Chapter 161 Bab 161. Dia
“Kalian berdua, akhirnya tahu datang sekolah juga, ya?”
Pagi itu, di koridor luar kelas, Yang Ye mengomel kesal pada Yu Fan dan Li Mu.
“Kalian sudah berapa kali izin seminggu ini? Kalau nggak dikasih izin, malah kabur seenaknya! Masih ada nggak sih rasa hormat kalian ke aku?!”
“Kami kan ada urusan penting…” Yu Fan bergumam pelan.
“Ngomong yang keras! Laki-laki kok kayak nyamuk!”
“Aku salah! Maaf!” Yu Fan berteriak lantang. “Mulai sekarang aku nggak bakal kabur atau izin lagi!”
Yang Ye sama sekali tak peduli dengan janji itu. Matanya beralih ke Li Mu yang berdiri di samping, kepala menunduk, wajah manis dan patuh seperti sedang menyesal—tapi justru membuat Yang Ye makin kesal.
“Li Mu, Li Mu… Bukannya sudah kubilang jangan dekat-dekat Yu Fan? Sekarang kena pengaruhnya kan?”
*Padahal aku yang bawa dia ikut-ikutan, bukan sebaliknya,* batin Yu Fan.
Ia mencuri pandang ke Li Mu—dan terkejut melihat sudut bibir Li Mu sedikit terangkat.
*Dia… lagi ketawa diam-diam?*
Sungguh jarang melihat Li Mu tersenyum.
Setelah dimarahi, keduanya kembali ke kelas. Tapi begitu Li Mu mengangkat kepala, senyum kecil itu sudah lenyap—kembali menjadi sosok dingin dan jauh seperti yang dikenal teman-temannya.
Saat ini, tak ada yang bisa memastikan jenis kelamin Li Mu. Di balik punggungnya, murid-murid sering membicarakannya.
Usai hukuman verbal tadi, mereka kembali ke bangku masing-masing dan bersiap untuk membaca pagi.
“Hari ini suasana hatimu kayaknya bagus banget, ya?” Komentar Wu Lei, yang langsung menangkap aura riang kecil di sekitar Li Mu.
Tapi Li Mu tetap datar, sedikit bicara seperti biasa:
“Enggak.”
“Beneran?”
Wu Lei menggaruk kepalanya. Melihat Li Mu tak ingin banyak bicara, ia kembali menunduk dan melanjutkan menghafal pelajarannya.
Berbekal catatan dari Wang Ruoyan sebelumnya, meski bolos beberapa kali, Li Mu tetap bisa mengikuti pelajaran teman-temannya.
Karena sekarang mereka sudah memasuki masa pengulangan—yang intinya cuma latihan soal terus-menerus.
Menjelang ujian musim semi, suasana kelas terasa semakin tegang. Laci meja penuh tumpukan soal yang sudah dikerjakan. Meski belum seintensif murid SMA kelas 12, setidaknya para siswa kejuruan ini sudah merasakan sedikit atmosfer ujian nasional.
Tapi Li Mu mulai gelisah.
Perut bagian bawahnya terasa dingin, seolah ada sesuatu yang mengaduk-aduk di dalamnya. Rasa sakitnya tak terlalu parah, tapi cukup mengganggu konsentrasinya.
Namun, perasaan senang yang tadi muncul—entah kenapa—tak kunjung hilang. Ia sesekali menoleh ke belakang, memastikan Yu Fan masih di sana, seolah takut Yu Fan menghilang lagi.
Saat pelajaran dimulai, rasa sakit di perutnya justru bertambah parah.
Ia memeluk perut dengan satu tangan, sementara tangan satunya menulis jawaban di lembar soal—tapi keningnya tetap mengernyit karena nyeri.
“Kamu nggak enak badan?”
Guru bahasa Inggris yang sedang berkeliling kelas menyadari keanehan Li Mu.
“Masih oke,” jawab Li Mu singkat.
Rasanya mirip sakit perut karena makanan basi. Ia curiga mie yang dimakan siang kemarin sudah tak segar lagi.
Toh Yu Fan dan Xiao Jing tak mengalami apa-apa—hanya mereka bertiga yang makan siang itu.
Guru bahasa Inggris ini adalah pengajar pengganti yang baru datang dua minggu lalu—guru sebelumnya sedang mengikuti pelatihan di tingkat provinsi.
Guru perempuan yang usianya belum sampai tiga puluh tahun itu mengamati Li Mu sejenak, lalu kembali ke mejanya dan mengambil termos kecil.
“Ini, tempel di perut. Hangat-hangat dikit, bakal lebih nyaman.”
“Terima kasih.”
Li Mu menerimanya tanpa menolak, lalu menempelkan termos itu ke perutnya.
Rasanya agak mendingan. Mungkin ini karena kedinginan semalam?
Sebenarnya, guru-guru di sekolah kejuruan ini tak kalah kompeten—tapi karena mayoritas muridnya memang tak serius belajar, lama-kelamaan para guru jadi ikut masa bodoh. Tapi kalau ada murid yang rajin, mereka tetap akan membantu dengan sepenuh hati.
