Enjoy an Ad-Free Experience High

Sign up to remove distractions and focus on what matters.

Volume 1

Chapter 184 Bab 184. Pemberitahuan dari Zhang Hui

Nov 26, 2025 1,197 words

Saat tiba kembali di rumah setelah berbelanja, Li Mu langsung tergeletak lemas di sofa, sama sekali tak ingin berkata-kata.

Belum lagi harus terus waspada terhadap Xiao Jing yang suka lari ke sana-kemari—hanya berbelanja pakaian wanita saja sudah cukup membuatnya kelelahan secara fisik maupun mental.

Awalnya dia hanya berniat membeli satu setel pakaian, tapi setelah mempertimbangkan bahwa mungkin akan ada situasi serupa di masa depan, Li Mu memutuskan membeli sekaligus tiga setel.

Alasannya sederhana: beberapa pakaian wanita itu memang benar-benar cantik!

Meski selama ini dia tidak pernah peduli pada majalah mode atau tren fashion, dan selera estetikanya masih terpengaruh oleh masa lalunya sebagai laki-laki—justru dari sudut pandang laki-laki itulah dia bisa menikmati betapa indahnya pakaian-pakaian itu jika dikenakan.

*"Hanya laki-laki yang paling tahu selera perempuan!"*

...Meski akan lebih sempurna kalau dia tidak harus memakainya sendiri.

Sebenarnya, mereka sempat berencana makan malam di luar setelah belanja. Tapi karena keramaian di pasar malam terlalu padat, Li Mu khawatir Xiao Jing bisa tersesat, jadi akhirnya memilih memesan makanan lewat layanan antar setibanya di rumah.

“Harusnya beli jam tangan ber-GPS buat Xiao Jing juga...” gumamnya pelan. Setiap kali keluar rumah bersama Xiao Jing, dia selalu khawatir bocah itu akan kabur entah ke mana.

“Mending beliin aku HP aja!”

“Nggak boleh!” tegas Li Mu.

Xiao Jing memang cerdas dan cepat belajar—sayangnya otaknya sepertinya sudah penuh muatan konten-konten ‘kuning’. Kalau diberi akses internet, bisa-bisa dia benar-benar jadi gadis kecil yang ‘nakal’. Li Mu masih ingin mempertahankan citra polos dan murni yang selama ini dia bayangkan.

Besok, Yu Fan dan Li Mu akan tampil bersama dalam sebuah lomba panggung. Saat ini, Yu Fan sedang asyik memeluk ponselnya sambil bersenandung lagu yang sudah mereka latih berkali-kali.

“Xiao Jing, sini! Ayo nyanyi sekali lagi bareng aku.”

“Oke—datang!” seru Xiao Jing riang.

Mereka baru saja duduk berdampingan ketika tiba-tiba pintu rumah diketuk dari luar.

Li Mu terkejut sejenak, lalu berdiri sambil bergumam, “Pesanan makanan datang secepat ini?”

Namun, ketika pintu dibuka, yang berdiri di luar bukan kurir makanan—melainkan sepupunya, Zhang Hui.

“Kakak sepupu?”

“Ternyata beneran di rumah? Aku kebetulan lewat, jadi mampir sebentar.”

Zhang Hui mengangkat kepala dan menatap wajah Li Mu—lalu tiba-tiba membeku di tempat.

Sebulan lalu, sepupunya ini masih terlihat seperti laki-laki—meski sudah mulai feminin. Tapi sekarang? Tak ada sedikit pun kesan maskulin tersisa. Baik dari aura maupun penampilannya, Li Mu kini tampak sepenuhnya seperti perempuan.

Bahkan jauh lebih cantik—dinginnya dulu seakan mencair, wajahnya terlihat jauh lebih lembut dan hangat.

“Kudengar kamu akhir-akhir ini sering bareng Om Tongkat?”

Li Mu tak menyadari tatapan terkejut Zhang Hui. Ia sibuk membuka lemari sepatu dan mengambil sepasang sandal tamu.

“Hmm, bantu dia nangani beberapa kasus kecil, dapat sedikit uang.”

“Bagus kalau begitu.”

Li Mu meletakkan sandal itu ke lantai lalu kembali duduk di sofa.

Zhang Hui menutup pintu, mengenakan sandal, lalu seketika matanya menangkap sosok Xiao Jing yang sedang memandangnya dengan mata membelalak.

Jantungnya langsung berdebar—ini beneran hantu, sialan!

Meski sudah beberapa kali berurusan dengan makhluk halus, melihat Xiao Jing tetap membuatnya merasa merinding.

Yu Fan menyapanya dengan santai, “Belakangan ada kasus hantu berat nggak?”

“Nggak juga. Mayoritas cuma hantu kecil biasa. Cukup dibawa pulang, dikasih tayangan film atau TV, lalu seminggu kemudian mereka biasanya menghilang sendiri.”

Kedatangan Zhang Hui memang di luar dugaan Li Mu. Ia mengambil sekaleng cola dari laci lalu melemparkannya ke arah Zhang Hui sebelum kembali rebahan di sofa.

Zhang Hui dan Yu Fan mulai ngobrol ringan—namun matanya berkali-kali tak sadar melirik ke arah dada Li Mu.

