Enjoy an Ad-Free Experience High

Sign up to remove distractions and focus on what matters.

Volume 1

Chapter 105 Bab 105. Kesalahpahaman

Nov 24, 2025 1,109 words

Ren Tianyou sedang pergi membeli sarapan.

Sejak malam itu ketika dia bertemu orang gila saat bekerja sebagai sopir, pola hidupnya justru makin membaik. Akhir-akhir ini rambutnya sudah tidak rontok lagi, tubuhnya terasa lebih bertenaga, bahkan wajahnya terlihat jauh lebih sehat.

Namun saat ia membuka pintu rumah, ia mendapati pintu rumah di seberang—rumah Li Mu—terbuka sedikit dan tidak tertutup rapat.

Jadi ia pun menarik pintu rumah Li Mu dan masuk, berniat menanyakan apakah Li Mu ingin dititipi sarapan juga.

Kemudian, ia melihat seorang pria setengah telanjang muncul di dalam rumah Li Mu.

Keduanya saling bertatapan. Sesaat lamanya, tidak ada satu kata pun terucap.

“Kau…” Ren Tianyou benar-benar tidak bisa memahami kenapa teman sekelas Li Mu bisa muncul di sini, dan apalagi dalam keadaan setengah telanjang.

Yu Fan menunduk, melihat penampilannya sendiri, dan seketika tidak tahu harus menjelaskan apa.

“Aku…” ia sempat panik, tapi tiba-tiba menyadari bahwa sebenarnya ia tidak perlu panik. “Aku semalam minum di rumah Li Mu, terus muntah ke seluruh pakaian, jadinya begini.”

Ren Tianyou mengangguk. Aku percaya apanya…

Jika Li Mu masih seperti dulu—tampak sedikit lembut dan berwajah imut laki-laki—mungkin Ren Tianyou tidak akan berpikir macam-macam. Tetapi setelah pemeriksaan kemarin, ia tahu bahwa Li Mu sebenarnya adalah perempuan. Bahkan seorang perempuan yang penampilannya cantik, tapi cara berpikirnya seperti laki-laki.

Li Mu baru saja mengalami pukulan berat, sulit menerima kenyataan bahwa dirinya perempuan. Saat ini, ia sedang rapuh dan karena merasa dirinya laki-laki, ia tidak punya kewaspadaan terhadap laki-laki lain. Ini adalah kondisi paling mudah dimanfaatkan.

Dan para brengsek paling suka perempuan yang sedang terpuruk dan polos—yang mudah dimanfaatkan.

Ren Tianyou menatap Yu Fan dari atas ke bawah, lalu melihat wajah tampannya yang cerah seperti tipe “playboy standar”. Seketika, amarah yang tidak diketahui asalnya naik memenuhi dadanya.

Ini adik yang sudah kuanggap seperti adik kandung sendiri selama bertahun-tahun!
Masa mau ditipu begitu saja?

Ia menarik napas panjang berkali-kali, berusaha menekan emosinya. Lalu dengan mata membelalak, ia bertanya:

“Kau melakukan apa pada Li Mu?”

Ia tahu ia tidak boleh terburu-buru. Bagaimanapun juga, mungkin saja ini hanya kesalahpahaman.

“Hah?” Yu Fan makin bingung.

Memang ia tahu mungkin akan disalahpahami, tapi ia tak menyangka pria ini bisa salah paham secepat itu.

“Aku dan Li Mu sama-sama laki-laki, apa yang bisa kulakukan?” Ia mundur dua langkah, mencoba menjelaskan lagi, “Benar-benar cuma minum sedikit… lalu aku mabuk…”

“Alasan klasik. Setelah itu mau kabur tanpa tanggung jawab?”

“……”

Pintu terbuka lagi, dan Li Mu masuk sambil membawa dua kantong sarapan.

“Apa yang nggak mau tanggung jawab?” tanya Li Mu saat melihat keduanya seakan siap berkelahi.

Ren Tianyou cepat-cepat berbalik, menunjuk Yu Fan, hampir gagap. “Dia… dia!”

“Dia lihat aku nggak pakai baju terus salah paham,” Yu Fan menerima sarapan dari tangan Li Mu dengan wajah putus asa. Gumamnya, “Kita berdua laki-laki, kok bisa salah paham juga? Tetangga kamu ini jangan-jangan gay?”

Tatapan Li Mu pada Ren Tianyou langsung menjadi dingin. “Kak Tianyou, kamu pikir semua orang sama kayak kamu?”

Ren Tianyou terdiam tanpa bisa mengatakan apa pun. Hanya bisa melihat Li Mu dan Yu Fan duduk berdampingan di sofa, menunduk dan makan sarapan bersama.

Tapi… kalian berdua benar-benar terlihat seperti pasangan.

