Enjoy an Ad-Free Experience High

Sign up to remove distractions and focus on what matters.

Volume 1

Chapter 171 Bab 171: Kencan?

Nov 25, 2025 1,223 words

Setelah berhasil membujuk Xiao Jing agar tetap di rumah, Li Mu dan Yu Fan naik bus menuju pusat kota kabupaten.

Akhir pekan membuat kota kabupaten jauh lebih ramai daripada hari biasa. Meski kebanyakan orang muda berusia dua sampai tiga puluhan telah pergi merantau ke kota besar untuk bekerja, kehadiran para pelajar yang masih bersekolah tetap membuat suasana kota penuh semangat.

Li Mu dan Yu Fan berjalan berdampingan dengan jarak sekitar setengah meter. Di kanan-kiri mereka berdiri bangunan tua yang rendah, pejalan kaki berdesakan di sepanjang jalan, sementara rindangnya pepohonan di atas kepala mereka nyaris menutupi sinar matahari.

Bangunan di pusat kota kabupaten umumnya rendah—rumah susunnya pun paling tinggi hanya tujuh atau delapan lantai. Gedung-gedung tinggi justru lebih banyak ditemukan di daerah pinggiran.

Suasana di antara mereka berdua agak aneh. Sejak naik bus tadi, mereka nyaris tidak berbicara sama sekali—masing-masing lebih sibuk dengan ponselnya sendiri.

Li Mu sesekali mencuri pandang ke arah Yu Fan, dan ia menyadari pipi pria itu tampak sedikit memerah.

*Eh, apa ini bisa disebut kencan?*  
Dalam hati, ia bertanya-tanya, dan tiba-tiba merasa gugup tanpa alasan.

“Mau minum milk tea? Dulu waktu aku sekolah di sini, aku sering minum milk tea di kedai ini. Rasanya lumayan enak,” kata Yu Fan sambil berhenti di depan sebuah kedai milk tea di tepi jalan.

“Boleh juga,” jawab Li Mu, meski sebenarnya ia tidak terlalu suka milk tea.

Harganya terlalu mahal. Dulu, waktu SD, segelas milk tea cuma tiga atau lima ribu rupiah—itu masih masuk akal. Tapi sekarang, bahkan hanya menambahkan pearl atau potongan kelapa muda saja, harganya sudah sekitar sepuluh ribu.

Yu Fan pergi ke konter, dan tak lama kemudian kembali membawa dua gelas milk tea. Matanya berbinar-binar, wajahnya tersenyum tipis.

“Coba ini. Cuacanya dingin, jadi aku pesankan milk tea cokelat buat kamu.”

“Hmm.”

Li Mu menerima gelas itu, lalu tiba-tiba teringat perkataan Yu Fan semalam. Ia ragu-ragu mengangkat kepala dan bertanya, “Minum milk tea bikin gemuk, kan?”

“Beratmu kan cuma sedikit di atas 50 kilo—takut gemuk kenapa?”

*Bohong! Tadi malam kamu diam-diam bilang aku gemuk!*

Meski saat itu agak mengantuk, ia tetap mendengar jelas—dan mengingatnya baik-baik.

Dalam hati mengeluh, Li Mu menyesap milk teanya. Rasanya seperti cokelat cair yang mengalir di lidah, membuat matanya sedikit terpejam.

Meski sebenarnya ia tidak terlalu suka cokelat, minuman hangat seperti ini memang cocok untuk musim dingin—badannya terasa lebih ringan.

“Gimana rasanya?”

“Agak terlalu manis.”

Li Mu hanya memegang gelasnya erat-erat setelah menyesap sekali.

Suhu udara sekitar 20 derajat, tapi angin dingin yang berembus di jalanan membuat kulitnya yang terbuka terasa sedikit kedinginan.

“Kamu kayaknya suka rasa yang agak ringan ya?” tanya Yu Fan, mencoba memahami selera Li Mu. Beberapa hal bisa dilihat dari kebiasaan sehari-hari, tapi ada juga yang harus ditanyakan langsung.

“Biasa saja, sih. Cuma tidak suka makanan yang terlalu berminyak atau terlalu manis… kecuali ayam goreng.”

Seakan merasa obrolan acak seperti ini terlalu canggung, Yu Fan akhirnya mengalihkan topik ke game.

Meski Li Mu tidak terlalu suka bermain game seperti remaja seusianya, ia sangat aktif menonton siaran langsung (live stream) game. Jadi, hampir semua game populer dan mainstream saat ini bisa ia ikuti dan berdiskusi dengannya.

Sambil berjalan dan mengobrol, jarak di antara mereka pelan-pelan menyempit—dari setengah meter, hingga akhirnya bahu mereka saling bersentuhan.

Li Mu mengangkat kepala, mencuri pandang ke Yu Fan—dan melihat pria itu buru-buru mundur selangkah dengan wajah gugup.

*Orang ini, dulu waktu itu berani banget nyerang langsung, sekarang malah penakut kayak burung puyuh.*

Bukan berarti Li Mu mengharapkan sesuatu, tapi perubahan sikapnya memang terasa aneh.

Meski Li Mu bukan tipe yang suka jalan-jalan, berjalan sambil ngobrol dengan Yu Fan terasa begitu menyenangkan—seolah topik pembicaraan tidak pernah habis. Perlahan-lahan, ekspresi dinginnya mulai mencair, bahkan langkah kakinya pun terasa lebih ringan.

