Enjoy an Ad-Free Experience High

Sign up to remove distractions and focus on what matters.

Volume 1

Chapter 157 Bab 157: Memimpin Serangan

Nov 25, 2025 1,146 words

Seorang pria tinggi kurus mengeluh bersama dua temannya tentang buruknya infrastruktur kota kecil ini, sambil memegang pegangan tangga dan menuruni dua anak tangga sekaligus.

“Kayaknya seluruh daerah ini mati listrik.”

“Kalau di sini listrik mati, pasti warnet bakal penuh, kan?”

“Makanya cepetan dong, brengsek! Jangan lemot! Nanti kehabisan tempat!”

Sambil terus mengomel, mereka berjalan menuruni tangga—namun tiba-tiba si pria tinggi kurus berhenti mendadak. Ia menatap ke bawah dengan tatapan bingung.  
“Baru saja kayaknya aku nyenggol sesuatu?”

“Mungkin botol yang jatuh dari meja. Gak usah dipikirin.”

Hotel ini, selain dekorasi lukisan, juga memajang berbagai ornamen modern—botol-botol dan guci bergaya antik untuk menonjolkan kesan mewah.  
Karena cahaya korek api tak cukup menerangi lantai, mereka tak terlalu peduli dan langsung pergi.

Begitu mereka menghilang di lantai bawah, Zhang Hui muncul dengan hati-hati, memegang sebatang lilin pernikahan.

Awalnya, ia berencana mengurung diri di kamar sepanjang hari, menunggu kelompok orang aneh yang dicurigainya sebagai hantu itu pergi. Tapi malam hari, perutnya tak tahan lagi, jadi ia turun ke ruang santai lantai dua untuk makan.

Setelah makan, ia malas naik lift, jadi memilih tangga—dan iseng-iseng mampir ke aula pesta pernikahan di lantai tiga. Tapi tiba-tiba seluruh tempat gelap gulita.

Aula pernikahan langsung kacau. Sebagian besar tamu langsung pergi meninggalkan hotel, hanya menyisakan beberapa kerabat pengantin yang sedang mengomeli manajer hotel.

Zhang Hui menganggap ini cuma pemadaman listrik biasa. Ia khawatir terjadi kecelakaan saat orang-orang turun dalam kegelapan, jadi menunggu hingga hampir semua orang pergi dulu, baru mengambil lilin pernikahan untuk kembali ke kamarnya.

“Kayaknya tadi dengar suara sepupuku?”  
Ia menoleh ke atas, menggaruk kepala, lalu mengabaikannya dan melanjutkan turun.

Namun, begitu tiba di area setengah jalan antara lantai satu dan dua, ia tiba-tiba mendengar suara nyaring dari sudut gelap:

“Tunggu! Tunggu aku!”

Keringat dingin langsung membasahi punggung Zhang Hui. Ia menoleh ke sudut itu, jantungnya berdegup kencang seakan hendak meledak dari dada.

“Jangan bilang... lagi-lagi sial gini?”

Ia bergumam pelan, ingin cepat pergi—tapi kakinya tak bisa bergerak.

Bagaimana kalau itu anak kecil yang tertinggal dan menangis dalam gelap?

Meski dulu suka bolos sekolah dan jadi preman kecil, pengalaman bertugas di militer telah membentuk moralnya. Ia tak tega mengabaikan kemungkinan itu.

Dengan napas gemetar, ia menahan rasa takut, mengangkat lilin perlahan ke arah sudut gelap itu, lalu berbisik, “Nak, kamu baik-baik saja?”

Nyala lilin yang bergetar mengusir kegelapan—dan yang terlihat hanyalah sebuah bola hitam pekat di pojok lantai.

Zhang Hui menelan ludah, lalu dengan hati-hati menendangnya pelan.

Bola itu berguling dua kali. Di bawah cahaya kuning redup, wajah terkejut yang terdistorsi oleh cahaya lilin perlahan terlihat.

“Eh? Kok kamu lagi?”

Jantung Zhang Hui seakan berhenti. Wajahnya langsung pucat pasi, lututnya melemah, dan ia terduduk jatuh ke lantai dengan mata melotot.

Beberapa detik kemudian, ia tak kuasa menahan teriakan:  
“AAAAHHH!!!”

Hampir bersamaan, suara langkah kaki cepat terdengar dari atas, disertai teriakan panik:

“Xiao Jing! Kamu bikin orang kaget lagi!”

“Tadi udah bilang jangan bawa dia keluar!”

“Cepetan! Jangan sampe orangnya mati ketakutan!”

Li Mu muncul pertama kali dalam pandangan Zhang Hui. Ia memegang tangan kecil, dan ketika Zhang Hui mengikuti arah tangan itu—yang terlihat hanyalah seorang gadis tanpa kepala.

“Hah… hah…”

Napas Zhang Hui memburu seperti mesin pompa, wajahnya kaku, pikirannya kosong.

Saat itu, tubuh Xiao Jing melihat kepalanya di lantai, langsung berlari riang menghampiri. “Akhirnya ketemu kepala aku!”

