Enjoy an Ad-Free Experience High

Sign up to remove distractions and focus on what matters.

Volume 1

Chapter 147 Bab 147. Jalan-jalan

Nov 25, 2025 981 words

Li Mu bukan tipe orang yang suka jalan-jalan.
Setidaknya dulu, saat pergi bersama orang tua atau adik perempuannya, dia kebanyakan hanya merasa kesal. Kalau berada di mal atau supermarket lebih dari setengah jam, dia langsung ingin pulang dan beristirahat. Setiap kali jalan-jalan, rasanya seperti seluruh tenaganya habis—seakan hari itu tak mungkin lagi melakukan apa pun.

Namun hari ini...
Tangannya dipegang erat, dipaksa berjalan-jalan di lantai dua mal.
Dia bisa merasakan tekstur sedikit kasar dari tangan Yu Fan, hangatnya suhu tubuhnya, dan sedikit keringat yang mengalir. Pikirannya kacau balau. Berbagai pikiran aneh tak terkendali muncul di kepalanya.
Detak jantungnya semakin cepat, kulitnya memanas dan memerah. Kemerahan di wajahnya menjalar hingga ke leher dan cuping telinga. Emosinya pun tak bisa lagi dikendalikan, perlahan naik.

Dia merasa mungkin dirinya sedang sakit.
Dulu, kalau ada pria yang berani memegang tangannya seperti ini, dia pasti tidak hanya akan meninju orang itu, tapi juga pasti berusaha melepaskan diri sekuat tenaga.
Namun sekarang, dia hanya menarik tangannya sedikit sebagai simbol protes. Setelah gagal, dia diam-diam saja membiarkan dirinya ditarik keliling lantai dua.

Tak membeli apa pun. Terlalu malu untuk mencari barang yang menarik perhatiannya. Hanya menunduk, ditarik pergi begitu saja—namun anehnya, dia merasa senang.

Lalu naik ke lantai tiga...

"Kamu benar-benar tidak mau beli apa-apa? Tadi di lantai dua banyak baju wanita yang bagus lho," kata Yu Fan sambil menoleh ke Li Mu yang masih menunduk dengan wajah memerah. Suaranya lembut. "Apalagi pakaian dalam yang kamu beli di mal sebelumnya terlalu murah. Barang yang dipakai di tubuh sebaiknya beli yang lebih mahal dan berkualitas."

Li Mu merasa seperti sedang mengalami de javu—seperti pertama kali mengenakan pakaian wanita dan keluar rumah. Saat itu, dia merasa sangat malu hingga tak sanggup mengangkat kepala, sama sekali tak bisa mempertahankan ekspresi datarnya yang biasa.

Dia mengangkat kepala, berusaha menatap Yu Fan dengan pandangan dingin seperti biasa.

Namun senyum di wajah Yu Fan justru semakin lebar. "Matamu itu malah seperti sedang menggoda aku."

"Yakin tidak mau beli? Kalau tidak, kita naik ke lantai tiga saja."

Yu Fan agak menyesal karena sempat memutar otak terlalu rumit—menggunakan Liu Shenglong, menyuruhnya mengarang cerita, dan sebagainya. Semua itu ternyata sia-sia. Li Mu memang baik hati, tapi bukan berarti bodoh.

Seharusnya langsung aja maju!
Lihat saja, sekarang Li Mu terlihat sangat menggemaskan.

Kalau lantai dua kebanyakan toko pakaian, lantai tiga didominasi restoran.
Mereka sudah makan malam di restoran steak di luar, jadi belum merasa lapar. Tapi Yu Fan tetap membawa Li Mu berkeliling lantai itu. "Cari tahu restoran mana yang ingin kamu coba. Nanti kalau aku sudah nabung cukup, aku ajak kamu ke sini makan."

Sebagai pelajar, uang Yu Fan memang terbatas.

"Hm..." Li Mu menjawab dengan suara kecil seperti nyamuk.

"Di lantai empat ada bioskop, mau nonton film?" tanya Yu Fan sambil berhenti di depan lift menuju lantai empat, lalu menoleh pada Li Mu.

Li Mu menggeleng sambil memerah.

Melihat mal yang sepi begini, bioskop pasti juga sepi pengunjung.
Kalau Yu Fan berbuat macam-macam di tempat gelap dan tertutup itu, dia sama sekali tak akan mampu menolak.

