Chapter 45 Bab 045. Kamu bilang orang tua itu… sama seperti punyaku?
Cahaya matahari pagi jatuh di pipi Li Mu. Dalam berkas cahaya itu, butiran debu berterbangan naik turun.
Panasnya sinar mentari perlahan membuatnya terbangun.
Akhir-akhir ini, tidur Li Mu memang sedikit membaik.
Ia bertumpu pada lengan dan menunduk, menatap bagian di antara kedua kakinya.
Ya, masih belum ada perubahan apa-apa.
Duduk bersila, ia meletakkan kedua tangan di sisi dada.
Di dalam sana seperti ada sebuah inti. Rasa nyeri seolah tertusuk jarum menyebar dari inti itu ke permukaan kulit, membuat tubuhnya bergetar halus.
Sepertinya… membesar sedikit?
Entah hanya perasaannya saja, tapi saat Li Mu menunduk menatap dadanya, ia merasa tonjolan halus itu semakin jelas dari hari ke hari.
Ia menghela napas pelan, lalu membuka laci nakas, mengambil dua lembar plester, dan menempelkannya tepat di titik sensitif itu.
Zhang Hui tidak pulang semalaman.
Semalam setelah kembali dari makan di rumah tetangga, Li Mu mendapati orang itu tak terlihat, bahkan pintu depan pun tidak ditutup.
Ia sengaja menunggu sampai pukul sebelas malam, tapi Zhang Hui tetap tak muncul. Entah berkeliaran ke mana malam-malam begitu.
Li Mu mengangkat kepala, lalu menggeser cermin kecil yang membelakanginya agar menghadap ke depan.
“Kamu mau bertemu orang tuamu?”
“Hmm!” Sosok kecil dalam cermin langsung hidup dan bersemangat.
Li Mu tertegun, lalu mengangkat cermin lebih dekat, hampir menempel ke wajah.
Ia sangat yakin ada sesuatu yang berubah, tapi entah kenapa tak bisa menemukan apa.
Perubahan tubuh ini… masih akan sampai sejauh mana?
Kalau nanti berubah jadi femboy berdada rata dengan burung besar, masih bisa ia terima. Tapi sekarang, yang paling fatal adalah: dia sudah tidak bisa “bangun” lagi.
Perasaannya kacau, namun ia tak ingin orang lain mengetahuinya. Ia menepuk pipi, merapikan ekspresi muramnya, kembali memasang wajah datar seperti es.
Ia bangkit, meregangkan badan, lalu berjalan menuju kamar mandi.
Sambil mencuci muka dan menggosok gigi, ia bertanya pada cermin, “Kalau begitu orang tuamu ke mana?”
Untuk memancing hantu yang membunuh Lin Xi, ia harus menggunakan hantu lain sebagai umpan. Sayangnya, satu-satunya entitas yang bisa ia kendalikan hanyalah si cermin kecil—yang malah sibuk memikirkan orang tuanya… dan ingin naik panggung untuk bernyanyi.
Di sekolah setiap tahun memang ada lomba Top 10 Singer, tapi membawa sebuah cermin ke atas panggung jelas tidak masuk akal.
Kalau saja ia bisa melihat wujud asli si cermin kecil, ia bisa membuat pengumuman orang hilang dan mempostingnya di internet, lalu menambahkan kisah sedih yang bisa bikin netizen menangis. Tapi masalahnya, wajah si cermin kecil selalu identik dengan orang yang berdiri di depannya.
“Aku nggak tau~!” jawab si cermin kecil sambil ikut menggosok gigi, bicaranya tidak jelas karena busa pasta gigi.
Entah kenapa, meski sudah jadi hantu, dia tetap mempertahankan kebiasaan sikat gigi.
“Terus wajah orang tuamu kayak apa?”
“Aku nggak tau~!”
Kalau nggak tau apa-apa, diam aja lah!
Li Mu menahan emosi. Ia hendak bertanya lagi ketika si cermin kecil tiba-tiba memiringkan kepala.
“Tapi mereka mirip sama kamu.”
“…Hah?”
Saat itu Li Mu baru teringat ucapan si cermin kemarin.
Setelah berubah jadi hantu, orang tuanya memasukkannya ke dalam cermin, lalu karena suatu urusan, pergi jauh dan belum kembali sampai sekarang.
Kilatan ide yang muncul kemarin kembali terngiang.
Ia meludah, berkumur, dan berkata, “Jangan-jangan… orang tua yang kamu maksud itu sama dengan orang tuaku?”
Si cermin kecil memiringkan kepala, bingung.
“Bisa juga gini… sebelum rumah direnovasi kamu sudah ada di dalam cermin itu, lalu cermin ini kebetulan dibeli orang tuaku.” Li Mu bergumam pada dirinya sendiri, namun cepat menggeleng. “Tapi beberapa tahun lalu waktu orang tuaku masih di sini, lampu nggak gampang kedip-kedip. Suhu rumah juga normal.”
