Chapter 190 Bab 190. Pulang ke Rumah
Setelah kompetisi “Sepuluh Penyanyi Terbaik” usai, hanya tersisa dua penampilan pamungkas—penampilan penutup dan penampilan istimewa.
Li Mu awalnya ingin langsung kembali ke asrama dari belakang panggung, ganti baju, lalu kembali menonton acara.
Namun begitu menoleh, ia langsung bertemu dengan tatapan Yu Fan yang penuh harap—seperti anak kecil minta permen.
“Mau apa lagi?” tanyanya dingin.
Ia menyilangkan tangan di dada dan mundur selangkah, wajahnya masih sedikit memerah.
Setiap kali mengingat betapa “tidak tahu malu”-nya tubuhnya tadi saat dikendalikan Xiao Jing, rasa malu dan kesal langsung menyergapnya.
Tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa.
Toh, seorang gadis kecil berusia kurang dari empat belas tahun yang suka manja-manja dan bergelayutan di lengan cowok tampan memang bukan hal aneh.
Satu-satunya masalah hanyalah… gadis kecil itu meminjam tubuh orang lain.
“Balik dulu ke tempat duduk, tonton sisa acaranya? Sayang banget kalau nggak nonton penampilan Yang Ye,” usul Yu Fan.
Sebenarnya, ia diam-diam ingin pamer—menunjukkan Li Mu yang cantik tadi ke teman-teman sekelas, lalu menikmati raut iri mereka.
Li Mu menatap ke atas panggung, di mana Yang Ye sedang memulai pertunjukan sulapnya.
Karena berdiri di sisi panggung, ia bisa melihat jelas hampir semua gerakan “rahasia” Yang Ye yang seharusnya tak terlihat penonton.
“Nggak usah balik. Cari tempat berdiri aja di pinggir.”
Mereka kembali ke lapangan, berdiri di sisi kerumunan. Li Mu memasang wajah datar dan dingin, menonton pertunjukan sulap itu tanpa ekspresi.
Ternyata Yang Ye memang guru yang multitalenta.
Di luar jam mengajar, dia bisa mengalahkan murid-murid dalam sepak bola atau basket, jago menyanyi dan teori musik, pandai jadi pembawa acara—dan kini, bahkan bisa sulap.
Meski bukan sulap spektakuler seperti menghilangkan manusia, trik-trik kecilnya tetap menghibur. Penonton di bawah bersorak-sorai tak henti.
“Dia hebat banget ya... kok bisa belum punya pacar?” gumam Li Mu heran.
“Mungkin karena gaji guru kecil?” tebak Yu Fan.
“Beneran, ya?”
Belum sempat lanjut ngobrol, Wang Ruoyan dan Chen Li sudah mendekat.
“Baru aja Lin Yuanyuan putus, kalian malah nyanyi lagu cinta di atas panggung—kejam banget sih!” Wang Ruoyan langsung melingkarkan lengannya ke lengan Li Mu, sambil tertawa geli.
“Itu kan sudah dijadwalkan dari jauh-jauh hari…” Li Mu mendesis pelan.
“Tapi kamu di atas panggung sama sekarang benar-benar beda banget. Teman-teman pasti nggak bisa mengenali kamu.”
*Salah.*
Bagi yang cukup mengenalnya dan punya akal sehat, sebenarnya cukup mudah menebak.
Toh, semua orang tahu Li Mu pergi bersama Yu Fan dan Wang Ruoyan ke asrama putri. Tapi saat kembali, di samping mereka bukan lagi Li Mu—melainkan seorang gadis cantik yang wajah, tinggi, dan model rambutnya mirip sekali.
Yang kurang piknik mungkin mengira Li Mu kabur main game, tapi yang sedikit lebih jeli pasti langsung nyambung.
Memang, mayoritas siswa di sekolah kejuruan ini sudah punya pengalaman sosial. Nilai akademis mungkin biasa saja, tapi soal kecerdasan emosional—mereka jauh di atas rata-rata remaja seusia mereka.
Kecuali Wu Lei. Orang itu kayaknya termasuk tipe yang nggak bakal ngerti meski sudah diajarin berkali-kali.
Setelah diam-diam menghina teman sebangkunya itu, Li Mu baru mendengar Chen Li bertanya,
“Libur Natal nanti, main bareng yuk?”
Chen Li menatapnya dengan mata penuh harap, “Nanti kamu dandan cantik ya!”
“Nggak usah. Ada urusan.”
Sebenarnya, ia cuma malas dandan—dan lebih malas lagi pakai baju cewek.
Li Mu menunduk, menatap tonjolan di dadanya, lalu teringat sensasi yang tadi dirasakan tubuhnya saat digerakkan Xiao Jing.
Wajahnya langsung memerah lagi—dan untuk menyembunyikannya, ia malah memasang ekspresi lebih dingin.
Acara pun benar-benar usai.
