Chapter 20 Bab 020. Libur Nasional
Awal bulan pertama setelah masuk sekolah, libur tujuh hari Hari Nasional pun tiba.
Selama tujuh hari ini, kantin sekolah berhenti beroperasi. Jadi, Li Mu membawa koper ke kelas, berniat langsung pulang begitu kelas usai.
Karena ini adalah semester terakhir, barang-barang yang ia kumpulkan selama dua tahun di asrama juga harus ia bawa pulang sedikit demi sedikit.
Li Mu punya kebiasaan seperti hamster—asal suatu barang masih bisa dipakai, meskipun tidak lagi berguna, ia tetap mau menyimpannya.
Beberapa hari ini, tubuhnya tampaknya tidak terus berubah menjadi makin feminin.
Setiap pagi ia akan menatap cermin selama sepuluh menit, lalu membandingkan wajahnya dengan foto hari sebelumnya. Untungnya, sejauh ini tidak ada perubahan mencolok di wajahnya.
Meski begitu, ia bisa merasakan otot-ototnya perlahan menghilang. Bicep yang dulu keras saat mengepal kini tidak lagi sekencang sebelumnya.
Perut yang sebelumnya masih tampak sedikit garis otot kalau ia menegangkan, sekarang menjadi lebih lembek—kalau saja ia tidak punya otot, ia pun tak mungkin bisa memanjat tembok sekolah dengan mudah sebelumnya.
Seminggu ini ia tidur sangat buruk. Mungkin karena siang hari terus-menerus mencemaskan perubahan tubuhnya, kepalanya kebanyakan berpikir, dan malamnya ia terus bermimpi macam-macam.
Lingkar hitam pun muncul.
Sore hari Jumat, sepulang sekolah, Li Mu menoleh ke belakang, memperlihatkan mata panda ke arah Yu Fan.
Sejak beberapa hari lalu insiden di gedung terbengkalai, ia dan Yu Fan sudah tak banyak berinteraksi.
Lagipula, sudah ada rumor di kelas bahwa sebenarnya Yu Fan itu crossdresser.
Tak hanya karena pernah dipermainkan, Li Mu juga takut kalau terlalu sering bergaul dengannya, dirinya juga dianggap sebagai crossdresser.
Kalau Yu Fan benar-benar suka pakai baju cewek, pasti tidak jauh dari itu.
Sekarang, tak ada lagi kumpulan siswi di sekitarnya. Sesekali ada murid laki-laki yang menanyai Yu Fan soal tips pakai baju perempuan, bahkan minta fotonya ketika berdandan.
Rasain! Lu dulu ngerjain gue, sekarang kena batunya!
Li Mu sangat puas melihat wajah sengsara Yu Fan, bahkan hampir tertawa.
Lalu, ia melihat Yu Fan berjalan mendekat.
Yu Fan tampaknya sudah lupa ia pernah menakuti Li Mu. Ia tetap menyapa dengan antusias:
“Yo! Akhir-akhir ini kamu kelihatan lebih putih!”
“...Hehe.”
Li Mu hanya nyengir hambar.
Yu Fan melirik koper yang ditarik Li Mu. “Kebetulan aku ada hal mau bilang. Bareng jalan, yuk?”
“Aku mana berani.” Li Mu datar sambil menarik kopernya keluar kelas.
Tapi Yu Fan malah santai mengikuti dari belakang, bercerita sendiri:
“Akhir-akhir ini barang-barang peninggalan kakekku semua diambil orang.”
“Kalau bukan karena kakekku meninggal mendadak, mungkin bahkan bukan aku yang boleh mengurus barang-barangnya.”
Nada suaranya makin bersemangat dan aneh:
“Aku curiga negara kita punya departemen khusus yang menangani hantu!”
Perkataan itu langsung membuat Li Mu tertarik.
Kalau negara punya departemen urusan hantu, mungkin kondisi tubuhku yang makin feminim bisa diselesaikan?
