Enjoy an Ad-Free Experience High

Sign up to remove distractions and focus on what matters.

Volume 1

Chapter 231 231. Hantu

Nov 30, 2025 1,127 words

Li Mu berdiri di tepi jalan raya nasional, gelisah menunggu kendaraan yang lewat.

Namun hari masih pagi. Lebih dari sepuluh menit berlalu, hanya beberapa truk kecil yang melintas kencang. Meski ia sudah melambaikan tangan mencoba menghentikan mereka, para sopir tetap mengabaikannya.

Belum setengah jam, Yu Fan dan Long Zihan tiba.

“Kalian nggak bawa barang?” tanyanya heran, menoleh pada keduanya.

“Kami diam-diam pergi lihat sebentar,” kata Yu Fan dengan ekspresi pasrah. “Kita ketipu Xiao Jing. Itu bukan desa—itu klinik desa. Di belakangnya memang ada pekuburan desa.”

“Dan bukan di dalam hutan yang dalam—kliniknya justru ada di tepi hutan.”

“Kombinasi yang aneh…”

“Dokternya juga penjaga kuburan,” jelas Long Zihan. “Di beberapa daerah, memang ada tradisi seperti itu.”

Li Mu terdiam, memandang wajah mereka yang penuh keputusasaan. “Jadi… kita nggak perlu kabur?”

“Pulang siang saja. Aku sudah ganti tiket kereta,” kata Yu Fan sambil menatap jauh ke ujung jalan. Tak ada kendaraan yang datang. “Sekarang mau pergi pun susah.”

“Ya juga…”

Ia masih khawatir, tapi ketika kembali ke desa, semuanya tetap tenang seperti sebelumnya. Agar Li Mu tak terlalu cemas, Yu Fan bahkan mengajaknya langsung ke klinik itu.

Xiao Jing sedang duduk di tangga depan klinik, sibuk mengisap permen lolipop.

—Jadi katanya di sini penuh pasien dan kuburan?

Li Mu memindai sekeliling pintu klinik.

Memang ada pasien—dua pasang suami-istri dan dua anak kecil—mereka gelisah menunggu di depan, mengetuk pintu. Ternyata klinik belum buka.

Sedangkan kuburan…

Ia menoleh ke arah hutan di belakang klinik. Di antara klinik dan hutan terbentang area terbuka yang ternyata adalah pekuburan. Xiao Jing tadi melihat dari arah hutan—dari sudut pandang itu, wajar saja ia mengira ada “desa” lain di sana.

Li Mu menoleh ke Yu Fan dan Long Zihan. “Kalian berlebihan. Ketipu Xiao Jing doang.”

“Bukannya katanya desa ini mungkin ada hantunya?” timpal Yu Fan, melirik Long Zihan.

“Bukannya orang tuamu yang suruh aku selidiki, bilang desa ini mungkin sangat bermasalah?!” balas Long Zihan.

—Intinya, saling lempar tanggung jawab, cepat banget.

Xiao Jing berdiri, berlari kecil ke arah Li Mu, lalu mengeluarkan satu lolipop lagi dari sakunya. “Kakak! Ini dikasih sama om dokter tadi!”

“Kamu aja yang makan.”

Li Mu tak marah. Ia mengelus kepala Xiao Jing, lalu menggenggam tangannya. “Jangan seenaknya lari-lari lagi, ya?”

“Iya!” sahut Xiao Jing riang.

Mereka kembali ke penginapan. Pengalaman pagi tadi membuat mereka agak lelah, jadi masing-masing kembali ke kamar untuk beristirahat sebentar.

Li Mu berdiri di jendela kamarnya, memandangi desa yang perlahan-lahan kembali hidup.

Sekitar pukul delapan lebih, sudah ada lansia yang mengendarai sepeda listrik, mengantar cucunya ke sekolah terdekat.

“Tapi tetap… ada yang aneh di sini,” gumamnya.

Ia berbalik, membuka pintu kamar dengan hati-hati—dan menemukan ruang tamu kosong. Yu Fan dan Long Zihan tak ada di sana.

Xiao Jing mungkin sedang main ponsel di kamar Yu Fan.

Li Mu keluar diam-diam dari kamar, lalu meninggalkan penginapan.

“Bangun pagi banget, ya?” Seorang kakek duduk di teras depan penginapan, berjemur sambil menyapa Li Mu dengan ramah. “Liburannya enak nggak?”

“Pemandangannya bagus. Aku ambil banyak foto di gunung tadi,” jawab Li Mu sambil tersenyum.

“Mau ke mana sekarang?”

“Mau lihat sawah di pinggir desa. Di kota jarang lihat.”

Sambil bicara, ia berjalan perlahan ke arah klinik.

Kakek itu tak bicara lagi, hanya memandang punggungnya.