Ia mengambil kepalanya, lalu menoleh ke Zhang Hui yang masih terduduk kaku. Setelah berpikir sejenak, ia mengulurkan kepalanya dengan senyum lebar—senyum yang terlihat mengerikan dalam cahaya redup—dan berkata riang,  
“Nih! Ini kepala aku! Cantik kan?”

“......”

“Sudah, jangan iseng!” Li Mu mendekat, melirik sepupunya yang masih terpaku di lantai, lalu menghela napas kesal. “Bukannya udah kubilang balik ke kamar lebih awal?”

“Dasar orang paling sial sedunia,” Yu Fan tertawa geli dari belakang.

Chen Yi batuk pelan. “Sudahlah, kita masih ada urusan. Ayo jalan.”

Xiao Jing cemberut karena dimarahi, lalu mengangkat kepalanya dan bersiap menempelkannya kembali—tapi tiba-tiba Zhang Hui bersuara:

“Jadi... ini beneran hantu?”

Mungkin karena sudah terlalu sering mengalami hal aneh hari ini, Zhang Hui tiba-tiba merasa tak terlalu takut lagi.  
Setidaknya, hantu di depannya ini tampaknya tak berniat mencelakainya—tak seperti di film horor yang selalu ingin membunuh.

“Kalau bukan, lalu apa?” Xiao Jing mendelik.

Tubuh Zhang Hui sedikit rileks. Ia menelan ludah, lalu bertanya gugup, “Terus...”

Tiba-tiba, sebuah tangan muncul dari balik punggung Xiao Jing, menyambar rambutnya dan merebut kepalanya!

Xiao Jing terperangah, meraba-raba kepalanya yang hilang, lalu berbalik “menatap” ke belakang.  
“Eh?”

Sebilah pedang lurus tiba-tiba dilempar—“JRENG!”—meluncur deras dan menancap tepat di bayangan di dinding. Gagang pedang bergetar, mengeluarkan dengungan nyaring.

“Sialan!” Chen Yi mengumpat. “Ketangkep!”

Pedang itu memancarkan garis-garis merah tipis yang menjalar ke dalam bayangan, mengikat sosok berbentuk manusia yang tersembunyi di dalamnya. Salah satu tangan bayangan itu masih terjulur keluar—menggenggam kepala Xiao Jing.

Yu Fan dan Li Mu baru tersadar, terperangah menatap dinding di belakang Xiao Jing, lalu ke arah Chen Yi yang tiba-tiba bertindak gesit.

Selama ini, kesan Chen Yi bagi mereka hanyalah pria paruh baya yang ramah. Kini, mereka baru sadar bahwa pria ini ternyata sangat tangguh.

“Udah ketangkep?” Yu Fan masih tak percaya. “Ngapain dia nyolong kepala Xiao Jing?”

“Mungkin dia mengincar tubuh Xiao Jing,” jawab Chen Yi.

Tubuh Xiao Jing memang istimewa—memiliki indera peraba, bisa merasakan rasa, dan tak mudah membusuk.

Li Mu mendekat, mengambil kepala Xiao Jing dari tangan bayangan itu, lalu penasaran menatap tangan yang masih muncul dari permukaan dinding.

Setelah mengembalikan kepala ke Xiao Jing, keempatnya kembali bingung.

Menangkap hantu tanpa menemukan wujud aslinya percuma saja.  
Apalagi hantu ini hanya mengeluarkan satu tangan dari dalam bayangan—memotong tangannya pun mungkin tak akan mempan.

“Gimana nih?” tanya Yu Fan.

Empat pasang mata—termasuk Chen Yi, Li Mu, dan Xiao Jing—secara bersamaan menoleh ke arah Zhang Hui yang masih duduk mematung di lantai.

Zhang Hui yang sudah bingung sejak tadi, kini jadi semakin bingung.

“Kakak,” kata Li Mu tiba-tiba tersenyum manis, matanya bersinar seperti bulan sabit. “Kamu tunggu di sini, ya. Jangan sampai orang lain lihat hantu ini.”

“???”

“Kami mau cari wujud asli hantunya. Kalau bawa kamu keliling juga nggak enak.”

“Hah?”

Sebelum Zhang Hui sempat menjawab, Chen Yi sudah berbalik dan naik tangga. “Xiao Jing, ikut aku. Kita periksa lukisan di kamar-kamar.”

“Yuk, yuk!” Xiao Jing berlari riang sambil memeluk kepalanya, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi sambil berteriak gembira,  
“AKU YANG PIMPIN SERANGAN! Horee~!”

Yu Fan langsung melihat ini sebagai kesempatan emas. Ia tersenyum lebar pada Li Mu. “Kalau gitu, kita…”

“Jalan,” potong Li Mu datar—lalu langsung berbalik dan pergi tanpa menoleh lagi.

Comments (0)

Join the Discussion!

Share your thoughts and connect with other readers.

Login to Comment

No comments yet

Be the first to share your thoughts!