Chapter 37 Bab 037. Li Mu Saingi Diao Chan?
Tiga tahun lalu, kecelakaan mobil itu memicu ledakan tangki bensin.
Tiga orang di dalam mobil hangus sampai tak bisa dikenali, tapi teknologi tetap membuktikan bahwa mereka adalah orang tua dan adik perempuan Li Mu.
Setidaknya, rekaman CCTV di persimpangan menunjukkan wajah ketiganya.
Namun tak disangka, setelah tiga tahun, ia malah mendapat kejutan sebesar ini.
Ia duduk di sofa rumahnya, kedua siku bertumpu pada lutut, kepala menunduk—masih sulit mencerna semua hal yang dikatakan Chen Yi hari ini.
Otaknya serasa penuh sesak…
Yu Fan sudah pulang. Didikan rumahnya ketat, semalam menginap di rumah Li Mu tanpa izin, pasti sekarang sedang dipukuli.
Di era sekarang bukan cuma anak perempuan yang dikhawatirkan kalau menginap di luar—anak laki-laki juga harus jaga diri. Apalagi Yu Fan yang ganteng begitu, makin rawan.
Li Mu menghela napas pelan. Ia memutar cermin kecil di meja agar tak menghadap dirinya, lalu menunduk melihat sedikit tonjolan di dadanya.
Seharian beraktivitas membuat kedua titik di dadanya tergores sampai perih. Kalau tidak salah, besar kemungkinan sekarang sudah merah dan bengkak.
Sebenarnya tanda-tandanya muncul sejak minggu lalu, tapi waktu itu hanya sekadar menonjol sedikit. Li Mu mengira itu karena cuaca dingin. Saat tinggal di asrama, baik di kelas maupun pulang sekolah ia selalu duduk diam, jadi tidak banyak gesekan.
Ia membuka laci bawah meja dan mencari kotak plester. Setelah ragu sebentar, ia mengangkat bajunya dan mencoba menempelkan dua plester di bagian sensitif itu.
Setidaknya tonjolannya tak akan terlalu kelihatan dan tak akan tergesek kain kasar.
Bagaimanapun juga, masa iya dia harus beli bra wanita?
Walau rasa malunya sudah hancur saat kejadian pakai baju perempuan kemarin, dia tetap tak sanggup melakukan hal itu.
Tiba-tiba pintu diketuk, membuat Li Mu—yang sedang melakukan “urusan pribadi”—kaget setengah mati.
Ia buru-buru menurunkan bajunya, memasang wajah datar seolah tak terjadi apa-apa, lalu membuka pintu.
Seperti dugaan, yang datang adalah tetangganya, Ren Tianyou.
“Kamu nggak kerja malam ini?”
“Nggak, takut mati.” Ren Tianyou menyodorkan sebuah buah naga. “Nih, ibuku kasih buat kamu.”
“Mm, tolong bilang terima kasih.”
Li Mu menerima buah itu, namun melihat Ren Tianyou sudah masuk begitu saja dan duduk di sofa sambil mengeluarkan ponsel.
“King of Glory atau PUBG?”
“???”
“Aku biasa begadang, malam susah tidur.” Ren Tianyou duduk santai. “Jadi aku datang buat main bareng.”
“Aku…” Li Mu hendak mengatakan bahwa ia sama sekali tak main game mobile, tapi teringat kebohongan tadi siang. Akhirnya ia mengangguk, “Oke, tunggu sebentar. Aku cuci muka dulu.”
Kalau di mata Ren Tianyou, Li Mu mau begadang main game dengan Yu Fan tapi menolaknya, itu bisa menimbulkan rasa tak enak.
Hanya saja… game-nya harus diunduh dulu.
Di rumah Li Mu tidak ada Wi-Fi, sebab ia lama tinggal di asrama dan cukup pakai data seluler. Karena itu, mengunduh game lumayan bikin hati sakit.
Setelah pura-pura cuci muka, game pun selesai diunduh. Li Mu kembali ke sofa dan mengingatkan, “Jam dua belas aku tidur ya. Semalam begadang, siang ini juga belum istirahat.”
“Siap.” Ren Tianyou menyilangkan kaki, matanya terus melirik ke area dada Li Mu.
Li Mu merasakan tatapan itu, ia mengangkat kakinya ke sofa dan memiringkan tubuh, menutupi pandangan Ren Tianyou.
Setelah ragu sebentar, Ren Tianyou bertanya, “Otot dada kamu… mau ke dokter nggak?”
