Chapter 83 Bab 084. Aku Nggak Bakal Jadi Gay, ‘kan?
Untuk pertama kalinya, Yufan tinggal di asrama sekolah, jadi dia kelihatan sangat bersemangat.
Sikat gigi baru pinjam orang, pasta gigi pinjam, mandi pakai sampo dan sabun mandi milik Li Mu, pakaian yang ia lepaskan digeletakkan begitu saja, lalu dia memakai celana pendek besar yang biasa dijadikan celana tidur oleh Li Mu. Tanpa mengenakan baju, dia berjalan mondar-mandir di dalam asrama.
Setelah selesai urusan pribadi, Yufan duduk di ujung ranjang Wang Chen, lalu sambil menunduk ia menatap Li Mu yang sedang berbaring di depannya.
“Di asrama kalian malam-malam biasanya ngapain?” tanya Yufan.
“Tidur, main HP,” jawab Li Mu sambil berbaring menyamping, nada suaranya datar.
“Ngga pernah mabar gitu?”
“Kadang.”
Yufan melirik ke bawah. Ia melihat Chen Zhihao sedang merokok sambil menghafal bahasa Inggris, sementara yang lainnya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Adapun Wang Chen, karena sudah kehilangan rutinitas gym, dia seperti kehilangan semangat dan kini sedang rebahan bagai mayat.
“Eh, Li Mu, malam ini aku tidur sama kamu, ya?” Yufan mulai memanjat ranjang Li Mu lagi sambil cengengesan.
Li Mu segera mengangkat kakinya dan menendang. Tapi Yufan menghindar sebagiannya, sebagian lagi dia tahan, tetap saja dia berhasil naik sampai ke ujung ranjang.
Akhirnya Li Mu mengangkat kepala sedikit dan berkata dengan nada jijik, “Aku nggak terbiasa ada orang lain di ranjangku.”
“Nggak apa-apa, nanti juga kebiasaan,” kata Yufan santai sambil duduk di ujung ranjang. Ia mengambil boneka Stitch milik Li Mu dan menggoda, “Katanya kamu nggak suka boneka ini? Kok masih kamu taruh di ranjang?”
“Ya. Aku nggak suka.”
Li Mu menghela napas. Dia merasa seluruh tubuhnya risih.
Dia memang benar-benar nggak suka orang asing naik ke ranjangnya. Walaupun Yufan sudah mandi, tapi tetap saja Li Mu merasa banyak bakteri naik ke tempat tidurnya.
Ranjangnya sudah tidak bersih. Selimutnya juga sudah tidak bersih.
Begitu pikir Li Mu, hancur hati.
Belum lagi, tubuh besar Yufan membuat kakinya hampir tak punya tempat untuk menapak.
“Sesama cowok tidur bareng kenapa sih!” Yufan berkata sok benar, “Masalahnya Wang Chen terlalu besar badannya, tidur bareng dia tuh sesak.”
“Ya udah tidur sama Zhang Pan aja, dia cuma 1,5 meter.”
Dari bawah ranjang terdengar teriakan kesal Zhang Pan, “Gua 1,65!”
Li Mu mengabaikan itu dan melanjutkan, “Dia ringan dan lentur, tidur sambil dipeluk pasti nyaman.”
“Bang Li Mu! Bagian mana gue lentur!”
Yufan melirik Zhang Pan yang wajahnya agak cantik dan agak kemayu, lalu mendengus, “Aku nggak terlalu dekat sama dia.”
Di kelas banyak yang berteman dengan Yufan, tapi sahabat dekatnya sedikit sekali.
“Kedengarannya kamu juga nggak terlalu dekat sama aku,” kata Li Mu dingin sambil memalingkan wajah.
“Tapi kamu udah ngasih aku tempat,” jawab Yufan sambil langsung tiduran di samping Li Mu, mencari posisi paling nyaman. “Iya. Malam ini kita tidur begini aja.”
“……”
“Bagi selimut dikit.”
“Pinjemin Stitch buat bantal. Toh kamu bilang nggak suka.”
“Eh, rambutmu wangi ya.”
“……”
Li Mu langsung menyambar rambut bagian belakangnya dan menarik sedikit ke arah dalam selimut, lalu tak tahan lagi bertanya, “Lu itu psikopat apa gimana, sih?”
“Sesama cowok tidur bareng tuh normal banget, tau.”
Normal apanya?!
Kalo lu makin lama makin keterlaluan, gua bisa mikir lu suka cowok!
