Chapter 77 Bab 077. Mengusili
“Cepetan pergi, ganti bajunya kembali.”
Li Mu berusaha memasang ekspresi tenang, tapi wajah merahnya sama sekali tak bisa ditutupi.
Yu Fan melirik pipi merah itu, lalu menggoda, “Kenapa buru-buru? Jarang-jarang kamu pakai baju cewek.”
Li Mu tidak mau menanggapi. Ia menunduk dan melangkah cepat menuju gedung serbaguna.
Pada jam segini biasanya gedung itu tidak ada siswa. Kalaupun ada, paling cuma anak nakal yang sembunyi di toilet lantai satu buat merokok.
Namun baru berjalan beberapa langkah, sebuah bayangan tinggi besar tiba-tiba menutupi tubuhnya.
Jujur saja, tinggi 175 cm sekarang sudah tidak bisa dibilang tinggi.
Di antara cewek-cewek, Li Mu termasuk yang menonjol. Tapi kalau di antara cowok, gampang banget ketemu yang lebih tinggi darinya.
Seperti Wang Chen yang sedang berdiri di depannya.
Li Mu spontan mundur dua langkah, waspada menatap cowok itu.
Ini orang yang—setelah lihat foto candid di grup kelas—langsung bilang “cinta pada pandangan pertama”.
Biasanya kalau Li Mu ngobrol sebagai dirinya sendiri, atau bahkan nge-prank dia sedikit, Li Mu tidak merasa bersalah.
Tapi sekarang dia sedang crossdress jadi “kakaknya”. Menghadapi Wang Chen malah jadi super canggung.
Dia bukan termasuk tipe cowok yang tiga tahun pendek umur cuma karena patah hati, kan?
Li Mu melirik lengan Wang Chen yang hampir setebal pahanya.
Tidak mungkin menang kalau berkelahi.
Cowok yang biasanya lurus seperti baja beton, kini malah berdiri dengan wajah memerah, gagap seperti bocah pemalu.
“U-u-mm... a-anu... kamu lihat Li Mu enggak?”
“Aku teman sekamarnya. Hubungan kami lumayan baik.”
“Kemarin aku bahkan traktir dia makan juga...”
“Terus... itu...”
Cowok tinggi kekar lebih dari 180 cm, tapi di depan Li Mu malah bingung dan tidak tahu harus taruh tangan di mana.
Li Mu mundur pelan, berniat kabur. Tapi Wang Chen malah kembali menghadang.
Li Mu ingin bicara, tapi langsung ingat masalah suaranya.
Untung Yu Fan cepat maju dan menyelamatkan keadaan.
“Dia habis nyanyi mau langsung cabut. Jam tujuh nanti masih ada kelas malam, jadi mau buru-buru makan.”
“Aku traktir?” Mata Wang Chen langsung berbinar.
“Tidak perlu, aku yang traktir.”
Yu Fan menyelip di antara mereka berdua. Walau tinggi dan badannya tidak sebesar Wang Chen, ia berdiri tegak tanpa gentar, wajahnya penuh rasa percaya diri.
“Begitu ya...” Wang Chen melirik Li Mu yang sedang menunduk menatap tanah seolah menghitung semut. Lalu ia maju selangkah dan berkata dengan suara lebih tegas, “Kalau begitu… keberatan kalau aku ikut?”
“Sangat keberatan.”
“Kamu cuma lebih dulu kenal dia, itu saja.”
Li Mu yang berdiri di belakang mereka tiba-tiba mendapat ilusi aneh:
mereka berdua seperti sedang berebut dirinya.
Dia hampir tidak bisa menahan tawa. Kalau Wang Chen tahu bahwa “cewek” yang dia taksir itu sebenarnya teman sekamar yang dia anggap menyebalkan, pasti dia langsung mual seminggu tak bisa makan.
Meski begitu, Li Mu tetap ahli dalam mengatur ekspresi. Ia menahan tawa dan hanya menunduk dengan bahu sedikit bergetar.
Tak lama kemudian, Yu Fan tampak mulai kesal melihat Wang Chen tak mau mengalah.
Ia menoleh pada Li Mu. Walau Li Mu menutupi wajah dengan hoodie, Yu Fan tetap bisa melihat kalau orang itu sedang menikmati drama tersebut.
Serius? Aku lagi bantuin kamu biar bisa cepat ganti baju, tapi kamu malah asyik nonton?
Mulut enggak bantu, bahu juga goyang—itu jelas kamu lagi ketawa kan?!
