Enjoy an Ad-Free Experience High

Sign up to remove distractions and focus on what matters.

Volume 1

Chapter 132 Bab 132. Kelelahan

Nov 25, 2025 1,246 words

Li Mu sama sekali tak punya tenaga atau pikiran untuk memikirkan mengapa dirinya bisa disukai oleh seorang pria.

Keesokan harinya, ia dan Yu Fan kembali menyusuri kota kecil itu, mengunjungi semua tempat yang bisa mereka pikirkan. Namun pada akhirnya, mereka hanya bisa berjalan tanpa tujuan di sepanjang jalan raya.

Kecemasan awal perlahan memudar seiring kelelahan dan berlalunya waktu. Ketika benar-benar kehabisan tenaga, Li Mu akhirnya mengakui keputusasaannya dan duduk di bangku taman pinggir jalan.

Makhluk seperti hantu—jika memang sengaja bersembunyi—sama sekali tak mungkin ditemukan.

Li Mu menundukkan kepala, sesekali mengangkat pandangan ke arah pejalan kaki di sepanjang jalan, berharap di antara mereka ada sosok Xiao Jing.

Namun kenyataannya, Xiao Jing selalu menampakkan diri dalam wujud orang lain, sehingga Li Mu bahkan sudah tak mampu mengingat dengan jelas rupa asli Xiao Jing semasa hidupnya.

Yu Fan duduk canggung di samping Li Mu. Sejak kemarin malam perasaannya terbongkar, ia jadi bingung bagaimana harus bersikap di depan Li Mu.

Sepanjang hari ini, ia hanya diam-diam membantu mencari, hampir tidak ada percakapan sama sekali antara mereka berdua.

“Pulang saja,” kata Li Mu sambil mengangkat kepala.

“Oke, naik mobil yuk.”

“Jalan kaki saja.” Ia masih berharap bisa bertemu Xiao Jing secara kebetulan dalam perjalanan pulang.

Yu Fan kira-kira paham perasaan Li Mu, jadi ia hanya mengangguk, mendorong sepeda listriknya, dan berjalan di sisi Li Mu.

Li Mu jauh lebih diam dari biasanya. Matanya memandang pejalan kaki di sepanjang jalan, tapi pandangannya selalu tak bisa lepas dari keluarga kecil yang membawa anak-anak, atau sesekali terpaku pada para siswa SMP.

Sementara itu, perhatian Yu Fan selain pada pejalan kaki, lebih sering tertuju pada wajah samping Li Mu. Saat berjalan berdekatan, samar-samar ia masih bisa mencium aroma melati yang melekat di tubuh Li Mu.

Jalan kaki pulang dari sini butuh waktu setidaknya satu hingga dua jam.

Namun Yu Fan sama sekali tidak merasa gelisah. Malah, hatinya terasa semakin tenang.

Semakin lama ia memandang Li Mu, semakin ia menyadari bahwa tanpa sadar postur tubuh Li Mu kian hari kian feminin.

Mungkin karena perubahan fisiknya, saat berjalan Li Mu tanpa sadar sedikit menggoyangkan pinggulnya, dan ayunan lengannya pun terlihat lebih lembut dan alami…

Dulu, ia tak berani lama-lama memandang Li Mu, takut dianggap aneh atau “gay”—meski saat Li Mu dalam wujud perempuan, ia memang boleh dipandangi sepuasnya karena Li Mu saat itu terlalu sibuk untuk memperhatikannya.

Tapi sekarang, karena perasaannya sudah terbongkar, ia malah jadi bersikap seenaknya—sudah pasrah saja.

Toh Li Mu dulu juga laki-laki, pasti bisa memahami “kelakuan” semacam ini.

Saat melewati satu blok jalan, langkah kaki Li Mu tiba-tiba berhenti. Matanya tertuju pada sebuah warung sate goreng di seberang jalan.

Ia menyeberang zebra cross dan berdiri di depan toko, mengintip ke dalam.

Ibu penjual di dalam toko segera menyadari kehadirannya dan langsung tersenyum.

Namun sejenak kemudian ia ragu—melihat potongan rambut pendek ala pria, lalu menatap wajah manis Li Mu—akhirnya bertanya, “Adik mau pesan apa?”

Yu Fan jelas melihat ekspresi Li Mu sedikit lebih cerah.

“Aku lihat dulu menunya.” Li Mu menoleh ke arah Yu Fan, “Kamu mau pesan apa?”

“Pesananmu, kasih aku satu porsi juga.”

Sudah sore, tapi mereka berdua belum makan sama sekali sepanjang hari ini—terus-menerus bolak-balik mencari tanpa henti.

Warung ini adalah tempat favorit Li Mu saat masih SD dan SMP.

Dulu, setiap pagi dalam perjalanan ke sekolah naik sepeda, ia selalu melewati tempat ini dan tergoda oleh aroma sate goreng. Uang jajannya—sekitar belasan ribu per minggu—hampir seluruhnya habis di sini.

Bahkan setelah lulus SMP, setiap kali lewat, ia masih sering mampir sebentar. Dulu, ibu penjual ini mengenalnya dengan baik, selalu menyapanya dengan hangat. Kini, ia malah bingung harus memanggil Li Mu “adik laki-laki” atau “nona kecil”.