Sampai jam makan siang tiba, rasa sakit Li Mu masih belum berkurang.
Begitu Yu Fan mendekat, ia langsung melihat wajah Li Mu pucat pasi.
“Kamu kenapa?”
Yu Fan buru-buru menghampiri, memeriksa Li Mu yang duduk meringkuk sambil memeluk termos.
“Perlu ke ruang UKS nggak?”
“Kayaknya nggak perlu,” Li Mu menggeleng. “Nggak terlalu sakit.”
“Terus balik ke asrama minum air hangat?”
“Hmm.”
Li Mu menahan meja untuk berdiri. Wajahnya memang pucat, tapi tak sampai lemas.
Yu Fan buru-buru menopang tubuhnya—sampai orang awam mengira Li Mu sekarat dan tak sanggup jalan.
Sebagian besar teman sekelas sudah pergi, tapi tepat saat Li Mu berdiri, Wang Chen—siswa di bangku belakang yang belum pergi—tiba-tiba bertanya heran:
“Kakimu luka?”
Keduanya menoleh.
Yu Fan menunduk—dan matanya langsung terpaku pada bagian bokong Li Mu yang membentuk lekukan montok di balik celana jins ketat.
“Ber… darah?”
“Hah?”
“Ada bercak darah di bokongmu.”
Li Mu buru-buru menoleh ke belakang—dan wajahnya langsung memerah terbakar. Ia berusaha keras menahan rasa malu, menutup mulut rapat, dan bersikap tenang.
“Mungkin tadi malam nyangkut di mana gitu…”
*Tapi, kok baru sekarang darahnya keluar?*
Sebenarnya volumenya tak banyak—hanya noda seukuran telapak tangan di bagian pantat. Kalau lebih basah, pasti Li Mu sudah merasakan sensasi dinginnya.
Yu Fan tahu betul Li Mu gampang malu. Tanpa berpikir panjang, ia langsung balik ke bangkunya, mengambil jaket tipis dari laci.
Tapi saat menoleh kembali—ternyata Wang Chen sudah lebih dulu mengulurkan jaketnya ke Li Mu.
Yu Fan langsung panik, buru-buru mendekat—tepat saat Li Mu menggeleng menolak.
“Nggak usah.”
Yu Fan lega. Ia bahkan sempat melempar tatapan ‘menang’ ke Wang Chen, lalu baru menyerahkan jaketnya sendiri.
Kali ini, Li Mu menerimanya tanpa ragu, lalu mengikat jaket itu di pinggang untuk menutupi noda merah di celananya.
“Sekarang kita benar-benar harus ke UKS, kan? Kamu sakit di mana?”
“Dulu ke toilet dulu. Cek dulu kondisinya.”
Li Mu sama sekali tak merasa ada luka di kulitnya. Kalau pun sakit, hanya perut bagian bawah yang masih terasa nyeri ringan.
Yu Fan mengawalnya dengan hati-hati ke toilet paling ujung koridor.
“Kamu terlalu berlebihan sih,” Li Mu mendelik dingin. “Aneh banget.”
“Lebih baik hati-hati,” jawab Yu Fan lembut sambil tersenyum. “Kalau orang lain juga pasti aku lakuin begini.”
“…”
Li Mu tak menjawab. Ia langsung masuk ke toilet pria—dan sempat membuat seorang siswa lain terkejut setengah mati—lalu masuk ke kabin.
Ia melepas jaket di pinggang dan sabuk, menggantungnya di pegangan pintu, lalu perlahan menurunkan celana jins hitamnya. Ia menoleh, memeriksa pantatnya sendiri.
*Tapi… kayaknya nggak ada luka sama sekali?*
Tanpa sabuk, celana dalamnya sedikit melorot ke bawah.
Agar lebih jelas, Li Mu pun melepas celana dalamnya.
“…”
Ia terdiam, lalu perlahan menyentuh dirinya sendiri.
“Udah… pergi?”
Entah kenapa, meski bingung, ia tak merasa sedih. Hanya sedikit… kehilangan.
Toh organ itu sudah menemaninya selama 18 tahun—bahkan sempat terpikir, kalau nanti lepas, mau diawetkan jadi suvenir. Tapi kini malah lenyap begitu saja tanpa jejak.
Setelah diam sejenak, ia mulai paham:
Kenapa perutnya sakit.
Apa yang sekarang dibutuhkannya.
Dan… sejak saat ini, ia bukan “dia” lagi—
—tapi “**dia**”.
“Yu Fan!”
“Ada! Ada! Luka di mana?” Yu Fan yang berdiri di luar langsung menyerbu masuk.
“Beliin aku pembalut.”
“Hah?!”
“Sambil ambilin celana bersih di asrama.”
Siswa yang tadi sempat kaget kini benar-benar bingung. Ia menatap urinoir di dinding, lalu keluar sebentar dan memeriksa tanda di pintu toilet.
“Gak salah, ini emang toilet pria…” gumamnya, seperti mempertanyakan kenyataan hidupnya sendiri.
No comments yet
Be the first to share your thoughts!