Chapter 202 Bab 202. Orang Tua
“Jadi dia benar-benar pacarmu, ya?”
Begitu masuk ke dapur bersama Bibi Cai, wanita itu menarik tangan Li Mu dan bertanya pelan.
“Hmm.” Di hadapan Bibi Cai, Li Mu sama sekali tak perlu khawatir soal identitas gendernya.
Meski Bibi Cai tahu Li Mu “laki-laki”, karena ia memperlakukan Li Mu seperti Lin Xi, ia sama sekali tak keberatan soal pacar atau hal semacam itu.
“Dia terlalu ganteng, kamu harus hati-hati,” nasihat Bibi Cai dengan nada pengalaman. “Lelaki itu gampang tergoda, apalagi dia yang tampan begini—pasti banyak cewek di sekitarnya.”
“Mending cari yang biasa aja penampilannya, tapi jujur dan tenang. Dia tipe yang bikin was-was.”
Li Mu mengangguk serius, “Mengerti. Tenang saja, nanti berapa pun uangnya, aku ambil semua. Kalau lelaki nggak punya uang, mana mau selingkuh.”
“Ah, ngaco! Ganteng itu bisa jadi makanan, nggak punya uang juga nggak masalah—banyak cewek yang rela bayarin dia.”
“Kalau begitu, kurung saja di rumah. Jangan biarkan keluar.”
“Zaman sekarang jaringan internet segampang ini—nggak keluar rumah pun cewek tetap bisa nyamperin dia!”
“Oke, berarti listrik, air, dan WiFi-nya diputus semua, terus diikat pakai rantai.”
Bibi Cai terdiam sejenak, alisnya berkerut. “Tapi… apakah itu nggak terlalu kejam? Lelaki juga perlu kebebasan, kan?”
Entah dari mana, Xiao Jing tiba-tiba nyelonong masuk, “Kak, itu ilegal, lho!”
Akhirnya Li Mu tersenyum. “Bibi Cai, tenang saja. Aku tahu persis dia itu orang seperti apa.”
Meski baru kenal Yu Fan beberapa bulan, awalnya mereka berdua berteman dekat layaknya saudara laki-laki—sahabat karib.
Dan seperti umumnya sahabat dekat, mereka sering ngobrol hal-hal ‘berwarna’.
Dulu, Yu Fan sama sekali tak sungkan padanya—nonton anime dewasa bareng, lempar-lemparan lelucon vulgar, ngomongin cewek, bahkan pernah telanjang di depan Li Mu tanpa rasa malu.
Akibatnya, Li Mu sudah tahu hampir semua pandangan Yu Fan soal perempuan, selera pribadinya, dan prinsip dalam hubungan asmara.
Memang tak ada jaminan Yu Fan nggak akan berubah di masa depan, tapi setidaknya untuk sekarang, Li Mu sangat percaya padanya.
Bibi Cai tak berkomentar lagi, dan mulai sibuk memasak. Li Mu membantunya, sementara Yu Fan dan Xiao Jing mengobrol santai di ruang tamu sambil nonton TV.
Dengan dua juru masak berpengalaman dan tanpa gangguan dari Yu Fan, sekitar jam sebelas lewat, beberapa hidangan rumahan sederhana sudah tersaji di meja makan.
Bagi penduduk lokal, masakannya biasa saja—tak istimewa, rasanya standar. Tapi begitu semuanya duduk, baik Bibi Cai maupun Li Mu tersenyum puas.
Xiao Jing ribut-ribut rebutan lauk dengan Yu Fan sambil memeluk milk tea-nya, Li Mu makan dengan tenang dan rapi, sedangkan Bibi Cai memandangi ketiganya dengan senyum hangat.
“Sudah lama… nggak seribut ini,” Bibi Cai berkata pelan, suaranya penuh kerinduan. “Dulu Lin Xi di rumah selalu bikin ribut. Kalau dia ada, nggak pernah ada momen sepi.”
Li Mu menatapnya. Melihat sorot mata Bibi Cai yang penuh nostalgia, ia memilih diam.
“Ribut dan bikin pusing. Waktu SMP dia nggak nurut—pernah kabur dari rumah, setiap hari mikirin cari kerja alih-alih sekolah.”
“Padahal wajahnya cantik. Kalau dia laki-laki, mungkin aku biarkan saja. Tapi cewek seusia itu keluar ke dunia luar… pasti nggak bakal berakhir baik.”
“Setelah masuk SMK, dia sedikit lebih tenang. Musim panas lalu bahkan bilang mau beliin aku kue ulang tahun… tapi…”
Li Mu mengerti perasaan Bibi Cai. Dulu, saat kedua orang tuanya baru saja pergi, hatinya pun hancur seperti ini.
Mereka sama-sama kehilangan orang tercinta—hanya saja, Li Mu kehilangan orang tua, sedangkan Bibi Cai kehilangan anak.
