Chapter 102 Bab 102. Sekalian Saja
Kedatangan Yufan tidak membawa kehangatan apa pun ke dalam ruangan yang dingin itu.
Bagaimanapun, sifat cerahnya belum cukup untuk memengaruhi suhu sekitar seperti hantu.
Namun Li Mu memang merasa jauh lebih baik, meski yang dilakukan Yufan hanya duduk tanpa ekspresi, mendengarkannya cerewet atau menggodanya.
Karena itu, ia memutuskan untuk menyembunyikan hal-hal tertentu dari Yufan, agar tidak semakin dipermainkan di kemudian hari.
Setelah bercanda cukup lama, barulah Yufan masuk ke topik utama. “Jadi kenapa suasana hatimu jelek? Putus sama pacar?”
“Enggak.”
“Lalu kenapa Xiaojing sampai khusus memanggilku ke sini?” Yufan mengambil cermin di meja, menatap Xiaojing di dalamnya. “Kamu lagi gabut, ya?”
Xiaojing mengerucutkan bibir dengan wajah sedih. “Padahal barusan dia memang lagi bad mood.”
Ia sudah terbiasa memakai wajah Li Mu, jadi yang dilihat Yufan di cermin adalah Li Mu dengan ekspresi murung yang bikin orang gemas.
Melihat itu, Yufan sampai terdiam cukup lama.
Li Mu tanpa ragu mengambil kembali cermin itu dan meletakkannya ke meja. “Jangan ganggu dia nonton TV.”
“Baik, baik.” Yufan mengangkat bahu, bersandar ke sofa sambil mengeluh, “Aku lagi push rank, tahu-tahu Xiaojing nelepon. Kukira kamu kenapa-kenapa, sampai-sampai aku keluar paksa dari game.”
“Komputerkanku ada Dota, kalau kamu login sekarang mungkin masih sempat.”
Li Mu mengambil pisang pemberian Ren Tianyou. Sambil makan, ia bertanya, “Bukannya game itu nomor satu buatmu?”
“Kalau ada apa-apa sama saudara sendiri, ya harus dateng dong.” gumam Yufan. Ia menoleh ke arah Li Mu, lalu memandanginya dengan heran. “Kenapa kamu duduk sambil nyangkang gitu?”
“Cowok biasanya duduk begini, kan?”
“Tapi sebelumnya kamu tuh…”
Melihat wajah Li Mu mulai tidak bersahabat, Yufan buru-buru mengganti topik. “Oh iya! Gambar yang pernah kubuat waktu itu sudah jadi. Nih, aku kasih lihat.”
Waktu latihan menyanyi di KTV sebelumnya, Yufan sempat memotret Li Mu untuk dilukis. Katanya mau ikut lomba seni rupa, kalau menang bisa ditampilkan di buku katalog.
Li Mu sama sekali tidak peduli. Orang ini anak jurusan komputer, mana ada pelajaran melukis? Palingan hasilnya juga biasa.
Tak lama, Yufan mengirim foto hasil lukisannya.
Li Mu melihat sekilas, lalu langsung menatap Yufan dengan kaget.
Itu adalah lukisan minyak. Dalam lukisan, Li Mu duduk rapi di sofa, ada Stitch di pangkuannya, kedua kaki rapat, duduk dengan anggun, betis sedikit miring. Lampu KTV memantul di wajahnya, menciptakan rona warna-warni yang lembut. Ia tak mengerti seni, tapi bentuknya terlihat tepat, warna-warnanya selaras.
Namun yang terlihat… jauh lebih mirip gadis daripada laki-laki.
Sejujurnya, ekspektasi tertinggi Li Mu cuma potret pensil ala studio kampus.
“Tadinya mau kusketsa aja! Tapi sudah pulang ke rumah, jadi sekalian aku bikin yang lebih rumit.” Yufan berkata penuh kebanggaan. “Menurutku sih bisa masuk tiga besar!”
Ekspresi kaget Li Mu langsung hilang. “Biasa aja.”
Ia benar-benar tidak tahan melihat Yufan sombong begitu.
“Ngomong-ngomong, bukannya dulu kamu sering duduk sambil goyang-goyang kaki?” Yufan melihat lukisan, lalu melihat cara Li Mu duduk sekarang yang menyilang kaki dengan gaya santai. Ia menggaruk kepala. “Kayak dibuat-buat gitu.”
