Enjoy an Ad-Free Experience High

Sign up to remove distractions and focus on what matters.

Volume 1

Chapter 177 Bab 177. Teman Sekamar

Nov 25, 2025 1,242 words

Li Mu sudah memahami watak teman-teman sekamarnya yang baru.  
Wang Ruoyan tidak perlu dibahas lebih lanjut—gadis ini ceria dan riang seperti seekor anjing husky.  
Lin Yuanyuan agak pendiam, tetapi mudah bergaul dan tak sungkan bercanda.  
Sementara itu, Chen Li berwatak lembut, dan sering “dikerjai” oleh Wang Ruoyan.

“Jadi, semalam di asrama putri berjalan lancar? Aku sempat khawatir kamu akan dikerjai,” tanya Yu Fan dengan rasa penasaran.  

“Mana mungkin aku dikerjai?”  
Meski kondisi fisik Li Mu kini tak sekuat pria dewasa, tingginya tetap mencapai 170 cm—sudah termasuk tinggi di antara gadis-gadis selatan.  
Justru dia yang mungkin “mengerjai” orang lain, bukan sebaliknya!

Mereka berdua berdiri di koridor luar kelas, bersandar di pagar, mengobrol santai.  

“Bagaimana sikap keluargamu setelah kamu pulang?”  
Li Mu tahu Yu Fan sempat punya sedikit konflik dengan keluarganya, meski hal itu jarang terlihat—ia selalu menutupinya dengan senyum hangat dan ceria.  

“Biasa saja, sama seperti dulu,” jawab Yu Fan sambil meregangkan tubuh dan menguap. “Tidak terlalu penting juga. Setelah ujian musim semi nanti, aku akan ikut Paman Chen Yi mengusir hantu. Lalu September nanti aku juga kuliah.”  

“Kalau kamu? Rencana setelah ujian musim semi?”  
“Mau nongkrong di rumah saja,” jawab Li Mu jujur. Ia hanya ingin menghabiskan waktu bersama Xiao Jing—adik perempuannya dulu, sekarang entah apa lagi statusnya.  

“Hmm.”  
“Kamu tampak lelah, kenapa?”  

Mendengar itu, wajah Li Mu langsung murung.  
Semalam, Lin Yuanyuan dan Wang Ruoyan main game sampai jam satu dini hari. Meski mereka cukup menjaga suara, Li Mu tetap sulit tidur.  
Mungkin juga karena belum terbiasa dengan lingkungan barunya—intinya, ia kurang tidur.  

Bel masuk kelas berbunyi. Mereka pun masuk dari pintu depan dan belakang.  
Hari ini, identitasnya sebagai penghuni asrama putri masih aman—kecuali Chen Zhihao.  
Pria itu sepertinya sudah tahu, tapi memilih diam dan tidak membocorkannya.

Belum sempat guru datang, Wang Chen tiba-tiba bersuara dari belakang:  
“Li Mu, Chen Zhihao ajak kita semua makan bareng.”  
“Makan?”  
“Iya. Kamu dan Yu Fan kan sudah pindah keluar, jadi Chen Zhihao pengin kumpul-kumpul dulu sebagai teman sekamar.”  

Li Mu sebenarnya tidak terlalu berminat, tapi karena mereka tetap teman sekamar, menolak rasanya kurang sopan.  
“Ya sudah. Kapan?”  
“Malam ini, setelah kelas.”  
“Ganti hari saja. Malam ini aku ada urusan.”  
Ia harus ikut makan malam bersama teman-teman sekamar barunya untuk membaur.

Tepat saat guru masuk dan membagikan soal ujian, obrolan mereka pun berhenti.  
Setiap hari mereka mengerjakan soal, lalu besoknya guru memberi kunci jawaban dan menjelaskan soal-soal sulit.  

Li Mu kini jauh lebih fokus belajar. Meski masih banyak soal yang tidak ia mengerti, ia bisa bertanya ke teman sebangkunya, Wu Lei, yang selalu mau membantu.  
Wu Lei memang agak kaku, tapi baik hati dan punya integritas. Konon, kalau gagal masuk universitas impiannya, ia berniat mendaftar jadi tentara.

Hari Selasa sore, Li Mu tidak perlu ke ruang musik.  
Begitu kelas usai, Wang Ruoyan langsung mendekat.  
“Ayo cepat! Nanti nggak kebagian tempat duduk!”  

*Eh, jangan bertingkah seolah-olah kita dekat banget di depan kelas begini...*  

Lin Yuanyuan dan Chen Li juga datang sambil ngobrol riang, menunggu Li Mu merapikan meja sebelum berangkat makan bersama.  
Li Mu buru-buru mengemasi barangnya. Tapi saat hendak pergi, Wang Chen tiba-tiba menarik ujung bajunya.  

