Enjoy an Ad-Free Experience High

Sign up to remove distractions and focus on what matters.

Volume 1

Chapter 6 Bab 006. Jas Hujan

Nov 14, 2025 829 words

Malam ini tampaknya lebih gelap dari biasanya.

Di bawah cahaya lampu jalan yang kekuningan, Yufan berdiri di pulau keselamatan tengah perempatan, satu tangan memegang mangkuk, satu lagi memegang sumpit—tampak seperti orang bodoh yang sedang menunggu sesuatu.

Li Mu mengambil dua langkah mundur, takut ada orang lewat dan mengira mereka saling kenal.

Awalnya Yufan hanya ingin mengetukkan mangkuk untuk membuktikan kepada Li Mu bahwa dunia ini tidak ada hantu, tapi udara malam yang dinginnya menusuk, ditambah rasa sesak di dada, membuatnya gelisah dan semakin takut.

Kakeknya adalah dukun terkenal di daerah itu. Sejak kecil Yufan dianggap sebagai penerusnya. Meski sekarang dia sama sekali tidak percaya hal-hal gaib, masa kecilnya pernah penuh rasa penasaran pada dunia supernatural yang kakeknya ceritakan.

Kenangan itu muncul kembali. Senyumnya yang santai berubah serius. Ia menarik napas panjang, lalu mengetukkan mangkuk.

“Ding~”

Suara jernih itu terdengar jelas di jalanan sepi.

Yufan refleks menoleh ke Li Mu dan menjelaskan:

“Kata kakekku, harus tutup mata, ketuk setiap lima detik. Selama itu jangan ada orang lewat. Paling cepat lima menit. Kalau tidak, bisa terjadi sesuatu.”

Itu sejalan dengan yang Li Mu pikirkan.

“Kalau begitu aku menjauh dulu.” Li Mu langsung pergi lebih jauh, bersembunyi di balik pohon.

Setelah Li Mu pergi, Yufan mengetukkan mangkuk lagi.

Ia menutup mata, mulai menghitung dalam hati.

Entah kenapa, suara kendaraan yang kadang lewat… menghilang. Walau tahu Li Mu ada tak jauh darinya, ia merasakan kesepian yang aneh, seolah dunia hanya menyisakan dirinya seorang.

Dingin di sekelilingnya juga makin terasa nyata, seperti ada sumber hawa dingin yang perlahan mendekat.

“Ding~”

Dengan mata tertutup, pandangan Yufan gelap total. Justru karena itu, pendengarannya makin tajam—ia bisa mendengar angin, daun bergetar, klakson jauh di ujung jalan, bahkan seolah mendengar suara serangga merayap di kakinya.

Tapi sensasi itu tak bertahan lama.

Tiba-tiba, angin malam berhenti.

Suara ketukan mangkuk juga semakin sayup… lalu hilang sama sekali.

Sunyi. Gelap. Semua indranya seperti diputus.

Tak lama kemudian, Yufan merasakan sesuatu seperti dua tentakel hitam merayap ke arahnya—melingkari lengannya, dingin seperti es.

Lalu terdengar suara mengerik telinga, seperti kuku menggores papan tulis, atau pintu kayu tua yang terbuka paksa.

Apa dunia ini benar-benar ada hantu?

Tidak. Itu pasti ilusi karena sugesti.

Dia memaksa menenangkan diri dan melanjutkan hitungan.

Namun kedua tentakel itu merayap naik—ke bahu, ke leher… seperti belaian dingin yang mengerikan. Lalu tentakel itu melingkari lehernya.

Suara berisik makin tajam dan menyebalkan.

Dan di belakangnya… ada sesuatu menempel di punggungnya. Dingin, seperti tubuh seseorang yang sudah lama mati.

Ada orang di belakangku? Benarkah?

Tangan Yufan gemetar.

Dan yang lebih menakutkan—ada sesuatu yang jauh lebih dingin perlahan mendekat dari kejauhan. Dari arah itu, ia merasa ada sepasang mata dingin menatap punggungnya… seperti menatap mangsa.

Dia hampir tak tahan ingin membuka mata, tapi teringat ucapan kakeknya waktu kecil:

> “Kalau saat permainan begitu kamu benar-benar bertemu hantu, jangan pernah berhenti.”

Kakeknya tak pernah menjelaskan kalau berhenti akan terjadi apa… dan Yufan tidak berani menebak.

---

Sementara itu Li Mu, yang tadinya bosan mengawasi dari jauh sambil melihat Lin Xi (si hantu wanita) menggoda Yufan, tiba-tiba melihat seorang pria tua di ujung jalan.

Ada yang aneh.

Tidak turun hujan, tapi pria tua itu mengenakan jas hujan hitam. Kepala tertunduk, langkah lambat. Di tangan kirinya ia memegang sesuatu yang gelap.

Ketika pria tua itu masuk ke bawah cahaya lampu jalan… tiba-tiba ia menengadahkan kepala.

Wajah keriput. Senyum ramah. Mata tenang bagai genangan air—tanpa emosi, seperti menatap benda mati.

Senyum itu sangat tidak wajar. Tekanan yang ditimbulkan sangat kuat sampai membuat Li Mu gemetar ketakutan.

Dari balik jas hujan hitam yang panjang, terlihat lengan yang kurus panjang abnormal. Tangan kanannya seperti cakar burung, dan tangan kirinya memegang pisau dapur hitam dengan bercak merah gelap.

Li Mu mundur selangkah. Suhu tubuhnya seketika turun drastis—bagaikan dilempar ke musim dingin Siberia. Jaket tebal pun tidak membantu.

Embun putih es mulai muncul di udara.

Itu bukan manusia.
Itu hantu.
Dan jauh lebih kuat dari Lin Xi.

Lin Xi hanya menakutkan karena ketidakpastian. Setelah tahu dia cuma hantu yang terobsesi dengannya, Li Mu bisa menghadapinya.

Tapi orang tua berjubah hujan ini…

Kalau ada manusia yang benar-benar cocok disebut psikopat pembunuh, maka inilah bentuknya.

Dan yang lebih buruk—hantu itu tidak tertarik pada Li Mu.

Ia hanya menatap sebentar, lalu langsung berjalan menuju Yufan yang sedang mengetuk mangkuk.

“Yufan! LARI!”
Li Mu berteriak sekuat mungkin, meninggalkan cara bicara dinginnya.

Lin Xi juga melihat sang hantu. Ia panik memukul-mukul bahu Yufan.

“Jangan ketuk lagi! Ada hantu! Ada hantu beneran!!”

Walau sesama hantu, Lin Xi tetap ketakutan setengah mati.

“Bajingan! Berhenti! HEI! Berhenti ngetuk! Kamu gila??”

Tapi Yufan hanya mendengar suara Li Mu samar-samar, lalu suara berisik makin tajam. Sensasi tentakel masih mencengkeram.

Ia tetap tidak membuka mata, terus mengetuk sesuai hitungan.

Akhirnya, setelah lima menit…
Ia berhenti.

Dan membuka mata.

Yang muncul di depan matanya adalah—
sebuah wajah besar yang menempel tepat di mukanya.

---

Perut sakit, mau mati.

Comments (0)

Join the Discussion!

Share your thoughts and connect with other readers.

Login to Comment

No comments yet

Be the first to share your thoughts!