“……”
Begitu ya? Duduk seperti ini buat cowok pun kelihatan dipaksakan?
Memang benar, Li Mu sedang mencoba menunjukkan kelelakiannya lewat cara duduk—walaupun tinggal ‘adik kecil’ saja yang masih menunjukkan bahwa ia laki-laki. Setidaknya kalau buka celana ia masih bisa bilang dirinya pria dengan sedikit kepercayaan diri.
Manusia memang begitu. Saat merasa minder tentang sesuatu, mereka akan berusaha menutupinya dengan kata-kata atau sikap.
Seperti yang ’ukurannya kecil’ suka menggembar-gemborkan bisa melilit pinggang, yang cepat selesai suka sombong bilang bisa tahan dua jam, yang pendek suka pakai sepatu tinggi atau insole, yang flat-chested suka pakai padding.
Dulu Li Mu tak pernah peduli soal duduk rapat kaki yang agak feminin. Apa pun kata orang tidak mengubah fakta bahwa ia laki-laki. Tapi sekarang…
Ia pun meniru gaya Yufan, bersandar ke belakang, menyilangkan kaki, dan menyilangkan tangan di dada.
“Dadamu jadi makin keliatan, tahu.”
Li Mu langsung menurunkan tangannya.
Yufan merasa itu lucu. Ia berdiri sambil meregangkan tubuh. “Aku balik dulu. Game masih setengah jalan, makan malam juga belum.”
Baru dua langkah, tiba-tiba Li Mu berkata dari belakang, “Sekalian udah dateng, makan malam aja di sini.”
“Tumben banget?”
“Kebetulan aku juga belum makan.”
Yufan menoleh, bingung sekaligus curiga. “Jangan-jangan kamu mau nyuruh aku bersihin rumah lagi?”
Terakhir kali Li Mu ramah seperti ini, ia dijebak buat bersih-bersih satu apartemen.
“Mau makan apa?” Li Mu mengabaikannya, langsung membuka aplikasi pesan makanan.
“Enggak. Kalau kamu nggak bilang tujuannya apa, aku pulang aja.”
Li Mu menahan diri sejenak, lalu mengarang alasan, “Komputerku ngelag kalau main Dota, kamu liatin ya. Sekalian latihan nyanyi sama Xiaojing, besok nggak usah ajak aku lagi ke KTV.”
Yufan memandang Li Mu lama, merasa hari ini temannya agak aneh.
Biasanya dia yang nempel ke Li Mu untuk mengganggu. Dia suka melihat ekspresi kesal Li Mu. Tapi hari ini Li Mu malah seperti nggak mau dia pulang?
Bingung, ia pun duduk lagi.
“Yufan! Li Mu pasti suka sama kamu!” Xiaojing tiba-tiba bersuara heboh seperti fangirl. “Makanya nyuruh kamu nginep malam ini!”
“Stop.” Yufan menendang cermin di meja.
Cermin jatuh, Xiaojing langsung menjerit drama. “Mataku! Aku buta!”
Yufan selalu merasa Xiaojing pikirannya nggak sehat. Waktu hidup dulu pasti otaknya penuh skenario mesum.
Apa-apa dipikir ke arah sana. Hubungannya dengan Li Mu itu murni persahabatan, oke?
Benar kan?
Ia menoleh ke Li Mu.
Tak bisa disangkal, ekspresi Li Mu ketika fokus memesan makanan memang sangat menarik. Kulit mulus, rapi, seperti giok halus. Bulu mata panjang, hidung dan bibir kecil, mata bening—teman lelakinya ini bahkan lebih cantik dari kebanyakan cewek.
Setidaknya tidak ada siswi di kelas yang bisa menyaingi Li Mu.
Untung perubahan Li Mu lebih banyak terjadi di sekolah, dan ia dulunya juga tidak menonjol. Kalau tidak, pasti sudah jadi bahan gosip satu kelas.
“Aku pesan lobster dan sate.” Li Mu mendongak—dan mendapati Yufan sedang menatapnya kosong.
Ia mengernyit. “Kamu mau tambah apa? Atau mau minum?”
Kenapa orang ini suka banget menatapku? Sudah bukan sekali dua kali.
“Enggak usah tambah. Minum boleh.”
“Baik.”
No comments yet
Be the first to share your thoughts!