Enjoy an Ad-Free Experience High

Sign up to remove distractions and focus on what matters.

Volume 1

Chapter 124 Bab 124. Menang Tiga Pihak

Nov 24, 2025 1,327 words

“Li Mu! Sini! Sini!”  
Saat Li Mu berdiri kaku di kantin, bingung mau duduk di mana, tiba-tiba seorang cewek di kejauhan melambai padanya.  

Ia mengangkat kepala—ternyata Wang Ruoyan, cewek yang baru saja disebut Yu Fan tadi.  
Li Mu cukup menyukainya: ramah, terbuka, wajahnya mungkin tak secantik dirinya sendiri, tapi kepribadiannya sangat menyenangkan.  

Maka ia pun membawa baki makanannya dan duduk di samping Wang Ruoyan.  
Rasa kesal yang tadi menghantuinya langsung lenyap tanpa jejak.  
Wajahnya sedikit memerah karena gugup, tapi ia tetap berusaha terlihat dingin dan cuek.  

Bagaimanapun, ia memang jarang bergaul dengan cewek—apalagi saat makan, tiba-tiba dikelilingi beberapa gadis sekaligus.  

“Temankamar kamu mana?” tanya Wang Ruoyan.  
“Kayaknya pergi main game online,” jawab Li Mu sambil menunduk makan, tak berani menatapnya langsung.  

Di seberang Wang Ruoyan duduk dua cewek lain yang tidak ia kenal—kemungkinan besar teman sekamar Ruoyan dari asrama putri.  
Li Mu mencuri pandang sebentar, lalu wajahnya semakin memerah.  

Satu bergaya “sister” dengan kaki jenjang, satunya lagi berambut pendek dan berkacamata—terlihat intelek dan rapi.  
Keduanya sangat sesuai dengan selera visualnya.  
Sayangnya, tetap tak secantik dirinya sendiri.  

Sisa-sisa jiwa prianya membuatnya cukup menikmati suasana dikelilingi cewek-cewek, meski wajahnya tetap memerah karena malu.  

“Li Mu,” kata Wang Ruoyan sambil tersenyum, “tadi pagi guru bilang, pelajaran olahraga besok ada tes kebugaran.”  
Ia memang ketua olahraga—salah satu dari sedikit siswa yang sering mengurus urusan olahraga.  

Tes kebugaran?  
Sebenarnya Li Mu tidak takut pada tes semacam itu—dulu pun ia pernah mengikuti.  
Tapi sekarang... ia tiba-tiba teringat betapa lemahnya kondisi fisiknya akhir-akhir ini.  
Bisa-bisa malu di depan umum.  

Ia mengangguk, lalu bertanya: “Catatan pelajaranmu boleh kupinjam buat dicopy?”  
“Pinjam catatan?” Wang Ruoyan mengerutkan dahi, lalu menunjuk cewek berkaki jenjang di hadapannya. “Sudah kuberi dia. Kamu harus tunggu minggu depan.”  

Li Mu terdiam sejenak—rasanya Wang Ruoyan sengaja tidak mau meminjamkan dengan alasan itu.  

Setelah berpikir sebentar, ia berkata lagi: “Akhir pekan ini Yu Fan kayaknya lumayan senggang…”  
“Hah?” Mata Wang Ruoyan langsung bersinar.  

“Dia sama kakakku kayaknya lagi ada masalah…”  
Wang Ruoyan tersenyum geli: “Li Mu, kok kamu malah jual kakak sendiri sih?”  

“Aku jual Yu Fan, bukan kakakku,” jawab Li Mu serius. “Menurutku kamu gak kalah bagus dari kakakku. Kalau kamu aktif dikit, Yu Fan bisa jadi luluh.”  

“Tapi Yu Fan gak suka main game HP, lebih baik kamu ajak ngobrol soal game PC.”  
“QQ Xuanwu?”  
“…”  

Anak ini kok gak bisa diajar juga, ya?  

Li Mu mengusap pelipisnya sambil mengeluh dalam hati: “Dota, Monster Hunter, Cyberpunk 2077—gitu-gitu, dong.”  

Sebenarnya ia tidak hanya ingin ‘menjebak’ Yu Fan demi mendapat catatan Wang Ruoyan.  
Li Mu juga ingin Wang Ruoyan menguji sikap Yu Fan.  

Yu Fan sendiri bukan tipe suci—dulu ia pernah bilang, selama ceweknya tidak menyebalkan dan penampilannya oke, ajakan kencan basicnya pasti ia terima.  

Jadi, kalau Yu Fan menerima pengakuan cinta Wang Ruoyan—atau setidaknya ragu-ragu—itu berarti Li Mu aman.  
Tapi kalau Yu Fan langsung menolak tegas… Li Mu harus pertimbangkan untuk menjaga jarak.  

Namun Wang Ruoyan masih ragu: “Tapi kan Yu Fan sudah punya pacar… gak enak, dong?”  