Ia menoleh—dan melihat tatapan iri dari Wang Chen.  
“Kapan kamu dekat banget sama cewek-cewek ini?”  

Li Mu terdiam sejenak.  
“Kami memang sudah dekat sejak dulu.”  

Belum sempat selesai menjawab, Wang Ruoyan sudah menarik lengannya dan menyeretnya keluar kelas, diikuti Lin Yuanyuan dan Chen Li.  

Wang Chen terpaku melihat punggung Li Mu yang menjauh, lalu bergumam,  
“Jadi jadi cewek tuh enak juga, ya?”  

“Kapan Wang Ruoyan jadi pacar Li Mu?” tanya Wu Lei penasaran. “Apa mereka sudah jadian?”  

“Mana aku tahu?”  
Dulu Wang Chen mengira Li Mu dan Yu Fan sepasang gay, tapi kini Li Mu malah jadi *main character*—dikelilingi cewek-cewek cantik.  
Lin Yuanyuan memang biasa saja, tapi Wang Ruoyan dan Chen Li termasuk gadis paling cantik di kelas.  

Tidak heran Li Mu menolak makan malam bersama teman sekamar laki-laki—ternyata dia sudah ada jadwal dengan para gadis.  
Dan tentu saja, lebih enak tinggal di luar kalau sudah punya pacar.

---

“Bisa nggak sih jangan nempel terus?”  
Li Mu menoleh ke Wang Ruoyan dengan wajah pasrah.  
“Sana, peluk Yu Fan saja di depan sana.”  

“Nggak mau! Takut kamu racunin aku,” jawab Wang Ruoyan sambil tertawa, lalu merangkul lengan Chen Li dengan tangan satunya lagi.  

Lin Yuanyuan yang berjalan di samping langsung menangkap nada bercanda itu dan terkejut.  
“Jadi... Yu Fan pacar Li Mu?”  

“Ya iyalah! Kamu nggak tahu? Sekarang Yu Fan aja jarang main game bareng kita—selalu cari Li Mu terus!”  

“Ah, iya juga... Dulu kan kita kira Li Mu laki-laki, jadi nggak kepikiran ke arah situ.”  

Li Mu hanya diam sambil wajah datar, mendengarkan dua gadis itu ngobrol soal kehidupan pribadinya.  

*Chen Li sih baik... Diam, lembut, nggak suka gosip... Lucu sih...*  
Jika pikirannya masih seperti laki-laki, mungkin dia akan langsung jatuh hati. Tapi sekarang, ia hanya merasa Chen Li menggemaskan—tidak lebih.

“Chen Li, bukankah kamu pernah nulis fanfic Li Mu dan Yu Fan? Ayo tunjukin ke Li Mu!”  

“Fanfic?”  
Li Mu langsung menoleh penasaran, tapi Chen Li langsung memerah dan menggeleng keras-keras.  

*Lucu banget~*

Tapi rasa suka itu langsung lenyap saat Lin Yuanyuan menambahkan,  
“Sekarang kita tahu Li Mu cewek, jadi fanfic *boys’ love*-nya nggak perlu ditulis lagi.”  

*Wanita kejam!* pikir Li Mu dalam hati.

“Chen Li itu penulis ternama di platform novel perempuan, lho. Tiap malam nulis pakai HP,” jelas Lin Yuanyuan.  

“Nggak ada yang baca... Bukan penulis ternama,” protes Chen Li pelan.

Mereka terus ribut sepanjang jalan hingga tiba di restoran di perkampungan kota.  
Tapi begitu masuk, Li Mu kaget—Pak Yang Ye juga di sana!  

Guru wali kelas mereka memang suka makan di tempat ini. Terakhir kali Li Mu ke sini bersama Wang Chen, mereka juga bertemu dengannya.

“Eh? Kumpul-kumpul penghuni asrama putri, ya?” sapa Yang Ye sambil melambai. “Ayo, duduk sini! Masih ada tempat.”  

Wang Ruoyan langsung bersemangat, mengambil sumpit sekali pakai dan mencolek sepotong daging di piring.  

“Li Mu sempat lesu belajar akhir-akhir ini. Kalian bertiga kan pintar—bantu dia ya,” kata Yang Ye sambil tersenyum, tetap peduli pada nilai muridnya.  

“Siap, Pak,” jawab Chen Li sambil mengangguk pelan, duduk manis.  
Wang Ruoyan sudah lari memesan makanan, sementara Li Mu dan Lin Yuanyuan tak sungkan menyantap hidangan di meja.  

Yang Ye sama sekali tidak marah. Ia memang guru yang santai—murid-murid boleh datang ke kantornya kapan saja, makan minum gratis pula.

Comments (0)

Join the Discussion!

Share your thoughts and connect with other readers.

Login to Comment

No comments yet

Be the first to share your thoughts!