Musim panas waktu itu, adik Li Mu sampai menangis karena panas dan memaksa orang tua mereka memasang AC tambahan di ruang tamu.
Ia termenung sejenak, lalu selesai berkumur, mengelap mulut, dan berbalik menuju kamar tidur utama.
Kamar itu dulu milik orang tuanya—sudah bertahun-tahun tak pernah ia buka.
Bahkan saat bersih-bersih, ia selalu sengaja melewatkan ruangan ini.
Di dalamnya, debu menutupi segalanya, membuat seluruh kamar tampak keabu-abuan. Ruangan berantakan; seprai menumpuk sembarangan di atas ranjang, tempat sampah berisi brosur taman hiburan. Seolah waktu berhenti di tiga tahun yang lalu.
Langkah Li Mu sempat terhenti sejenak, lalu ia berjalan ke nakas, mengambil sebuah foto keluarga.
Melihat foto itu membuat hatinya tenggelam dalam kerinduan yang perih.
Ia membawa foto itu kembali ke kamar mandi, lalu mengangkatnya menghadap cermin.
“Ini orang tua kamu?” Ia bertanya sambil mengelap debu pada foto.
Foto itu adalah potret keluarga berisi ayah, ibu, Li Mu kecil, dan adiknya.
Si cermin kecil menjulurkan kepala, melihat dengan mata besar penuh rasa ingin tahu, kemudian bertanya polos:
“Kenapa kamu juga ada di foto?”
“……”
Hati Li Mu yang tadi sedih langsung berubah campur aduk. Jakunnya bergerak naik-turun, bibirnya bergetar sedikit, tapi ia tak tahu harus bicara apa.
Meski sebelumnya ia sudah punya firasat, tapi saat fakta itu seperti dikonfirmasi, tetap saja sulit diterima.
Beberapa saat kemudian, kedua tangannya terkulai. Ia menunduk, diam lama sekali.
“Kamu kenapa?” Suara si cermin kecil terdengar polos, ada sedikit kekhawatiran.
Lampu kamar mandi mulai berkedip lagi. Ia terus menekan saklar lampu, berusaha menarik perhatian Li Mu.
“Hei! Kamu kenapa sih?!”
Li Mu menarik napas panjang, mengusap wajah.
“Nggak apa-apa.”
Ia menutup foto itu, meletakkannya di wastafel, lalu berbalik.
“Aku mau berangkat nganter makanan.”
“Kalau begitu taruh aku di depan TV! Aku mau nonton!”
“Baik.” Suara Li Mu tak bisa menahan nada lembutnya.
Setelah menaruh cermin di meja tamu dan menyalakan TV, ia mengenakan seragam ojek makanan dan keluar rumah.
Begitu membuka pintu, ia mendapati Zhang Hui berdiri di lorong, dengan mata panda dan gelisah bolak-balik.
“Kemarin malam kamu ke mana?” tanya Li Mu. “Jam berapa pulang?”
“Baru aja balik… aku tidur di warnet.” Zhang Hui menggigil, lalu menunjuk ke dalam rumah dengan jari gemetar. “Rumah kamu… ada hantunya, ya?”
“Hantu? Nggak ada.”
“Tapi tadi malam setelah kamu pergi, lampu terus kedip-kedip, dan hantu di cermin nyuruh aku pergi…"
Pria besar itu kini tampak seperti menantu kecil yang dianiaya, wajahnya penuh takut dan memelas.
Ekspresi datar Li Mu tak berubah, ia menasihati dengan suara tenang namun hambar:
“Dunia ini nggak ada hantu. Mana mungkin ada hantu? Kamu cuma dihantui rasa takut sendiri. Mungkin kamu masih trauma karena kecoak.”
Tapi wajah datarnya itu membuat perkataannya sama sekali tidak meyakinkan. Justru makin membuat bulu kuduk Zhang Hui meremang.
Ia bisa mendengar suara TV dari dalam rumah—suara pergantian channel yang berisik. Ia menengok dari balik tubuh Li Mu.
Tidak ada orang.
“Kamu… jangan-jangan… kamu juga hantu?” Zhang Hui mundur dua langkah.
Li Mu bisa menebak apa yang sedang dipikirkan orang ini.
Jadi ia tidak menjawab. Ia hanya menatap Zhang Hui lurus-lurus… lalu perlahan, sudut bibirnya terangkat.
Ekspresi tanpa emosi itu tiba-tiba berubah menjadi senyuman aneh—cukup untuk membuat darah seseorang membeku.
…Hantu?!
Seluruh tubuh Zhang Hui merinding. Ia tak berani tinggal sedetik pun, langsung berbalik dan lari menuruni tangga.
Baru setelah suara langkah kaki itu menghilang, Li Mu masuk lift dan bergumam pelan:
“Semoga dia nggak sampai mati ketakutan…”
Dia hanya membalas sedikit niat buruk yang ia rasakan.
Jelas-jelas dia tidak suka penampilan Li Mu yang semakin feminin.
Sudah tinggal gratis di rumahku, masih berani membenciku?
No comments yet
Be the first to share your thoughts!