Chapter 7 Bab 007. Backstab (Ditusuk dari Belakang)
Sebuah wajah besar tiba-tiba memenuhi seluruh pandangannya!
Jantungnya berhenti berdetak sekejap. Bulu kuduk Yufan langsung berdiri, detak jantung melonjak sampai puncak, dan keringat dingin muncul seketika di pelipisnya.
Ia terkejut sampai napasnya tersengal-sengal, ingin mundur, tapi kedua kakinya sudah kaku tak bisa digerakkan.
Namun detik berikutnya, ia justru mendadak tenang.
Itu cuma seorang gadis yang berdiri terlalu dekat dengannya—mungkin sedang menunggu lampu merah juga.
Mana ada hantu di dunia ini? Perasaan barusan paling cuma sugesti karena pikiran sendiri.
Ia buru-buru menahan napasnya yang memburu, memaksakan senyum cerah yang agak canggung. Dengan panik ia merapikan mangkuk dan sumpit di tangannya, takut benar-benar disangka orang gila.
Belum sempat ia menjelaskan reaksi lebaynya barusan, gadis itu sudah lebih dulu bicara.
Suaranya… sangat familiar. Sama persis dengan suara noise yang ia dengar sebelumnya.
Wajah Yufan langsung berubah seolah habis melihat hantu sungguhan. Dia terpaku di tempat, otaknya kosong.
Di saat yang sama, Li Mu berjalan dari kejauhan. Ia tampak terkejut, bingung, dan tidak tahu harus berbuat apa.
“Li Mu…” Yufan sudah tak bisa tersenyum lagi. Begitu melihat Li Mu, ia langsung berlari kecil menghampiri dan menunjuk pada Lin Xi yang berdiri di pulau pembatas jalan. “Jangan bilang… itu beneran hantu!?”
“Kau bisa lihat dia?” Li Mu sempat mengabaikan rasa horornya barusan dan sedikit lega. “Akhirnya kamu percaya kan kalau aku memang kerasukan hantu?”
Memang sih, cara Yufan barusan memukul mangkuk terlihat tolol… tapi setidaknya efektif.
Dan syukurlah Yufan orientasinya normal—Lin Xi juga tidak bisa mengendalikan tubuhnya terlalu lama. Kalau bisa, besok pagi mungkin dia sudah harus daftar ke dokter anus.
Hanya saja… efeknya terlalu manjur.
Li Mu melirik zebra cross penghubung ke pulau pembatas, memikirkan satu hal:
Kenapa hantu jas hujan itu tiba-tiba hilang? Bukannya tadi jelas-jelas mendekat karena Yufan? Apa setelah upacara mangkuk selesai, dia langsung “refresh” lenyap begitu saja?
Yufan masih belum paham situasinya. Ia beberapa kali melirik Lin Xi, masih bingung.
Jadi… itu benar hantu?
Tapi… hantu di depannya ini selain suaranya yang serak tajam, penampilannya justru… cantik.
Kaki jenjang, dada besar, rambut hitam panjang lurus, wajah polos dengan senyum bego macam fangirl—benar-benar tidak kelihatan berbahaya.
Ia bahkan mulai curiga, jangan-jangan ini cuma prank yang direncanakan Li Mu dan gadis ini.
Refleks ia mengulurkan tangan untuk menyentuh Lin Xi… dan hanya merasakan sedikit sensasi licin. Begitu menekan sedikit, ia melihat telapak tangannya menembus tubuh Lin Xi begitu saja.
“Ini…”
Jadi… saat ia menutup mata dan merasa ada “tentakel” yang merayap di tubuhnya… itu ulah gadis ini.
Li Mu melihat perubahan ekspresi Yufan—dari cerah percaya diri, berubah bingung, lalu bodoh, lalu akhirnya takut setengah mati—mirip sekali dengan reaksi dirinya dulu. Dalam hatinya ia sedikit bahagia.
Butuh waktu untuk menerima dunia baru. Li Mu sendiri butuh setengah jam sampai akhirnya pasrah setelah “dipersuasi” oleh kaki jenjang Lin Xi.
Tapi kalau hantunya secantik ini dan bisa diajak bicara, sebenarnya tidak terlalu menakutkan… meski kepribadiannya menyebalkan.
Untungnya Yufan—mungkin karena sejak kecil diperlakukan seperti calon dukun—lebih cepat menerimanya. Setelah wajahnya berubah-ubah beberapa menit, ia kembali tenang dan memamerkan senyum cerah khasnya.
“Beginilah kehebatan banyak baca buku~”
Karena kebanyakan baca novel, jadinya menerima keberadaan hantu pun lebih mudah.
Li Mu memandangnya dengan aneh. Tak disangka, cowok ceria ini ternyata agak kena sindrom chuunibyou juga.
“Ngomong-ngomong, barusan kamu bilang suruh aku lari?” Yufan menunjuk Lin Xi sambil bertanya. “Cuma… ini?”
Memang sulit takut sama hantu semanis Lin Xi.
Kalau begini bentuknya, dalam mimpi buruk lelaki pun dia bisa dipelintir jadi mimpi basah.