Tiba-tiba Li Mu berkata, “Orang tuaku juga sudah lama pergi. Sejak itu, aku sendirian terus.”
Xiao Jing dan Yu Fan langsung berhenti ribut. Mereka menoleh hampir bersamaan ke arahnya.
“Kak! Ada aku lho!” Xiao Jing bangga berdiri, dada dikembungkan, tangan di pinggang. “Aku selalu menemani Kakak!”
Li Mu meliriknya sinis.
Kalau bukan karena sekarang bisa melihat hantu, ia sudah lama menjual rumah berhantu itu—sering digangguin terus begini!
Itu namanya menemani? Yang bener aja!
Sepertinya sadar akan kelakuannya yang dulu, Xiao Jing buru-buru menunjuk Yu Fan, “Dia juga lho! Suamimu nanti pasti selalu menemanimu!”
Yu Fan tersipu, tapi tetap tersenyum—sama cerah seperti biasa, namun kini lebih hangat dan penuh perasaan.
Namun Bibi Cai tiba-tiba terdiam, “Kakak?”
“Iya! Kakak!” Xiao Jing mengangguk kuat-kuat. “Kakak itu selalu Kakak!”
“Oh—ternyata kau perempuan!” Bibi Cai tertawa tiba-tiba. “Wajar ya, kok bisa ada laki-laki yang mirip banget sama Lin Xi.”
Toh dulu Li Mu memang belum pernah tunjukkan KTP-nya, jadi ia biarkan saja kesalahpahaman itu.
“Kan aku juga sudah kehilangan anak, dan kau juga kehilangan keluarga…” Bibi Cai berkata hati-hati, seolah menguji.
Mungkin karena mewarisi sebagian memori Lin Xi, Li Mu sama sekali tak merasa asing atau menolak. Dengan tenang dan alami, ia memanggil, “Bu.”
Bibi Cai langsung mematung di tempatnya, menatap Li Mu tak percaya.
Nada suara itu—sama persis seperti cara Lin Xi memanggilnya dulu.
Ia semakin yakin bahwa Li Mu mungkin memang reinkarnasi atau wujud lain dari putrinya.
“Ya!” jawabnya, matanya berbinar. Keriput di wajahnya jelas terlihat, tapi justru membuatnya terlihat begitu hangat dan ramah. “Nanti kalau Paman Lin libur, datang lagi ya. Kita makan bersama, keluarga kecil kita.”
“Aku bawa mereka berdua,” kata Li Mu.
“Boleh, bawa saja,” Bibi Cai memandang Xiao Jing, lalu akhirnya menatap Yu Fan dengan tatapan kagum. “Pilihannya bagus banget—pacar sekeren ini, plus sifatnya juga baik.”
Yu Fan terkejut sejenak. Ia tahu Bibi Cai tadi sempat mengobrol rahasia dengan Li Mu. Bahkan kalau tak dengar langsung, Xiao Jing pasti sudah cerita semua.
Mungkin inilah yang disebut ‘karena sayang pada rumahnya, sampai gentengnya pun ikut disayang’—*ai wu ji wu*.
Setelah makan siang, Li Mu bertiga berpamitan pada Bibi Cai.
Paket wig-nya sudah sampai. Li Mu harus segera pulang, bersiap-siap, lalu berkunjung ke rumah kakeknya—kalau nggak pulang saat libur Tahun Baru Imlek nanti, pasti kakeknya akan mengomel terus.
“Kamu benar-benar mau jadi anak angkat Bibi Cai?” Yu Fan masih terheran-heran.
“Memanggil ‘Bu’ sekali saja, bisa bikin dia bahagia seharian.” Li Mu berjalan di depan, tampak acuh tak acuh.
“Kayaknya… bukan cuma karena itu aja, deh,” gumam Yu Fan. “Kamu pasti kangen orang tuamu.”
Li Mu menggeleng. “Nggak akan ketemu lagi. Mungkin mereka sudah meninggal.”
“Kok kedengarannya penuh dendam…”
Ia berhenti, menatap Yu Fan tanpa ekspresi. Yu Fan langsung terdiam, buru-buru menoleh ke samping sambil merasa bersalah.
“Kakak ipar, kenapa sih kamu selalu bilang yang ada di hati Kakak?” gerutu Xiao Jing.
Li Mu menjitak kepalanya. Xiao Jing langsung cemberut, matanya berkaca-kaca, lalu melayangkan wajah imutnya ke arah Li Mu, “Kaaak~”
“Jangan ribut. Ayo pulang.”
Ia berjalan duluan ke halte bus, lalu bersandar di tiang penunjuk rute.
Sudah ada Xiao Jing. Sudah ada Yu Fan.
Menginginkan orang tua kembali… rasanya terlalu tamak.
Ia sudah sangat puas dengan kehidupannya sekarang. Tak perlu menuntut lebih.
——————
Buku baruku ditolak lagi. Pusing banget.
No comments yet
Be the first to share your thoughts!