Enjoy an Ad-Free Experience High

Sign up to remove distractions and focus on what matters.

Volume 1

Chapter 166 Bab 166. Di Malam Hari

Nov 25, 2025 1,366 words

Sebenarnya Yu Fan bisa melihat bahwa Li Mu sudah mengantuk.  
Ia berjalan tepat di samping Li Mu, naik lift bersama, lalu masuk ke apartemennya.  

Begitu pintu dibuka, ia langsung melihat Liu Shenglong duduk meringkuk di pojokan, sementara Xiao Jing berdiri di depannya memperagakan adegan mengerikan—kepala terpisah dari tubuh, tangan terputus, lengan dipotong seperti pahlawan yang memotong pergelangannya sendiri…  

Liu Shenglong memang hantu, tapi mana pernah ia menyaksikan adegan seaneh ini? Seluruh tubuhnya gemetar ketakutan, meringkuk di sudut seperti ingin menghilang.  

“Xiao Jing, camilan.”  
Li Mu segera menghentikan aksi Xiao Jing.  

Xiao Jing akhirnya menoleh ke arah pintu. Begitu melihat Yu Fan, matanya langsung berbinar, lalu berlari riang menghampiri.  
“Kak Yu Fan! Kamu datang?”  

“Kebetulan ketemu di minimarket tadi.” Yu Fan tersenyum sambil mengelus kepala Xiao Jing, lalu meletakkan barang-barang belanjaannya di atas meja TV. “Ini, aku beli banyak camilan, ambil saja.”  

“Berarti aku tidur di luar malam ini ya?”  
“…”  
Li Mu meliriknya dengan tatapan tajam, tapi tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengambil sebungkus pembalut dari tas belanjaan lalu masuk ke kamar mandi.  

Yu Fan sekilas menatap Liu Shenglong yang berusaha terlihat ‘tak ada’ di pojokan itu, lalu membawa Xiao Jing masuk ke kamar tidur.  

Sebelumnya Li Mu memang bilang ingin nonton film horor, jadi Yu Fan pun mulai mencari film horor terbaru dengan rating tinggi di komputer Li Mu.  
Meski mungkin film semacam ini tak akan terlalu menakutkan bagi mereka berdua—apalagi ditambah satu hantu—tapi siapa tahu bisa memberi inspirasi saat mereka menghadapi hantu betulan lagi.  

Xiao Jing sendiri tidak terlalu tertarik dengan film. Ia langsung mengambil sebungkus keripik, meminta ponsel Yu Fan, lalu asyik bermain game.  
“Jangan sembarangan beli item ya,” Yu Fan menoleh dan mengingatkan.  
Ia pernah jadi korban sebelumnya: dulu sepupunya yang masih kecil meminjam ponselnya, dan dalam hitungan jam, uang Rp450 ribu di rekeningnya habis terpakai untuk pembelian dalam game. Anak itu malah bilang dengan polos, “Aku kira itu bukan uang beneran.”  

“Aku tahu kok!”  
Yu Fan merasa Xiao Jing memang agak ceroboh, tapi masih cukup mengerti aturan, jadi ia pun tenang kembali dan melanjutkan pencarian film horor yang menarik.  

Tak lama kemudian, Li Mu masuk ke kamar. Ia melirik sebentar, lalu keluar sebentar untuk mengambil sebuah kursi.  
Kemudian duduk di samping Yu Fan, menekuk tubuhnya, memeluk kedua lutut, dan memicingkan mata sambil melihat Yu Fan mengoperasikan komputer.  

Mungkin karena sebelumnya mereka belum pernah duduk berdua dalam suasana yang begitu tenang, Li Mu tiba-tiba menyadari ada aroma samar yang berasal dari tubuh Yu Fan.  
Bukan aroma sabun mandi atau sampo, juga bukan bau keringat—melainkan sesuatu yang segar dan lembut, cukup enak dihidung.  

Ia mengendus beberapa kali, berusaha mengenali asal aroma itu. Namun tepat saat itu, Yu Fan menoleh ke arahnya.  
Wajah Li Mu langsung memerah.  

Saat mengendus, ia tak merasa aneh—tapi ketahuan begini, rasanya seperti... orang aneh.  

“Film ini gimana?” tanya Yu Fan.  
Li Mu hanya melirik layar sekilas lalu mengangguk. “Boleh.”  

Camilan yang dibawa Xiao Jing ditumpuk di atas meja komputer sampai penuh. Gadis kecil itu sepertinya sadar tak ingin mengganggu, jadi ia membawa camilannya ke ujung tempat tidur, bermain game sambil sesekali melirik ke arah mereka berdua, lalu tersenyum-senyum geli seperti orang yang sedang ‘naksir-naksir’.  

Mereka tidak menyadari tatapan Xiao Jing. Film pun sudah dimulai, volume suara dikeraskan sedikit agar menutupi suara kendaraan di jalan luar.  

“Kayaknya kali ini kamu nggak terlalu sedih ya?”  
“Hmm… udah mulai terbiasa.”  

Li Mu sangat menikmati suasana seperti ini. Yu Fan tidak usil, tidak seperti di sekolah yang suka menggoda atau bercanda berlebihan. Ia hanya duduk tenang, makan camilan, nonton film, dan sesekali mengobrol ringan.  

