Chapter 154 Bab 154. Li Mu Datang
“Anak ini terlalu penakut. Kalau tidak, dia bakal jadi bibit unggul,” kata Chen Yi sambil menyesap sedikit arak putih, lalu menggerutu, “Cowok dewasa begini, jantungnya lebih kecil dari sepupunya sendiri. Memalukan.”
“Li Mu itu berbeda. Dia spesial,” bantah Yu Fan dengan serius. “Dia nggak kayak cewek-cewek lain.”
“Iya, kalau nggak spesial, kamu nggak akan suka.”
Yu Fan langsung tidak terima. “Kalau begitu, kamu kan juga suka hantu?”
“Ya karena dia cantik, lah,” jawab Chen Yi tenang. “Cuma terlalu liar—nggak kuat aku.”
“…”
*Ya sudah. Aku masih perjaka. Nggak mungkin menang debat sama pria paruh baya yang sudah jago ngomong kotor.*
Yu Fan menyerah. Namun Xiao Jing yang sedang asyik main boneka di sampingnya tiba-tiba penasaran.
“Kalian ngomongin apa sih?” tanyanya dengan mata berbinar.
“Nggak ada, main bonekamu sana,” kata Yu Fan sambil mendorong wajah Xiao Jing pelan.
Setelah makan siang, mereka bertiga—dua manusia dan satu hantu—mengantar Zhang Hui kembali ke penginapan.
Chen Yi mulai menyiapkan peralatan untuk malam nanti: beberapa lentera minyak, obor buatan sendiri, dan tumpukan besar lilin—semua dibawa ke kamar penginapan.
Sementara itu, Yu Fan yang nggak tahan rayuan Xiao Jing, terpaksa mengajaknya jalan-jalan lagi.
Jujur, jalan-jalan bareng cewek itu biasanya membosankan—meski Xiao Jing masih anak kecil. Tapi **Li Mu pengecualian**.
Yu Fan mengikuti di belakang Xiao Jing yang mondar-mandir ke sana-kemari, sambil mengunyah camilan untuk mengganjal perut yang belum kenyang sejak siang.
Sudah setengah hari berpisah dengan Li Mu.
Saat tidak ada kerjaan, wajah Li Mu tak sengaja muncul di kepalanya.
“Camilan di sini enak-enak. Li Mu pasti suka,” gumamnya pelan. “Terakhir ke sini, cuma sempat makan sate aja—nggak sempat jalan-jalan beneran.”
“Yu Fan-ge!” seru Xiao Jing tiba-tiba.
“Ada apa?”
“Aku mau milk tea!”
Xiao Jing sudah bertahun-tahun tidak makan. Kini punya kesempatan, ia ingin mengisi perut sebanyak mungkin.
Yu Fan mengelus kepalanya dengan pasrah. “Oke, aku beliin yang paling mahal.”
“Yey!”
“Tapi kamu harus bantu aku di depan Li Mu, ya,” tambahnya sedikit merintih. “Hari ini udah keluar seratus lebih—kebanyakan buat kamu.”
Karena Chen Yi menganggap Xiao Jing sebagai adik ipar Yu Fan, tugas bayar-membayar otomatis jatuh ke pundaknya.
Xiao Jing mengerucutkan mulut. “Aku kan tiap hari bilang yang bagus-bagus soal kamu ke Kakak!”
...Lupa saja bahwa beberapa hari lalu dia pernah bilang ke Li Mu, *“Kak, mending ganti kakak ipar aja.”*
Memang sih, Yu Fan agak miskin—tapi selain anak orang kaya, mana ada mahasiswa yang nggak kere?
Yu Fan akhirnya membelikan milk tea untuk “adik iparnya”, lalu menghela napas panjang.
Uang jajaknya bulan ini habis.
Awalnya ia ingin menabung—untuk mengajak Li Mu makan enak lain kali, bukan cuma jalan-jalan ala kadarnya seperti kemarin yang bahkan harus bagi rata (AA).
Ia bersandar di tembok dekat kedai milk tea, menatap Xiao Jing yang minum dengan gembira—tapi hatinya perih pelan.
Namun, baru satu detik merasa perih, tiba-tiba ia menoleh ke atas.
Bus kota berhenti. Penumpang berhamburan keluar dari pintu belakang.
Dan di antara mereka, muncul sosok tinggi semampai yang berjalan perlahan.
“Li Mu?”
Ia menoleh ke kiri-kanan, lalu buru-buru mengeluarkan ponsel—ingin menelepon.
“Eh? Kakak?!” seru Xiao Jing, langsung berlari sambil pegang milk tea-nya.
Li Mu mendengar panggilan itu, mengangkat kepala—dan matanya bertemu langsung dengan Yu Fan.
Wajah dinginnya yang biasa tak tertahan lagi: sedikit senyum muncul di bibirnya.
“Li Mu senyum itu memang cantik banget,” gumam Yu Fan, hatinya langsung gatal-gatal. Ia buru-buru menghampiri.
