Chapter 199 Bab 199. Makan Malam
Wig bukanlah hal asing bagi Li Mu—ia pernah membelinya dulu.
Namun, meski dari kejauhan tampak meyakinkan, jika diperhatikan dari jarak dekat, kebanyakan wig itu terlihat sangat palsu.
Wig kali ini dibeli oleh Yu Fan dari penjual di kota terdekat. Karena dikirim dengan layanan ekspres, baru akan sampai keesokan pagi.
Karena itu, Li Mu sementara waktu menunda niat pulang ke rumah kakeknya. Jika tidak perlu memotong rambut, tentu jauh lebih baik.
Telepon dari kakek tadi benar-benar mengacaukan mood-nya. Apalagi ia memang sudah susah tidur siang tadi karena kasur terlalu empuk. Setelah itu, ia sama sekali tidak bisa tidur lagi. Ia hanya sempat main game sebentar bersama Yu Fan, lalu langsung beralih ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
Meski siang tadi ia bilang Yu Fan yang akan masak, kali ini Li Mu tetap masuk ke dapur untuk membantu—terutama mengatur bumbu—agar masakan Yu Fan tidak lagi hambar seperti air putih.
Kalau siang tadi Yu Fan tidak memesan nasi goreng lewat layanan pesan antar, Li Mu pasti belum kenyang.
Saat senja tiba, Yu Fan sudah menyiapkan alas tidur di ruang tamu: lima tikar bambu disambung jadi satu, ditambah tiga selimut.
Tempat tidurnya hanyalah kasur single, dan sofanya juga hanya muat untuk satu orang. Daripada ribet membagi tempat, ia memutuskan saja ketiganya tidur bersama di alas lantai itu.
Saat mereka berdua sibuk di dapur, Xiao Jing dengan cepat mengklaim “wilayahnya”—memilih bantal dan selimut favoritnya sendiri.
“Xiao Jing! Kemari, bantu ambilkan nasi!”
Li Mu menoleh ke arah ruang tamu dan memanggil.
“Datang~ datang~!”
Xiao Jing langsung berlari ke meja makan dan mulai mengambil nasi ke piring.
Ia kini jauh lebih rajin dibanding saat masih hidup dulu—seolah-olah kalau tidak diberi tugas, ia malah jadi tidak bahagia.
“Malam ini sudah malam pergantian Tahun Baru, lho.” Yu Fan melirik Xiao Jing yang sibuk mengatur piring sambil menggoreng sayur. “Mau pesan bakar-bakaran juga enggak? Biar makan enak banget malam ini?”
“Tiap hari aja udah makan enak.”
“Kan karena masakanku kurang enak, makanya perlu tambahan pelengkap.”
Yu Fan nyengir malu. Pagi tadi ia sengaja belanja bahan makanan senilai ratusan ribu, berniat membuat “perjamuan mewah ala Qing” untuk makan siang. Tapi hasilnya malah kalah jauh dari restoran pinggir jalan paling buruk sekalipun.
Li Mu mempertimbangkan sebentar, lalu mengangguk.
“Ya sudah, kamu keluar dari dapur dulu. Biar aku selesaikan semua yang bisa dimasak di rumahmu ini.”
“Keluar? Bukannya tadi kamu yang bantuin aku? Berarti aku tukang masak utamanya, kan?”
“Jangan overconfident deh.”
Yu Fan terpaksa menyerah dan keluar dari dapur. Ia melihat Li Mu mengenakan celemek, lalu mulai memasak dengan fokus dan teratur.
Dulu, saat berkunjung ke rumah Li Mu, ia pernah mencicipi masakannya—tapi waktu itu makanan sudah jadi semua. Kali ini, Yu Fan justru memandangi Li Mu yang sibuk di dapur dengan mata tak berkedip. Senyum tak sadar mengembang di wajahnya.
Orang yang sedang fokus—entah pria atau wanita—selalu terlihat memesona.
Apalagi Li Mu memang cantik.
“Kalau ada yang menikahimu, pasti urusan rumah tangga di rumahnya bakal lancar semua, ya?”
“Kan kamu bilang nanti yang masak adalah kamu.”
Yu Fan tertawa, lalu bercanda,
“Jadi, berarti kamu mau nikah sama aku, dong?”
“Tergantung sikapmu.”
Setelah Yu Fan berhenti “membantu” (yang sebenarnya mengganggu), kecepatan memasak Li Mu langsung naik level. Dua kompor menyala bersamaan—satu merebus iga, satu menumis sayur. Microwave dan oven pun ikut bekerja secara paralel.
“Jadi selama ini kamu di rumah nggak pernah masak sendiri, ya?”
“Kalau makan mie instan pas begadang, itu dihitung enggak?”
“Enggak.”
Li Mu bergumam, “Suka genit sama cewek di luar, kelihatan keren segala… kok di rumah malah jadi kayak ikan asin?”
“Kenapa? Nyesel, ya?” Yu Fan membela diri santai. “Lagian aku nggak pernah genit duluan—mereka yang genit ke aku!”
“Nanti aku janji, nggak bakal peduliin cewek lain lagi!”
Xiao Jing ikut nyelip, “Kamu emang udah lama harus begitu. Kakakku mungkin udah cemburu.”
“Iya, iya, semuanya salahku.” Yu Fan tertawa sambil mencubit pipi Xiao Jing.