Yu Fan menyadari perubahan itu, dan matanya langsung berbinar-binar.

Ia menyeka keringat di telapak tangannya dengan ujung bajunya, menelan ludah, lalu perlahan mengulurkan tangan dari belakang, berusaha memeluk pinggang Li Mu.

*Tapi, pasti Li Mu belum siap menerima tindakan selekatan ini, kan?*  
*Kemarin aja waktu pegang tangannya saja dia langsung melawan mati-matian.*

“Kamu bilang tadi mau bawa makanan apa buat Xiao Jing waktu pulang?” tanyanya cepat, sambil buru-buru menarik tangannya dan berpura-pura biasa saja.

“McDonald’s atau KFC saja, anak kecil kan suka makanan itu.”

“Cukup beli di Hua Laishi (Waralaba lokal sejenis KFC) saja, kan?” Li Mu mengerutkan dahi. “Toh Xiao Jing makan itu juga tidak akan mencret.”

Bagi Li Mu, Hua Laishi lokal entah karena bahan bakunya atau apa, selalu membuatnya mencret sepanjang hari—meski setiap kali ia tergoda oleh harganya yang murah.

“Itu terlalu asal-asalan.”

“Ya juga.”

Mereka tidak punya tujuan khusus, jadi berjalan tanpa arah hingga akhirnya sampai di Alun-Alun Rakyat kota kabupaten.

Kaki Li Mu mulai terasa pegal. Sejak mulai proses feminisasi, ia belum pernah berjalan sejauh ini sekaligus.

Ia duduk di bangku batu, menguap lesu sambil memandangi deretan lapak permainan di sekitar alun-alun—seperti menembak balon dan melempar cincin.

Yu Fan juga duduk dengan santai, bersandar di bangku. Tiba-tiba ia sadar: meski mereka belum pernah saling mengungkapkan perasaan, cara mereka berdua berinteraksi kini sudah terasa seperti pasangan kekasih.

Jadi… memeluk pinggangnya seharusnya tidak masalah, kan?

Matanya mencuri pandang ke pinggang ramping Li Mu, pikirannya mulai liar lagi.

Tangannya berkeringat lebih dari biasanya. Ia mengusapnya di celana, lalu diam-diam mengulurkan tangan sekali lagi—

“Menurutmu, Liu Shenglong tidak akan kenapa-kenapa, kan?”

Li Mu tiba-tiba bicara, membuat Yu Fan buru-buru menarik tangannya kembali. Ia langsung duduk tegak, berpura-pura serius menjawab, “Pasti tidak! Toh, lidahku juga tidak sejahat itu.”

“Kalau begitu, oke deh.”

“Mau main tembak balon?”

Sambil mengalihkan perhatian Li Mu dengan obrolan, tangannya kembali merayap pelan-pelan.

“Tidak juga. Cuma lihat-lihat boneka besar itu. Kalau beli satu buat Xiao Jing, dia pasti senang.”

“Kalau begitu, beli saja satu buat dia?”

Namun tiba-tiba Li Mu merasa ada yang janggal, lalu menoleh: “Kamu lagi ngapain?”

Beruntung Yu Fan langsung menarik tangannya—hampir saja ketahuan.  
“Tidak apa-apa. Cuma mau ambil ponsel.”

“Hai! Kakak!”

Tiba-tiba terdengar teriakan dari belakang. Li Mu dan Yu Fan bersamaan menoleh—dan melihat seorang pejalan kaki pria tampak sangat kesal.

“Peluk saja! Dasar pengecut! Aku aja yang nonton jadi ikutan gemes!”

Yu Fan terkejut, lalu tanpa berpikir lagi, ia langsung mengulurkan tangan dan memeluk pinggang Li Mu.

Tubuh Li Mu langsung menegang, wajahnya memerah dalam sekejap, lalu buru-buru berdiri hendak pergi.

Yu Fan masih memeluk pinggangnya, ikut berdiri, dan ketika menoleh—ia melihat kemerahan di wajah Li Mu sudah merambat sampai ke lehernya.

“Kamu masih memeluk!”

Li Mu berbisik kesal, “Semua orang lihat, lho!”

“Sudah dipeluk, ya sudahlah.”

Sudah berani menyerang—mana mungkin mundur lagi?

Ia jelas merasakan langkah Li Mu jadi kaku, tapi selain protes kecil tadi, gadis itu justru tidak melawan lebih jauh—sangat mengejutkan.

Yu Fan makin senang, sampai matanya menyipit karena tersenyum lebar.

“Di tempat umum begini…”

“Maksudmu, di rumah boleh?”

Telinga Li Mu langsung memerah seluruhnya. Ia mendongak, matanya yang besar dan penuh rasa malu menatap Yu Fan dengan lembut.

*Padahal aku tahu Yu Fan suka aku… Tapi kok tiba-tiba langsung dipeluk?*

Pikirannya kacau balau.

*Bukannya dia belum resmi mengungkapkan perasaan? Bukannya kami belum jadi pacar? Kenapa tiba-tiba melakukan hal yang terlalu intim begini?*

Comments (0)

Join the Discussion!

Share your thoughts and connect with other readers.

Login to Comment

No comments yet

Be the first to share your thoughts!