Dulu saat masih menganggap Li Mu laki-laki, ia tidak akan berpikiran sejauh itu, paling hanya mengira mereka dekat.

Ia akhirnya menghela napas. “Kamu hati-hati. Situasimu sekarang berbeda.”

“Oh.”

“Dan… kamu nggak mau sewa tempat tinggal dekat sekolah?”

“Tidak perlu.”

Bagaimanapun juga, ujian masuk perguruan tinggi tinggal beberapa bulan. Li Mu malas repot.

Lagi pula, meski para penghuni asrama sadar ia sedikit berubah, tidak ada yang merasa keberatan.

Ren Tianyou mengangkat bahu. “Ya sudah. Yang penting hati-hati. Aku berangkat kerja.”

Setelah ia pergi, Yu Fan meluruskan punggung dan bertanya bingung, “Kenapa dia nyuruhmu sewa tempat di luar? Tinggal di asrama kan enak?”

“Orangnya memang agak aneh,” kata Li Mu kesal karena Tianyou salah paham soal dirinya dan Yu Fan.

Yu Fan merasa Li Mu pasti menyembunyikan sesuatu. Tapi karena Li Mu tidak mau cerita, ia juga tidak berani mengira-ngira sembarangan.

Apa karena feminisasi?
Atau hasil pemeriksaan medis?
Apa dia kena penyakit serius?
Atau… dia benar-benar sudah jadi cewek sepenuhnya?

“Jangan-jangan dia pikir kamu makin feminin, tinggal di asrama takut ada yang… ya, kamu tau lah.” Yu Fan bercanda. Namun Li Mu hanya memberi tatapan dingin.

Yu Fan langsung berhenti bicara, menunduk seperti anak kucing. Ia makan dengan patuh sambil memesan celana dalam baru lewat aplikasi.

Sampai sekitar jam delapan pagi, barulah ia benar-benar lepas dari selimut AC. Ia berjalan keliling rumah hanya memakai celana dalam, lalu mengambil kembali pakaiannya yang belum kering di balkon. Ia mengeringkannya dengan hair dryer.

Ia hampir gila tinggal di situ: tidak ada komputer, tidak ada wifi, Li Mu sedang tidak bisa diajak bercanda, dan ia hanya bisa nonton TV atau nonton video pakai kuota. Membosankan sekali.

Setelah sarapan, Li Mu duduk di sofa menonton TV. Ia dan Xiao Jing menonton Boonie Bears dengan sangat serius.

“Boleh nggak aku pinjam komputermu?” tanya Yu Fan.

“Boleh, password-nya 123.”

Yu Fan langsung lega dan berlari ke kamar Li Mu untuk main komputer.

Kamar itu wangi lembut. Tadinya ia kira itu aroma tubuh Li Mu, tapi ketika menoleh, ia melihat botol aromaterapi di samping komputer.

Kamar itu bersih dan rapi, cocok dengan imej Li Mu yang dingin dan bersih. Bahkan bantal di tempat tidur masih sedikit basah.

Li Mu tadi pagi benar-benar menangis.

Sebelumnya ia ragu apakah suara tangisan yang ia dengar itu nyata atau hanya halusinasi, karena setelahnya Li Mu tampak terlalu tenang.

Komputer juga sangat rapi, dengan hanya beberapa ikon software tersusun vertikal.

Yu Fan sempat ingin membuka folder-folder komputer itu, tapi setelah ragu sejenak, ia mengurungkan niat. Ia membuka game dan mulai bermain.

Tak lama kemudian, Li Mu masuk membawa kursi dari ruang tamu dan duduk di sebelahnya.

“Kebetulan aku bisa ajarin kamu main Dota. Kalau lewat voice chat kadang suka susah dijelasin,” kata Yu Fan cepat, pikirannya langsung fokus ke game.

Namun Li Mu malah berkata, “Xiao Jing kayaknya kondisinya nggak terlalu baik.”

“Hah?”

“Dia kayaknya nggak seaktif biasanya.”

Yu Fan terdiam sejenak, lalu tersenyum sambil melihat wajah Li Mu yang tampak sedih. “Nggak apa-apa, dia nonton TV semalaman. Capek kali.”

“Ya juga.”

“Oh iya, kamu sebelumnya bilang mau pulang kampung?”

“Udah nggak jadi.”

Bagaimanapun juga, ia sudah berubah jadi cewek. Sekalipun menemukan cara untuk mengatasi masalahnya, hasilnya tetap tidak akan berubah. Urusan mencari orang tua pun tidak mendesak; sebagai seorang pelajar, ia tidak punya waktu dan peluangnya juga kecil.

Comments (0)

Join the Discussion!

Share your thoughts and connect with other readers.

Login to Comment

No comments yet

Be the first to share your thoughts!