Chapter 117 Bab 117. Canggung
Tidak tahu kenapa, ketika air hangat di bathtub sudah melewati bagian dadanya, Li Mu merasakan dadanya sedikit sesak.
Dulu saat mandi berendam di rumah dia juga pernah mengalami hal ini, jadi dia menganggap itu hal yang normal dan tidak terlalu memikirkannya.
Harus diakui, mandi berendam di musim gugur dan musim dingin memang sangat menyenangkan. Seluruh tubuh rileks, diselimuti air hangat, aliran air yang beriak lembut seolah memijat kulitnya, membuatnya hampir ingin mendesah karena terlalu nyaman.
Uap air perlahan memenuhi seluruh kamar mandi, membuat pandangan Li Mu makin kabur.
Dia mengangkat tangannya, memiringkan kepala, memperhatikan lengan putih halus yang sama sekali tidak terlihat seperti lengan laki-laki. Tidak ada sedikit pun garis otot. Dia akhirnya menghela napas pelan.
Kenapa harus mengalami hal seperti ini sih?
Setiap kali mandi, dia selalu merenungi takdir sialnya.
Kepalanya terasa agak pusing.
Lengan yang terangkat pun mulai terasa lemas.
Sepertinya juga agak susah bernapas.
Li Mu tiba-tiba sadar—bukannya katanya orang bisa pingsan kalau terlalu lama berendam?
Ia refleks ingin bangun, namun baru sadar bahwa dirinya sama sekali sudah tidak punya tenaga. Seluruh inderanya melemah, tubuhnya terasa berat, pandangannya berputar.
“Yufan!”
Ia memanggil pelan sambil berusaha bangun dari bathtub.
“Yufan!”
Dulu di rumah dia tak pernah mengalami hal seperti ini.
Padahal baru berendam sekitar sepuluh menit, kan?
Dengan susah payah, ia mendorong pintu kaca buram itu dan menelungkup seperti ikan asin di tepi bathtub. Tapi kepalanya sudah sangat pusing sampai dia bahkan tidak bisa merasakan apa yang sedang ia lakukan.
Pintu kamar mandi terbuka, dan saat Yufan masuk, Li Mu baru sadar—dia benar-benar tidak memakai apa pun.
……
Ketika Li Mu bangun, dia sudah berada di atas tempat tidur, tertutup selimut.
Sebelum dan sesudah pingsan, dia sama sekali tidak merasakan waktu berlalu—seolah hanya menutup mata sebentar dan langsung terbangun.
Tubuhnya masih terasa lemas. Ia mengangkat kepala sedikit, dan melihat Yufan duduk di sampingnya.
“Aku pingsan berapa lama?”
Yufan terkejut saat mendengar suara itu. Dia menoleh dan melihat wajah Li Mu yang pucat, lalu menghela napas lega. “Nggak lama, sekitar sepuluh menitan.”
“Kok kamu bisa pingsan cuma gara-gara mandi?”
“Oh…” Li Mu menatap wajah Yufan yang merah padam. “Kenapa muka kamu merah?”
“……” Yufan diam, lalu memberikan sebotol air mineral.
Dia memang tak pernah memakai teko pemanas hotel karena tidak yakin bersih.
Li Mu menerima botol itu, tapi tangannya gemetar hebat. Namun dia tetap bicara, “Kayak seolah aku belum pernah lihat kamu telanjang aja. Kamu lupa dulu kamu lari-lari bugil di rumahku?”
Sambil bicara, dia menarik selimut lebih tinggi, mencoba duduk.
Melihat Li Mu kepayahan, Yufan mengambil kembali botol itu dan membukanya. “Keras kepala juga kamu ya.”
Li Mu memalingkan kepala, tak ingin melihatnya.
“Kalau gitu, habis ini kamu pakai baju depan aku aja gimana?” Yufan masih sempat bercanda. “Arahkan kepalamu ke sini, aku suapin air.”
“Aku bisa sendiri.”
“Tangan kamu udah gemeteran begitu mau sendiri apa?”
Setelah berhasil menyuapi Li Mu sedikit air, Yufan menjadi canggung sendiri—diam, tak tahu harus bicara apa.
Dia memainkan ponselnya. Setelah lama, baru bertanya, “Udah baikan?”
“Lumayan.”
Li Mu tidak melihat ke arahnya, hanya menunduk memegang ponsel.
