Chapter 3 Bab 003. Dirasuki Hantu
Barang di dalam tubuhnya?
Ekspresi Li Mu terlihat aneh.
Satu-satunya hal di tubuhnya yang mungkin bisa membuat hantu takut hanyalah air kencing perjaka—itu pun kalau legenda itu benar.
Bisa jadi tubuhnya sudah lebih dulu dirasuki hantu? Bahkan hantu yang lebih kuat daripada Lin Xi? Tapi sebelum kejadian ini, ia sama sekali belum pernah melihat hantu.
Alisnya berkerut, hatinya mulai gelisah.
Tak ada waktu lagi untuk memikirkan semua itu. Sekarang ia sedang dirasuki hantu, dan tubuhnya mengalami perubahan aneh yang tak bisa dijelaskan—bulu-bulu di lengannya telah rontok seluruhnya tanpa bekas.
Ia mengangkat tangan, mengusap dagunya perlahan. Sesudah itu, ia menunduk melihat ujung jarinya. Benar saja—beberapa helai rambut halus yang seharusnya menjadi kumis mulai rontok.
Bahkan kumis yang belum pernah ia cukur pun ikut rontok.
Kalau saja ia perempuan, mungkin ia akan senang mendapat kesempatan waxing tanpa rasa sakit. Tapi sayangnya, ia laki-laki.
Bus besar berhenti di halte tua yang sudah lama tak terurus.
Ini adalah kampung halaman ayah Li Mu. Beberapa tahun lalu, ia masih pulang ke sini setiap Tahun Baru Imlek. Namun sejak ayah, ibu, dan adik perempuannya meninggal dalam kecelakaan mobil, ia tak pernah lagi menginjakkan kaki di tempat ini.
Uang ganti rugi ratusan juta dari sopir bus itu—semuanya dibagi habis oleh para paman dan paman jauhnya yang berkedok "anak kecil belum mengerti uang". Untungnya, setidaknya rumah peninggalan orang tuanya tidak ikut dibagi, sehingga Li Mu masih memiliki tempat tinggal di kota kecil ini.
Saat ini, uang saku Li Mu sepenuhnya bergantung pada kakek dari pihak ibu—delapan ratus yuan per bulan. Untuk makan di kantin kampus, jumlah itu masih cukup. Kadang-kadang ia juga bekerja paruh waktu sebagai kurir pesanan daring, meski penghasilannya tak seberapa.
Setelah turun dari bus bersama hantu perempuan itu, Li Mu memandang sekeliling, mengenali lingkungan yang nyaris tak berubah selama bertahun-tahun. Ia lalu bertanya dalam dialek setempat kepada sesama penumpang yang baru turun:
“Mas, dengar-dengar di sekitar sini ada dukun yang sangat sakti?”
Sambil bertanya, ia mengeluarkan sebungkus rokok yang baru saja dibeli, lalu canggung menawarkannya.
Mungkin karena “AC Lin Xi” hanya berlaku untuk Li Mu saja, pria itu sama sekali tak merasa aneh. Ia menerima rokok itu, lalu menunjuk ke desa di seberang jalan:
“Katanya tinggal di desa seberang sana. Dekat kok. Dia buka toko obat—masuk saja langsung ketemu.”
“Terima kasih, Mas.” Li Mu mengeluarkan korek dan menyalakan rokok untuk pria itu.
Sikap hormat Li Mu tampaknya membuat pria itu senang. Ia menambahkan:
“Tapi katanya dukun itu baru saja meninggal beberapa hari lalu. Ada masalah apa, Nak?”
“Meninggal?” Hati Li Mu langsung bergetar. Ia memaksakan senyum tipis.
“Kalau begitu, Mas tahu nggak ada dukun atau dukun perempuan lain yang terkenal di sini?”
“Enggak pernah dengar. Yang terkenal cuma dia saja.”
Sayang sekali.
Li Mu menghela napas pelan dalam hati, lalu mengangguk berterima kasih sebelum berbalik. Senyum ramah tadi langsung menghilang dari wajahnya. Ia menyeberang jalan dan menuju desa di seberang.
Meskipun konon dukun itu baru meninggal beberapa hari lalu, desanya sama sekali tak terlihat sedang berkabung. Li Mu berjalan tak jauh—hanya beberapa ratus meter—dan segera menemukan sebuah toko obat kecil di pinggir jalan.
Pintu toko itu terbuka separuh. Li Mu tak langsung masuk. Ia berdiri di depan pintu kaca dan mengetuk dua kali.
“Ada orang di dalam?”
“Ada! Mau beli obat?” terdengar suara muda dari dalam.
Beberapa detik kemudian, seorang pria tampan muncul di ambang pintu.
Keduanya saling menatap—dan sama-sama terkejut.
“Li Mu? Kok kamu di sini?” tanya pemuda itu, terheran-heran.
Li Mu juga tercengang sejenak, tapi segera menyembunyikan ekspresinya.
“Yu Fan? Kamu ini…”
“Ini rumah kakekku. Beliau baru saja meninggal beberapa hari lalu. Aku pulang untuk membereskan barang-barang peninggalannya.”
Wah, benar-benar kebetulan.
Li Mu diam-diam melirik Lin Xi di sampingnya. Hantu perempuan itu tampak sangat bersemangat—hampir saja menubruk Yu Fan. Mulutnya terus bergumam:
“Ungkapkan perasaan! Ungkapkan cinta! Ayo! Biar aku yang bilang padanya!”
