelas sekali bisnisnya sedang lesu.
Jika warung ini pun menolak, ia akan terpaksa naik bus sembarangan dan bertanya di jalan.
Untuk makan siang? Lapar sebentar bukan masalah besar.
Dengan menguatkan hati, Tang Lingyi akhirnya melangkah masuk.
Di dalam, seorang pria paruh baya yang sedikit gendut sedang mengelap meja. Melihat Tang Lingyi masuk, ia langsung menyambut dengan senyum ramah, berbicara dalam logat daerah:
“Duduk sini saja, Nak.”
“Paman, saya tidak mau makan. Saya siswi dari kampus seberang. Sekarang saya tidak punya uang untuk pulang. Boleh minta pinjam seratus ribu? Nanti pasti saya kembalikan.”
“Oh, nggak punya uang pulang?” Paman itu terkejut sejenak, lalu tanpa ragu memasukkan tangan ke saku celemeknya.
Tapi yang keluar hanya beberapa lembar uang receh yang kusut—jumlahnya kira-kira hanya lima atau enam puluh ribu.
Ia tersenyum malu-malu, “Uangku nggak cukup, Nak. Tunggu sebentar, aku ambil sama istriku dulu.”
Tang Lingyi terharu. Baru kali ini ada yang langsung percaya dan mau membantu.
“Tidak usah repot, Paman. Uang ini saja sudah…”
“Ah, nggak boleh begitu! Tunggu sebentar ya!”
Lalu paman itu masuk ke dapur.
Tidak lama, suara pertengkaran terdengar dari dalam:
“Istri: ‘Mau minta uang buat apa lagi? Bukannya kamu masih punya uang?’
Suami: ‘Aku cuma mau beli rokok, lima puluh ribu saja.’
Istri: ‘Kamu kerja capek-capek tapi nggak pernah dapat untung, malah mau beli rokok? Uang les privat anak kita gimana? Kemarin dia bilang mau belajar piano! Jangankan piano, harmonika aja kamu nggak mampu beli! Kenapa sih aku bisa nikah sama orang kayak kamu?!’
Suami: ‘Ya sudah, jangan marah dulu… uangnya nanti pasti aku cari. Sekarang pinjam dulu dong…’”
Pria itu tak marah—hanya terus merayu dengan rendah hati.
Kadang, kekurangan—entah itu cinta atau uang—memang bisa mengikis ketajaman semangat seseorang.
Setelah dimarahi habis-habisan, sang paman akhirnya keluar lagi. Senyum polosnya masih menghiasi wajahnya. Ia menyodorkan selembar uang kertas lima puluh ribu yang kusut ke tangan Tang Lingyi.
“Cepat sembunyikan, jangan sampai istriku lihat. Dia nggak suka aku pinjemin uang sembarangan… Dulu aku pernah pinjam ke orang, tapi nggak dikembalikan. Sejak itu dia marah-marah terus.”
Tang Lingyi menggenggam erat uang itu. Dadanya terasa sesak.
“Paman… uang ini lebih baik Anda ambil kembali. Saya tahu kondisi keluarga Anda juga berat.”
“Ah, nggak apa-apa! Kamu kan butuh pinjam, dan janji bakal kembalikan, kan? Paling juga seratus ribu ini semua yang aku punya. Nggak ada lagi, hehe…” Ia menggaruk kepala, menyembunyikan rasa malunya.
“Tapi, Paman… Anda sendiri juga susah. Apa nggak takut saya kabur dan nggak bayar?”
“Hmm… itu memang masalah,” ia menghela napas. “Aku pernah ditipu beberapa kali juga karena percaya begitu saja. Tapi… aku tetap mau percaya kamu. Siapa tahu, ini bisa jadi kebaikan yang berarti.”
Mendengar itu, Tang Lingyi menggigit bibirnya kuat-kuat. Matanya mulai memanas.
“Terima kasih banyak, Paman. Saya pasti akan mengembalikannya!”
“Baiklah, aku tunggu.”
Tang Lingyi berbalik dan meninggalkan kedai mi itu, lalu menyetop taksi menuju Tianye Group.
Saat duduk di dalam mobil, ia tiba-tiba merenung.
Bagi orang kaya, seratus ribu mungkin tak lebih dari uang receh. Tapi bagi paman tadi, itu mungkin uang hasil kerja seharian yang bahkan belum tentu terkumpul.
Namun, meski dalam kesulitan, ia tetap memilih membantu orang asing yang bahkan belum dikenalnya.
Uang receh di tangannya terasa berat seperti emas murni—bukan karena nilainya, tapi karena ia mewakili kepercayaan dan kebaikan yang tulus dari seorang asing.
Tang Lingyi mengusap sudut matanya yang mulai memerah, lalu berjanji dalam hati:
“Tenang saja, Paman. Nanti… aku yang akan belikan piano untuk anakmu!”
No comments yet
Be the first to share your thoughts!