Li Mu memang biasanya pendiam, tapi setelah lama bergaul dengan teman sekamar dan Yu Fan, ia jadi lancar berbohong tanpa jeda:  
“Cinta itu harus dikejar, bukan dibiarkan pergi.”  
“Lagipula, kakakku juga gak lebih cantik darimu. Sifatnya buruk, tiap hari ribut sama Yu Fan…”  

“Kok kayaknya kamu benci banget sama kakak sendiri, sih?” tanya Wang Ruoyan curiga.  

Belum sempat menjawab, Wang Ruoyan tiba-tiba menatapnya dengan tatapan waspada:  
“Kok sekarang mukamu makin mirip kakakmu, ya?”  

Dulu waktu berdandan jadi cewek, Li Mu hanya menutupi ciri-ciri maskulinitasnya.  
Tapi kini, tanpa riasan pun wajahnya hampir tak punya sisa ciri laki-laki sama sekali.  

Di mata orang luar, wajar saja kalau Li Mu dan “kakak perempuannya” terlihat semakin mirip.  
“Tadi pas kamu berdiri di sana, aku sampai kira itu kakakmu yang datang nyari kamu.”  

“Kami kembar, wajar kalau mirip,” jawab Li Mu dengan wajah datar.  

“Tapi kakakmu jelas pakai makeup, kan?”  

Li Mu langsung sadar—topik ini mulai berbahaya.  

Maka ia diam sejenak, lalu cepat-cepat mengalihkan pembicaraan:  
“Kalau sama Yu Fan, kamu harus lebih agresif. Dia gampang ciut kalau kamu aktif duluan.”  
“Jadi pas kencan akhir pekan nanti, kamu harus nempel terus!”  

Begitu mendengar nama Yu Fan, IQ Wang Ruoyan seakan langsung drop. Ia mengangguk-angguk antusias: “Iya-iya!”  

Li Mu pun lega. Setelah menghabiskan makanannya, ia mengingatkan:  
“Besok sore kasih catatannya ya—aku butuh dua hari buat menyalinnya.”  
“Oke!” Wang Ruoyan mengangguk girang.  

Bagi Li Mu, Wang Ruoyan hanyalah alat untuk menyembunyikan identitas crossdress-nya.  
Ia tidak terlalu dekat dengannya—siapa tahu kalau identitasnya terbongkar, malah timbul masalah baru.  

Selanjutnya, giliran mengelabui Yu Fan.  

Li Mu meletakkan baki di tempat pengembalian, lalu mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan:  
“Wang Ruoyan bilang suka sama kamu. Sabtu nanti keluar bareng dia, kencan.”  

Hampir seketika, balasan Yu Fan datang berupa deretan tanda tanya.  

“Kamu kan selalu gak punya pacar, ayahmu ini khawatir banget, lho.”  
“Kamu di internet doang yang jago ngomong gombal.”  

Memang, dunia maya dan nyata beda jauh.  
Di internet, Li Mu bisa becanda seenaknya—tapi di dunia nyata, wajahnya tetap datar dan kaku.  

Mirip seperti ‘keyboard warrior’ yang di online bisa memaki siapa saja, tapi begitu offline, bisa nangis berjam-jam kalau dipukul sekali.  

Beberapa saat kemudian, Yu Fan membalas:  
“Akhir pekan aku sibuk. Nggak jadi deh.”  

Li Mu langsung waspada: “Kamu gak tertarik?”  
Jangan-jangan… orang ini benar-benar suka sama aku?  

Sudah lama ia mencurigai Yu Fan.  
Meski Yu Fan selalu bilang “aku bukan gay” dan “gak suka Li Mu”, Li Mu tetap ragu.  

“Mending main game. Lagian kemarin Wang Ruoyan juga minta tolong kamu ajak aku kencan—tapi waktu itu kamu malah nolak?”  

Ya iyalah, waktu itu gak ada untungnya.  
Dan… waktu itu dia juga cemburu.  

Li Mu masih bingung mau jawab apa, tapi Yu Fan sudah mengirim pesan lagi:  
“Gimana kalau gini—akhir pekan kita main bareng, sekalian ajak dia?”  

“Boleh.”  

Berarti akhir pekan nanti Li Mu harus memberi ruang pada Yu Fan dan Wang Ruoyan—jangan sampai Wang Ruoyan gugup dan gak berani ngungkapin perasaan.  
Ia bahkan siap jadi ‘wingman’.  

Dalam hati, Li Mu merancang strategi:  
Jika Wang Ruoyan dan Yu Fan benar-benar jadian, ia akan jadi mak comblang yang berjasa besar.  
Ia juga dapat catatan sebagai bayaran.  
Dan yang terpenting—ia bisa menguji sekali lagi sikap Yu Fan terhadap dirinya.  
Kalau bukan karena selalu butuh bantuan Yu Fan, setelah kejadian di hotel semalam, Li Mu mungkin sudah menjauh darinya.  

Langkah ini… menang tiga pihak!  

——————  
(Hari ini ulang tahunku, tapi malah nulis novel seharian…)  
Masih utang satu chapter—nanti kalau sempat akan kuganti.

Comments (0)

Join the Discussion!

Share your thoughts and connect with other readers.

Login to Comment

No comments yet

Be the first to share your thoughts!