"Eh, Yu Fan! Makan di sini, ya?"  
Li Mu langsung terkejut. Cepat-cepat dia menarik tangannya dari genggaman Yu Fan.

Tangan "lembut nan hangat" itu terlepas. Yu Fan mengangkat kepala dan melihat lima teman sekelasnya—termasuk Xu Ze dan Wu Lei—sedang berjalan mendekat.

Dia juga panik. Meski tadi sempat melihat mereka dari kejauhan di lantai satu, dia tak menyangka bisa bertemu langsung begini.

"Bawa pacar makan, ya?" Xu Ze langsung mengaitkan lengannya ke bahu Yu Fan sambil tertawa. "Kakak perempuan Li Mu? Dulu katanya cantik banget. Sekarang lihat... kok mirip banget dengan Li Mu?"

Dia berhenti sejenak, bingung menatap Yu Fan.

"Ya, ini Kakak kembar Li Mu. Wajar kalau wajahnya mirip," jawab Yu Fan dengan tenang.

Li Mu menunduk, mundur dua langkah, lalu bersembunyi di belakang tubuh Yu Fan.

Sial! Besok pasti tersebar gosip kalau aku dan Yu Fan pasangan gay!
Padahal hanya Yu Fan yang gay!

Xu Ze memang tak terlalu memperhatikan Li Mu, tapi Wu Lei—yang kebetulan sebangku dengan Li Mu—malah bertanya, "Pacarmu kok pakaiannya sama persis dengan Li Mu hari ini?"

Hening sejenak.
Yu Fan, Xu Ze, dan Li Mu hampir serentak membeku.

Gawat! Tadi seharusnya langsung beli baju wanita di lantai dua!
Li Mu membelalak. Dia bingung harus bereaksi bagaimana—lari sekarang? Berpura-pura tenang dan jelaskan hubungannya dengan Yu Fan? Atau tetap berakting jadi "kakak perempuan" dan bilang ini baju kembar yang sengaja dibeli bersama adiknya?

Pikirannya langsung kacau. Yu Fan juga terdiam canggung. Tapi Xu Ze malah menoleh dan menegur Wu Lei sambil mengaitkan lengannya, "Namanya juga kembar, wajar dong pakai baju sama! Ayo, kita makan—jangan ganggu kencan Yu Fan!"

Mereka pun segera masuk ke restoran di sebelah. Li Mu baru bisa bernapas lega. Pandangannya terhadap Xu Ze—pria tinggi besar berkulit gelap yang dulu dianggapnya seperti bandit—tiba-tiba membaik.

Sebelumnya, Li Mu selalu menghindari bicara dengan Xu Ze. Tapi hari ini, pendapatnya berubah.

"Xu Ze sebenarnya sudah tahu itu aku, ya?" tanya Li Mu pelan.

"Ya, dia nggak buta," jawab Yu Fan sambil menggaruk kepala. "Aku tadi sempat berpikir, ini kesempatan bagus untuk memperkenalkanmu secara resmi. Biar kamu nggak diganggu lagi sama orang kayak Wang Chen."

"Kata siapa kamu nggak aneh juga?"

"Aku ini cinta sejati," Yu Fan menjawab santai. "Ini namanya mengejar cinta tanpa peduli pandangan orang. Kalau cowok lain suka kamu, baru itu namanya menyimpang."

Li Mu mendengus—orang ini benar-benar dobel standar.

Namun, gurauan Yu Fan justru membuatnya merasa lebih tenang. Tapi tiba-tiba Yu Fan mengulurkan tangan lagi.

"Kamu mau apa?!" Li Mu langsung mundur.

"Mau lanjut jalan-jalan dong. Kabur kemana?"

"Pulang ke asrama." Li Mu langsung berbalik menuju eskalator.

Yu Fan tak memaksakan diri, mengikuti Li Mu kembali ke kampus. Namun saat mereka tiba di asrama dan melihat teman-teman sekamarnya yang sedang demam dan terbaring lemah di tempat tidur, mereka berdua tiba-tiba teringat—  
Ada sesuatu yang mereka lupakan...

Comments (0)

Join the Discussion!

Share your thoughts and connect with other readers.

Login to Comment

No comments yet

Be the first to share your thoughts!