Chapter 18 Bab 018 – Gedung Terbengkalai
Teman Li Mu di kelas tidak banyak, jadi meski dirinya mengalami beberapa perubahan, sebagian besar siswa sama sekali tidak menyadarinya.
Karena kurang tidur dan seharian khawatir soal perubahan tubuhnya, Li Mu sepanjang hari melamun. Pelajaran pun tidak banyak ia dengarkan, dan tanpa sadar sudah masuk waktu malam.
Saat kembali ke asrama, Li Mu langsung menarik sebuah kursi dan duduk di depan cermin kamar, terdiam lama.
Jarang-jarang dia menatap dirinya sedetail itu.
Tapi begitu kembali melihat bayangannya, hal pertama yang dia rasakan adalah—dia terlihat lebih bersih.
Wajar, karena semua bulu halusnya hilang.
Ketika mendekat sedikit, ia menyadari wajahnya tampak lebih halus. Tidak terlalu jelas, tapi cukup membuat hatinya makin panik.
Bulu mata tampaknya sedikit lebih panjang, bahunya tampak mengecil, dan pergelangannya lebih ramping.
Bagaimanapun juga, dia seperti terus melangkah menuju jalan feminisasi.
Apakah suatu hari nanti dia bakal benar-benar berubah jadi perempuan? Bahkan kalau hanya berubah menjadi laki-laki berpenampilan wanita, dia juga tidak bisa menerimanya.
Padahal Lin Xi sudah lenyap seharusnya.
Satu-satunya hal yang masih bisa ia syukuri adalah “adik kecil”-nya masih baik-baik saja.
Tapi itu pun tidak mampu menahan rasa terperosok ke dalam jurang yang semakin dalam.
Wajahnya gelap, kedua siku bertumpu pada lutut, tubuh membungkuk, seluruh dirinya memancarkan aura dingin yang membuat teman sekamar saling pandang ketakutan.
Di asrama, satu-satunya teman Li Mu hanyalah Zhao Pan. Kesan teman-teman lainnya tentang Li Mu adalah: setiap hari wajahnya dingin dan tidak terlihat ramah, tapi sebenarnya dia lumayan baik dan hanya kurang suka bergaul.
Namun hari ini, Li Mu terlihat seperti mau membunuh orang.
Ngomong-ngomong… apa Lin Xi benar-benar sudah musnah?
Li Mu tiba-tiba terpikir hal itu.
Waktu itu Lin Xi menghilang saat kesurupan, dan Yu Fan pun tak lagi merasakan tekanan dari hantu. Karena itu mereka menganggap Lin Xi sudah menyelesaikan obsesinya dan lenyap.
Tapi bagaimana kalau sebenarnya Lin Xi hanya bersembunyi… di dalam tubuhnya?
Pikiran itu membuat Li Mu makin panik.
Kalau feminisasi ini disebabkan oleh hantu lain yang berkeliaran di sekolah, setidaknya masih bisa ditelusuri. Tapi kalau penyebabnya adalah Lin Xi yang bersembunyi di dalam dirinya… maka dia harus ambil cuti, lalu pergi ke tempat-tempat seperti Gunung Longhu atau Wutai untuk mencari biksu atau pendeta Tao.
Atau… berharap si Yu Fan yang tidak bisa dipercaya itu punya solusi?
Logikanya, pendeta dan biksu lebih bisa diandalkan dalam urusan mengusir hantu, daripada para dukun misterius yang tidak jelas kebenarannya.
“Ehm… Bang Mu?” Zhao Pan maju dengan hati-hati. “Kenapa bro?”
Li Mu mengangkat kepala, menatapnya serius. “Menurutmu, dua hari ini aku ada perubahan gak?”
Zhao Pan memandangnya kosong beberapa detik, lalu menggaruk kepala.
“Berubah… jadi lebih ganteng?”
Beberapa detik kemudian, dia seperti menemukan dunia baru dan langsung berseru:
“Bang Mu, kamu benar-benar makin ganteng! Aku sebelumnya gak sadar!”
Hmm.
Lumayan, hati lebih baik sedikit.
“Tapi… kayaknya juga lebih… eee… halus?”
Kata “halus” otomatis diterjemahkan Li Mu menjadi “feminin”.
Anak ini mau mati rupanya.
