Enjoy an Ad-Free Experience High

Sign up to remove distractions and focus on what matters.

Volume 1

Chapter 33 Bab 033. Kamu Ngutuk Aku, ya?

Nov 22, 2025 1,031 words

“Kapan kamu punya otot dada?”
Li Mu tertegun. Yu Fan juga sama bingungnya sambil menoleh ke samping. Bahkan bibi yang tadi masih ingin memarahi Ren Tianyou ikut menatapnya.
Dalam sekejap, semua orang di meja makan serempak menatap Li Mu yang kebingungan.
Ia pun menunduk, diam-diam melihat dadanya sendiri.
Sedikit menonjol, dan dua titik yang tampak jelas.
“Akhir-akhir ini… gemukan,” ujarnya tenang.

Sebenarnya ia ingin bilang kalau itu hasil latihan dada, tapi Ren Tianyou tahu kalau dia sekarang sama sekali nggak punya otot.
“Mau ke rumah sakit?” tanya si bibi khawatir.
“Enggak perlu.” Li Mu menggeleng pelan dan kembali makan hot pot seolah tak peduli.

Sepuluh menit kemudian, Li Mu berdalih sudah kenyang dan pulang sendirian.
Begitu sampai rumah, barulah wajahnya menunjukkan kepanikan. Ia buru-buru ke kamar mandi dan menatap cermin.

Dari depan memang tidak terlalu aneh, hanya tonjolan itu yang terlalu mencolok. Tapi dilihat dari samping, tubuhnya yang biasanya rata kini punya sedikit lengkungan.
Ekspresinya penuh ketidakpercayaan. Ia menekan dadanya.

“Hss…”
Rasa sakit aneh langsung menjalar ke kepalanya.
“Kenapa sakit?” gumamnya sambil mengerutkan kening.

Namun tiba-tiba, Li Mu di dalam cermin—yang sedang “meraba diri”—bergerak, menurunkan tangan dan menunduk malu-malu untuk menjawab: “Sepertinya lagi berkembang, deh.”

“…”

“Waktu anak perempuan berkembang, memang suka terasa sakit.”
“Lagi pula, satu dua tahun lagi… kamu mungkin bakal datang bulan.”

Li Mu seperti disambar petir.
Berkembang… datang bulan…

“Eh, tapi kamu kan cowok… cowok bisa berkembang kayak gini? Kamu makan apa sih sampai begini?”

Bukan… aku cuma makin feminim, kenapa malah jadi begini?!
Bukannya paling mentok cuma jadi cowok cantik yang suka pakai baju cewek?
Selama ini dia masih santai, karena perubahan hanya mempengaruhi penampilan.

Tapi kalau begini terus, bukan cuma jadi cowok feminim—dia bahkan bisa jadi androgin…
Atau… perempuan?

Mata Li Mu membelalak. Ia menunduk ke wastafel, memegangi kepala, hampir menangis tanpa suara.

“Li Mu, kamu di rumah?”
Yu Fan membuka pintu yang setengah terbuka, masuk sambil memanggil.
Tak ada jawaban. Ia mencari-cari lalu mendengar suara dari kamar mandi.

Ia berjalan perlahan ke pintu, bersandar pada tembok, menatap Li Mu yang tenggelam di atas wastafel, dan berseloroh sambil tertawa:
“Jangan bilang feminimisasi bikin dadamu beneran tumbuh?”

“…”

Li Mu bangkit dan menatapnya dengan wajah datar.
“Serius?” Senyum Yu Fan langsung kaku. “Aku cuma bercanda.”

Li Mu tiba-tiba teringat ucapan Yu Fan di asrama:
‘Paling hantu itu nggak mungkin bikin kamu jadi perempuan, kan?’
Ini kutukan, ya?!
Kamu ngomong apa langsung kejadian—jangan-jangan kamu dalangnya?!

Semakin sedih, semakin ia menahan ekspresi. Padahal sekarang dia ingin nabrak tembok saja.

“Kemarin kamu bilang mau selidiki penyebab kematian Lin Xi?” tanyanya datar.

Karena feminimisasi datang dari Lin Xi, ia harus menyelidiki hidup–matinya Lin Xi. Kalau mengerti apa yang terjadi, mungkin perubahan tubuhnya bisa berhenti.
Atau kalau tidak, dia harus mempelajari fenomena hantu dan penyebab feminimisasi.
Atau mungkin… Lin Xi punya dendam belum selesai, sehingga rohnya masih menempel padanya.

