Enjoy an Ad-Free Experience High

Sign up to remove distractions and focus on what matters.

Volume 1

Chapter 176 Bab 176. Malam Pertama di Asrama Putri

Nov 25, 2025 1,267 words

Li Mu jarang sekali bergaul dengan perempuan, apalagi tinggal di dalam asrama putri.  
Hal ini membuatnya merasa sangat gugup.

Setelah mandi, ia kembali ke kamar sambil mengenakan pakaian yang rapi.  
Dulu, sebelum tubuhnya mulai feminin, tak peduli musim panas atau dingin, setelah mandi di kamar mandi umum kampus, ia biasa hanya mengenakan celana dalam lalu berjalan santai kembali ke asrama laki-laki.

Namun seiring tubuhnya semakin berkembang seperti perempuan, ia terpaksa membiasakan diri melepas, mencuci, dan mengenakan pakaian—semuanya di dalam bilik mandi yang sempit itu. Bilik itu bahkan tidak punya tempat untuk meletakkan pakaian. Meski sudah berhati-hati, pakaian yang baru saja dikenakan tetap saja selalu sedikit basah.

Begitu membuka pintu dan baru saja melangkah masuk beberapa langkah, tiba-tiba Wang Ruoyan bertanya dengan rasa penasaran:

“Li Mu, kamu nggak bawa piyama, ya?”

“Aku nggak punya piyama.”

Ia duduk di kursi sambil memainkan ponselnya, terasa agak canggung di antara teman sekamar barunya.

“Hah? Jadi selama ini kamu tidur pakai celana jeans? Nyaman nggak sih?”

Li Mu menunduk melihat celana jeansnya sendiri—memang terasa konyol.

Dulu di asrama laki-laki, ia berpakaian seperti itu demi menghindari pandangan tidak sopan teman-temannya. Sekarang ia sudah pindah ke asrama putri—mungkin memang sudah saatnya menyiapkan beberapa set piyama sendiri.

“Aku masih punya satu set. Mau pinjam?”

Li Mu mendongak, dan melihat Wang Ruoyan sudah berlari mendekat sambil menjejalkan satu set piyama tipis bermodel tank top ke pangkuannya.

“Nggak usah, terima kasih.”

Sudut bibir Li Mu berkedut tanpa terlihat. Meski ia sudah menerima mengenakan pakaian dalam wanita, ia masih belum siap mengenakan sesuatu yang terlalu “ringan”—meskipun hanya dilihat oleh beberapa perempuan di kamar ini.

“Piyama ini enak banget dipakai. Musim panas aku selalu pakai yang ini.”

Wang Ruoyan menatapnya dengan mata penuh harap.

“Jangan-jangan… kamu cuma pengen lihat aku ganti baju, ya?”  
Bukannya katanya suka Yu Fan? Kok rasanya kamu agak yuri, sih?

Setelah berpikir sejenak, Li Mu tetap menggeleng.  
“Kamu terlalu pendek. Aku pasti nggak muat.”

Kalau dipaksakan pun, rok selutut itu pasti akan jadi rok mini di tubuhnya.

“Sayang banget deh.”

Wang Ruoyan kembali ke tempatnya dengan wajah kecewa, membuat Li Mu hanya bisa menghela napas pelan.

“Dia memang selalu begitu.”  
Suara Chen Li tetap pelan dan lembut seperti biasa, matanya tersenyum seperti bulan sabit.  
“Nggak ada niat jahat kok. Jangan dipikirin.”

“Gak apa-apa, aku tahu.”

Sejak pertama kali Wang Ruoyan diajak kencan dengan Yu Fan, Li Mu sudah menyadari kalau gadis ini mungkin agak “bermasalah” secara logika.  
Perempuan normal mana yang berpikir untuk menyerahkan cowok yang disukainya kepada cowok lain?

“Kamu namanya Li Mu, kan?”

“Iya.”

“Akhir-akhir ini namamu sering disebut di kelas.”  
Chen Li menutup mulutnya sambil tersenyum tanpa memperlihatkan gigi.  
“Katanya kamu cowok paling tampan di kampus. Ternyata… kamu cewek, ya?”

“Ah… itu…”

Li Mu merasa obrolan ini mentok total—ia bingung harus menjawab apa.

Ketiga gadis di asrama itu hampir serentak menatapnya dengan mata penuh rasa penasaran. Mereka telah menahan diri cukup lama, tapi akhirnya rasa ingin tahu menang.

“Dulu… kenapa kamu tinggal di asrama laki-laki?”

Seperti dugaan Li Mu, Chen Li mewakili kedua temannya mengajukan pertanyaan sulit itu.

Pertanyaan ini benar-benar susah dijawab.  
Awalnya ia sama sekali tidak menyangka akan pindah ke asrama putri. Ia sempat berpikir hanya akan tinggal di kampus ini selama dua bulan, jadi berharap bisa menyamarkan identitas kelaminnya dan melewatinya begitu saja. Namun tiba-tiba Yang Ye “menyerang” tanpa peringatan.

Mendingan pindah ke kost Yu Fan aja.

Wajah Li Mu kaku, otaknya bekerja secepat CPU—berputar kencang mencari jawaban.  
Sayangnya, entah karena sistem pendinginnya kurang baik atau memang pertanyaannya terlalu sulit, CPU-nya kepanasan dan akhirnya… hang.

