Enjoy an Ad-Free Experience High

Sign up to remove distractions and focus on what matters.

Volume 1

Chapter 164 Bab 164. Yu Fan

Nov 25, 2025 1,262 words

“Kak! Kamu pulang?”  
Begitu masuk rumah, Yu Fan langsung disambut suara riang yang sudah sangat ia kenal.

Senyum lembut terukir di wajahnya. Ia mengeluarkan sepotong paha ayam goreng yang tadi dibelinya di pinggir jalan, lalu menatap Yu Miao yang sudah berlari mendekat sambil melompat-lompat girang.

Yu Miao kini duduk di kelas tiga SMP. Nilai pelajarannya cukup bagus, hanya saja pertumbuhannya agak terlambat. Di usia lima belas tahun, suaranya belum berubah, dan kumisnya baru tumbuh sedikit—hanya berupa bulu halus.

Wajahnya biasa saja, jauh kalah tampan dibanding Yu Fan atau ayah mereka.

Dialah pemilik helm bergambar Mei Yangyang yang dulu sering dipakai Yu Fan di motornya—meski sejak tiga tahun lalu, setelah menyadari identitas gendernya, ia sudah tak lagi menggunakannya.

“Ini, aku bawain paha ayam goreng buat kamu.”  
Yu Fan menyerahkan paha ayam yang masih terbungkus plastik itu kepada adiknya, lalu melihat Yu Miao berlari masuk ke kamarnya sambil memegang camilan itu, kemungkinan besar untuk mengerjakan PR.

Yu Fan lalu menoleh ke arah ayahnya yang baru saja keluar dari ruang belajar sambil terpincang-pincang.

“Belakangan ini tiap hari keluyuran terus, malah maksa tidur di asrama. Apa rumah ini nggak cukup layak buatmu yang sehebat itu?”  
Begitu bertemu, alis Yu Jiancheng langsung berkerut tajam. Dengan nada sarkastik, ia mengejek,  
“Apa aku kurang sembahin kamu, ya?”

Yu Fan sudah menduga reaksi ayahnya. Dulu, saat memutuskan tinggal di asrama, ia memang sempat ditentang habis-habisan. Belum lagi akhir-akhir ini ia jarang pulang di akhir pekan. Jadi, omelan seperti ini hal yang wajar.

“Asrama suasana belajarnya lebih bagus. Sebentar lagi ujian musim semi juga.”

Ia sudah menyiapkan jawaban ini sebelumnya. Sambil berjalan ke sofa ruang tamu dan duduk santai, ia bertanya,  
“Bu Tiri nggak di rumah?”

“Pergi joget di lapangan.”

Yu Fan mengangkat bahu, senyumnya memudar sedikit. Ia menyilangkan kakinya, lalu menyalakan TV. Tapi pikirannya mulai melayang ke Li Mu.

Sebenarnya malam ini ia ingin menginap di rumah Li Mu.

Toh, hari ini Li Mu baru saja benar-benar berubah menjadi perempuan. Ia khawatir Li Mu sepanjang hari tadi hanya menahan perasaannya. Kalau malam ini emosinya meledak, ia bisa segera menghiburnya—dan siapa tahu, mungkin ini bisa menambah poin kedekatan mereka.

Sayangnya, ayahnya memanggilnya pulang.

Yu Jiancheng duduk di sampingnya, mengambil sebungkus teh dari laci meja kopi, lalu mulai menyeduh teh di meja kecil.

Setelah beberapa saat hening, tiba-tiba ayahnya bertanya,  
“Akhir-akhir ini, gimana hubunganmu sama anak tetangga itu?”

“Biasa aja. Aku nggak sering ngobrol sama dia.”

“Aku lihat kayaknya dia suka sama kamu.”

“Tapi aku nggak suka dia.”

Yu Jiancheng berhenti menyeduh teh, menoleh dan memperhatikan Yu Fan beberapa saat. Tiba-tiba matanya melebar.

“Kamu sudah punya cewek yang disuka, ya?”

Yu Fan terkejut. Ia tak menyangka ayahnya bisa menebak secepat itu.

Yu Jiancheng langsung tertarik, “Kapan diajak pulang? Punya fotonya nggak? Cantik nggak? Baik nggak? Keluarganya gimana?”

Serentetan pertanyaan itu membuat Yu Fan tak tahan. Ia mundur sedikit, lalu menggerutu,  
“Inilah yang namanya interogasi KTP, ya?”

Meski sebenarnya ia cukup berani dan cuek, tapi kali ini wajahnya terasa hangat dan memerah. Di depan ayah sendiri, ia jadi gugup dan salah tingkah.

“Kayaknya kamu beneran suka banget sama dia, ya.” Yu Jiancheng tertawa heran. Ia belum pernah melihat anaknya seperti ini sebelumnya.

“Belum ada apa-apanya sih.”

“Coba kasih lihat fotonya?”

“Sudah umur empat puluh lima, jangan sok kepo gitu dong.”

Yu Fan nggak tahan lagi. Ia buru-buru berdiri dan berjalan cepat menuju kamarnya sambil berkata,  
“Aku mau tidur!”

“Mandi aja belum, tidur apa?!”

“Jangan ganggu aku! Ribet banget!”