Selama hanya perubahan luar, Li Mu masih bisa terima.
Rambut tubuh berkurang, otot hilang, terlihat lebih lemah… tapi tetap laki-laki.
Sekarang… dadanya saja mulai berkembang…

Ia menunduk melihat bagian selangkangannya.
Diam.
Pantas saja belakangan… tidak pernah morning wood lagi.

“Iya, tapi di kampus nggak ketemu hantunya, jadi mentok,” kata Yu Fan pasrah. “Dan menyelidiki Lin Xi kayaknya nggak ada hubungannya sama feminimisasi kamu, kan?”

Tapi bagaimana kalau Lin Xi punya dendam? Kalau itu diselesaikan, mungkin dia bisa pergi.

“Kalau udah diselidiki sampai tuntas tapi kamu tetap begini…”
Ia tersenyum menenangkan: “Lagipula jadi cewek nggak buruk-buruk amat. Cewek kan enak, mau nikah atau apa… tinggal menikmati, nggak perlu capek goyang pinggang.”

Li Mu menatap dingin.
Komentar itu hampir bikin dia lompat dan memukulnya.
Tapi dia kalah kuat, jadi dia hanya mencibir: “Hanya perjaka yang doyan ngomong jorok begitu.”

Yu Fan langsung memegangi dadanya, seolah tertikam.

“Pertama kita ke rumah Lin Xi, lalu cari sahabatnya.” Li Mu keluar dari kamar mandi, menuju kamar untuk memakai kaus kaki.

“Kita nggak tahu rumahnya di mana.” Yu Fan mengeluh sambil mengikuti, “Dia kan dari kelas PAUD. Tapi aku bisa tanya teman-teman, aku kenal banyak anak PAUD.”

Baru saja bikin aku panas, sekarang pamer punya banyak teman cewek?!
Anak PAUD semuanya cewek dan terkenal cakep—dan paling nggak, mereka doyan dandan.

“Gak perlu, aku tahu rumahnya. Aku juga punya nomor sahabatnya.”
“Kamu tahu dari mana?”
“Aku…” Li Mu tiba-tiba bengong.
Ia menatap jari-jarinya.

Benar, kenapa ia merasa wajar saja tahu alamat rumah Lin Xi?
Bahkan samar-samar ingat nomor ponsel sahabatnya?

Seakan-akan otaknya rusak… tapi tidak tahu bagian mana.

“Kenapa?” tanya Yu Fan hati-hati.
“Aku… sepertinya bisa ingat banyak hal tentang Lin Xi.”

“Hah?”

“Tapi samar.” gumam Li Mu, “Ada tahi lalat di pantatnya, dia pertama kali datang bulan umur tiga belas, umur lima belas kena tipu tiga ribu waktu pacaran online, kemudian…”

Li Mu tersentak dan kehilangan ketenangan.
“Kenapa aku bisa tahu semua ini?!”

“Kamu pernah pacaran sama dia?”

“…”

“Jangan bilang karena dia nempel di tubuhmu sejak kecil, jadi ingatannya nempel juga? Kayak di novel—kayak transmigrasi gitu?”

Setiap kali dia bicara hal-hal beginian… kenapa selalu benar?!
Sumpah, kamu pasti dalangnya kan?!

“Kamu benar-benar punya semua ingatannya? Aku cuma asal ngomong.” Yu Fan langsung bungkam, takut salah ngomong lagi.

“Nggak semuanya, cuma hal-hal penting buat dia.” Li Mu memakai kaus kaki, kembali tenang. “Dan ingatan beberapa tahun terakhir nggak ada. Sudah, ayo.”

“Kemana?”
“Ke rumah Lin Xi, ibunya cukup baik.”

Yu Fan mengacak-acak ingatan tentang keluarga Lin Xi saat mereka memblokir gerbang sekolah dengan peti mati, lalu bergumam:
“Kayaknya nggak baik-baik banget. Lagian anaknya baru meninggal seminggu, kita datang sekarang… bukannya nyakitin mereka?”

“Lebih baik daripada aku berubah jadi perempuan.” Li Mu memasukkan ponsel ke kantong dan berjalan keluar.

Lagipula kamu tahu nyakitin ibu Lin Xi itu nggak baik, tapi kenapa kamu doyan nyakitin aku?!
Benarlah, pria hanya bisa ramah ke perempuan—ke sesama laki-laki, asal tidak menjatuhkan saja sudah bagus.

Comments (0)

Join the Discussion!

Share your thoughts and connect with other readers.

Login to Comment

No comments yet

Be the first to share your thoughts!