Enjoy an Ad-Free Experience High

Sign up to remove distractions and focus on what matters.

Volume 1

Chapter 59 Bab 059. Suara

Nov 23, 2025 960 words

Yang Ye sebagai wali kelas sebenarnya adalah tipe guru yang cukup disukai oleh Li Mu.
Hanya saja terkadang terlalu cerewet.

Begitu pelajaran ketiga sore berakhir, Li Mu kembali melihat Yang Ye.

“Semua siap! Ke lapangan! Main bola!” Yang Ye melambaikan tangan besar-besarnya, memimpin seluruh kelas keluar. Dari jauh, rombongan itu terlihat seperti mau tawuran massal.

Li Mu dengan wajah hidup-segan-mati-tak-mau mengikuti dari belakang.

Dia sebenarnya bisa main basket. Waktu SD dan SMP bahkan sempat kecanduan. Tapi sekarang, setelah massa ototnya banyak menghilang dan stamina menurun, dia tidak terlalu sanggup lagi.

Begitu mereka tiba di lapangan basket sekolah, dari empat puluh lebih siswa kelasnya, sudah hilang lebih dari separuh. Kalau ini hari-hari sebelumnya, Li Mu juga pasti sudah kabur duluan ke kantin.

“Eh, Li Mu, dengar-dengar kamu mau main juga?” entah sejak kapan, Yu Fan sudah merapat ke samping Li Mu, tersenyum jail. “Satu tim sama aku?”

“Aku nggak main. Aku jadi penyemangat di pinggir saja.” Li Mu menggeleng.

Menjadi penyemangat juga dianggap ikut serta. Guru wali hanya ingin siswa berpartisipasi, bukan memaksa bermain.

“Kalau jadi cheerleader, kamu harus pakai rok pendek dan bawa pom-pom.”
Li Mu memalingkan wajah malas menanggapi.

Kepalanya ini isinya cuma ingin lihat dia pakai baju cewek. Entah apa yang dia pikirkan.

Mungkin sama seperti netizen yang suka maksa-maksa streamer untuk crossdress—yang penting chaos, nggak peduli apa pun.

“Yang mau main, maju biar di bagi tim! Cheerleader juga dibagi! Tim yang menang, hari ini aku traktir hamburger!”
Hari ini Yang Ye keluar jurus baru, langsung membangkitkan semangat seluruh kelas.

Kesempatan makan gratis dari guru sangat langka.

Yu Fan semangat sekali maju ke tengah lapangan. Meski jarang main basket, tinggi badannya yang lebih dari 180 cm jelas menguntungkan.

Li Mu duduk di atas pembatas bunga di pinggir lapangan, menguap besar sambil melirik kiri-kanan. Begitu tak ada orang di sekitar, ia berbisik:
“Gimana rasanya?”

“Sedikit sempit, tapi lainnya oke.” kata Xiao Jing.

“Ya sudah.”

Saat Xiao Jing menggunakan suara Li Mu untuk bicara, nada lembut gadis itu bercampur dengan suara Li Mu yang androgini, hasilnya mirip suara cewek tomboy yang sedikit berat.

Kalau dengan suara yang sekarang ini dia ulang lagi adegan kerasukan Lin Xi lalu nembak Yu Fan, mungkin Yu Fan juga tidak akan merasa se-aneh waktu itu.

“Kapan kita nyanyi?” tanya Xiao Jing lagi.

“Jumat, pelajaran keempat. Waktu itu ada audisi di gedung serbaguna.” jawab Li Mu—lalu mendadak terpikir sesuatu.

Dia seorang laki-laki naik panggung untuk nyanyi…
Tapi yang keluar nanti suara cewek…

Walaupun dia memang makin feminim belakangan, tapi tetap saja… aneh, bukan?

Li Mu mengheningkan pikiran.

“Li Mu! Kasih aku semangat dong! Bengong apa sih?” Yu Fan selesai bagi tim, balik lagi dan langsung nyuruh, “Sebagai cheerleader, beliin aku minum. Minuman isotonik.”

“Nggak sempat.” Li Mu menolak tanpa ekspresi. Saat dia mendongak, Yang Ye juga sedang berjalan ke arahnya.