Yu Fan mendadak merasa dirinya melakukan hal sia-sia. Rasanya seperti membela teman saat berkelahi, tapi temannya malah duduk menonton.
Akhirnya Yu Fan langsung meraih tangan Li Mu dengan lembut dan berkata manja,
“Sayang, jangan peduliin orang kayak dia. Waktu itu Wu Lei bilang di luar sekolah ada toko minuman baru buka. Kita makan malam di sana, ya?”
“???”
Li Mu mengangkat kepala dengan wajah bengong. Hoodienya jatuh, memperlihatkan ekspresi kosong.
Jadi… kamu beneran gay!?
Tapi segera setelah itu, ia melihat mata usil Yu Fan yang penuh niat jahat.
“Pergi.”
Li Mu langsung menarik tangannya dan berjalan melewati dua cowok itu menuju gedung serbaguna.
“Sayang, kamu salah arah. Pintu gerbang ada di sana.”
Yu Fan menunjuk ke arah luar.
Langkah Li Mu terhenti. Ia melihat senyum menjengkelkan Yu Fan, lalu melihat Wang Chen di sampingnya.
Kalau dia masuk gedung sekarang, pasti dicurigai.
Akhirnya, ia terpaksa mengikuti Yu Fan menuju keluar sekolah, meski dengan langkah berat.
“Makanya jangan ketawa waktu aku bantuin kamu,” gumam Yu Fan di sampingnya. Ia menoleh ke belakang dan bahkan sempat memberikan tatapan kemenangan pada Wang Chen.
“Aku tidak ketawa.” Li Mu menunduk keras kepala. “Aku tadi cuma bengong.”
“Kalau kamu pakai baju cowok, pasti kamu akan bilang itu dengan muka dingin yang bikin orang kesel.”
Yu Fan menatapnya dan menirukan, “‘Tidak.’ Dengan suara flat tanpa ekspresi.”
Emm... benar juga.
Li Mu mencoba membayangkan versi dirinya yang biasa.
“Wang Chen itu kenapa? Kayaknya suka sama kamu?” tanya Yu Fan lagi sambil merenggangkan tubuh, kemudian menoleh ke belakang.
Wang Chen masih menatap mereka berdua dengan tatapan tak rela.
“Dia suka versi cewekku,” Li Mu menekankan, “Kalau dia tahu aku laki-laki, meskipun aku cantik pas crossdress, dia tidak mungkin mau pegang tanganku.”
Sampai sekarang punggung tangannya masih terasa geli, seolah tadi ada kecoak yang merayap.
Yu Fan langsung membalas, “Kamu yang pegang duluan.”
“Itu tadi Xiaojing!”
Li Mu buru-buru membantah, lalu mendengus sambil memalingkan kepala. “Males ngomong sama kamu.”
“Ck, kayak cewek kecil lagi ngambek.”
“......”
Li Mu tiba-tiba merasa bahaya. Saat crossdress, karena tekanan dan rasa malu, ia sulit sekali menjaga ketenangan.
Ekspresi jadi lembek, emosi gampang goyah.
Ia langsung panik dan bertanya, “Di luar sekolah ada toilet umum tidak?”
“Tidak ikut pergi minum sama aku?”
“Tidak!!”
Setelah habis audisi, pelajaran jam keempat sudah selesai. Saat mereka sampai depan sekolah, penjaga baru saja membuka gerbang samping. Banyak siswa jalan kaki sudah menunggu dari tadi dan langsung berdesakan keluar.
Li Mu malas ikut berdesak-desakan. Ia berhenti, menoleh ingin bicara dengan Yu Fan, tapi tiba-tiba Yu Fan menegang dan buru-buru mengeluarkan ponsel kecil dari sakunya.
“Paman Chen Yi nelepon.”
“Terus kenapa kelihatan panik?”
“Itu ponsel khusus kerja.” jelas Yu Fan, lalu mengangkat telepon.
Tak lama kemudian ekspresinya mereda, lalu ia menutup telepon.
“Ada apa?” Li Mu menatapnya penasaran dengan mata besar yang dihias eyeliner dan bulu mata palsu.
Yu Fan memandang mata cantik itu lalu berkata, “Ngapain kamu tahu? Ini urusan pemburu hantu!”
Li Mu langsung terdiam.
Dulu dia janji pada paman bahwa setelah kasus Li Mingjuan selesai, dia tidak akan ikut campur lagi dalam urusan begituan.
---
Mulai besok update dua bab ya.
No comments yet
Be the first to share your thoughts!