Tanpa ragu, Li Mu menyerah. Ia langsung memanjat ke tempat tidurnya, menyelip ke dalam selimut, dan berpura-pura jadi burung unta.

Ia benar-benar tidak punya alasan yang meyakinkan.

Kalau bilang “dulu aku laki-laki”, pasti akan langsung dianggap transgender.  
Kalau bilang “dulu orang tuaku pengen punya anak laki, jadi aku didandanin kayak cowok”—itu jelas terdengar sangat bohong!

“Hah?” Chen Li menatap gundukan selimut di atas tempat tidur.

“Jangan tanya soal privasi, ya~”  
Lin Yuanyuan tertawa sambil membela Li Mu—padahal sebenarnya ia bahkan lebih penasaran daripada Chen Li.

Li Mu diam-diam mengintip keluar dari balik selimut dan memberi tatapan berterima kasih kepada Lin Yuanyuan. Tapi begitu matanya beralih ke Wang Ruoyan, jantungnya nyaris copot!

Untung ia langsung menyadari—wajah pucat Wang Ruoyan itu karena sedang pakai masker wajah.

Di asrama laki-laki dulu, tidak ada yang namanya “masker wajah”. Semua orang paling hanya membersihkan wajah dengan sabun muka pagi dan malam.

Li Mu memang sudah mulai membeli beberapa produk perawatan kulit atas dorongan Xiao Jing, tapi karena dulu tidak pernah punya kebiasaan merawat wajah, barang-barang itu malah tertinggal di rumah dan sering lupa dipakai.

“Kamu mau tidur?”

Mungkin karena menyadari tatapan Li Mu, Wang Ruoyan menoleh.  
“Nggak mau pakai masker dulu sebelum tidur?”

“Nggak usah,” jawab Li Mu sambil menggeleng.

“Pakai masker bikin kulit jadi lembut dan kenyal! Lagian, kalau dipakai rutin bisa memutihkan juga. Yakin nggak mau coba?”

Wang Ruoyan mengeluarkan selembar masker dari laci.

“Selain melembapkan, manfaat lainnya itu cuma omong kosong.”  
Li Mu sudah sempat mencari tahu sebelum membeli produk perawatan. Konon, masker wajah—baik yang murah (harga seribu-dua ribu per lembar) maupun yang mahal—sebenarnya perbedaannya tidak terlalu besar. Fungsi utamanya cuma melembapkan; klaim seperti memutihkan atau mengencangkan kulit itu hampir tidak ada efek nyatanya.

Ia tidak tahu apakah informasi itu benar atau tidak, tapi kebetulan ia memang malas pakai masker.

Melihat Wang Ruoyan masih ingin bicara, Li Mu bergumam sendiri:

“Lagipula kulitku udah cukup putih, dan nggak ada jerawat juga…”

“…”

Wang Ruoyan menatapnya dengan tatapan murung, lalu menggerutu iri:  
“Iri banget sama yang cantik alami. Lihat deh, kulitku hitam begini.”

“Warna sawo matang itu bagus, kok. Nggak jelek.”

“Kamu yang kulitnya bagus ngomong begitu—aku curiga kamu lagi pamer.”

Wang Ruoyan mengomel lalu berpaling, tidak mau bicara lagi dengan Li Mu.

Dulu, saat mengira Li Mu laki-laki, ia sudah kalah bersaing dengan Yu Fan—itu saja sudah bikin mentalnya hancur. Sekarang tahu Li Mu ternyata perempuan, berarti ia benar-benar tidak punya peluang sama sekali.

Ketiga gadis di kamar itu kini sibuk dengan rutinitas perawatan wajah masing-masing. Lin Yuanyuan bahkan mengeluarkan cermin rias berlampu dan mulai mengikuti tutorial make-up dari video.

Li Mu menyadari bahwa asrama putri ternyata tidak semenakutkan desas-desus yang mengatakan “enam orang, lima grup WhatsApp”. Selain interaksi mereka agak… “beraroma yuri”, dan barang-barang pribadi yang menumpuk bikin kamar berantakan, sebenarnya tidak ada hal aneh lainnya.

Oh ya—bau toilet di ujung koridor benar-benar menyengat! Dan parahnya… di sini tidak ada mesin cuci koin!

Memikirkan pakaian kotor di ember, Li Mu langsung pusing. Pakaian musim gugur dan musim dingin memang susah dicuci, apalagi airnya dingin menusuk tulang.

Ia membalik badan, berhenti mengamati teman-temannya, lalu menatap langit-langit yang kusam sambil berbaring.

Di asrama laki-laki, pasti sekarang lagi main game bareng. Setiap malam, suara teriakan mereka saat main game selalu mengganggu tidurnya.

Tapi di sini, suara cewek-cewek yang mengobrol terdengar ceria dan lembut—paling tidak tidak bikin kesal.

…Tapi kemudian Wang Ruoyan mulai mengajak Lin Yuanyuan main game.

Jadi kamu suka main game bukan cuma akting biar deketin Yu Fan, ya?  

——————  
(Hari ini satu bab)

Comments (0)

Join the Discussion!

Share your thoughts and connect with other readers.

Login to Comment

No comments yet

Be the first to share your thoughts!