Dan kalo Lin Xi masih bisa ngontrol tubuh gua, dia pasti udah ngajak duel pedang sekarang!
Yufan bahkan bertanya pada Wang Chen, “Bro, tidur sama temen cowok tuh normal ‘kan?”
Wang Chen ragu-ragu, “Ya… mungkin? Gua sih nggak pernah. Itu tuh yang punya pengalaman, Zhang Pan.”
---
Sebenarnya Li Mu nggak alergi tidur bareng teman. Masalahnya adalah… dirinya sekarang sudah tidak sama seperti dulu.
Dulu tidur bareng Yufan cuma sempit-sempitan. Tapi sekarang tubuhnya semakin feminim. Dia jadi semakin menjaga jarak dengan laki-laki lain.
Makanya dia sekarang pakai baju lengkap di asrama, padahal dulu dia nyaman pakai celana pendek besar atau bahkan cuma celana dalam.
Malam semakin larut.
Li Mu meringkuk di sisi yang dekat dinding, hati-hati memberikan ruang, takut bersentuhan dengan tubuh Yufan.
Sementara Yufan menyamping, membelakangi Li Mu, menopang kepala dengan tangan, sambil ngobrol pelan dengan Chen Zhihao.
Zhang Pan dan Zhao Yu sudah tertidur. Asrama gelap, hanya cahaya HP di masing-masing ranjang.
“Eh, Li Mu, kalo nanti lapar gimana? Kantin masih buka nggak?” tanya Yufan tiba-tiba.
“Order makanan.”
“Ojeknya bisa masuk?”
“Sekolah nggak ngatur itu,” jawab Li Mu sambil mendorong bahu Yufan dengan jijik. “Geser.”
Yufan telentang dan menggeser diri sampai hampir jatuh. “Kalo geser lagi gua jatuh.”
“……”
Keheningan mendadak memenuhi kamar. Lampu mati. Orang-orang mulai tertidur.
Sudah lewat jam satu malam.
Li Mu sudah benar-benar tidur, napasnya teratur, bahkan ada sedikit suara menggeretakkan gigi.
Yufan mulai bosan. Dia ingin tidur, tapi begitu memejamkan mata, aroma samar dari tubuh Li Mu semakin jelas.
Saat kamar ramai tadi, dia tak menyadarinya. Tapi dalam gelap, tanpa gangguan, aroma tubuh Li Mu—aroma yang dibawa Lin Xi—tercium sangat jelas.
Aroma orang normal itu bisa dari sabun atau hormon. Aroma Li Mu berbeda—karena "si hantu".
Dan karena dia tahu tubuh Li Mu berubah… Yufan malah merasa geli sendiri.
Dia terbiasa begadang. Jadi matanya tetap terbuka, menatap langit-langit, pikirannya dipenuhi tentang Li Mu.
Masalah feminisasi Li Mu pun tak tahu cara menyelesaikannya.
Tapi… kalau Li Mu berubah jadi gadis… rasanya juga tidak buruk.
Saat pikirannya mulai ngelantur, tiba-tiba terasa ada sesuatu yang lembut menempel di tubuhnya.
Tubuhnya tersentak.
Ia menoleh dan melihat Li Mu yang tidur menyamping sambil memeluk Stitch. Entah karena kebiasaan tidur sendiri atau apa, Li Mu mengerutkan tubuhnya dan… satu kaki terangkat lalu mendarat tepat di atas paha Yufan.
Menekan langsung ke area sensitifnya.
Aromanya semakin pekat.
Dan Yufan hanya memakai celana pantai longgar—tanpa dalaman.
“Eh… lu geser sedikit… kaki lu turunin. Nindih gua,” bisiknya sambil mendorong bahu Li Mu pelan.
Biasanya ia dan Li Mu memang sesekali bersentuhan, tapi nggak pernah seluas ini.
Dengan sangat hati-hati, ia mengangkat kaki Li Mu dari pahanya, lalu buru-buru menggeser pantatnya menjauh.
Bahkan lewat celana jeans Li Mu, ia bisa merasakan betapa lembutnya paha itu. Jantungnya berdebar dan wajahnya memerah.
Dia beneran tidur? Kok kayak sengaja godain gue?
Di kepalanya muncul bayangan Li Mu saat memakai baju cewek… dan tiba-tiba dia sadar “adiknya” mulai bereaksi.
Sial… jangan-jangan gue bakal jadi suka cowok?!
Gue nggak bakal ke-bending, kan?!
Yufan mulai panik.
No comments yet
Be the first to share your thoughts!