Cuaca hari ini kurang cerah. Langit mendung mengaburkan seluruh desa dalam rona kelabu.

Li Mu berjalan santai di jalan semen desa, sesekali menyapa warga tua atau anak-anak yang ditemuinya, selalu tersenyum cerah.

“Ah, cuma jalan-jalan aja, ambil foto.”

“Siang ini kami mau pulang.”

“Makan siang sudah disediakan pemilik penginapan, nggak usah repot-repot.”

Dari luar, ini benar-benar desa yang damai dan ramah.

Li Mu mulai meragukan dirinya sendiri—apakah ia terlalu curiga? Xiao Jing memang suka ribut, tapi bukan tipe yang gampang panik.

Kecuali… ini emang cuma leluconnya.

Tapi saat ia semakin mendekati klinik, jumlah warga di jalan justru semakin banyak.

Sebelumnya, jalan ini sepi—tak ada suara ayam, tak ada gonggongan anjing. Tapi hanya dalam setengah jam di penginapan, sekarang warga seolah bersepakat muncul bersamaan di jalan.

“Nona kecil, di depan sana pekuburan—kotor banget.”

“Sakit, ya? Mau periksa? Aku bisa obati, ayo sini.”

Li Mu tetap tersenyum menjawab semua sapaan, tapi diam-diam mengamati semuanya.

—Mereka mulai gelisah…  
Berarti memang ada masalah.

Seorang pria paruh baya—jarang ditemukan di desa ini—tiba-tiba berjalan mendekatinya. Tapi sebelum sempat dekat, wajahnya langsung berubah ngeri, lalu berbalik dan lari kencang menjauh.

—Apakah itu hantu?

Jaraknya masih terlalu jauh, Li Mu belum merasakan hawa dingin khas hantu. Tapi dari reaksi pria itu, ia bisa menebak sesuatu.

Ia berhenti.

Di belakangnya, seorang kakek yang tadinya mengayunkan cangkul juga berhenti, lalu menaruhnya di bahunya.

“Kamu ini…?”

Keringat membasahi dahi si kakek. “Mau ke sawah… ke sawah…”

—Mereka takut padaku.

Li Mu teringat penginapan waktu ujian musim semi lalu—saat pemilik hotel bilang:  
*“Di dalam tubuhmu ada hantu kuat yang bikin mereka ketakutan.”*

Ia memandang si kakek yang berjalan ke sawah—lalu tiba-tiba terpeleset dan jatuh ke saluran air.

—Orang hidup. Mayat nggak berkeringat, kecuali pakai tubuh buatan level Xiao Jing… tapi itu butuh bertahun-tahun. Bisa dieliminasi.

Informasi di kepalanya semakin banyak, saling terhubung, dan perlahan membentuk gambaran yang jelas.

Dengan senyum manis, ia menghampiri seorang ibu paruh baya yang sedang duduk di bangku kecil sambil melihat-lihat sekitar.

Si ibu langsung terkejut, hampir jatuh dari bangkunya.

“N-nona kecil… ada apa?”

Ia terus mengelap keringat di wajahnya.

—Juga orang hidup.

Kalau begitu… apakah seluruh warga desa ini kerasukan hantu?

Kesimpulan itu bahkan membuat Li Mu sendiri terkejut.

Yu Fan dan Long Zihan mungkin sudah dirasuki saat ia menunggu di pinggir jalan tadi.  
Xiao Jing? Mungkin dipaksa—atau, seperti dulu, ketipu lagi.

Ia harus pergi ke klinik. Pasti ada rahasia besar di sana—kalau tidak, kenapa sekarang ia dicegah?

Tapi meski berpikir begitu, ia justru berbalik, kembali ke arah penginapan.

Ia bisa merasakan—seluruh warga di sekitarnya seperti menghela napas lega.

Ketika tiba kembali di penginapan, Yu Fan sedang gelisah mondar-mandir di ruang tamu.

Begitu melihat Li Mu, ia langsung berlari, menahan bahunya dengan erat—suaranya gemetar penuh cemas:  
“Kamu ke mana aja?! Aku khawatir banget! Di sini penuh hantu! Kamu nggak apa-apa, kan?!”

Ada nada nyaris menangis di suaranya.

“Kamu…”

“Kami memang dirasuki hantu—tapi untungnya aku bawa hantu sendiri.”

Long Zihan membuka pintu kamarnya. Di dalam, tubuh roh Xiao Jing sedang menjaga dua roh berusia dua puluhan. Di sudut ruangan, seorang pria tinggi besar berbalik dan mengangguk pada Li Mu—itu pasti hantunya.

“Ini Da Zhuang, asisten andalanku!”

Comments (0)

Join the Discussion!

Share your thoughts and connect with other readers.

Login to Comment

No comments yet

Be the first to share your thoughts!