*"Sepupu gue jadi makin cantik sih, tapi sejak kapan sampai punya dada segini?"*

“Sekarang kamu udah jadi asisten andalan Chen Yi, ya?” Yu Fan tertawa sambil duduk di samping Zhang Hui, bahkan sampai akrab-akrab mengalungkan lengannya di bahu sang sepupu—padahal mereka cuma pernah bertemu beberapa kali.

“Ngga juga, masih belajar terus.”

Yu Fan memperhatikan penampilan Zhang Hui. Sepertinya dia memang baru saja dapat penghasilan lumayan—sepatu olahraganya baru, jaket The North Face juga kelihatan masih kinclong.

*Tapi tolong deh, jangan terus-terusan ngeliatin Li Mu gitu! Dia kan sepupumu—sekarang udah jadi sepupumu cewek pulak!*

Dengan sedikit kesal, Yu Fan menggeser tubuhnya, menyilangkan kaki, dan duduk miring di sofa—sengaja menutupi Li Mu sepenuhnya dari pandangan Zhang Hui.

Zhang Hui langsung menangkap maksud sengaja dari gerakan itu.

*Apakah hubungan Yu Fan dan sepupuku ini... lebih dari sekadar teman?*

Ia mulai curiga melihat senyum lebar Yu Fan yang terlihat terlalu... manis.

Sejak bergabung dengan Chen Yi menangani kasus-kasus supranatural, Zhang Hui sudah tahu bahwa Xiao Jing sebenarnya adalah sepupunya yang meninggal bertahun lalu—kini jadi hantu tanpa ingatan, tapi tidak pernah melukai siapa pun.

Dan Li Mu... tampaknya menjadi semakin feminin dan cantik setelah terpapar energi makhluk halus—meski alasannya masih misterius.

Tapi yang paling membingungkan: sekarang Li Mu ini beneran cowok atau cewek sih?

“Oh ya,” Zhang Hui duduk tegak dan melompati tubuh Yu Fan untuk berbicara langsung pada Li Mu. “Kakek suruh kamu pulang buat merayakan Tahun Baru Imlek.”

“Hah?”

“Sebelumnya aku udah kirim pesan, tapi kamu nggak balas.”

Li Mu buru-buru mengeluarkan ponselnya dan memeriksa—ternyata Zhang Hui memang sudah mengirim pemberitahuan seminggu lalu, tapi di WeChat-nya.

WeChat milik Li Mu hanya aktif saat libur panjang untuk ikut rebutan angpao di grup keluarga, selebihnya dibiarkan terpendam di sudut paling gelap ponselnya.

“Jadi harus pulang waktu Tahun Baru Imlek?”

Li Mu menatap pesan itu dalam diam sejenak, lalu menoleh pada Zhang Hui dengan wajah cemas. “Boleh nggak kamu bilang ke Kakek kalau aku ada urusan, jadi nggak bisa pulang?”

Dia benar-benar takut menghadapi Kakek dalam keadaan feminin seperti ini.

“Kalau gitu, kamu harus bilang sendiri ke dia.”

“...Yah, sudahlah.” Li Mu menghela napas pelan, lalu bergumam, “Besok sehabis lomba, aku potong rambut aja.”

Yu Fan yang mendengar langsung panik. “Jangan dong! Ngapain potong rambut?!”

“Rambutku kepanjangan. Kalau pulang, Kakek pasti marah dan langsung bawa aku ke tukang cukur.”

Zhang Hui mengusap kepala plontosnya dan mengangguk setuju. “Iya, Kakek emang benci banget sama cowok berambut panjang. Dulu waktu aku belum masuk tentara, aku pernah nekat nge-cat dan keritingin rambut—langsung digelandang ke tukang cukur!”

“Tapi ini udah susah payah dipanjangin...” protes Yu Fan pelan.

Sebenarnya, Yu Fan sangat suka rambut panjang. Meski Li Mu tetap tampan dengan rambut pendek, tapi kalau bisa tetap panjang, tentu jauh lebih indah.

“Panjangin aja...”

“Kakak! Jangan dipotong!” tiba-tiba Xiao Jing ikut nimbrung.

Zhang Hui langsung terhenyak. “Kakak??”

Li Mu sudah pasrah dengan kebiasaan Xiao Jing memanggilnya ‘kakak’. Lagipula, dari dalam ke luar, dirinya memang sudah sepenuhnya perempuan sekarang.

“Chen Yi nggak kasih tahu kamu soal kondisi Li Mu?” tanya Yu Fan dengan nada geli.

“Dia cuma bilang Li Mu jadi makin feminin gara-gara kontak sama hantu... nggak bilang lebih lanjut.” Zhang Hui berhenti sejenak, lalu menebak dengan ragu, “Jangan-jangan... dia emang jadi cewek beneran sekarang?”

Yu Fan langsung menyahut dengan antusias, “Betul banget!”

“???”

Li Mu meliriknya sebelah mata.

*Tentu saja, penderitaannya tidak bisa dimengerti oleh orang lain. Sejak tahu dirinya resmi jadi cewek, Yu Fan ini malah makin ceria tiap hari.*

Comments (0)

Join the Discussion!

Share your thoughts and connect with other readers.

Login to Comment

No comments yet

Be the first to share your thoughts!