Chapter 1 Chapter 001. Apakah Aku Melihat Hantu?!
Malam hari.
Setelah petugas asrama selesai memanggil nama dan meninggalkan ruangan, Li Mu baru mengangkat kepalanya dari meja.
Hari ini Jumat. Siswa yang ingin pulang harus mengisi formulir izin pulang terlebih dahulu. Seperti biasa, Li Mu memilih tetap tinggal di asrama.
Matanya menatap riwayat obrolan di ponselnya.
Malam ini, pacar daringnya akan datang menemuinya dengan kereta!
Sejujurnya, dulu Li Mu sama sekali tidak percaya pada hubungan romantis lewat internet—baginya itu hanyalah ilusi. Ia hanya mengobrol daring karena di dunia nyata tak punya tempat untuk curhat. Namun, tanpa disangka, gadis di seberang layar itu malah mengajaknya pacaran daring.
Awalnya Li Mu menganggapnya biasa saja: tak keluar uang, tak tertipu, dan lumayan punya teman curhat tetap. Jadi ia tak terlalu memikirkannya, hanya saja lama-lama waktu ngobrol mereka semakin lama setiap hari.
Tanpa sadar, ia benar-benar jatuh cinta.
Gadis itu seorang siswi SMA yang manis dan agak memberontak. Keluarganya sangat patriarkal, memperlakukannya dengan kekerasan, bahkan pernah memenjarakannya di rumah...
Meski Li Mu di dunia nyata terkesan dingin dan tak banyak bicara, sebenarnya ia berhati lembut. Melihat penderitaan gadis itu lebih parah daripada dirinya sendiri, rasa iba dan keinginan untuk melindunginya pun tumbuh subur—bahkan ia mulai benar-benar menganggap gadis itu sebagai pacarnya.
Dan hari ini, pacarnya akan datang!
Itu membuatnya semakin yakin akan perasaan sang gadis—seorang perempuan yang rela pergi sendirian ke kota lain demi menemui teman maya yang belum pernah ditemuinya, jelas menunjukkan kepercayaan yang luar biasa padanya.
Li Mu berdiri dari kursinya. Di wajahnya yang tampan dan berbentuk oval, muncul senyum hangat yang jarang terlihat.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia merasa punya tujuan hidup lagi—memberikan rumah yang hangat untuk gadis itu.
Jika wajahnya secantik di foto dan video...
Kalau tidak, ia akan menganggapnya seperti adik sendiri.
Sekolah kejuruan tempatnya belajar tidak terlalu ketat. Meski Li Mu belum pernah melakukannya sendiri, ia pernah dengar kabar bahwa ada siswa yang diam-diam memanjat tembok asrama di malam hari demi keluar sekolah.
Saat petugas asrama masih sibuk mengabsen siswa yang tinggal akhir pekan, Li Mu menyelinap turun dari lantai, memanjat pagar besi asrama, lalu bergegas menuju tembok luar sekolah.
Sekolahnya terletak di pinggiran kabupaten. Di luar tembok itu terbentang jalan provinsi—setiap hari dilewati truk besar dan kendaraan berat lainnya.
Dengan tubuh yang cukup atletis, Li Mu melompat, kedua tangannya langsung mencengkeram puncak tembok. Dengan tenaga lengan, ia naik ke atas, lalu melompat turun.
Namun, kakinya sempat tersandung, badannya oleng ke depan. Untuk menyeimbangkan diri, ia tak sadar melangkah keluar trotoar sempit.
"Duut!"
Begitu tubuhnya kembali seimbang, suara klakson mobil yang nyaring menyayat gendang telinganya. Saat ia menoleh, separuh tubuhnya sudah tersenggol truk yang melaju kencang. Tubuhnya terlempar seperti boneka, melayang miring lalu jatuh keras ke aspal.
Dalam kesadaran yang mulai mengabur, matanya sempat menangkap sosok gadis cantik di seberang jalan yang terpaku ngeri melihat ke arahnya.
Dia benar-benar datang?
Cantik sekali...
Kenapa selalu begini...
——————
Sabtu, pukul 12 siang.
Di gerbang Sekolah Kejuruan Fengcheng, sekelompok orang berkerumun sambil berteriak histeris, memblokir pintu gerbang dengan spanduk dan karangan bunga.
"Kembalikan nyawa putri kami!"
"Membunuh tanpa belas kasihan!"