Nomor daruratnya berapa?
Melihat Li Mu berhenti dan menoleh, Yu Fan baru menggaruk kepala sambil terkekeh:
“Tapi cuma curiga doang. Semua itu ayahku yang ketemuin orang-orangnya. Aku baru tahu barang-barangnya hilang waktu aku mau bantu kamu cari info.”
Harapan Li Mu langsung padam.
Di halte luar sekolah, Li Mu berdiri agak jauh dengan koper, menunggu bus mengangkut kerumunan siswa terlebih dulu.
Ia malas berdesakan sambil membawa koper.
“Nunggu apa? Naik motor listrikku aja.” kata Yu Fan.
“Tidak.” Li Mu langsung membelakanginya.
Menurutnya, Yu Fan itu pembawa sial. Tidak pernah ada hal baik terjadi saat bersamanya.
Ia menguap lebar. Saat menoleh lagi, Yu Fan sudah berjalan menuju parkiran.
Karena sekolah di pinggiran utara kota dan kebanyakan siswa sudah cukup umur, sekolah menyediakan tempat parkir motor listrik.
Tapi banyak siswa nekat membawa motor bensin atau motor gede, jadi polisi sering melakukan razia.
Salah satu siswa bernama Xu Ze pernah jatuh dari motor dan tidak masuk sekolah selama tiga bulan.
Li Mu terus menguap.
Tak lama, bunyi rem berhenti di sampingnya. Yu Fan datang dengan motor listrik:
“Ayo naik.”
Ia langsung mengambil koper Li Mu, menaruh di depan motor.
“Cepat. Kebetulan searah.”
Tak enak menolak karena sudah menunggu terlalu lama, Li Mu pun naik sambil menggerutu:
“Kamu bahkan nggak tahu rumahku di mana. Mana searahnya?”
“Aku kan ketua kelas. Dua minggu lalu aku pernah ngumpulin alamat kalian. Rumahmu deket rumahku, jadi aku ingat.”
Yu Fan memberikan helm berwarna pink, “Punya adikku.”
Melihat helm bergambar Mei Yang Yang, Li Mu curiga adiknya mungkin masih TK… atau agak feminin?
Rumah Li Mu ada di pinggiran selatan kota, jadi perjalanan menyeberangi kota. Tapi kota yang kecil membuat perjalanan cuma sekitar 20 menit hingga mereka tiba di depan gerbang kompleks.
Ini adalah komplek hunian baru sekitar lima-enam tahun lalu, jauh dari pusat kota, hanya dilewati satu rute bus. Kalau tidak punya kendaraan, hidupnya cukup merepotkan.
Rumah Li Mu dibeli orang tuanya secara tunai saat masih hidup, berharap harganya naik.
Namun sebelum sempat naik, mereka semua meninggal dalam kecelakaan saat liburan.
Untungnya Li Mu yang memang anak rumahan tidak ikut—kalau tidak, ia pun sudah tiada.
Setelah turun, Li Mu tidak repot-repot mengucapkan terima kasih. Ia menarik kopernya masuk.
Tapi setelah dua langkah ia berhenti, menoleh, dan dengan wajah dingin bertanya:
“Mau ke rumahku?”
“Mau!” Yu Fan langsung turun motor dengan senyum lebar.
“Tuh kan, persahabatan perang kita nggak mungkin hilang secepat itu~”
Ia mengunci motor dan menyusul Li Mu:
“Bisa numpang makan malam juga? Tante kamu ramah nggak?”
Li Mu tidak menjawab.
“Kamu takut dibilang feminim sama orang tua ya? Santai, kamu cuma keliatan lebih putih dan lebih kurusan. Tinggal bilang aja hidup susah, minta uang saku lebih.”
Yu Fan terus ngoceh, jelas sangat bersemangat karena Li Mu akhirnya mengajaknya.
Di dalam hatinya, ia bersorak—Li Mu menganggapku teman!
No comments yet
Be the first to share your thoughts!