Li Mu sadar penampilannya telah banyak berubah. Ia tak ambil pusing apakah ibu itu masih mengenalinya atau tidak, lalu mengajak Yu Fan—yang baru saja mengunci sepeda listriknya—masuk ke dalam warung.

Karena warung ini terutama melayani pelajar, di akhir pekan seperti ini hanya ada Li Mu dan Yu Fan sebagai pelanggan.

Li Mu memesan belasan tusuk sate goreng sesuai daftar menu di dinding, lalu langsung terkulai lemas di atas meja.

Semalam, mereka hampir tak tidur sama sekali—hanya duduk menatap televisi kosong, menunggu Xiao Jing kembali. Mereka bertahan hingga pukul enam pagi, lalu langsung melanjutkan pencarian lagi.

Hingga kini, Li Mu nyaris belum sempat tidur.

Daya tahan Yu Fan jauh lebih baik. Selama libur Hari Nasional lalu, orang ini bahkan sering begadang semalaman penuh, memanfaatkan tubuhnya yang sehat tanpa rasa takut.

Namun baru saja bersandar di meja, Li Mu hampir tertidur—untunglah aroma sedap sate goreng yang sedang digoreng ibu penjual membangunkannya kembali.

Ibu penjual memang tak bisa diam. Sambil menggoreng, ia bertanya pada Yu Fan, “Kamu dengar kabar belum? Tadi malam ada hotel yang diganggu hantu.”

“Diganggu hantu?” Yu Fan menoleh penasaran, “Memangnya kenapa?”

“Kudengar dari temanku. Katanya tengah malam, ada hantu berkeliaran di hotel itu, bikin semua tamu di sana nggak bisa tidur semalaman.”

“Hantu ya…” Yu Fan menoleh ke arah Li Mu.

Li Mu menggeleng.

Meski Xiao Jing memang agak nakal, ia belum pernah sampai sengaja menakuti orang lain.

“Teman saya itu tinggal dekat hotel itu. Polisi sampai datang, CCTV juga diperiksa—tapi katanya cuma pencuri biasa.”

“Ya kan, mana ada hantu,” jawab Yu Fan sambil tertawa. “Kita jangan percaya takhayul. Hotelnya namanya apa tadi?”

“Yang itu—Hotel 711.”

Yu Fan mengangguk-angguk dengan ekspresi tertarik, “Jadi maksudnya banyak orang yang melihat hantunya?”

“Iya. Katanya hantunya nggak punya kepala—malah bawa kepalanya sendiri sambil berkeliaran di hotel. Tapi pas polisi datang, nggak ketemu apa-apa.” Jelas ibu itu kurang jago bercerita, tapi matanya tetap menunjukkan sedikit rasa takut. “Katanya CCTV-nya langsung disita polisi, nggak boleh diperlihatkan ke orang lain—polisi cuma bilang itu pencuri biasa.”

“Kayaknya cuma lelucon atau prank aja,” kata Li Mu, semakin yakin itu bukan hantu sungguhan.

Sebenarnya, hantu sama sekali tak bisa terekam kamera, apalagi bisa dilihat bersamaan oleh banyak orang—kecuali kalau semua orang itu sedang dalam kondisi sangat lemah, aura buruk, dan hampir kehabisan energi hidup.

Yu Fan hanya menganggap ini sebagai cerita seram biasa. Ia sesekali ikut nimbrung, dan sikapnya yang ceria dan ramah membuat ibu penjual senang terus mengobrol. Akibatnya, mereka makan sate goreng selama setengah jam—dan Yu Fan juga ngobrol selama setengah jam.

Begitu keluar dari warung, sambil membuka kunci sepeda listriknya, Yu Fan bertanya pada Li Mu, “Mau nggak kita cek ke hotel itu?”

Hotel 711 memang cuma ada satu di kota ini, dan jaraknya tidak terlalu jauh.

“Nggak usah. Ayo pulang tidur saja,” jawab Li Mu sambil menguap.

Yu Fan mengangguk, “Kalau begitu naik mobil saja. Sudah ngantuk begini, jangan jalan kaki. Naik mobil saja masih butuh dua puluh menit.”

Namun saat ia sudah duduk di atas sepeda listrik dan menoleh ke belakang, ia melihat Li Mu berdiri mematung di tempatnya.

“Ada apa?”

“Aku kayaknya lihat Xiao Jing tadi,” kata Li Mu sambil mengerutkan dahi dan menggosok matanya.

“Beneran?” Yu Fan langsung menoleh ke arah kerumunan di depan.

Di persimpangan jalan tak jauh dari situ, sekelompok besar pejalan kaki sedang menyeberang zebra cross. Bayangan mereka saling tumpang tindih, sehingga sulit sekali mengenali wajah siapa pun.

Li Mu buru-buru berlari maju—tapi lampu lalu lintas tiba-tiba berubah merah. Arus kendaraan yang mengalir deras menghalanginya di tepi jalan, membuatnya hanya bisa menatap putus asa sementara kerumunan itu perlahan menyebar dan menghilang ke dalam kota.

Comments (0)

Join the Discussion!

Share your thoughts and connect with other readers.

Login to Comment

No comments yet

Be the first to share your thoughts!