Disebut “otot dada” itu istilah halus. Meski Ren Tianyou terkenal playboy, kalau sampai tak bisa membedakan otot dada laki-laki dengan dada perempuan, berarti semua pengalaman kotor itu percuma saja.
Ditambah tubuh Li Mu yang kurus, tonjolan itu jelas bukan lemak.
Kemungkinan besar karena kebanyakan makan kacang kedelai dan ayam goreng.
“Tak punya uang.”
“Kalau begitu besok aku temani kamu medical check-up? Kebetulan ibuku bilang kamu makin kurus, dia takut kamu sakit.” Ren Tianyou sangat dermawan. “Aku booking sekarang secara online, uangnya aku bayar.”
Li Mu juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya.
Kalau bisa diatasi secara medis, tentu bagus.
Ia pun mengangguk, bahkan sekalian memanfaatkan kesempatan itu. “Sekalian periksa lengkap ya?”
“Oke. Lagi pula aku nggak berani keluar malam belakangan ini. Uang yang biasanya buat cewek, sementara kupakai buat kamu dulu.”
Jadi… aku = cewek?
Mood Li Mu yang sempat membaik karena “dapat fasilitas gratis” seketika hilang.
Ren Tianyou memang tidak sering main game mobile. Di usianya, ia lebih suka game PC. Jadi meski Li Mu sangat noob, ia tak masalah.
Satu ronde selesai. Ren Tianyou bertanya, “Xiao Mu, kamu pakai sabun mandi apa? Wangi banget.”
“Merk murah.” Li Mu menjawab, lalu bertanya, “Kak, kamu tahu orang tuaku ke mana?”
“Bukannya sudah meninggal?” Ren Tianyou menunduk lagi, siap masuk game kedua.
“Lalu kamu tahu pekerjaan orang tuaku apa?”
Ren Tianyou melirik aneh. “Kamu sendiri nggak tahu, mana mungkin aku tahu?”
Sepertinya ini bukan kejadian ala anime, di mana semua orang tahu rahasia orang tua tokoh utama kecuali tokoh utamanya sendiri.
Kalau benar begitu, Li Mu akan jauh lebih kesal.
Orang tuanya memang tidak ingin ia terlibat dengan dunia arwah.
Mood Li Mu menurun perlahan, namun tiba-tiba muncul notifikasi di ponselnya: ada orang membeli baju dan kosmetik wanita bekas miliknya di Xianyu.
Rasa sedihnya lenyap seketika. Ia membuka pesan itu cepat-cepat dan membaca informasi pembeli.
Mau transaksi langsung? Profilnya perempuan.
“Kenapa kamu keluar dari game?”
Sambil senyum-senyum chatting dengan si pembeli, Li Mu menjawab, “Besok jam dua belas antar aku ke Taman Jiangbin sebentar. Ada urusan. Habis itu baru kita ke rumah sakit.”
“Wah, ada cewek yang ngajak ketemuan?” Ren Tianyou langsung mematikan game, penasaran ingin mengintip chat Li Mu.
Tapi Li Mu sadar ia sedang jual baju cewek bekas, jadi langsung memiringkan layar ponsel dan menatap Ren Tianyou dingin, “Kamu ada kelainan suka ngintip?”
“Oh~” Ren Tianyou menahan tawa mesum. “Di taman hati-hati ya. Kalau ketahuan, kamu bisa ditangkap polisi.”
Li Mu terdiam.
Jual baju cewek bekas juga bisa ditangkap?
Tapi ia langsung sadar maksud Ren Tianyou, lalu menatapnya dengan rasa jijik. “Otakmu bisa diisi hal lain nggak?”
“Laki-laki kan begitu, Xiao Mu jangan sok polos. Komputermu pasti penuh koleksi juga.” Ren Tianyou kedip-kedip nakal. “Malam masih panjang, bagi dikit lah?”
“Ha.” Li Mu membalikkan badan membelakanginya.
Dengan kaus ketat yang ia kenakan, punggungnya terlihat lembut, garis tubuhnya ramping, pinggangnya indah. Punggung itu tak berbeda jauh dari perempuan.
Tanpa sadar, adik tetangga ini makin lama makin… cantik.
Aroma wangi lembut tercium, pikiran liar mulai muncul.
Ren Tianyou buru-buru menghentikan imajinasi sesat itu.
Sepertinya ia harus cari pacar cepat-cepat.
Kalau tidak, Li Mu bisa-bisa saingi kecantikan Diao Chan.
———
Selamat Hari Raya Tengah Musim Gugur.
Insomnia, jadi cuma satu bab.
No comments yet
Be the first to share your thoughts!