Rumah Yu Fan berupa apartemen tiga kamar tidur dan dua ruang tamu, dengan dekorasi bergaya Tiongkok. Hampir seluruh lantainya dilapisi kayu, luasnya sekitar 150 meter persegi. Meski lokasinya agak jauh dari pusat kota, rumah ini cukup nyaman—setidaknya kedua bersaudara punya kamar masing-masing.

Begitu masuk kamar, Yu Fan langsung mengunci pintu dari dalam. Ia duduk di ujung tempat tidur, menepuk kedua pipinya, lalu menggeleng-gelengkan kepala, berusaha mengusir rasa malu yang tadi menghantui pikirannya.

Tapi begitu menoleh ke samping, pandangannya tertahan pada sebuah lukisan minyak yang berdiri miring di samping CPU komputernya.

Di atas kanvas itu, Li Mu duduk dengan kedua kaki rapat dan miring, memeluk boneka Stitch di pangkuannya, matanya berbinar penuh senyum.

Lukisan itu dibuat berdasarkan foto yang diambil di KTV dulu. Tak bisa dipungkiri, Yu Fan sedikit mengubah gambarnya—membuat Li Mu yang saat itu belum terlalu feminin tampak lebih cantik, lebih dewasa, dan lebih seperti “ibu-ibu” yang memesona.

“Cantik banget,” gumamnya pelan—entah memuji lukisannya sendiri atau sosok dalam lukisan itu.

Lantai dan dinding kamarnya yang sempit itu dipenuhi noda cat yang sulit dibersihkan. Beberapa karya favoritnya sengaja diletakkan di sepanjang dinding:

— Sketsa Li Mu duduk di kelas, menatap ke luar jendela, rambut pendeknya tertiup angin lembut.  
— Gambar pensil warna Li Mu duduk bersila di atas kasur asrama, bersandar ke dinding, asyik memainkan ponsel.  
— Sketsa kasar Li Mu yang duduk memeluk pinggangnya dari belakang di atas motor, rambut panjangnya berkibar tertiup angin...  

Sebagian besar karya itu dibuat dari foto diam-diam yang ia ambil, ada juga yang murni dari imajinasinya.

Sayangnya, ia tidak pernah belajar melukis secara sistematis. Di mata orang awam, gambarnya cukup bagus, tapi mungkin kalah jauh dibanding mahasiswa seni rupa. Lukisannya memang tidak bisa menangkap sepenuhnya aura Li Mu yang sesungguhnya.

Ia pernah mengatakan ikut lomba lukis—tapi itu hanya omong kosong belaka, kadang dipakai untuk pamer di depan Li Mu. Tapi toh, membanggakan diri sedikit di depan orang yang disukai, bukan hal yang berlebihan, kan?

Ia juga ragu meminta Li Mu jadi modelnya. Ia takut setelah berjam-jam menggambar langsung, hasilnya malah kalah jauh dibanding lukisan yang dibuat dari foto.

“Entah lagi ngapain Li Mu sekarang...”

Kamarnya memang tak pernah diizinkan dimasuki siapa pun, dan ia sendiri yang membereskan semuanya. Karena itu, ruangan itu terlihat agak berantakan. Tapi ia tak peduli. Ia langsung menjatuhkan diri ke atas tempat tidur.

“Kak! Kak! Bantu lihat soal dong!”

Tiba-tiba pintu kamar diketuk.

“Lihat sendiri sana! Aku cuma lulusan SMK!”

Meski begitu, Yu Fan tetap bangkit, keluar dari kamar.

Ia melirik ke arah ruang belajar, melihat ayahnya kembali asyik main komputer, lalu baru lega. Ia menunduk ke arah Yu Miao,  
“Soal apa?”

“Matematika.”

“Coba aku lihat dulu.”

Ia masuk ke kamar adiknya dan mulai memeriksa soal matematika SMP kelas tiga.

“Kak, bukannya kamu udah punya pacar? Kok sekarang suka sama orang lain?”  
Belum sempat membaca soalnya, Yu Miao tiba-tiba bertanya dengan nada penuh rasa penasaran.

“Jangan ngaco! Kakakmu ini polos banget, cuma pernah suka satu orang aja. Dulu juga nggak pernah punya pacar.” Yu Fan melotot,  
“Kalau nggak tahu, jangan asal ngomong!”

“Aku lihat aja kamu sering keluyuran.”

Yu Miao canggung menggaruk kepala belakangnya.

“Dulu keluyuran bareng temen main game di warnet, soalnya komputer rumah kita jelek.”

“Kalau sekarang?” Mata Yu Miao berbinar,  
“Main sama cewek yang kamu suka, kan? Calon kakak iparku cantik nggak?”

“…”

Kok udah langsung manggil ‘kakak ipar’ segala?

Yu Fan tiba-tiba merasa firasat buruk. Ia menoleh ke arah pintu kamarnya—dan tepat melihat bayangan hitam yang cepat menghilang.

Ia mengusap pelipisnya yang mulai pening, lalu menghela napas,  
“Nanti kalau ada kesempatan, pasti aku bawa pulang. Tunggu aja.”

“Kalau dibawa pulang, berarti pengen nikah? Nggak pengen main-main dulu beberapa tahun?”

“Belum ada apa-apanya, kok kalian malah lebih semangat dari aku sendiri?”

Comments (0)

Join the Discussion!

Share your thoughts and connect with other readers.

Login to Comment

No comments yet

Be the first to share your thoughts!