“Kamu nggak ikut main?” tanya wali kelas itu sambil tersenyum.

“Aku nggak bisa main, Pak. Terus… celanaku agak ketat.”

Li Mu menunduk menatap celananya yang tampak ketat di paha.

Dia sempat riset: orang dengan persentase lemak tubuh lebih tinggi biasanya punya paha lebih besar. Banyak perempuan sebenarnya tidak punya kaki seramping yang dibayangkan cowok. Tapi tetap saja kaki perempuan terlihat lebih enak dipandang—ramping tapi berisi.

Sedangkan laki-laki kalau kurus… ya kurusnya seperti batang bambu.

Sekarang meski Li Mu belum sepenuhnya berubah menjadi perempuan, lemak tubuhnya sudah mirip standar perempuan. Kalau berat badannya masih 65 kg seperti dulu, pasti badannya akan terlihat gendut.

Dia mau pakai celana olahraga longgar, tapi karena kakinya tanpa bulu, dia merasa menampilkan betis seperti membuka rahasia kelam.

“Kalau begitu ya sudah, kamu jadi cheerleader.” Yang Ye tak memaksa. “Kamu sejak kapan sedekat itu sama Yu Fan?”

“Biasa saja.”

“Biasa apanya! Kami ini saudara sehidup semati!”
Yu Fan langsung merangkul bahunya.

Li Mu hanya menatap sekilas tanpa niat menjelaskan.

Yang Ye yang melihat Li Mu punya teman, tampak lega.

Saat Li Mu hendak kembali menonton, Zhang Pan—teman sekamar yang agak seperti uke—duduk di sampingnya.

“Mu-ge, kamu cheerleader tim mana?” tanya Zhang Pan penasaran.

“Tim wali kelas.”

Sambil menjawab, Li Mu membuka ponsel dan cek timeline audisi Ten Top Singers di forum sekolah.

Seperti kata Yu Fan:

Babak pertama hari Rabu

Babak kedua dan ketiga juga hari Rabu setiap minggu

Kalau pesertanya sedikit, bisa saja langsung selesai dalam satu putaran

Babak pertama diadakan di ruang dansa gedung serbaguna. Babak berikutnya di panggung utama lapangan.

Kedengarannya sangat memalukan…

Li Mu menghela napas. Dia memang paling tidak suka tampil di depan umum. Tapi sekarang malah harus naik panggung…

“Xiao Jing, kamu yakin bisa nyanyi bagus?”

Kalau suaranya kacau, itu bener-bener malu setahun full.

Tapi dari ingatannya, kemampuan vokal adiknya memang lumayan. Orang tuanya bahkan sudah kasih les sejak umur 5–6 tahun.

Hanya saja… tubuh dan suara sudah beda. Apa dia bisa?

“Bisa!” jawab Xiao Jing mantap.

“Kalau begitu kita coba sekarang.”

Li Mu melirik lapangan. Wali kelas sedang bertahan di bawah ring dan tidak memperhatikan dia.

Zhang Pan di sebelahnya juga cuma menatap heran, tidak tahu Li Mu ngomong sama siapa.

Li Mu berdiri, berjalan ke arah sudut paling sepi—Lorong antara asrama dan tembok sekolah. Tempat yang sama saat dia dulu loncat pagar dan kecelakaan.

Air got di lantai masih bau pesing dan busuk. Tapi Li Mu tidak mempermasalahkan.

Setelah berdiri tegak, dia menghela napas:
“Mulai.”

“Baik!”

Beberapa detik kemudian, Li Mu membuka mata lagi—penuh rasa ingin tahu.

Dia menyentuh lehernya, tepat di atas jakun. Lalu dengan suara lembut yang terdengar manja:

“Tubuh laki-laki ya~”

Suara netral miliknya, setelah dipakai Xiao Jing, berubah menjadi suara perempuan—hanya sedikit lebih berat seperti suara kakak perempuan dewasa.

Comments (0)

Join the Discussion!

Share your thoughts and connect with other readers.

Login to Comment

No comments yet

Be the first to share your thoughts!