Li Mu hanya menonton sampai Yang Ye selesai tampil, lalu langsung kembali ke asrama. Ia segera membersihkan riasan, mengemasi barang, dan berganti kembali ke pakaian biasanya.
Lekuk tubuhnya yang menonjol kini tertutup oleh kaus longgar. Tanpa riasan, rasa malu yang terus menghantuinya perlahan mereda.
Tapi begitu keluar dari asrama dengan koper di tangan dan melihat Yu Fan menunggu di luar, wajahnya kembali memerah.
Karena ulah Xiao Jing tadi, ia jadi bingung bagaimana harus bersikap pada Yu Fan sekarang.
Untungnya, Yu Fan memang banyak bicara.
Ia mengulurkan tangan hendak mengambil koper Li Mu. Setelah sedikit tarik-ulur, Li Mu akhirnya menyerah dan melepaskan pegangannya.
“Natal ini mau ngapain? Mau nonton bioskop bareng nggak?”
“Mau tidur di rumah aja.”
“Itu bisa bikin gendut.”
Li Mu mengikutinya turun tangga. Di kejauhan, acara di lapangan juga sudah selesai. Para siswa asrama berbondong-bondong kembali ke gedung, sementara siswa harian sudah berhamburan ke gerbang sekolah.
Mereka berjalan di tepi jalan, menghindari arus siswa yang buru-buru pulang liburan.
“Atau aku potong rambut dulu, terus ketemu kakek,” usul Li Mu setengah bercanda.
“Itu nggak boleh! Ketemu kakek boleh, tapi potong rambut? Buat apa?”
“Nanti dimarahin.”
“Dimarahin aja. Kamu harus lebih pede dikit.”
Tepat saat itu, Wang Chen muncul dari arah depan. Begitu melihat mereka, ia langsung menyapa sambil tertawa,
“Bukannya kamu tinggal di luar sekarang, Li Mu?”
“...”
“Tadi nyanyinya keren banget. Dandan juga cantik, lho.”
Li Mu langsung memalingkan muka, enggan merespons si “psiko” itu.
Dulu Wang Chen pernah bilang mau ngejar Li Mu. Kini, identitas Li Mu sebagai perempuan sepertinya sudah terbongkar di depannya—tapi anehnya, Wang Chen sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa-apa.
“Kamu libur ini buru-buru diet deh. Baru berapa bulan, udah gendut banget?” Yu Fan sengaja mengalihkan perhatian Wang Chen dengan bercanda.
Benar saja, Wang Chen langsung teralihkan, “Ya ini salah Li Mu juga, kan? Betul nggak, Li Mu?”
“Bukan urusanku.”
Li Mu berjalan tanpa ekspresi, terus menuju gerbang sekolah.
Ia merasa aneh pada Wang Chen—sikapnya menjijikkan, seperti orang yang bisa berubah-ubah. Tapi di sisi lain, karena pernah “menipunya”, Li Mu juga merasa sedikit bersalah.
“Aku juga pergi dulu.”
Yu Fan langsung mengikuti langkah Li Mu dengan semangat.
Ia bisa merasakan langkah kaki Li Mu lebih ringan dari biasanya—jelas, liburan ini membuatnya senang.
“Nanti libur, mau ngapain aja?”
Li Mu menoleh sedikit ke arahnya.
“Aku? Main game di rumah, gambar-gambar... banyak hal yang bisa dilakuin.”
“Oh.”
Yu Fan mengamati ekspresinya, tapi tak menemukan petunjuk apa pun.
Ia diam sejenak, lalu baru bicara lagi ketika mereka sudah keluar dari gerbang sekolah,
“Besok keluargaku pergi liburan... Mau main ke rumahku nggak?”
“Ke rumahmu?”
“Iya! Di rumah ada dua komputer. Apalagi yang punya ayahku—tahun lalu habis dua puluh juta biar aku bantu rakit, eh ujung-ujungnya cuma dipakai main *Dou Di Zhu*. Spesifikasinya jauh di atas kebutuhanmu.”
“Terus aku juga punya proyektor—yang harganya jutaan. Kita bisa nonton film langsung di dinding!”
Ia terus berusaha membujuk, “Xiao Jing juga boleh ikut. Mainan adikku dulu belum aku buang—bisa dipakai buat ngalihin perhatiannya.”
“Kedengarannya lumayan.”
“Iya kan?”
“Terus... aku tidur di mana?”
—Eh?
Yu Fan terpaku.
Ia cuma berniat mengajak Li Mu main *seharian* ke rumahnya—tapi Li Mu malah langsung mikirin tempat tidur?
Masalahnya, sofa di rumahnya semua model single seat—nggak bisa dipakai tidur...
Melihat Yu Fan terdiam, Li Mu sadar ia salah bicara. Ia buru-buru mengalihkan topik,
“Aku tunggu di sini aja. Kamu pergi ambil mobil.”
“Oke... gimana kalau kita tidur di lantai aja? Pakai sleeping bag—ada nuansa seru gitu.”
“...”
No comments yet
Be the first to share your thoughts!