“Kakak! Kamu kok datang juga?” Xiao Jing memberikan sosis goreng yang belum dimakan ke Li Mu, wajahnya berseri-seri. “Kamu juga mau usir hantu, ya?”
Li Mu mengoreksi dengan lesu, “Panggil aku Kakak laki-laki.”
Lalu, melihat Yu Fan juga sudah dekat, ia sengaja menjelaskan,
“Aku cuma... nggak tenang aja kalau Xiao Jing sendirian.”
“Mengerti,” jawab Yu Fan dengan senyum hangat yang selalu membuat Li Mu kesal—tapi sekarang malah bikin jantungnya berdebar.
“Sudah makan siang belum? Aku traktir.”
Dulu, senyum itu terasa seperti ejekan menjengkelkan.
Kini, Li Mu merasa pipinya sedikit memanas.
Ia mengangguk dingin, lalu menoleh ke Xiao Jing.
“Pagi tadi nggak ada kejadian aneh, kan?”
“Aku ketemu si tolol gede itu!”
“???”
Yu Fan buru-buru menjelaskan,
“Kakak sepupumu ke rumah dukun Zhou buat minta jimat, dan kebetulan ketemu kita lagi.”
“Terus pas kita check-in hotel, dia juga kebetulan nginap di lantai yang sama—dan langsung ketemu Xiao Jing. Dia sampai pingsan ketakutan.”
“Lalu Paman Chen Yi bilang, dia kayak Conan—selalu ketemu kejadian aneh—jadi pasti punya bakat jadi pemburu hantu. Mending jujur aja biar dia nggak stres terus.”
Yu Fan berhenti sejenak, lalu mengamati ekspresi Li Mu.
Li Mu hanya mengangguk. “Masuk akal.”
Lebih baik Zhang Hui tahu kebenaran—daripada terus-terusan ketakutan karena hal yang tidak dipahaminya.
“Tapi begitu disebut Xiao Jing itu hantu… dia langsung pingsan.”
“…”
*Anggap saja aku nggak punya sepupu itu.*
Li Mu buru-buru mengalihkan topik, menunjuk sembarang restoran di pinggir jalan.
“Makan di sini?”
“Boleh. Aku yang bayar.”
Sambil memegang tangan Xiao Jing, Li Mu mengikuti Yu Fan masuk restoran. Sambil makan siang, ia menyimak penjelasan Yu Fan soal hantu dan rencana malam ini.
Setelah cukup paham, ia tiba-tiba bertanya,
“Ngomong-ngomong, Liu Shenglong gimana?”
“Dia sekarang cukup tenang. Tadi pagi pas aku ke kampus, lihat dia duduk sendirian di lapangan.”
Li Mu teringat sosok Liu Shenglong yang kesepian itu, lalu mendesah pelan.
“Kalau bisa, bantu dia juga, ya?”
Li Mu memang tidak pernah punya prasangka buruk terhadap hantu yang tidak berbahaya.
“Ya,” jawab Yu Fan sambil tersenyum—tapi tangannya menyangga dagu, matanya tak lepas dari wajah Li Mu.
Li Mu menunduk makan, berusaha mengabaikan pandangan itu—tapi jantungnya tetap berdebar makin kencang. Wajahnya perlahan memerah.
Agar tidak malu, ia mengernyit dan bertanya tajam,
“Ada bunga di mukaku, ya?”
“Nggak ada.”
“Terus kenapa liatin terus?”
“Cantik, ya boleh dilihat dong?” goda Yu Fan.
Li Mu terdiam, tak tahu harus balas apa. Ia hanya bergumam,
“Pokoknya nggak boleh liatin…”
“Kakak pasti malu!” seru Xiao Jing tanpa ragu.
*PLAK!*
Li Mu langsung menutup kepala Xiao Jing dengan telapak tangan—tapi terlalu keras.
Kepala Xiao Jing langsung miring 90 derajat ke samping.
Li Mu terkejut setengah mati, buru-buru menegakkannya lagi, lalu waspada menoleh ke kiri-kanan.
*Untung nggak ada yang lihat…*
Kalau anak kecil miring dikit, lucu.
Tapi kalau miring 90 derajat—itu horor banget!
Sejak itu, Li Mu tidak berani protes lagi.
Takut bikin kekacauan lain, ia pasrah saja diliatin Yu Fan sambil makan.
“Ngomong-ngomong, kamu minta izin belum ke sekolah?”
“Pak Yang Ye nggak mau. Jadi aku kabur aja.”
“Wah, jadi nakal, ya?”
Dulu, malam-malam nekat lompat tembok saja takut setengah mati.
Sekarang, bolos sekolah aja santai banget.
Li Mu langsung lempar kesalahan,
“Pak Yang Ye bilang… kamu yang bikin aku jadi nakal.”
No comments yet
Be the first to share your thoughts!