Sebuah mobil bak terbuka membawa peti es dan foto almarhumah—gadis muda yang wajahnya manis dan tubuhnya proporsional—diparkir tepat di depan gerbang. Warga sekitar berkumpul penasaran, dan tak lama kemudian para jurnalis pun datang membawa kamera.
Li Mu turun dari bus, masih bingung dan mengantuk, namun langsung tertarik oleh keributan itu.
“Foto di peti es itu... sepertinya pernah kulihat. Kayaknya siswi dari kelas pendidikan anak? Tubuhnya ideal, sering pakai celana ketat...”
Beberapa hari lalu ia dengar gosip ada siswi yang terjun dari asrama perempuan, tapi ia kira itu cuma omong kosong. Kini, melihat adegan ini, ia sadar bunuh diri benar-benar terjadi di sekitarnya.
Ngapain sih bunuh diri? Pikirnya dalam hati.
Ia mengitari kerumunan dan berjalan masuk ke dalam sekolah.
Malam tadi, setelah kecelakaan, sopir truk membawanya ke rumah sakit. Namun saat terbangun keesokan harinya, dokter bilang ia hanya luka luar—tak ada cedera dalam, tak patah tulang, tidak ada masalah serius sama sekali.
Li Mu masih bingung sampai sekarang.
Dengan kekuatan benturan tadi malam, ia yakin seharusnya ia cacat atau bahkan tewas. Tapi nyatanya, ia baik-baik saja. Sopir truk itu malah harus membayar biaya pemeriksaan yang sia-sia.
Setelah sadar, ia mencoba menghubungi pacar daringnya—lewat telepon, QQ, WeChat—tapi tak ada satupun yang berhasil. Ia mulai curiga: apakah gadis itu datang, melihat wajahnya, lalu kabur karena kecewa?
Tapi ia merasa wajahnya lumayan ganteng—paling tidak, cukup tampan untuk disebut “cowok cakep.” Mana mungkin langsung ditolak?
Atau... apakah gadis itu kaget melihat kecelakaannya lalu lari ketakutan?
Ia melewati para orang tua yang sedang berdemo, tapi tepat sebelum masuk, ia menoleh sekali lagi—dan langsung membeku.
Di tengah kerumunan, ada seorang gadis berpostur sempurna sedang berbicara dengan para orang tua korban. Namun, tak seorang pun memperhatikannya.
Saat gadis itu menyadari pandangan Li Mu, ia menoleh—dan mata mereka bertemu.
Seketika, rasa dingin menusuk dari ubun-ubun hingga ujung kaki. Tubuh Li Mu kaku, keringat dingin membasahi punggungnya, lututnya gemetar tak bisa bergerak.
Wajah gadis itu... persis sama dengan foto di peti es!
Pasti kembar, pikirnya sambil berusaha menenangkan diri.
Tapi tiba-tiba, gadis itu tersenyum cerah, lalu berlari ke arahnya.
Namun—ia bukan manusia nyata. Tubuhnya seperti proyeksi hologram, menembus tubuh para penonton tanpa hambatan.
Semakin dekat gadis itu, semakin dingin suhu di sekitar Li Mu. Bulu kuduknya merinding, napasnya sesak.
Ini... hantu?
Gadis itu berhenti tepat di depannya, lalu memeluknya erat.
Saat itu, napas Li Mu seakan berhenti.
Lalu, tubuh gadis itu perlahan menguap menjadi kabut tipis yang menyusup masuk ke dalam pori-pori tubuhnya.
Tiba-tiba Li Mu bisa bergerak lagi—ia melompat mundur, lalu jatuh terduduk.
“Woi! Woi! WOI!” teriak kasar terdengar dari arah tak terduga.
Belum sempat Li Mu mencerna kenyataan bahwa dunia ini benar-benar ada hantu, tiba-tiba gadis tadi “terlempar” keluar dari tubuhnya seperti barang cacat, jatuh ke tanah dalam wujud manusia, lalu merangkak menjauh dengan wajah panik.
Keduanya—manusia dan hantu—saling menatap dengan wajah ngeri dan tak percaya.
“Eh? Aku lihat hantu aja nggak sepanik kamu!” gumam Li Mu dalam hati.
——————
Novel baru rilis! Butuh dukungan pembaca!
Update stabil satu bab per hari.
Bonus bab dari donasi akan dibayar lunas saat novel resmi rilis berbayar.
Novel lama: Aku Tidak Mau Berubah Jadi Cewek Karena Sihir! — serial harian sebanyak 130.000 kata.
ʘ‿ʘ
(・∀・)