“Lagian, aku sudah atur! Malam ini aku tidur di tengah, Kakak dan kamu di samping kiri-kananku!” Xiao Jing berdiri tegak sambil memegang pinggang, wajahnya penuh keyakinan. “Aku juga mau menguji apakah kamu layak jadi kakak iparku atau…”
“Hmm, malam ini kalian berdua tidur berdekatan aja. Aku tidur di pojok.”
Xiao Jing tersenyum puas sambil menerima angpao di ponselnya.
Yu Fan mulai sadar—bocah ini makin lama makin matre. Dulu, ia rela menjodoh-jodohkan mereka secara sukarela. Sekarang, harus bayar dulu baru mau bantu.
Li Mu melirik sekilas ke arah ruang makan, tempat dua orang itu “bertransaksi rahasia”, tapi tidak berkomentar apa-apa.
Toh, dulu ia pernah tidur sekamar dengan Yu Fan. Alas lantai dari lima tikar bambu itu luas sekali—bahkan kalau tidur bersebelahan pun hampir pasti tidak akan saling bersentuhan. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Hanya dari kepiting yang dibawa Li Mu saja, sudah bisa dibuat tiga sampai lima menu masakan. Sampai puktu tujuh malam, lebih dari sepuluh piring lauk sudah terhidang di meja.
Meja marmer persegi itu penuh sesak dengan hidangan.
Yu Fan terheran-heran. Hidangan sebanyak ini biasanya hanya muncul di pesta pernikahan atau saat Tahun Baru Imlek—tapi Li Mu berhasil menyelesaikannya semua hanya dalam waktu empat atau lima jam, sejak pukul tiga sore.
“Ovenmu enak dipakai, ya.” Li Mu duduk di salah satu kursi, matanya sesekali melirik TV di ruang tamu sambil berpikir apakah ia juga perlu beli oven untuk rumahnya.
Dulu ia merasa oven itu tidak perlu, tapi hari ini ia baru sadar betapa praktisnya alat ini.
Cukup oleskan bumbu bawang putih dan cabai ke udang, kepiting, atau kerang, lalu masukkan ke oven—jauh lebih mudah daripada menumis atau menggoreng.
Kalau masih malas, kepiting pun bisa langsung dibelah dua dan dimasukkan utuh ke oven. Hasilnya tetap enak.
“Aku nanti tanya merek ovenmu, ya.”
Yu Fan mengambil seekor kepiting kukus, lalu bertanya,
“Sebanyak ini hidangannya, sayang kalau nggak minum anggur, ya?”
“Wah~ Kakak ipar mulai mengajak Kakak minum-minum! Malam ini mau jadi serigala, nih!”
“Mulutmu nggak bisa dibungkam, ya?” Yu Fan melotot ke arah Xiao Jing.
Li Mu tanpa ragu menggeleng.
“Mending jangan. Aku nggak suka minum alkohol.”
Ia hampir tidak pernah menyentuh rokok atau alkohol. Rokok? Waktu kecil pernah tertipu kerabat yang menyuruhnya coba hisap sekali—dan itu bikin trauma batuk berat sampai sekarang.
Alkohol? Saat SMP, ia pernah kehausan di rumah kakek, lalu minum “air putih” di meja—padahal itu arak putih. Pedasnya bikin lidah terbakar, trauma itu masih membekas sampai hari ini.
Dulu, saat orang tuanya pergi meninggalkannya, orang lain mungkin mengubur kesedihan dengan minuman keras—tapi Li Mu justru bertahan dengan bermain game tanpa henti.
Melihat penolakan Li Mu, Yu Fan ragu sebentar, lalu bertanya,
“Kamu juga nggak suka kalau orang lain minum alkohol, ya?”
“Hmm.”
“Kalau gitu, aku juga nggak minum.”
Ia langsung meletakkan ponsel yang sudah siap memesan alkohol lewat aplikasi pesan antar, lalu makan dengan tenang.
“Besok aku antar kamu ke rumah kakekmu, ya?”
“Boleh juga.”
Li Mu makan beberapa suap, memastikan rasanya masih sama enaknya seperti dulu, lalu menatap Yu Fan.
Yu Fan makan dengan sangat lahap—setiap suapan membuat sudut bibirnya tertarik senyum. Itu membuat hati Li Mu ikut senang.
Ia memang menikmati proses memasak, tapi yang paling ia sukai adalah melihat orang lain menikmati masakan buatannya.
“Enak, ya?”
“Pasti enak!” Yu Fan mengacungkan jempol. “Sepanjang hidupku, belum pernah makan se-enak ini!”
“Berlebihan.”
“Sama sekali nggak berlebihan! Dulu, siapa yang pernah masak se-serius ini buat aku? Cuma kamu.”
Lagipula, apapun yang dimasak Li Mu, baginya selalu enak.
Li Mu tersipu karena pujian itu.
“Orang tuamu juga pasti sering masak buat kamu, kan?”
“Masakan keluarga kami?” Yu Fan menarik napas panjang. “Biasanya kami makan lewat pesan antar. Ayahku nggak bisa masak, ibu tiriku masakannya aneh. Lama-lama, kami jadi kebiasaan pesan makanan terus.”
“Sampai pemilik warung Sha Xian di bawah apartemenku pun udah hafal wajah keluargaku.”
——————
Karena masalah pribadi, jadwal update tidak stabil.
No comments yet
Be the first to share your thoughts!