Li Mu terpaksa menceritakan tentang hantu jas hujan tadi. Ekspresi Yufan malah makin aneh.
“Baiklah, aku percaya dunia ini memang ada hantunya. Tapi… dari mana bisa ada banyak hantu di kota kecil kayak kita?” Yufan menghela napas lelah sambil berjalan menuju trotoar.
“Maksudmu?”
“Untuk jadi hantu, seseorang harus punya obsesi yang sangat kuat. Peluangnya cuma sekitar seperseribu.” Ia menunjuk Lin Xi. “Dan yang seperti dia itu sebenarnya lebih mirip ‘sisa keinginan’. Biasanya seminggu juga lenyap.”
“Normalnya, hantu muncul di kota besar yang jumlah kematiannya banyak. Di kota kecil seperti kita? Sehari saja hampir tidak ada yang mati. Jadi peluangnya sangat kecil.”
Jadi… dua hantu sekaligus di kota kecil seperti ini memang kejadian super langka.
Li Mu mengangguk.
Yufan mengangkat bahu. “Itu kata kakekku dulu. Kalau ada yang salah, jangan salahkan aku.”
“Dan hantu tidak mungkin hilang begitu saja. Menurutku hantu jas hujan tadi pergi dengan cara tertentu. Masa iya tiba-tiba obsesi dia selesai trus menghilang?”
“Hantu itu pasti kena efek kamu memukul mang—"
“Itu namanya ritual pemanggilan! Bukan mukul mangkuk!” Yufan langsung memperbaiki citra dirinya agar tidak terlihat bodoh.
Lalu, tiba-tiba ia menginjak sesuatu. Ada suara gesekan logam, kakinya terpeleset, dan ia jatuh terduduk.
“Sial! Makanya aku bilang jangan main beginian!” Ia bangkit sambil memaki, melirik benda hitam yang tersingkir ke semak—malas mengeceknya. Ia menatap Li Mu sambil terkekeh pahit, “Karena mau lihat hantu, kayaknya sialku bakal bertahan tiga hari.”
Dia cuma ingin bantu Li Mu, berpikir ritual-ritual begitu cuma hiburan iseng orang gabut. Kalau bisa membuat Li Mu berhenti ngomong soal hantu, itu sudah bagus.
Siapa sangka… hantu benar-benar ada! Dan ritualnya juga benar-benar berfungsi!
Ia menatap Lin Xi yang malu-malu menunduk, jauh dari imej idiot barusan. “Dia ini hantu yang kamu bilang pernah merasuki kamu?”
Tadi Lin Xi masih berperilaku bodoh seperti fangirl. Tapi setelah Yufan bisa melihatnya, dia berubah menjadi gadis pemalu yang manis, jari-jari tangan saling meremas di depan dada, pinggang meliuk-liuk—tidak ada seram-seramnya.
“Ya. Siang tadi aku lengah, terus dia masuk ke tubuhku.”
Li Mu tak berdaya mengangguk.
Jujur saja, kalau Lin Xi pergi merasuki perempuan lalu nembak cowok, tingkat keberhasilannya pasti lebih tinggi daripada merasuki dirinya.
Entah kenapa, hantu ini ngotot banget sama tubuhnya.
Hari ini benar-benar hari sialnya—ketemu dua hantu sekaligus.
Terutama hantu jas hujan… aura gelap dan tekanan darinya benar-benar mengerikan.
Ia yang biasanya datar pun kini tampak sedikit panik.
“Tenang, nanti di rumah aku coba cari-cari peninggalan kakekku. Mungkin bisa bantu ngusir hantu yang merasuki kamu.” Yufan kembali melirik Lin Xi. “Obsesi dia apa?”
“Katanya mau nembak kamu. Dan kamu harus setuju.” Li Mu bergeser mundur malu. Pipi sedikit memerah.
Untung malam gelap, Yufan tidak menyadarinya.
Sebelumnya Yufan menolak dengan keras, makanya obsesi Lin Xi belum tercapai.
Yufan menatap Lin Xi lama, lalu mengangguk serius. “Baik. Aku setuju jadi pacarmu.”
Tapi Lin Xi langsung menoleh, memandangnya dengan tatapan jijik.
Sepertinya tidak bisa semudah itu. Mungkin selain setuju, harus benar-benar berkencan dan menunjukkan interaksi pasangan sebelum obsesi selesai.
Setelah berpikir sebentar, Yufan tersenyum penuh percaya diri, menampakkan gigi putihnya.
“Tenang! Nanti kamu pakai baju cewek, biar dia nembak lewat tubuhmu. Aku pasti setuju!”
“Kamu wajahnya halus kok. Pakai rok pun pasti cakep.”
Li Mu langsung memicingkan mata, wajah penuh jijik.
Jadi… kamu bukan cowok ceria sehat jiwa, tapi psikopat busuk!?
Aku minta tolong… dan kamu malah backstab begitu!?
Author's Notes
Makan dulu baru lanjut tl
Udah makan min?
Udah dong