Namun rasa kantuk kembali menyerang, membuat kelopak matanya terasa berat.  

“Terus, rencanamu ke depan gimana?”  
“Sekolah, kuliah, jadi karyawan kantoran.”  
Setelah menjawab, Li Mu menambahkan, “Yang penting Xiao Jing temani aku. Dia sekarang hampir kayak orang normal. Aku juga pengin bawa dia jalan-jalan keliling dunia, lihat tempat-tempat baru.”  

“Kalau… menikah gimana?”  
“Masih belum bisa nerima sih. Sekarang kan banyak juga yang memilih hidup tanpa menikah. Menurutku juga oke-oke aja.”  

Yu Fan ingin berkata sesuatu, tapi melihat sorot mata Li Mu yang penuh kebingungan, ia memilih diam dan kembali fokus menonton film.  

Film ini merupakan salah satu film horor terbaik dua tahun terakhir—hampir semua penonton memberi ulasan positif.  

Li Mu tampak cukup fokus, berusaha memakai efek menegangkan dari film itu untuk melawan kantuknya. Namun Yu Fan malah sering melamun, sesekali mencuri pandang ke arah Li Mu di sampingnya, pikirannya mulai bermain-main lagi.  

Tepat saat itu, Xiao Jing tiba-tiba keluar kamar—dan sengaja mematikan lampu.  

Kalau sendirian, film horor memang menakutkan. Tapi kalau nonton berdua, apalagi laki-laki dan perempuan… bukankah ini kesempatan sempurna?  
Yu Fan diam-diam berharap Li Mu akan takut dan memeluk lengannya, atau gemetaran hingga butuh pelukannya yang hangat.  

Tapi setengah jam berlalu, Li Mu memang meringkuk—namun tangannya hanya menyangga dagu, matanya mengantuk, dan mulutnya terbuka lebar menguap berulang kali.  

“Seru nggak?”  
“Seru,” jawab Li Mu sambil mengangguk kuat-kuat. “Beneran bikin takut.”  
“…”  

Yu Fan terdiam. Ia sama sekali tak melihat ekspresi ketakutan di wajah Li Mu.  
Kalau benar-benar takut, mana mungkin mengantuk begini?  

Padahal film ini memang bagus—musik latar, penampakan hantunya, atmosfer menegangkannya, bahkan latar cerita yang bikin merinding—semuanya sangat solid.  

Tapi Li Mu sudah mengantuk sejak awal, jadi ia tidak benar-benar memperhatikan alur ceritanya. Dan karena ia sudah terbiasa menghadapi hal-hal gaib, efek horornya pun jadi kurang mempan.  

Setengah jam berikutnya berlalu. Yu Fan menghela napas, masih belum melihat tanda-tanda Li Mu takut.  
Ia baru saja ingin mengusulkan ganti film, tapi tiba-tiba merasa bahunya jadi lebih berat.  

Ia menoleh—ternyata Li Mu sudah tertidur, kepalanya bersandar di bahunya, separuh tubuhnya menumpu pada Yu Fan.  

“Udah tidur?” bisiknya hati-hati.  

Tak ada jawaban. Yu Fan perlahan menyesuaikan posisi kepala Li Mu agar tidak salah posisi dan sakit leher saat bangun nanti.  
Tak bisa dipungkiri—tubuh Li Mu terasa sangat lembut.  
Dan ada aroma melati yang familiar—meski berasal dari makhluk gaib, tapi justru menambah nuansa romantis di suasana malam itu.  

Yu Fan diam membeku, takut gerakan kecil pun akan membangunkannya.  

“Gimana kalau kamu tidur di tempat tidur aja?” bisiknya pelan.  

Tak ada respons. Malah terdengar suara dengkuran pelan dari Li Mu.  
Yu Fan makin tak berani bergerak.  

“Jadi… aku harus duduk begini sepanjang malam?”  
Ia bergumam pelan.  

Setelah setengah jam membiarkan Li Mu bersandar, punggungnya mulai pegal. Ia tak tahan lagi.  

Perlahan, ia menyangga kepala Li Mu dengan satu tangan, membaringkannya sedikit, lalu berdiri dan menyelipkan tangan satunya di balik lutut Li Mu.  

Saat mengangkat, hampir saja pinggangnya keseleo.  
“Kamu harus kurusan deh,” keluhnya pelan.  

Dengan usaha ekstra, akhirnya ia berhasil mengangkat Li Mu dalam gendongan ala putri.  
Dengkuran Li Mu tiba-tiba berhenti—membuat gerakannya terhenti sejenak.  
Tapi setelah menunggu lama, tak ada tanda Li Mu akan terbangun.  

Yu Fan pun semakin hati-hati membawanya ke tempat tidur, lalu meletakkannya perlahan.  

“Film aja nggak selesai ditonton.”  
“Baru separuh udah ketiduran.”  

Ia duduk di lantai, menunduk di tepi tempat tidur, memandangi wajah Li Mu yang tertidur lelap dalam cahaya redup layar komputer.  

“Harus diakui, kamu kelihatan lebih cantik pas tidur.”  
“Kalau bangun, sikapmu terlalu dingin.”

Comments (0)

Join the Discussion!

Share your thoughts and connect with other readers.

Login to Comment

No comments yet

Be the first to share your thoughts!