“Kamu punya hak apa ngomongin orang?” Li Mu membalas datar. “Kapan kamu mau pergi ke Thailand?”
Zhao Pan—yang jelas paling feminim dan paling pendek di kelas—masih saja berani bilang dirinya halus.
“Aduh, Bang… jangan gitu dong.” Zhao Pan meringis. “Emang gue agak lembut sih, tapi gue punya pacar loh.”
Li Mu langsung terdiam.
Kepala menunduk.
Tangan menutup wajah.
Aura gelap makin kuat.
Mmp!
Kenapa Zhao Pan saja bisa punya pacar sementara dia masih jomblo?
Pasti karena… standar gue terlalu tinggi!
(Yah, minimal itu bisa menenangkan hati.)
Setelah menghibur dirinya sendiri, Li Mu bangkit dan keluar dari asrama bersama teman-temannya.
Malam ini masih ada dua jam belajar mandiri.
Mau datang atau tidak terserah, karena tidak ada absensi dan tidak ada pelajaran. Tapi Li Mu ingin memanfaatkan waktu ini untuk keliling sekolah, mencari tahu apakah benar ada hantu di kampus.
Begitu keluar dari asrama putra, Li Mu berbelok menuju arah asrama putri.
Area sekolah sebenarnya tidak besar, semuanya dibangun mengelilingi gedung utama (gedung kantor).
Di depan gedung kantor ada panggung upacara dan lapangan. Di sisi depan terdapat gerbang sekolah.
Kiri depan: asrama putra dan kantin.
Kiri: ruang kelas, asrama, dan asrama putri.
Kanan dan kanan depan: gedung kelas dan gedung praktik.
Di bagian belakang juga ada sebuah gedung kelas, tetapi karena terlalu tua dan murid di sekolah semakin sedikit, gedung itu akhirnya ditutup.
Sudah bukan rahasia, kalau hantu sekolah biasanya muncul di gedung-gedung terbengkalai.
Jadi Li Mu melewati jalan rindang dan menuju gedung tua yang berada tepat di belakang asrama putri.
Tak disangka, di sana sudah ada dua laki-laki dan satu perempuan yang sedang menunjuk-nunjuk gedung itu, seolah membicarakan sesuatu.
Li Mu mendekat sedikit dan mendengar salah satu dari mereka sedang bercerita soal legenda sekolah.
“Katanya gedung ini tiga tahun lalu masih dipakai. Lalu ada seseorang yang dimutilasi di sini, dan pelakunya gak ketemu.”
“Setelah itu gedung ini mulai berhantu. Ada yang bilang boneka mereka atau bantal peluknya ditemuin robek-robek. Kadang ada jejak tangan berdarah di pintu. Makanya sekolah menutup gedung ini.”
“Dari pada gabut, gimana kalau kita masuk?”
Li Mu mendengar itu dan mendengus lemah.
Saat pertama masuk sekolah ini, dia juga pernah dengar cerita yang mirip. Klise. Ceritanya pasti murid yang dibunuh lalu gentayangan.
Dulu dia juga pernah ikut teman-teman masuk ke gedung itu. Satu putaran, keluar-keluar wajah penuh debu.
Seru sih…
Tapi sekarang dia sudah bisa melihat hantu. Masuk lagi ke tempat itu…
Tap!
Sebuah tangan menepuk bahunya.
Li Mu menoleh dengan tenang, dan mendapati Yu Fan tersenyum cerah padanya.
Seneng apaan, woy.
Sejak ditipu Yu Fan soal cross-dressing, Li Mu tidak tahan melihat senyuman “ceria” itu lagi.
“Kebetulan banget ketemu kamu.”
“Gak kebetulan.”
Sejak keluar dari asrama, Li Mu sudah sadar Yu Fan mengikutinya. Mungkin tujuan mereka sama.
“Ayo, muter-muter.” Yu Fan meregangkan tubuh lalu langsung berjalan menuju gedung tua itu.
Dibanding tiga siswa yang masih ragu-ragu, Yu Fan jauh lebih nekat.
Li Mu mengikuti dari belakang, pelan-pelan.
Jujur saja… dia agak takut.
Pengetahuannya soal hantu masih sangat minim.
Biarlah Yu Fan yang jalan dulu di depan—kalau beneran ketemu hantu, yang penting dia bisa lari lebih cepat dari Yu Fan.
No comments yet
Be the first to share your thoughts!