Tapi pandangan Yufan tidak bisa berhenti melihat lengan putih Li Mu yang keluar dari selimut—dan itu langsung mengingatkannya pada pemandangan “tadi”.
Tak sadar, Yufan menyentuh hidungnya. Untungnya mimisan hanya terjadi di anime. Selain wajah merah dan jantung berdegup cepat, dia tidak menunjukkan reaksi memalukan lainnya.
Dengan pikiran kacau, dia meletakkan bantal di pangkuannya.
Suasana di kamar mendadak canggung, bahkan sedikit… berwarna pink.
Li Mu tadinya mencoba bersikap santai, namun pipinya kini memerah.
Meski ia selalu menganggap dirinya laki-laki dan merasa dilihat telanjang itu bukan masalah besar, logika berkata lain—tubuhnya sekarang sudah hampir tidak ada hubungannya dengan tubuh laki-laki.
Selama tidak dipikirkan masih mending. Namun jika membayangkan dirinya dilihat polos tanpa sehelai benang, bahkan diangkat ke tempat tidur… kepala langsung penuh rasa malu.
Tidak tahu apakah Yufan sempat memegang-megang…
Orang ini punya kebiasaan motret diam-diam—foto di KTP Li Mu saja hasil jepretan Yufan yang diedit! Masa sih sampai se-gila itu?
Dia pasti keras tadi kan?!
Entah tadi digendong ala princess carry atau diseret dari kaki…
Pipi Li Mu memerah sampai ke telinga dan tulang selangka. Dia sudah tidak bisa pura-pura main ponsel lagi, menarik selimut sampai leher dan buru-buru menghentikan pikirannya yang makin liar.
“Kamu ambilin bajuku di kamar mandi.”
“Siap.”
Yufan kabur seperti maling, mengambil baju dan melemparkannya ke kasur, lalu lari balik ke kamar mandi tanpa bicara.
Barulah Li Mu merasa lega. Dengan cepat dia mengenakan pakaiannya.
Rasa lemas setelah pingsan juga sudah hilang.
Setelah selesai berpakaian, dia mengetuk pintu. “Keluar.”
Yufan keluar sambil cengengesan. Melihat Li Mu sudah rapi, wajahnya dingin tapi masih merah muda—benar-benar imut—Yufan langsung nyeletuk, “Katanya nggak malu? Tuh lihat, kamu juga merah sendiri.”
Matanya melirik ke dada Li Mu.
Li Mu mengabaikannya, memakai jaket lagi, lalu kembali masuk ke kasur dan mematikan lampu. “Nanti waktunya, bangunin aku.”
“Oke, tidur aja.”
Yufan duduk di kasur lain, main ponsel. Namun dalam gelap, dia tetap sesekali melirik wajah Li Mu.
Entah karena pikirannya dikuasai “si kecil”, Li Mu terlihat semakin cantik—wajah halus, bibir merah lembut, makin dilihat makin menggoda.
Sial, ini pasti nafsu yang ngomong!
Dia buru-buru mengusir pikirannya.
Ini sahabat yang sudah suka duka bareng!
Tapi sahabat ini kok menggoda banget sih…
Tenggorokannya kering, tubuhnya panas. Dia menelan ludah, menahan diri agar tidak terus menatap Li Mu, dan memaksa dirinya fokus ke ponsel.
Kamar dipenuhi aroma lembut bunga anggrek, bercampur wangi shampo dan sabun mandi Li Mu—harum sekali.
Tak lama, Yufan tertidur… dan bermimpi hal yang tidak pantas.
Tepat ketika mimpi itu hampir mencapai klimaks, telepon Chen Yi membangunkannya.
“Udah jam dua belas. Siap-siap turun.”
“Ok…” Yufan menghela napas lelah.
“Siapa?”
Suara Li Mu membuatnya kaget setengah mati. Dia buru-buru menjawab tegas, “Udah jam dua belas, paman nyuruh turun.”
“Ya udah ayo.”
Li Mu meregangkan tubuh, mengeluarkan suara-suara kecil lucu saat merenggangkan otot.
Suara itu membuat Yufan ingin memegang kepala Li Mu dan meremas-remasnya. Tapi dia tak berani menatap Li Mu sama sekali.
Dia berdiri. “Bentar, aku mau ke toilet…”
“Tapi… kenapa kamu bawa celana dalam waktu ke toilet?”
No comments yet
Be the first to share your thoughts!