Li Mu mengabaikan celoteh hantu itu dan memperhatikan teman sekelasnya.
Yu Fan memang tampan—tinggi semampai, bahu lebar, postur tubuh sempurna seperti gantungan baju. Wajahnya tegas namun rupawan, dengan tulang wajah yang jelas dan fitur wajah tajam. Tubuhnya agak kurus, tapi senyumnya hangat dan ramah—tipe pria yang selalu menyenangkan semua orang, layaknya “AC sentral” versi manusia. Kalau dibandingkan dengan karakter anime, mungkin mirip Minato Namikaze.
Kalau sedikit dipoles, wajahnya bisa jadi bintang film.
“Jadi… kakekmu itu dukun terkenal itu?”
“Ya, tapi sudah meninggal beberapa hari lalu.” Ekspresi Yu Fan tak terlalu sedih. “Masuklah.”
Di dalam, toko itu benar-benar terlihat seperti apotek biasa. Yu Fan menyuguhkan secangkir teh, lalu kembali sibuk membereskan barang-barang.
Li Mu memandang sekeliling, lalu menghela napas kecewa. Dengan harapan tipis, ia bertanya:
“Aku ketemu hantu. Kamu ada cara nggak?”
“Hantu? Kakekku cuma pura-pura jadi dukun buat menipu orang tua. Kok kamu malah percaya?”
Kalau aku nggak beneran ketemu hantu, mana mungkin aku percaya!
“Aku nggak bercanda. Aku benar-benar dirasuki…” Li Mu duduk tegak, wajahnya tetap datar—ia memang tak pernah berharap banyak.
Yu Fan sudah terbiasa dengan sikap dingin Li Mu di kelas, jadi tak merasa terganggu. Setelah berpikir sejenak, ia berkata:
“Dulu kakek pernah bilang, penuhi permintaan hantu itu—nanti dia pergi sendiri.”
“Hah?”
“Biasanya hantu itu punya penyesalan atau keinginan terpendam. Kalau keinginan itu terpenuhi, hantunya akan lenyap.” Yu Fan mengangkat bahu sambil tersenyum. “Aku cuma ngomong doang ya. Dulu kakek sempat nganggap aku pewarisnya, tapi di zaman sekarang, pura-pura jadi dukun bisa masuk penjara.”
Li Mu justru terdiam merenung. Ia menoleh dan menatap Lin Xi dengan pandangan bertanya. Hantu itu langsung mengangguk-angguk semangat.
Oke, coba dipahami.
Lin Xi ingin mengungkapkan cinta pada Yu Fan. Tapi karena ia sekarang sudah jadi hantu, satu-satunya cara adalah merasuki tubuh Li Mu untuk mengutarakan perasaannya.
Artinya, di mata Yu Fan, yang sedang mengungkapkan cinta… adalah Li Mu sendiri.
Dan Li Mu—seorang laki-laki—akan dianggap sebagai pecinta sesama jenis atau orang aneh!
**Kenapa nggak cari hantu cewek lain buat nembak?! Kenapa harus aku?! Mau gila ya?!**
Li Mu langsung paham, dan marah-marah dalam hati sambil melotot ke Lin Xi.
Tapi hantu itu salah paham—mengira tatapan tajam itu artinya “setuju”! Setelah ragu sejenak, Lin Xi langsung membuka kedua tangan dan menubruk Li Mu dengan penuh semangat.
Jarak terlalu dekat. Li Mu nyaris tak punya waktu bereaksi. Ia terkejut hingga melompat berdiri, tapi tak sempat menghindar. Lin Xi dengan cepat menyatu kembali ke dalam tubuhnya.
Di sudut ruangan, Yu Fan yang sedang membereskan barang mendengar suara ribut. Ia mengangkat kepala, bingung melihat teman sekelas yang jarang ia perhatikan.
Ada yang aneh…
Li Mu yang biasanya pendiam dan dingin di kelas, kini… tersenyum manis seperti bunga mekar.
Ia melihat Li Mu berjalan mendekat dengan langkah meliuk-liuk, sikap tubuhnya tiba-tiba jadi sangat feminin.
“Eh… Yu Fan…” suara Li Mu tiba-tiba jadi lembut, kepala menunduk malu-malu, wajahnya memerah, telinga memerah.
“Ya?” Yu Fan bingung.
“Aku suka kamu!”
“???!”
“Aku diam-diam naksir kamu sejak kelas satu SMA! Surat cinta minggu lalu itu juga dariku… Aku—!”
Li Mu maju selangkah, tapi Yu Fan langsung melompat mundur ketakutan.
Ia menyadari pandangan Li Mu kini penuh kagum—gerak tubuhnya feminin, wajahnya yang memang lembut membuat semuanya tak terlalu aneh.
Tapi ini… ini…
Yu Fan mundur dua langkah lagi. Ia bahkan mencium aroma melati samar yang menguar dari tubuh Li Mu—dan tanpa sadar, ia menghirupnya lagi.
Wangi sekali…
Namun sesaat kemudian, ia langsung tersadar dan mulai meragukan orientasi seksualnya sendiri.
Apa… apa aku gay?
Author's Notes
Maksud "AC linxi" itu biasanya ada orang yang bilang klo semisal ada hantu deketmu, pasti suhu sekitarmu bakal dingin banget. Tpi dinginnya yang bikin dirimu merinding
No comments yet
Be the first to share your thoughts!